Kang Youngha seorang yang dulunya Direktur Muda Perusahaan Kang. Dia menikah dengan Jang Dohee, sosok perempuan yang dicintainya sedari dulu. Tiba-tiba, Kang Youngha melepaskan diri dari jabatan Direktur Muda. Dia mulai mengenal dunia militer dan masuk melalui Wajib Militer, di dunia militer nya Kang Youngha disegani banyak orang. Kali ini, dia benar-benar satu tim dengan teman-teman masa kecilnya yang sudah dianggap saudara. Di pertengahan tahun, dia mulai seperti hidup sendiri. Jang Dohee yang sudah tidak diajak berbicara semenjak Ayah Youngha sendiri berbuat hal yang tidak baik kepada keluarganya, Jang Dohee yang merasa kesal dan harus meluruskan ini selama pernikahannya yang sudah hampir menyentuh 5 tahun itu. Meski begitu, Dohee masih memperhatikan Youngha diam-diam dan mulai mengumpulkan semua aset untuk masa tuanya bersama suaminya. Di sisi lain, pria yang bernama Yoon Hain adalah teman masa kecil Kang Youngha. Mereka sudah seperti saudara kandung dan menyimpan banyak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Black, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 : When I Falling In Love With You
7 bulan telah usai,
Youngha sedikit merayakan si kembar yang sudah hampir setahun itu. Rumah utama sangat ramai, semua orang terdekat mengunjungi pesta tersebut. Dikejutkan dengan Laksamana Shin dan Nyonya Shin juga datang ke pesta, Youngha dan Dohee memprioritaskan mereka. Haebin menyambut mereka layaknya seperti orang tuanya sendiri, di pesta juga ada Shin Garim yang datang dengan istrinya. Rumah utama sangat ramai,
“Aiya~ Tuan dan Nyonya Shin, terima kasih sudah datang ke acara ini” ujar Dohee,
“Hahaha... Tentu saja Dohee kami datang, Haebin yang memberitahu kami tentang acara ini” jawab Nyonya Shin,
“Bin” panggil Dohee sambil menatap Haebin yang sedang makan kue itu,
“Hm? Heheh” jawab Haebin yang hany tertawa,
“Oh ya? Mana calonmu? Haebin?” tanya Laksamana Shin Han Gu penasaran,
“Itu, dia sedang berbicara dengan teman-teman setim nya” jawab Haebin sambil menunjuk Hain,
“Oh! Ternyata Mayor Yoon Hain ya?!” tanya Laksamana Shin yang suaranya sampai terdengar memanggil Hain, membuatnya langsung berhenti berbincang dan menghampiri suara itu,
“Siap, Mohon izin selamat datang…” jawab Hain mode tentara,
“Ish... Paman selalu begitu” gumam Haebin dengan kesal,
“Hmm... Tak apa-apa sekalian berkenalan” bisik Dohee,
“Dohee” panggil Haebin yang menatap Dohee tertawa cekikikan itu,
“Kapan kamu akan menikah dengan Haebin?” tanya Laksamana Shin,
“Siap, mohon ijin besok” jawab Hain tegas,
“Bin? Kenapa tidak mengatakannya kepada kami?” tanya Nyonya Shin sambil menatap Haebin,
“Hehe... Tenang bibi, sudah aman semuanya kok” jawab Haebin,
“Astaga, siapa yang jadi saksi pernikahan kalian besok?” tanya Laksamana Shin,
“Suami Jang Dohee, Kolonel Kang Youngha” jawab Haebin jelas,
“Hah... Syukurlah kalau begitu,” ucap Laksamana Shin tenang, “Letkol Yoon, nanti jangan kaget ya tau sifat Haebin yang sebenarnya” lanjutnya lalu diikuti tawa.
Kemudian Hain dan Haebin saling menatap dan berpamitan melihat si kembar Kang.
Hain dan Haebin yang sedari tadi menggendong si kembar itu senang sampai acara selesai, si kembar lengket dengan Haebin dan Hain sampai menangis di ambil dengan Youngha,
“Sudah kak, tak apa-apa daripada menangis” ujar Hain,
“Hish, kamu itu kenapa lengket banget sama Paman Yoon dah...” omel Youngha kemudian mencium wajahnya dengan sedikit menggelitik Dongha,
“Younghee sayang, ayo sama Mama dulu ya... Kasihan Bibi Bin” ujar Dohee sambil membuka tangannya untuk siap menggendong.
Younghee yang menggelengkan kepalanya lalu menaruh kepalanya di dada Haebin. Dohee menatap tajam kepada Younghee,
“Biar saja, Ma... Mungkin dia kerasa kalau besok hari nikahku” jawab Haebin lalu tertawa,
“Ah, pantas saja” ujar Dohee sambil menatap kedua mata Haebin teringat.
