Nayara Almeera adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, wanita yang saat ini sudah terbiasa berdiri di kakinya sendiri setelah drama dikhianati oleh kisah masa lalunya membuat Nayara menjadi sosok yang lebih tertutup.
Sampai akhirnya sebuah perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya, mempertemukan Nayara dengan Adrian seorang CEO yang lebih tenang, dewasa dan sulit untuk ditebak atas akan yang dilakukan olehnya.
Berawal dari sebuah kesepakatan yang perlahan berubah menjadi sebuah kisah yang tidak pernah
Nayara bayangkan.
Mendapatkan kasih sayang dan dicintai dengan cara yang begitu tulus, tanpa Nayara sadari perjodohan itu tidak hanya mengubah hidupnya, tetapi juga telah mengubah hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 - Pria Yang Terlalu Tenang
Suasana pagi hari di kantor Almeera Group selalu terlihat ramai oleh kesibukan yang terjadi di jam kerja, para karyawan berlalu lalang dengan dokumen ditangannya dengan sangat rapih, suara telpon berdering disetiap ruangan dengan tujuan akhir menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Langkah kaki terdengar tanpa henti, namun diruang kerja lantai dua puluh suasananya terasa lebih tenang.
Nayara duduk dikursi dengan tangan memegang dokumen yang dibaca, laporan keuangan yang cukup tebal kini berada diatas meja. Tatapannya fokus dengan pikiran yang teratur, setidaknya sampai ponsel miliknya kini bergetar menandakan ada panggilan masuk... Nayara meliri layar ponselnya tertera nomor baru yang tidak dikenal. Jika biasanya Nayara akan langsung mengabaikan, tapi entah mengapa berbeda panggilan yang masuk kali ini mengubah kebiasaannya.
" Hallo...."
" Selamat pagi, Nayara..." suara pria terdengar diseberang sana.
" Pagi juga..." Nayara tentu saja langsung mengenali suara itu... Adrian Mahendra.
" Apakah aku mengganggu, waktu mu pagi ini?"
" Kamu sudah menelpon, jadi mungkin sudah terlambat untuk bertanya" Nayara bersandar sedikit dikursinya.
" Aahh maaf, aku hanya ingin memastikan sesuatu" Adrian terkekeh pelan saat mendengar suara hangat Nayara.
" Memastikan apa?"
" Apakah makan malam kemarin membuatmu menyesal menerima perjodohan ini?" pertanyaan itu membuat Nayara yang mendengarnya merasa sedikit heran.
Nayara menatap jendela disamping meja kerjanya, hujan yang turun kemarin sudah berhenti bahkan saat ini langit terlihat lebih cerah.
" Tidak, kenapa?" jawabnya singkat.
" Bagus... karena aku tidak ingin satu bulan ini terasa seperti sebuah hukuman " jawab Adrian.
" Hukuman?" Nayara kini menutup dokument dihadapannya, bibirnya tersenyum tipis.
" Bagi dua orang asing yang harus berpura-pura mengenal satu sama lain"
" Bukankah kita memang orang asing?" Nayara mencoba memancing Adrian.
" Untuk sekarang... Kita lihat satu bulan kedepan" Adrian seolah tengah merencanakan banyak hal, nada bicaranya terdengar santai tapi seolah penuh arti.
" Apa ada alasan khusus kamu menelponku pagi ini?" tanya Nayara.
" Tentu saja ada, aku ingin mengajakmu makan malam lagi"
" Secepat itu?" Nayara mengangkat kedua alisnya.
" Bukankah kita hanya punya waktu satu bulan? Waktu itu tidak banyak Nay, terutama dalam masalah perjodohan ini" .
Jawaban Adrian memang sangat masuk akal, tapi tetap saja terasa sedikit terlalu serius.
" Apakah kamu selalu seefisien ini dalam segala hal?" tanya Nayara.
" Terkadang, terutama dalam masalah kita"
" Baiklah" jawaban Nayara singkat.
" Jadi, kamu setuju?" Adrian tampak sedikit terkejut.
" Bukankah tujuan kita untuk saling mengenal, jadi mari kita berkenalan dengan baik" Adrian tersenyum diujung telpon.
" Benar juga, baiklah jam tujuh malam aku tunggu"
" Baik" jawaban Nayara setelah melihat jadwalnya sebentar.
