NovelToon NovelToon
CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Single Mom
Popularitas:31.1k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Memasuki bangku kuliah dengan penampilan cupunya, membuat Ananda Ayunindia menjadi target empuk perundungan oleh Tristan Bratadikara dan komplotannya. Tak sekadar dibully, Ananda bahkan dijadikan bahan taruhan hingga berujung kehamilan. Hancur dan trauma, ia terpaksa melepas beasiswanya dan pergi menghilang.

Enam tahun berlalu. Ananda yang kini telah lulus kuliah dan menetap di Bandung, berhasil diterima bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan raksasa di Jakarta. Demi masa depan putra kecilnya dan sang ibu yang sudah renta, Ananda terpaksa kembali ke kota penuh memori kelam tersebut.

Siapa sangka, pimpinan tertinggi di perusahaan baru tempatnya bekerja adalah Tristan Bratadikara, pria yang dahulu menghancurkan hidupnya. Namun, Ananda yang sekarang bukan lagi gadis cupu yang bisa ditindas, ia telah bermetamorfosis menjadi wanita yang cantik, energik, dan pemberani. Akankah Tristan mengenali korbannya di masa lalu, atau justru bertekuk lutut pada sosok Ananda yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10

Bella menerobos maju tanpa memperdulikan apa pun. Dengan mata yang menyala penuh amarah, kedua tangannya mendorong bahu Ananda dengan sangat kasar hingga tubuh sekretaris itu terhuyung dan jatuh tersungkur di atas lantai marmer yang keras.

"Kau sengaja ya ingin membunuh calon suamiku, hah?!" teriak Bella melotot tajam, napasnya memburu menunjuk wajah Ananda.

Ananda yang terduduk di lantai tidak menunjukkan rasa takut. Ia justru menatap balik langsung ke arah bola matanya Bella. Tangannya mengepal kuat di atas lantai, menahan gejolak emosi yang hampir meledak. Enam tahun berlalu, dan wanita ular ini masih memiliki tabiat kasar yang sama.

Melihat situasi yang kacau, Kevin langsung bergerak panik. Ia berlutut di samping Ananda dan berusaha membantunya berdiri. "Nanda, kamu tidak apa-apa?" tanya Kevin dengan nada luar biasa cemas.

Ananda meringis pelan sambil memegangi siku lengannya. Benturan dengan lantai marmer tadi meninggalkan rasa nyeri yang berdenyut, dan kulitnya tampak sedikit terkelupas memerah. "Saya tidak apa-apa, Pak Kevin," jawab Ananda, suaranya tetap terdengar tegar meskipun fisiknya terluka.

Sementara itu, Tristan buru-buru meraih dan meneguk segelas air putih di sampingnya hingga tandas. Rasa perih di tenggorokannya perlahan mereda, namun wajah tampannya kini memerah padam bukan lagi hanya karena tersedak kulit udang, melainkan karena rasa muak yang mendalam mendengar Bella dengan kelancangan tingkat tinggi mengaku sebagai calon istrinya di depan umum.

Bella yang mengira Tristan sedang lengah, segera memanfaatkan momen itu untuk merangkul bahu pria itu dengan manja. "Tristan, kamu baik-baik saja, kan? Ya ampun, aku khawatir banget tadi..."

"Enyahlah kau, Bella!" bentak Tristan kasar. Dengan satu sentakan kuat, ia mendorong tubuh Bella hingga pegangan wanita itu terlepas dan melangkah mundur beberapa langkah.

Wajah Bella seketika berubah pias menahan malu di dalam restoran. "Tristan! Sampai kapan kamu mau bersikap dingin dan kasar seperti ini padaku?!" tanyanya dengan suara yang mulai serak menahan tangis.

Tristan berdiri dari kursinya, menatap Bella dengan sorot mata yang sarat akan kebencian. "Sampai aku mati, Bella! Aku akan terus bersikap seperti ini padamu!"

