Nayla Putri tidak menyangka kalau niatnya menolong orang yang pingsan di depan pintu rumahnya harus berahir di pelaminan Bagaimana Nayla menjalani pernikahan dadakannya itu ? apakah Nayla akan bahagia ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takdir Salah Alamat
Dengan hati yang berdebar dan tangan yang gemetar, Nayla mendekati dan mengarahkan senter hpnya pada sosok yang tergeletak dilantai depan pintu rumah kosnya .
Cahaya senter itu menyinari sesosok pemuda. Dia mengenakan kemeja flanel kotak-kotak berwarna biru tua yang tiga kancing teratasnya sudah terbuka, memperlihatkan kaus dalam berwarna putih di baliknya. Pemuda itu juga mengenakan celana jins hitam dan sepasang sepatu kanvas, yang anehnya, salah satu sepatunya sudah lepas dan tergeletak satu meter dari kakinya.
Nayla memberanikan diri melangkah lebih dekat, mengabaikan suara alarm bahaya di dalam otaknya. Dia mengarahkan senter tepat ke wajah pemuda itu.
Sesaat, Nayla terpana. Di bawah siraman cahaya senter, wajah pemuda itu terlihat sangat jelas. Dia memiliki gurat wajah yang tegas, hidung yang mancung sempurna, dan alis tebal yang sedikit bertaut seolah-olah sedang menahan rasa sakit dalam tidurnya. Rambut hitamnya yang sedikit acak-acakan justru menambah kesan maskulin yang kuat. Singkatnya, pemuda ini terlalu tampan untuk ukuran seorang gelandangan atau pelaku kriminal.
Nayla berlutut di samping tubuh pemuda itu, jarak mereka kini hanya sekian puluh sentimeter. Dia mencium aroma samar alkohol yang bercampur dengan wangi parfum maskulin yang mahal dan elegan.
"Mas? Mas?" Nayla memanggil dengan suara berbisik, takut membangunkan tetangga sekitar. Dia menggoyang-goyang bahu pemuda itu dengan ujung jarinya.
"Bangun, Mas! Jangan mati di teras rumah saya, dong. Ini rumah sewaan, kalau ada yang mati di sini nanti harga kontrakannya bisa turun drastis!"
Tidak ada jawaban. Pemuda itu hanya melenguh pelan, lalu membalikkan posisinya menjadi miring, menghadap ke arah kaki Nayla, seolah-olah lantai semen teras itu adalah kasur busa kualitas premium di hotel berbintang lima.
Nayla mulai panik. Dia tidak bisa membiarkan orang asing tidur di teras rumahnya sampai pagi. Bagaimana kalau besok pagi ibu pemilik kontrakan datang untuk menagih uang air dan melihat pemandangan ini? Bisa-bisa Nayla diusir karena dianggap membawa laki-laki asing ke dalam rumah.
"Aduh, Mas, tolong bekerja samanya, ya!" Nayla menggerutu jengkel. Dia meletakkan tas ranselnya di lantai, lalu menggunakan kedua tangannya untuk menarik lengan pemuda itu, berniat mendudukkannya di kursi kayu panjang yang ada di sudut teras.
Nayla mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa dari tubuhnya yang lelah akibat lembur. Dia membungkuk dalam-dalam, merengkuh bahu lebar pemuda itu. Karena posisi tubuh si pemuda yang cukup berat, wajah Nayla terpaksa berada sangat dekat dengan dada pemuda tersebut, hingga dia bisa mendengar detak jantung pria itu yang masih teratur.
Tepat pada detik yang sangat krusial itu, ketika posisi tubuh mereka terlihat sangat ambigu dan intim dari kejauhan, sebuah kilatan cahaya yang sangat terang tiba-tiba menyambar area teras rumah Nayla.
"Maling! Ada maling di rumah Mbak Nayla!"
sebuah teriakan melengking yang sangat familier membelah kesunyian malam dengan daya hancur setingkat bom atom.
Nayla tersentak kaget. Kehilangan keseimbangan, tubuhnya justru limbung dan jatuh tepat di atas dada bidang pemuda yang sedang pingsan itu. Sialnya lagi, wajahnya sempat terbenam di ceruk leher pria asing tersebut sebelum dia sempat menegakkan tubuhnya kembali dengan panik.
"Astaga, Gusti Allah! Mbak Nayla! Siapa itu? Sedang apa kalian malam-malam begini dalam posisi tidak senonoh?!"
Suara bariton yang sarat akan nada penghakiman itu milik Pak RT, yang mendadak muncul dari balik pagar bersama tiga orang petugas ronda malam.
Salah satu dari mereka adalah Pak Rohiman, seorang pria paruh baya bertubuh tambun yang menjabat sebagai komandan ronda, lengkap dengan sarung yang diselempangkan di bahu dan sebuah pentungan kayu tebal di tangan kanannya.
Nayla membelalakkan mata, buru-buru berdiri dan menjauh dari tubuh pemuda itu hingga punggungnya membentur pintu kayu rumahnya. Dia mengacungkan kedua tangannya ke udara, mencoba menghalau silau lampu senter besar yang diarahkan langsung ke wajahnya.
"Pak RT! Pak Rohiman! Tunggu dulu, ini tidak seperti yang Bapak-Bapak lihat! Ini salah paham total!" teriak Nayla dengan suara gemetar, mencoba membela diri di bawah tatapan empat pasang mata yang menghakimi.