Malam hari tiba, mereka semua kumpul di rumah utama seperti biasanya, Haebin yang sudah dekat kembali dengan mereka semua membagikan cerita di kehidupannya, sebelum dan sesudah bertemu dengan Hain. Akhirnya dari sana, mereka tahu hubungan mereka selama 6 tahun yang sempat kandas itu. Dain sempat menangis saat mendengar cerita mereka, sampai dimana si kembar juga ikut dalam perkumpulan itu,
“Hey, Kang Dongha... Kenapa kamu tidak tidur sih?” tanya Youngha kesal sambil menepuk pantatnya pelan yang memakai pampers itu, sedari tadi di pelukan Hain,
“Papapapa... Nyonyonyo” timpal Dongha seolah mengerti sambil menggelengkan jari telunjuk ke arah Papa nya,
“Apa apa? Hmm hmm?” tanya Youngha gemas lalu memakan jari Dongha yang kecil mungil itu,
“Argh! Hahahah” tawa takut campur bahagia Dongha saat Youngha memakan jarinya ,
“Kak Dongha, lihat adikmu sudah tidur ini di pelukan Bibi Bin” ujar Dain,
“Yayaya” jawab Dongha sambil tersenyum ke arah Dain,
“Ih sayang, kamu lihat kan tadi? Dia senyum~” ujar Dain dengan mata berbinar-binar sambil memukul lengan Raon pelan,
“Iya sayang” jawab Raon sabar,
“Gendong Papa dulu ya?” tanya Hain,
“Hmmmmm” jawab Dongha yang ternyata tidur secepat itu di dada Hain,
“Loh” gumam Hain terkejut sambil melihat Dongha yang sedang tertidur itu.
Youngha tertawa kecil lalu mengambil Dongha dari pelukan Hain, dia bingung sambil menatap Youngha yang menertawakan nya itu. Youngha berpamitan kepada mereka untuk masuk kedalam, kemudian Raon mengikuti Youngha. Mereka awalnya berbicara sambil duduk di sofa tapi dengan cepat kesadaran mereka hilang karena lelah, Dongha turun dari gendongan Youngha lalu duduk di tengah-tengah mereka, dia juga ikut menyandarkan badannya ke sofa seperti Papa dan Pamannya. Pas waktu Dain dan Dohee lewat, mereka tak sengaja melihat lalu memotretnya. Dain dan Dohee girang, ternyata mereka bertiga sudah tidur.
Dohee langsung mengangkat Dongha yang ditengah itu dan membawanya ke kamar, lalu Dohee dan Dain menyelimuti mereka berdua. Ternyata Dohee dan Dain tidak tidur, mereka sedang membuat sayuran berbumbu merah segar untuk besok dibawa ke kota usai pernikahannya Hain dan Haebin. Sudah tengah malam, mereka masih memasak banyak. Dohee menggendong Younghee yang menangis di tengah malam, para suaminya masih terjaga di sofa sambil terlentang. Rambut Dain tiba-tiba menghalangi matanya, mereka tertawa pelan, lalu Dohee menjepit rambutnya kebelakang.
Dain yang melumuri sawi putih di setiap helainya, di temani oleh Dohee sambil menggendong Younghee memakai gendongan bayi. Disana Dohee dan Dain juga membicarakan Ibu Raon yang kini tengah sakit,
“Dain, kita siap-siap saja ya... Aku hanya bisa berdoa semoga Ibu sembuh” ujar Dohee,
“Iya kak, aku juga berharap begitu... Kalau tidak sembuh kita harus kembali ke kota ini kak” jawab Dain putus asa,
“Dain, kita harus tetap bertahan... Ibu pasti sembuh” ujar Dohee,
“Kak, bolehkah aku satu rumah denganmu?” tanya Dain,
“Boleh sayang, kak Dohee akan membersihkan isi rumah... Disana juga ada Bibi Hwang” jawab Dohee,
“Kak, terima kasih” ujar Dain sambil menaruh kepalanya di pundak Dohee,
“Dain, kakak merindukanmu sekali” ujar Dohee,
“Sama kak, aku juga... Pas waktu selesai kuliah, aku harus gimana mau ke rumah kamu... Aku takut Kak Youngha sudah selesai dengan hubungan pernikahan kalian, tapi ternyata Kak Haebin bilang padaku kalau kalian baik-baik saja, aku lega dan bersyukur” jawab Dain terus terang,
“Iya sayang, kakak baik-baik saja kok... Kalau semisal sudah selesai kakak akan kembali ke apartemen kita dan tidak akan pernah menikah lagi” ujar Dohee,
“Kakak, terima kasih ya... Kamu sudah bertahan dengan kak Youngha. Aku bersyukur kalian punya si kembar” jawab Dain,
“Apalagi kakak, kalau kamu punya anak sama Raon kakak semakin giat buat beli fasilitas di sekolah Hanshin” ujar Dohee,
“Iya kak, kelihatan nya langsung triplets si kak, kembar tiga hahaha” jawab Dain bercanda,
“Boleh, boleh” ujar Dain setuju.
Tiba-tiba, Youngha bangun dari tidurnya yang di sofa. Kedua matanya merah, dia membuka selimut, duduk sejenak dan mencari keberadaan Dohee dengan rambut acak-acakan seperti singa. Dia sempat tersandung kaki kursi “Aw!”, dia langsung menendang kursi itu. Dohee dan Dain terkejut, lalu berdiri. Youngha yang masih marah itu langsung melihat ke arah Dohee yang menggendong Younghee dan Dain yang masih memakai sarung tangan karet.