"Stop, Tristan! Jangan seperti ini! Kedua orang tua kita sudah sepakat untuk menjodohkan kita berdua!" pekik Bella, berusaha membawa nama keluarga untuk menekan pria itu.

"Alah, persetan dengan perjodohan sialan itu!" umpat Tristan lantang, tidak memperdulikan lagi pandangan orang-orang di sekitar restoran. "Aku tidak akan pernah sudi dijodohkan dengan wanita sepertimu. Wanita busuk yang dulu telah berkomplot untuk menghancurkan hidup seseorang!"

Deg!

Ananda yang sedang berdiri bersandar pada Kevin seketika mematung. Jantungnya berdegup kencang. Kalimat Tristan barusan seperti mesin waktu yang melempar kesadarannya kembali ke peristiwa mengerikan enam tahun lalu di kamar hotel itu.

"Sudah aku katakan berapa kali padamu, Tristan? Aku tidak terlibat dalam kejadian malam itu!" ujar Bella, air matanya mulai mengalir di pipinya. "Itu semua ulah Andre dan Indra! Mereka pelakunya! Kumohon, Tristan... sekali saja, percayalah padaku!"

"Cih, aku tidak akan pernah sudi percaya pada wanita ular sepertimu!" desis Tristan, mendekatkan wajahnya ke arah Bella dengan tatapan meremehkan. "Gara-gara permainan dan jebakan kalian malam itu, aku telah menodainya! Kau tahu? Seumur hidupku, aku selalu dihantui oleh rasa bersalah yang luar biasa kepada gadis itu!"

Mendengar pengakuan jujur yang keluar langsung dari mulut sang monster, pertahanan Ananda runtuh seketika. Rasa sesak yang luar biasa menghantam dadanya. Tanpa bisa ia kendalikan lagi, setitik air mata yang hangat menetes, mengalir lambat melewati pipi mulusnya. Rasa sakit dari masa lalu itu mendadak menguar kembali, terasa begitu nyata.

Enggan menunjukkan kelemahannya di hadapan dua orang yang telah merenggut masa mudanya, Ananda berbalik dengan cepat. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia melangkah setengah berlari keluar dari restoran, meninggalkan kekacauan di belakangnya.

Tristan yang sedang menatap tajam Bella, sempat menangkap sekilas pergerakan sekretarisnya. Ia tertegun saat melihat Ananda pergi dengan air mata yang membasahi pipinya. Mengapa wanita setangguh itu menangis mendengar pertengkarannya? Mengapa dadanya kembali berdenyut perih melihat air mata sekretaris barunya? Pertanyaan itu menggantung, menyisakan misteri yang kian menebal di kepala Tristan.

Tristan tidak sudi lagi berlama-lama di tempat itu. Dengan kilatan amarah yang masih membekas di wajahnya, ia berbalik dan melangkah lebar meninggalkan Bella seorang diri yang masih mematung menahan malu dan tangis di tengah restoran. Kevin segera mengekor di belakang bosnya. Sebelum benar-benar pergi, Kevin sempat menoleh dan melemparkan tatapan tidak suka yang teramat kentara ke arah Bella. Baginya, tindakan Bella yang kasar hingga mencelakai Ananda tadi benar-benar keterlaluan.

Sementara itu, Ananda berlari menuju toilet karyawan yang sepi di sudut lantai. Begitu pintu tertutup rapat, pertahanannya runtuh. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini tumpah ruah. Ia meremas pinggiran wastafel dengan kuat, meluapkan segala rasa pedih, sesak, dan ingatan jahanam yang kembali terkoyak.

Namun, itu tidak berlangsung lama. Ananda mendongak, menatap tajam pantulan dirinya di cermin besar di hadapannya. Perlahan, air matanya mengering, digantikan oleh sorot mata yang dingin dan menakutkan.

"Kamu harus kuat, Ananda. Mereka harus merasakan rasa sakit dan penderitaan yang aku tanggung selama enam tahun ini. Aku harus membalasnya...!" ucapnya berbisik pada diri sendiri, penuh penekanan.