Pak Rohiman melangkah maju ke area teras, mengabaikan batasan kesopanan. Dia mengarahkan senternya ke bawah, meneliti tubuh pemuda yang masih tergeletak tak berdaya, lalu beralih menatap pakaian kerja Nayla yang kini sedikit kusut akibat insiden tarik-menarik tadi.
"Salah paham bagaimana, Mbak Nayla?" Pak Rohiman mendengus kasar, wajahnya memerah karena merasa berhasil menangkap basah sebuah pelanggaran moral terbesar abad ini di kampungnya.
"Kami ini melihat dengan mata kepala sendiri! Jam satu malam, pintu pagar tertutup, dan Mbak Nayla sedang pelukan di lantai dengan laki-laki yang kancing bajunya terbuka begitu! Mau mengelak bagaimana lagi?!"
"Saya tidak pelukan, Pak Rohiman!" Nayla berteriak frustrasi, air mata mulai menggenang di sudut matanya karena kombinasi rasa lelah, takut, dan marah yang luar biasa. "Saya baru pulang kerja dari kantor! Pria ini sudah ada di sini, dia pingsan! Saya cuma mau menolong dia untuk duduk di kursi!"
"Halah! Anak zaman sekarang kalau ketahuan berbuat mesum pasti alasannya banyak sekali," potong salah seorang petugas ronda yang bertubuh kurus sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi jijik yang dibuat-buat. "Kalau pingsan, kenapa mukanya sampai nempel di leher begitu? Memangnya mau napas buatan lewat leher?"
"Itu karena saya tersandung pas kalian meneriaki saya!" seru Nayla, suaranya naik satu oktav. Dia menunjuk ke arah tas laptop dan tas ranselnya yang tergeletak di lantai sebagai bukti. "Lihat ini, saya bahkan belum masuk ke dalam rumah! Saya masih pakai sepatu kerja!"
Pak RT, yang biasanya bertindak sebagai penengah yang bijaksana, kali ini justru ikut menghela napas panjang dengan raut wajah prihaton yang mendalam. Dia membetulkan posisi kopiahnya sebelum berbicara.
"Mbak Nayla, ini lingkungan terhormat. Kampung kita ini sudah bertahun-tahun mendapatkan penghargaan sebagai kampung sadar hukum dan moral. Perbuatan berduaan dengan lawan jenis yang bukan muhrim di tempat sepi pada larut malam, apalagi dalam posisi seperti tadi, sudah jelas melanggar norma kesusilaan dan adat di sini. Kita tidak bisa membiarkan kampung ini kena sial atau azab karena ada warga yang berbuat zina!"
Kata zinn yang diucapkan Pak RT
bagaikan hantaman gada besi yang telak mengenai ulu hati Nayla. Seluruh tubuhnya mendadak lemas.
"Zina dari mana, Pak? Saya bersumpah demi Tuhan, saya bahkan tidak tahu nama pria ini siapa! Dia orang asing!"
"Kalau tidak kenal, kenapa dia bisa tidur di teras rumahmu? Memangnya dia paket kiriman kurir antar-kota yang salah alamat?" Pak Rohiman menyindir pedas, diikuti oleh tawa sinis dari petugas ronda lainnya.
"Sudah, tidak ada gunanya berdebat di sini. Ini sudah meresahkan. Bawa mereka berdua ke rumah Pak RT! Panggil perwakilan warga yang lain. Malam ini juga, mereka harus dinikahkan secara sah daripada menjadi aib yang mencoreng nama baik kampung kita!"
Nayla melotot sempurna hingga matanya terasa ingin keluar. Kepalanya mendadak pening, seolah-olah bumi di bawah kakinya sedang berputar dengan kecepatan tidak wajar. (Nikah? Malam ini juga? Dengan pria pingsan berbau alkohol yang bahkan identitasnya saja masih menjadi misteri universal?)
"Pak RT, ini gila! Ini pemaksaan! Saya bisa tuntut kalian semua ke polisi!" ancam Nayla, suaranya parau karena menahan tangis yang siap pecah kapan saja.
"Silakan saja kalau Mbak Nayla mau makin malu karena beritanya menyebar," jawab Pak RT dengan tenang namun dingin.
"Tapi aturan kampung tetap aturan. Daripada warga mengamuk dan mengarak kalian berdua keliling kampung, menikah malam ini adalah jalan keluar terbaik untuk menjaga kehormatan Mbak Nayla dan kampung kita."
Dua petugas ronda langsung bergerak maju. Salah satu dari mereka mulai memapah tubuh pemuda yang masih pingsan itu dengan kasar, sementara yang lain memberi isyarat dengan pentungan agar Nayla berjalan di depan mereka menuju rumah Pak RT.
Nayla melangkah dengan kaki yang terasa seberat timah. Air matanya akhirnya luruh juga, membasahi pipinya yang pucat. Dia menatap ke arah pemuda tampan yang kini diseret di sebelahnya. Pemuda itu hanya melenguh pelan, memposisikan kepalanya bersandar di bahu petugas ronda yang memapahnya, sama sekali tidak menyadari bahwa akibat dari pingsannya yang tidak estetis itu, hidup seorang gadis bernama Nayla Putri baru saja digadaikan oleh takdir yang benar-benar salah alamat.