“Sayang?” tanya Dohee memegang punggung Younghee sambil menepuk pantat Younghee pelan,
“Sayang, kenapa? Dain? Kenapa kalian tak tidur?” tanyanya bingung,
“Kita memasak” ujar Dohee dan Dain bersamaan,
“Kenapa? Kenapa? Masak apa?” tanya Youngha bingung,
“Untuk kita makan dan kita bawa besok ke kota” jawab Dohee,
“Sini Younghee biar aku gendong...” ujar Youngha,
“Oke...” jawab Dohee lalu membuka gendongannya, “Kamu sudah sadar kan kak?” tanyanya sambil menatap Youngha,
“Hmm” jawab Youngha dengan nyawa masih belum terkumpul,
“Coba liat aku?” suruh Dohee,
Youngha langsung mencium bibir, Dohee. Kemudian Dohee mengeratkan tali gendongannya, Youngha memegang kedua pipi Dohee lalu menatap sebentar memastikan kemudian menganggukkan kepala pasti dan pergi kembali lagi di sofa. Dia menekan tombol sofa untuk mengeluarkan sandaran kaki, Raon langsung bangun sama seperti Youngha kedua matanya memerah. Setelah sepenuhnya sandaran kaki keluar, Youngha langsung memberikan Raon bantal. Dia juga melepas gendongan Younghee lalu menaruh Younghee di dadanya dan dia tidur lagi. Dohee dan Dain menggelengkan kepalanya heran sambil tersenyum,
“Kak Dohee, apa Kak Raon itu mirip dengan Kak Youngha nantinya?” tanya Dain sambil membantu Dohee memindahkan sayuran berbumbu itu ke dalam tepak putih besar,
“Dain sayangku, Raon adalah Kak Youngha dua... Hidupnya yang penuh tekanan itu, membuatnya tidak punya ekspresi yang berwarna dan mendalam... Kakak bersyukur dia bertemu denganmu” jawab Dohee,
“Kak Dohee, kamu sempurna sekali saat mengenalku... Aku sudah hidup beberapa tahun dengan kakak, harusnya sifatku ini seperti kakak ya?” tanya Dain,
“Dain yang lebih baik daripada kakak, kamu sudah hebat melewati ini bersama-sama ya sayang” jawab Dohee sambil mengelus kepala Dain usai melepas sarung tangan,
“Aku punya tanggung jawab besar di kakak jadi aku harus nurut dengan kakak” ujar Dain,
“Sekarang, kamu harus menurut dengan Raon ya” jawab Dohee sambil tersenyum.
Setelah itu mereka tidur di sofa depannya Raon dan Youngha, sambil menunggu pagi. Saat jam menunjukkan pukul 5 pagi, Youngha dan Raon bangun. Younghee pun juga ikut bangun, akhirnya Youngha dan Raon memandikan Younghee dengan telaten. Setelah Younghee mereka memandikan Dongha, kemudian membersihkan badan. Saat waktu menunjukkan pukul 7 pagi, Youngha duduk di sebelah Dohee, dia membangunkan Dohee dengan lembut.
Begitu juga dengan Raon, dia membangunkan Dain sangat lembut. Setelah itu mereka makan bersama, si kembar juga ikut makan. Ternyata kemarin, Hain dan Haebin pergi pulang kemudian Sion-Yuna juga berpamitan pulang. Jadi rumah utama itu hanya ada mereka berempat, sudah siap. Hain dan Haebin langsung pergi ke rumah utama itu lagi buat memastikan,
“Aww! Cantiknya pengantin baru ini” ujar Dohee yang girang sambil menggenggam tangan Haebin,
“Dohee, kamu selalu mengatakan diriku cantik disaat aku sedang gugup” jawab Haebin yang tangannya berkeringat itu,
“Sayang, kamu gugup?” tanya Hain,
“Diam kamu.” suruh Haebin, lalu menangis ke arah Dohee.
Saat mendengar itu Youngha dan Raon menahan tawanya, Hain yang memakai seragam putih beserta pangkat Mayornya itu sedih. Kemudian Dohee membisikkan sesuatu yang membuat Haebin lega,
“Maaf sayang“ ujar Haebin sambil menggandeng lengannya dan membenarkan kerah seragam Hain,
“Tidak apa-apa sayang” jawab Hain lalu menempelkan keningnya ke kening Haebin.
Setelah itu, mereka pergi ke kota. Pernikahan itu disaksikan oleh Kang Youngha sebagai kakak wali tertua, acara pernikahannya sangat ramai dengan kedatangan tamu-tamu perwira yang mengenal Hain. Tamu itu juga banyak dari pihak Haebin, acara pernikahan yang sangat besar. Hain merasa lega, karena dia menikah dengan seseorang yang dia cintai. Meskipun cerita cinta mereka agak rumit, untungnya teman-temannya selalu menguatkan satu sama lain terutama Youngha.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...