Bukan Pengantin Pilihan Hati
"Dua hati yang terikat wasiat, dua masa lalu yang belum usai. Sanggupkah pernikahan tanpa cinta ini bertahan?"
Dunia Naura runtuh seketika. Kecelakaan tragis yang merenggut nyawa sang ayah memaksanya mengubur mimpi indah bersama Rama, kekasihnya. Demi wasiat terakhir, Naura terpaksa menikah dengan Arka,pria asing pilihan sang ayah.
Luka Naura kian menganga saat mengetahui Arka pun sebenarnya sudah memiliki kekasih. Mereka hanyalah dua orang asing yang terjebak dalam sangkar pernikahan tanpa cinta.
Namun, hari-hari di bawah satu atap perlahan mengubah segalanya. Di balik ketampanannya, Arka ternyata sosok suami yang sangat sopan, bertanggung jawab, dan penuh perhatian. Kelembutan dan sikap penyayang Arka pelan-pelan mulai meruntuhkan dinding pertahanan hati Naura.
Saat benih-benih cinta tulus mulai tumbuh di antara mereka, akankah masa lalu merelakan mereka bahagia? Ataukah mereka akan selamanya menjadi pengantin yang salah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan Untuk Arka
Keberhasilan acara Private Preview koleksi “The First Dawn” di Pratama Creative Space membawa dampak yang luar biasa masif bagi kehidupan Naura.
Dalam waktu kurang dari dua minggu, nama merek busana "NAURA"menjadi salah satu topik perbincangan hangat di kalangan pengamat mode dan majalah gaya hidup papan atas Jakarta.
Permintaan pesanan berulang (pre-order) dari tiga butik multi-merek besar melonjak tajam, membuat Evan dan tim produksi di Bandung harus menambah jam kerja dengan sistem sif untuk memastikan semua jahitan tetap berada pada standar kualitas tertinggi yang ditetapkan.
Namun, di tengah hiruk-pikuk kesuksesan karier barunya yang tengah meroket, Naura tidak pernah melupakan kodrat dan kewajibannya sebagai seorang istri. Baginya, rumah minimalis berlantai dua yang mereka tempati adalah tempat suci di mana hatinya berlabuh seutuhnya. Sejak dinding pembatas tak kasat mata di antara mereka runtuh total, atmosfer di dalam rumah itu selalu dipenuhi oleh kehangatan cinta yang nyata.
Pagi itu, hari Minggu yang cerah dengan langit biru tanpa awan, Naura terbangun lebih awal. Ia melirik ke arah kirinya, mendapati posisi tidur Arka yang masih terlelap dengan napas yang teratur. Lengan kekar pria itu masih melingkar longgar di sekeliling pinggang Naura, mengunci tubuh mungil sang istri dalam dekapan hangatnya.
Naura tersenyum sangat tipis, menyibak helai rambut hitam Arka yang jatuh berantakan di dahi dengan gerakan yang sangat lembut agar tidak mengusik tidur nyenyak suaminya.
Belakangan ini, Arka bekerja jauh lebih keras dari biasanya.
Pria itu tidak hanya memimpin puluhan anak perusahaan di bawah payung Pratama Group, melainkan juga turun tangan langsung mengawasi pembentukan tim hukum dan hak paten untuk merek dagang milik Naura.
Arka ingin memastikan tidak akan ada celah bagi kompetitor mana pun untuk meniru atau merugikan kreativitas istrinya di masa depan.
Naura perlahan menyelinap keluar dari tempat tidur, menarik selimut tebal hingga sebatas dada Arka, lalu melangkah turun menuju dapur di lantai satu. Hari ini adalah hari yang sangat spesial. Hari ini adalah hari ulang tahun Arka Pratama yang ke-30.
Sejak beberapa hari lalu, Naura sudah menyusun sebuah rencana kecil bersama Paki Baskoro dan Ibu Sofia.
Ia menolak dengan halus tawaran Sofia untuk mengadakan pesta besar-besaran di hotel bintang lima milik keluarga besar Pratama. Naura tahu betul watak suaminya; Arka adalah pria yang tertutup dan sangat menghargai privasi. Baginya, kemewahan sejati bukanlah pesta pora yang dihadiri ratusan rekan bisnis yang bermuka dua, melainkan sebuah ketenangan di dalam rumah bersama orang yang dicintai.
Aroma gurih mentega yang meleleh, harumnya panggangan kue cokelat, dan wangi bumbu sup iga hangat berpadu memenuhi seisi ruangan dapur minimalis sejak pukul delapan pagi.
Naura tampak begitu lincah bergerak di balik konter dapur. Ia mengenakan kaus rajut tipis berwarna putih dengan celemek kain bermotif bunga kecil yang diikat rapi di pinggangnya.
Rambut panjangnya dicepol asal ke atas menggunakan jepitan badai, menyisakan beberapa anak rambut di tengkuk lehernya yang putih, memberikan kesan domestik yang sangat cantik.
Di atas meja makan kecil, sebuah kue ulang tahun berjenis Dark Chocolate Fudge yang dilapisi krim cokelat pekat hasil buatan tangan Naura sendiri sudah tertata rapi.