Ananda membasuh wajahnya dengan air dingin, lalu dengan cekatan membetulkan riasannya yang sempat sedikit berantakan. Dalam beberapa menit, ia kembali terlihat cantik, anggun, bahkan tampak lebih fresh seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Ia melangkah keluar toilet dan bergegas kembali ke meja kerjanya. Rasa perih dan memar di sikunya sama sekali ia abaikan. Bagi Ananda, luka fisik sekecil itu tidak ada apa-apanya dibandingkan penderitaan batin yang ia rasakan selama bertahun-tahun.

Baru beberapa saat Ananda duduk manis di depan komputernya dan mulai mengetik, sosok Tristan muncul di lorong. Pria itu berjalan tegap ke arah meja Ananda.

"Masuk ke ruangan ku sekarang," perintah Tristan datar namun tak terbantah.

Ananda mengangguk patuh. "Baik, Tuan."

Sebelum melangkah masuk, Tristan menoleh ke arah asisten pribadinya. "Kevin, kau tunggu di luar. Jangan biarkan siapa pun mengganggu."

"Baik, Tuan," jawab Kevin patuh, meski dalam hati ia dipenuhi rasa penasaran.

Di dalam ruangan, Tristan langsung berjalan menuju sofa panjang dan mendudukkan dirinya di sana. Sementara itu, Ananda masih berdiri mematung di dekat pintu dengan sikap formal.

"Sampai kapan kau mau berdiri seperti patung pajangan, hah?" sindir Tristan sambil menatapnya.

Ananda pun buru-buru melangkah mendekat, namun ia memilih duduk di ujung sofa yang paling jauh dari Tristan. Melihat jarak yang sengaja dibuat itu, Tristan menghembuskan napasnya secara kasar.

"Apakah aku begitu menjijikkan di matamu, hah? Duduk pun harus menjauh seperti itu? Aku tidak memiliki penyakit menular," ketus Tristan merasa tersinggung dengan batasan tegas dari sekretarisnya.

‘Kau memang pria yang sangat menjijikkan!’ batin Ananda menjerit, menatap tajam dan dingin ke arah mata tajamnya Tristan.

Namun demi profesionalitas kerja, dengan terpaksa Ananda menggeser posisi duduknya mendekat ke arah Tristan, meski tubuhnya terasa kaku.

Tiba-tiba, Tristan merogoh saku jas miliknya dan mengeluarkan sebuah tube salep kecil. Tadi sebelum kembali ke ruangan, ia sengaja mampir ke apotek yang berada di lantai dasar kantor. Kevin bahkan sempat kebingungan dan bertanya-tanya untuk apa tuannya membeli salep luka.

"Ini untuk apa, Tuan?" tanya Ananda mengernyitkan keningnya saat melihat salep tersebut disodorkan di depan wajahnya.

Tanpa menjawab pertanyaan itu, Tristan langsung meraih pergelangan tangan kanan Ananda dengan gerakan cepat namun lembut. Ia membalikkan lengan wanita itu, memeriksa bagian siku yang tampak memar kebiruan dan sedikit terkelupas.

"Eh, Tuan, tidak usah. Saya bisa sendiri," tolak Ananda berusaha menarik tangannya kembali.

Namun, Tristan tak menghiraukannya. Genggamannya mengunci pergelangan tangan Ananda dengan tegas. Dengan hati-hati, Tristan membuka tutup salep, mengeluarkan sedikit krimnya ke ujung jari, lalu mengoleskannya perlahan ke luka memar di siku Ananda.

"Maaf... gara-gara wanita gila itu kau jadi terluka," ucap Tristan lirih, suaranya melunak tulus. Setelah meratakan salep, ia sedikit membungkuk dan meniup siku tangan Ananda dengan lembut untuk mengurangi rasa perihnya.

Deg!

