Blurb
"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"
Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.
Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."
Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.
Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.
Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.
Semuanya terlambat Alina sadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 : KEPUTUSAN YANG MENYAKITKAN
...BAB 20...
...KEPUTUSAN YANG MENYAKITKAN...
Kirana mengusap air matanya dengan tangan gemetar, lalu menatap suaminya dengan pandangan yang penuh kepedihan dan keputusan yang berat. Ia tahu betul, apa yang harus ia lakukan sekarang, meskipun hal itu akan menjadi hal yang paling menyakitkan di seluruh hidupnya.
“Mas Aditya…” ucap Kirana dengan suara lemah dan terputus-putus, “Ini semua salahku. Semua masalah ini terjadi karena aku. Alina menderita, Alina harus hidup susah dan berbahaya sendirian, semuanya karena dia tidak mau melihatku di sampingmu… Aku yang menjadi penghalang di antara kalian berdua.”
Aditya segera memegang bahu istrinya erat, menggeleng keras dengan wajah sedih.
“Jangan bicara begitu, Kirana! Ini bukan salahmu sedikit pun! Kamu tidak pernah berbuat jahat pada Alina, kamu selalu berusaha baik padanya. Ini semua salah orang jahat yang berani menyakiti dia, salah keadaan yang membuat kami terpisah!”
“Tidak, Mas…” potong Kirana pelan sambil menggeleng lemah, air matanya makin deras mengalir. “Aku sudah coba, sudah berusaha selama bertahun-tahun untuk mendekatkan diri, untuk mencintai dia seperti anakku sendiri. Tapi hatinya tetap tertutup untukku. Dia benci keberadaanku, dia merasa aku telah merebut Papanya, merebut kebahagiaannya. Selama aku masih tinggal di rumah ini, selama aku masih bersamamu, Alina tidak akan pernah mau kembali, tidak akan pernah mau merasa aman dan bahagia. Dia akan terus hidup sendirian, terus berada dalam bahaya seperti kemarin.”
Kirana menarik napas panjang, menelan rasa sakit yang luar biasa di tenggorokannya, lalu mengucapkan keputusan yang sudah ia pertimbangkan matang-matang di dalam hatinya. Keputusan yang paling berat, namun satu-satunya jalan yang ia miliki demi kebahagiaan putri tirinya.
“Karena itu… Aku minta maaf, Mas. Aku memutuskan untuk pergi dari sini. Aku akan pindah rumah, sementara waktu. Aku akan membawa Dimas bersamaku. Kita akan pisah rumah dulu, Mas… Sampai waktu di mana Alina benar-benar mau menerima keberadaanku, sampai dia mau pulang kembali ke rumah ini dengan hati yang tenang, sampai dia merasa rumah ini benar-benar miliknya lagi.”
Kalimat itu keluar dengan susah payah dari mulut Kirana, seolah ada duri tajam yang menusuk setiap kata yang diucapkannya. Hatinya terasa tercabik-cabik, rasanya seperti ada bagian dari dirinya yang ikut hancur bersama keputusan itu. Selama enam tahun, ia hidup bahagia, nyaman, dan penuh cinta bersama Aditya. Pria itu adalah segalanya baginya, rumah ini adalah surga kecil yang ia bangun dengan penuh kasih sayang. Sekarang ia harus meninggalkan semuanya, harus berpisah dari orang yang paling ia cintai, demi kebaikan orang lain.
Aditya terdiam kaku, matanya membelalak tidak percaya mendengar keputusan itu. Rasa sakit yang tajam langsung menusuk hatinya, jauh lebih sakit daripada rasa marah yang ia rasakan tadi. Ia memegang kedua tangan istrinya erat, suaranya gemetar penuh kepedihan.
“Kirana… Kamu sadar apa yang kamu katakan? Kamu mau pergi? Mau meninggalkan aku, meninggalkan rumah ini? Selama enam tahun kita hidup bersama, membangun kebahagiaan, sekarang kamu minta pergi hanya demi itu? Aku tidak sanggup berpisah sama kamu, Kirana… Aku tidak bisa!”
“Aku juga tidak sanggup, Mas… Aku juga sangat sakit hati, rasanya mau mati saja rasanya harus berpisah dari kamu,” jawab Kirana sambil menangis, memeluk erat tangan suaminya. “Tapi lebih sakit lagi rasanya kalau aku harus melihat Alina terus menderita, terus berada dalam bahaya, terus jauh dari Papanya hanya karena aku ada di sini. Demi Alina, demi keamanan dan kebahagiaannya, aku rela mengorbankan kebahagiaanku sendiri. Asalkan dia mau pulang, asalkan dia aman dan bahagia, aku rela melakukan apa saja, Mas.”
Di samping mereka, Dimas hanya bisa menangis diam-diam, melihat kedua orang tuanya saling berpegangan tangan dengan wajah penuh kesedihan yang mendalam. Ia mengerti betapa beratnya keputusan yang diambil ibunya, betapa besar pengorbanan yang dilakukan Kirana demi kakak tirinya yang bahkan tidak pernah menyayanginya.
Di ruangan itu, tidak ada lagi amarah, tidak ada lagi pertengkaran. Yang ada hanyalah rasa sakit hati yang mendalam, rasa pengorbanan yang tulus, dan cinta kasih yang besar antara orang tua dan anak, antara suami dan istri, yang diuji dengan cobaan yang begitu berat.
Aditya menatap mata istrinya yang basah air mata, mata yang selama ini selalu menatapnya dengan cinta dan kelembutan. Ia tahu, Kirana tidak akan pernah mengubah keputusannya. Wanita itu memiliki hati yang begitu lembut, begitu mulia, begitu penuh kasih sayang, sampai ia rela mengorbankan dirinya demi orang lain. Dengan mata yang juga berkaca-kaca, Aditya akhirnya mengangguk perlahan, meskipun hatinya terasa hancur berkeping-keping.
“Baiklah… Kalau itu keputusanmu, kalau itu satu-satunya jalan demi kebaikan Alina, aku terima. Aku akan menghargai keputusanmu, Kirana,” ucap Aditya pelan dengan suara parau. “Tapi ingat satu hal, meskipun kita pisah rumah, meskipun jarak memisahkan kita… Hatiku akan tetap bersamamu, tidak akan pernah berubah sedikit pun. Aku akan menunggu, selama apa pun itu, sampai hari di mana kamu bisa kembali ke sini, ke pelukanku lagi.”
Kirana mengangguk dengan air mata yang makin deras, lalu memeluk erat tubuh suaminya, memeluknya seakan tidak mau melepaskan lagi. Di pelukan itu, mereka menumpahkan semua rasa sakit, semua rasa rindu yang akan datang, semua cinta yang tetap utuh meskipun keadaan memaksa mereka berpisah untuk sementara waktu.
Di sudut ruangan, Dimas menyaksikan semuanya dengan hati yang sedih dan terharu. Ia berjanji di dalam hatinya, ia akan selalu mendampingi ibunya, akan selalu menjaga dan menyayanginya, sebagai balasan atas pengorbanan besar yang dilakukan wanita itu demi kebahagiaan keluarganya.
Keputusan yang menyakitkan itu akhirnya diambil. Sebuah pengorbanan cinta yang besar, yang dilakukan demi menyatukan kembali keluarga yang retak, demi mengembalikan keamanan dan kebahagiaan bagi seorang gadis yang sedang terluka hatinya.
Bersambung ....
Suami istri tidur terpisah, istri sakit tidak tau, istri begadang tidak tau, lalu buat apa menikaaaahhhh..???? 🙄🙄🙄