Di atas permukaan kue tersebut, tertulis menggunakan krim putih yang lentik: [Selamat Ulang Tahun, Kak Arka Tercinta.]
Suara langkah kaki yang teratur dan berat terdengar menuruni anak tangga kayu. Naura menoleh, menghentikan aktivitasnya memotong daun bawang untuk sup.
Arka melangkah masuk ke area dapur dengan penampilan kasual khas hari Minggunya; celana pendek katun hitam dan kaus oblong abu-abu yang pas di tubuh tegapnya.
Rambutnya masih sedikit berantakan, dan matanya tampak menyipit menyesuaikan dengan cahaya matahari pagi yang menerobos masuk melalui jendela dapur.
"Aroma apa ini? Begitu wangi sampai membangunkanku," tanya Arka, suara bariton bangun tidurnya terdengar serak dan dalam.
Ia berjalan mendekati Naura, mengabaikan jarak yang ada, lalu langsung melingkarkan kedua lengan kekarnya di sekeliling pinggang Naura dari arah belakang.
Arka menyandarkan dagunya di bahu ramping istrinya, menghirup aroma kombinasi antara wangi vanila dari kue dan aroma tubuh alami Naura yang selalu menjadi candu baginya.
Naura terkekeh geli karena rasa geli dari helai rambut Arka yang menggelitik lehernya. Ia meletakkan pisau dapurnya dengan aman, lalu membalikkan tubuhnya di dalam kukungan lengan Arka agar mereka bisa saling berhadapan.
Naura mendongak, menatap lekat ke dalam sepasang mata elang Arka yang kini memancarkan kehangatan yang meluap-luap. "Selamat ulang tahun yang ke-30, Kak Arka," ucap Naura dengan nada suara yang teramat lembut dan sarat akan cinta yang mendalam.
Arka tertegun sejenak. Kesibukan korporat yang tiada habisnya selama beberapa minggu ini membuat pria itu sepenuhnya lupa pada tanggal lahirnya sendiri. Matanya kemudian beralih menatap meja makan, menangkap keberadaan kue cokelat buatan tangan dan deretan hidangan favoritnya yang sudah tersaji rapi.
"Kamu ... menyiapkan semua ini sendiri sejak subuh?" tanya Arka, binar takjub dan haru terpancar jelas dari manik mata hitamnya.
Naura mengangguk mantap, menyunggingkan senyuman paling manis yang ia miliki. "Tentu saja. Ini adalah ulang tahun pertama Kak Arka yang kita lewati bersama sebagai suami istri. Aku ingin memberikan sesuatu yang bermakna untuk Kakak. Maaf ya, aku tidak membuat pesta besar seperti yang biasa diadakan oleh keluarga besar Pratama."
Arka tidak membalas dengan kata-kata. Ia justru mempererat pelukannya, menarik tubuh mungil Naura merapat tanpa jarak ke dalam dada bidangnya yang kokoh.
Pria itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Naura, mengembuskan napas panjang yang dipenuhi rasa syukur yang tak terhingga kepada Sang Pencipta yang telah mengirimkan wanita ini ke dalam hidupnya melalui selembar wasiat peninggalan orang tua.
"Ini adalah hadiah terbaik yang pernah aku terima selama tiga puluh tahun hidup di dunia ini, Naura," bisik Arka, suaranya terdengar bergetar lembut karena emosi haru yang membuncah. "Aku tidak butuh pesta besar.
Memiliki kamu di sini, di dalam rumah ini, menyambutku dengan senyuman dan hidangan buatanmu ... sudah lebih dari cukup untuk membuat hidupku sempurna."
Arka menjauhkan wajahnya sedikit, lalu menundukkan kepalanya untuk mendaratkan sebuah kecupan yang lambat, dalam, dan penuh rasa sayang di atas bibir ranum Naura.
Kecupan itu berlangsung lama di tengah keheningan pagi yang hangat, menjadi simbol pengikat janji kesetiaan yang kian tak tergoyahkan di antara mereka.
Setelah menikmati sarapan pagi yang merangkap makan siang romantis itu dengan penuh kehangatan, Arka mengira kejutan hari itu sudah selesai. Namun, menjelang pukul dua siang, Naura menuntun suaminya untuk menaiki tangga menuju lantai dua.
Bukan menuju kamar utama, melainkan menuju studio jahit pribadi Naura yang terletak di sebelahnya.
"Ada apa, Naura? Apakah ada desain baru yang ingin kamu tunjukkan padaku?" tanya Arka, mengerutkan keningnya dengan binar jenaka saat melihat Naura tampak begitu misterius menyembunyikan sesuatu di balik pintu studio yang tertutup.
"Masuk saja dulu, Kak," ujar Naura penuh rahasia, membuka pintu kayu itu perlahan.
Begitu melangkah masuk ke dalam studio jahit yang bermandikan cahaya matahari sore, pandangan mata Arka langsung tertuju pada sebuah manekin pria berukuran tegap yang berdiri di sudut ruangan, tepat di samping jendela kaca besar.