Sentuhan hangat dan hembusan napas Tristan di kulitnya seketika membuat Ananda terdiam membeku. Jantungnya berdegup aneh, dan tanpa bisa dicegah, rona merah muda perlahan muncul di kedua pipi mulusnya. Kedekatan ini... perhatian ini... terasa begitu asing dan membingungkan.

‘Ananda, sadarlah! Kau jangan sampai terkena tipu daya pria monster di hadapanmu ini! Ingat, dia adalah orang yang telah menghancurkan hidupmu selama ini!’ batin Ananda menjerit, menyadarkan logikanya dari pesona sesaat sang CEO.

Seketika, Ananda langsung menarik tangannya dengan kasar dan menjauh dari Tristan. Ia tidak sudi kulitnya disentuh lebih lama lagi oleh pria itu. Namun, baru saja Ananda hendak beranjak dari tempat duduknya untuk pamit keluar, suara berat Tristan menghentikan gerakannya.

"Tunggu," ujar Tristan, menatap lekat-lekat mata jernih Ananda. "Kenapa tadi kau menangis saat aku bertengkar dengan Bella?"

Deg!

Ananda langsung diam terpaku di tempatnya. Pertanyaan tak terduga dari Tristan terasa seperti hantaman keras yang mengunci seluruh persendiannya. Apakah Tristan mulai mencurigai sesuatu?

Bersambung...

1
Nar Sih
hahaha kasihan kmu vin ,lihat merka ciuman jdi ternoda deh😂😂
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Curse//Curse//Curse/
total 1 replies
Nar Sih
gak ush dgr kta orang nanda ,anggap aja angin lalu
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 😊
total 1 replies
Teh Euis Tea
kasian Kevin layu sebelum berkembang ya vin, udah sm aku aj ya 🤭🤭🤭🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: oalah, blatung nangka... pecicilan ya kak si Kevin 😂😂😂
total 3 replies
Nar Sih
pasti sdh gk sbr ingin ketemu terus dgn putra mu juga pujaan hti mu ya tristan☺️
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul sekali kak🤭
total 1 replies
Nar Sih
kini satu maaf sdh kau dpt tristan dri ibu mila tinggal langkah selanjut nya💪
Nar Sih
gak usah dgr kata orang nanda ,yg penting diri kita
Nar Sih
alhamdulilah sdh terungkap semua☺️
Lilis Ilham
ahirnya tercapai juga cinta pertama😍😍😍
Lilis Ilham
aku ada disini tuan Tristan😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Teh Euis Tea
tetangga kepo, tukang ngerumpi ga ada kerjaan bgt
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: berarti gk dimana-mana ya kak, malah sekarang sudah trend bapak-bapak ikut jadi tukang gosip juga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
Ilfa Yarni
hahahaha terciduk kalian kasian kevin patah hati sebelum berkembang hahaha
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Curse//Curse//Curse/
total 1 replies
Sri Rahayu
ditunggu lanjutan nya Thorr 😘😘😘
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lanjut besok ya kak 😉
total 1 replies
Teh Euis Tea
huhhh mulai dah pada julid, bilang aj iri sm Nanda ya ibu ibu
Teh Euis Tea
Nanda mirip ayu Ting Ting klu LG meluk Tristan 😁
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: oalah, kok bisa 😊
total 1 replies
Teh Euis Tea
huhhh lagi lagi si Bella biang keroknya, enaknya di gantung x ya biar kapok
Teh Euis Tea
ada rahasia apa si dre? jd penasaran ini
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya kak gpp, ikh selow aja sama aku mah 😉😊
total 3 replies
Nar Sih
semoga dgn kejujuran dan terbongkar nya mslh ini nanda bisa memaaf kan semua
Nar Sih
mkin pensaran dgn rahasia yg kau simpan andre
Nar Sih
semoga ini pertemuan yg akan membawa ananda dan putra nya bahagia
Dartihuti
Ciieee...yang udah dapat sama" buka diri aaa ...lega,ttp ti ati cr bukti gimana busuknya si Bello😄🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!