NovelToon NovelToon
Bayang Yang Runtuh

Bayang Yang Runtuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Shanti_San

Kiara, putri tunggal keluarga terkaya, memilih menikah dengan pria biasa karena cinta yang ia pikir sangat kuat dan abadi. Selama sepuluh tahun pernikahan, Kiara hidup dengan rasa bersalah yang besar—ia tidak pernah bisa mengandung dan melahirkan anak, selalu menyalahkan dirinya sendiri, dan terus meminum obat yang dikatakan suaminya sebagai vitamin penyehat tubuh.

Semua kepercayaan dan kebahagiaannya runtuh dalam sekejap mata. Kiara mengetahui kenyataan pahit, suaminya telah berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.
Lebih menyakitkan lagi, obat yang ia minum setiap hari ternyata adalah pil penunda kehamilan. Sepuluh tahun ia pikir dia kurang subur, padahal dialah yang menjadi korban, dan suaminya sendirilah penyebab ia tidak pernah bisa memiliki keturunan. Puncak kehancuran tiba saat Kiara tahu sahabatnya kini sedang mengandung anak hasil perselingkuhan mereka.

Kiara pun memilih pura-pura tidak tahu, untuk membalaskan rasa sakitnya karena telah di tipu oleh mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shanti_San, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 - Undangan Makan Malam

siang itu saat Baskara sedang berada di ruangan kerjanya, ia mendapatkan telefon dari pak Edward yang mengundang nya untuk makan malam bersama.

"Aldo siapkan pakaian ku, aku akan makan malam dengan keluarga Kiara!." Tintah Baskara.

"Tapi Tuan, kita sudah ada janji meeting."

"Batalkan semua."

"Baik Tuan." Balas Aldo yang tersenyum karena untuk pertama kali nya sebuah meeting penting bisa di cancel untuk seorang wanita.

Bagi baskara Tidak ada yang lebih penting untuknya jika sudah menyangkut tentang Kiara.

•••

Malam itu, Meja makan panjang dari kayu jati yang indah sudah tertata rapi, dipenuhi dengan berbagai hidangan lezat yang disiapkan khusus oleh pelayan rumah, mulai dari masakan tradisional hingga hidangan istimewa yang jarang disajikan. Suasana malam ini terasa berbeda dari biasanya, karena Pak Edward dan Bu Silvia secara khusus mengundang Baskara untuk datang makan malam bersama, selain tentu saja Kiara dan Ferdi yang merupakan anggota keluarga inti.

Bagi Pak Edward dan Bu Silvia, kehadiran Baskara bukan sekadar kedatangan tamu biasa. Mereka sudah mengenal pria itu sejak masih kecil, tahu betul kelakuan, sifat, serta latar belakang keluarganya yang sama terhormat dengan mereka. Selama sepuluh tahun Baskara pergi ke luar negeri, mereka selalu menganggapnya seperti anak sendiri, dan kedatangannya kembali ke tanah air menjadi kabar yang sangat menggembirakan bagi mereka. Ditambah lagi, sikap Baskara yang sopan, bijaksana, sukses, serta selalu penuh perhatian terhadap Kiara, membuat kedua orang tua itu semakin menyukai dan menghargai pria tersebut.

Di ujung meja, Pak Edward duduk dengan wajah cerah, sesekali tertawa renyah mendengar cerita yang disampaikan Baskara. Di sebelahnya, Bu Silvia tampak sangat gembira, terus saja menyodorkan makanan terbaik ke piring Baskara, seolah-olah sedang melayani anak kandungnya sendiri. Di sisi lain meja, duduklah Kiara dan Ferdi bersebelahan. Ferdi tampak sangat antusias dan bersemangat, wajahnya selalu dipenuhi senyum lebar sepanjang malam. Rasa bahagia karena sebentar lagi ia akan dilantik menjadi direktur utama membuat suasana hatinya selalu cerah, apalagi malam ini ia bisa terlihat sangat dekat dan akrab dengan keluarga mertuanya, serta bergaul dengan orang terpandang seperti Baskara. Di matanya, malam ini adalah bukti betapa sempurnanya kehidupan yang sedang ia jalani, betapa kokohnya posisinya di dalam keluarga besar ini.

“Wah, sungguh pengalaman yang luar biasa sekali, Baskara,” ucap Pak Edward dengan nada kagum, saat Baskara baru saja selesai bercerita tentang tantangan dan kesuksesan bisnisnya di luar negeri.