Di atas manekin tersebut, tersampir sebuah kemeja batik sutra lengan panjang dengan potongan siluet yang sangat modern, gagah, dan pas di badan (slim-fit).
Kemeja batik itu menggunakan kain sutra berkualitas tertinggi dengan warna dasar hitam pekat. Yang luar biasa adalah corak batiknya; motifnya bukan batik pasaran, melainkan kombinasi ukiran garuda abstrak yang melambangkan kekuatan dan ketegasan, dipadukan dengan aksen garis-garis geometris minimalis berwarna perak keabuan yang sangat elegan.
Arka melangkah mendekati manekin tersebut dengan pandangan mata yang tak berkedip.
Sebagai seorang pria yang biasa mengenakan setelan jas desainer internasional seharga ratusan juta rupiah, ia bisa langsung mengenali bahwa kemeja batik di hadapannya ini memiliki tingkat kesulitan potongan dan kehalusan jahitan tangan (handmade) yang luar biasa tinggi.
"Ini ..." Arka menyentuh permukaan kain sutra yang sangat lembut itu dengan ujung jarinya yang gemetar.
Naura berjalan mendekat, berdiri di samping Arka dengan jemari yang bertautan karena mendadak kembali merasa gugup. "Ini adalah kemeja batik hasil rancangan dan jahitan tanganku sendiri, Kak Arka. Aku mengerjakannya secara sembunyi-sembunyi di studio ini setiap kali Kak Arka belum pulang dari kantor atau saat Kakak sedang memimpin rapat luar kota selama satu bulan terakhir."
Naura menatap kemeja tersebut, lalu beralih menatap wajah tampan suaminya. "Aku menggambar pola motif batiknya sendiri, lalu meminta bantuan Evan untuk mencetaknya di atas kain sutra mentah melalui teknik cap tradisional di Bandung. Setiap baris jahitannya, kancing tersembunyinya, hingga detail potongan kerah tegak ini ... semuanya aku kerjakan dengan tanganku sendiri, khusus disesuaikan dengan ukuran tubuh Kak Arka yang sering aku peluk."
Mendengar penjelasan Naura, Arka membalikkan tubuhnya perlahan menghadap sang istri. Ada sebuah genangan air mata haru yang sangat tipis yang coba ia tahan di sudut matanya. Seorang CEO muda yang ditakuti di dunia bisnis internasional, yang bisa membeli apa saja yang ada di dunia ini dengan jentikan jarinya, kini mendadak merasa menjadi pria paling kaya dan beruntung karena menerima sebuah karya yang dibuat dengan ketulusan cinta dan pengorbanan waktu dari istrinya sendiri.
"Cobalah, Kak. Aku ingin tahu apakah potongannya pas di tubuh Kakak," lirih Naura penuh harap.
Tanpa membuang waktu, Arka melepas kaus oblong abu-abunya, menampilkan dada bidang dan otot perutnya yang atletis yang sempat membuat Naura secara refleks memalingkan wajahnya karena malu.
Arka mengambil kemeja batik sutra hitam itu dari manekin, lalu mengenakannya ke tubuhnya.
Begitu kemeja itu terkancing sempurna hingga ke batas leher, Naura membalikkan tubuhnya kembali dan langsung terpaku takjub.
Kemeja batik itu tampak begitu sempurna melekat di tubuh tegap Arka. Potongan bahunya pas, lingkar dadanya menonjolkan kegagahan siluet tubuh Arka, dan warna hitam perak itu berpadu sangat serasi dengan warna kulit serta aura kepemimpinan alami yang terpancar dari diri suaminya.
Arka tampak sepuluh kali lipat lebih berwibawa, tampan, dan menawan.
Arka berjalan mendekati kaca besar di dinding studio, mengamati penampilannya sendiri dengan senyuman lebar yang sangat tulus. Ia kemudian kembali melangkah mendekati Naura, meraih kedua tangan istrinya, lalu menarik tubuh Naura masuk ke dalam pelukan hangatnya sekali lagi.
"Terima kasih banyak, Naura. Terima kasih untuk hadiah yang luar biasa indah ini," bisik Arka, suaranya sarat akan kedalaman rasa cinta yang tak terbatas. "Aku akan mengenakan kemeja batik ini pada acara rapat umum pemegang saham tahunan Pratama Group bulan depan. Aku ingin seluruh jajaran direksi dan dunia tahu bahwa kemeja terbaik yang aku miliki adalah hasil karya dari tangan istriku tercinta, desainer utama di hatiku."
Naura menyandarkan kepalanya di dada bidang Arka yang kini terbalut kain sutra halus hasil buatannya, mendengarkan detak jantung suaminya yang berdegup konstan penuh dengan rasa aman. Kejutan ulang tahun hari itu telah mengunci fondasi pernikahan mereka dengan semen cinta yang kian mengeras seiring berjalannya waktu.
Bersama Arka, Naura tahu bahwa setiap langkah maju dalam hidupnya akan selalu dinaungi oleh restu dan perlindungan dari sang Tuan Sempurna.