Panggilan itu berakhir sampai akhirnya Nayara kembali menyimpan ponselnya di meja, ia tidak tahu kenapa tapi percakapan dengan Adrian Mahendra terasa berbeda.
Adrian terlalu tenang seolah semua sudah ia pikirkan dan direncanakan dengan sangat matang, dan Nayara tidak suka sesuatu yang terlalu sulit untuk ditebak.
....
Ditempat lain kini Adrian Mahendra sedang berdiri didepan jendela besar ruangan kerjanya gedung Mahendra Corporation, Reza sang asisten kini berdiri didepan meja dengan memperlihatkan Ekspresi bingung.
" Bos, bolehkah saya bertanya sesuatu?"
" Apa?" Adrian menoleh sedikit
" Sejak kapan Anda mulai menelpon wanita lebih dulu?"
" Apa ada masalah?" Adrian kini mengambil jas dari kursi.
" Bukan... Bukan... hanya saja saya sedikit terkejut Bos" Reza menggelengkan kepalanya cepat.
" Anggap saja aku sedang melakukan sesuatu hal yang baru"
" Apakah ini tentang perjodohan?" Reza terlihat antusias.
" Iya"
" Apakah Anda menyukainya?" kini Reza menganggukkan kepalanya pelan.
Adrian berhenti sejenak sampai akhirnya menjawab.
" Aku belum tahu, dan belum bisa memastikannya sekarang.... Tapi wanita itu terlihat menarik" kini Adrian menatap lurus kedepan.
...
Sementara itu di kantor Almeera Group Maya sahabat dari Nayara masuk kedalam ruangan kerja tanpa mengetuk pintu.
" Apa kau punya waktu?"
" Ada apa?" kini Nayara menatap sahabatnya.
" Aku dengar kau dijodohkan, apa benar?" Maya kini duduk dikursi tepat dihadapan Nayara.
Sepertinya berita tentang perjodohan dirinya memang menyebar begitu cepat.
" Benar" respon Nayara tidak terkejut.
" Dan kau menerimanya?"
" Iya" mendengar jawaban Nayara kini Maya menatapnya tak percaya.
" Nayara Almeera menerima perjodohan ini?, apa kau merasa penasaran pada pria itu?"
" Ini hanya keputusan logis, Maya. Dan sepertinya aku sedikit penasaran heheh"
" Yakin hanya sedikit?"
" Ia terlalu tenang, May" Nayara kini menatap lurus keluar jendela.
" Biasanya itu berarti dia berbahagia" jawab Maya.
" Maksud kamu, berbahaya?"
" Pria yang terlalu tenang biasanya menyimpan banyak hal, Nay"
Nayara memilih untuk diam tidak menjawab, namun jauh didalam hatinya kini ia mulai merasa bahwa perjodohan ini mungkin tidak akan sesederhana seperti yang ia kira.
....
Malam sudah datang dan Nayara baru saja keluar dari gedung kantor, namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti tiba-tiba. Sebuah mobil hitam mewah sudah terparkir didepan pintu masuk.
Seorang pria berdiri disampingnya, tinggi, elegan, dengan jas hitam yang terlihat sangat rapih... Adrian Mahendra.
" Apa kamu sedang menungguku?" Nayara sedikit mengerutkan keningnya, dan berjalan mendekat.
" Aku pikir akan lebih sopan dengan menjemputmu langsung, agar kau tidak kembali menunggu seperti kemarin" Adrian menatapnya dengan tenang.
" Tapi kau tidak bilang akan datang menjemputku" Nayara menyilangkan kedua tangannya.
" Maaf, aku hanya ingin membuat kejutan kecil untukmu"
" Hmmm, kamu selalu seperti ini melakukan sesuatu tanpa memberi tahu" Nayara menatap Adrian beberapa detik.
" Aku hanya ingin melihat reaksimu" Adrian tersenyum tipis, dan tangan kanannya sudah membuka pintu mobil untuk Nayara.
Nayara terdiam untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ia merasa jika pria dihadapannya ini tidak mudah ditebak. Dan itu membuatnya semakin penasaran, namun Nayara belum tahu bahwa perhatian kecil itu hanyalah awal.
Adrian Mahendra bukan tipe pria yang melakukan sesuatu hal setengah-setengah terutama... Jika menyangkut wanita yang akan menjadi istrinya.