“Ayah selalu tahu kamu anak yang cerdas dan pekerja keras. Tidak sia-sia Ayah selalu yakin kamu akan menjadi orang besar suatu hari nanti. Sekarang kamu sudah buktikan semuanya. Ayah sangat bangga padamu.”

Baskara tersenyum sopan, lalu menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat. “Terima kasih banyak atas pujian dan doa Ayah. Semua ini tidak lepas dari dukungan serta nasihat yang dulu pernah Ayah berikan kepada saya, sebelum saya berangkat ke luar negeri. Saya tidak akan sampai di titik ini tanpa bimbingan Ayah dan Ibu.”

Bu Silvia tersenyum lembut, matanya memandang Baskara dengan penuh kasih sayang.

“Kamu ini sama saja seperti anak kandung kami sendiri, Baskara. Jangan terlalu sopan seperti itu. Kami senang sekali kamu sudah kembali, jadi rasanya keluarga kami semakin lengkap saja sekarang. Semoga saja kamu betah tinggal di sini untuk waktu yang lama.”

“Tentu saja, Ibu. Saya berniat menetap di sini untuk selamanya. Tempat terbaik memang selalu tempat asal kita sendiri, bukan?” jawab Baskara dengan nada hangat, namun saat ia mengucapkan kalimat itu, pandangannya secara perlahan beralih ke arah Kiara yang duduk di seberang meja.

Kiara yang sedang meminum air putih pun mengangkat wajahnya, menatap Baskara sebentar dengan senyum tipis yang sopan, lalu kembali menundukkan pandangannya ke piring makanannya. Sikapnya tetap tenang dan terkontrol, tidak ada perubahan emosi yang terlihat sedikit pun, persis seperti yang selalu ia tunjukkan di hadapan orang lain.

Sementara itu, Ferdi pun ikut menyahut dalam percakapan itu, berusaha menunjukkan dirinya juga merupakan bagian dari keluarga yang terhormat dan cerdas.

“Benar sekali, Baskara. Saya sangat setuju dengan pendapatmu. Di sini lah tempat yang paling nyaman untuk berkarya dan membangun masa depan. Kebetulan sekali, minggu depan saya akan resmi dilantik menjadi Direktur Utama Grup Edward. Nanti saya harap Baskara bisa hadir dalam acara itu, menjadi saksi langkah baru saya dalam mengembangkan perusahaan ini lebih besar lagi,” ucap Ferdi dengan nada suara yang penuh kebanggaan, matanya berbinar-binar penuh rasa puas.

Baskara mengangguk pelan, senyum di bibirnya tetap terjaga namun di baliknya tersimpan rasa jijik yang sulit disembunyikan. Ia tahu betul jabatan itu bukan didapatkan karena kemampuan hebat Ferdi, melainkan semata-mata karena pria itu berhasil menikahi satu-satunya putri kesayangan keluarga Edward. Namun, Baskara tetap bersikap sopan di depan orang tua Kiara.

“Tentu saja, selamat atas jabatan barumu, Ferdi. Itu adalah pencapaian yang sangat hebat. Saya pasti akan hadir untuk memberikan dukungan,” jawab Baskara dengan nada tenang, meskipun di dalam hatinya ia berniat hadir bukan untuk memberi selamat, melainkan untuk menyaksikan kehancuran pria itu dengan mata kepalanya sendiri.

Percakapan pun berlanjut dengan ringan, membahas berbagai hal mulai dari bisnis, perkembangan kota, hingga kenangan masa lalu yang lucu dan menghibur. Suasana terasa begitu harmonis, hangat, dan bahagia, persis seperti keluarga yang paling sempurna di dunia. Namun, semua kehangatan itu hanyalah kulit luar saja. Di balik senyum, kata-kata manis, dan sikap sopan itu, tersembunyi berbagai rahasia besar, rasa sakit, kebencian, serta rencana pembalasan yang sedang disiapkan dengan matang.

1
Yeni Astriani
yuuukk lanjut Author
Yeni Astriani
good job Kiara kamu kuat, kamu punya banyak bukti perceraian pasti bakalan terjadi.
ferdi mengancam karna tahu dia bakalan hidup miskin lagi
Yeni Astriani
lanjut Author
Asyura
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!