"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.
Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Pertahanan Terakhir Di Desa Pinus
Gua meluk tas ransel gua yang di dalemnya ada laptop Dedik dan flashdisk merah gua. Erat banget. Tangan gua sampai gemeteran.
Di ambang pintu penginapan, suasananya bener-bener kayak adegan film mafia. Matahari baru aja mau nongol, kabut tipis masih ada, tapi hawa panas udah kerasa dari tatapan Arlan.
Arlan berdiri di sana dengan penyangga bahu yang masih nempel, tapi mukanya nggak sesakit kemarin.
Di belakangnya, Mas Rendy si pengacara udah siap dengan koper kulitnya, ditemenin dua orang berbadan tegap yang mukanya lebih kaku daripada kanebo kering.
"Ded, serahin laptop itu sekarang," kata Arlan ketus. "Gue dapet kuasa penuh dari sponsor buat nyita semua aset riset yang dibiayai mereka. Termasuk semua data rekaman yang lo ambil semalem secara ilegal."
Dedik berdiri di depan pintu, ngehalangin jalan masuk. Dia cuma pake kaos oblong putih yang lecek, tapi postur tubuhnya tenang banget. Dia nggak kelihatan kaget sedikit pun.
"Aset riset?" Dedik naikin satu alisnya. "Logikanya, Lan... sponsor itu membiayai operasional, bukan memiliki hak cipta intelektual sebelum ada serah terima resmi."
"Secara hukum kampus, data yang belum diolah dan belum disidangkan itu milik peneliti. Dan peneliti utamanya adalah gua, bukan lo."
"Gue nggak mau denger kuliah lo!" bentak Arlan. Dia nengok ke dua orang berjas di belakangnya. "Cek ke dalam. Ambil semua perangkat digital yang mereka punya."
"Tunggu dulu!" Kak Tiara maju, berdiri di samping Dedik.
"Mas Rendy, Anda ini pengacara, Anda pasti tahu kalau masuk ke penginapan orang tanpa izin itu namanya trespassing. Ini bukan kantor Anda, ini wilayah Desa Wisata yang dilindungi."
Mas Rendy benerin kacamatanya, mukanya tetep lempeng. "Kami punya surat tugas dari lembaga sponsor, Bu Tiara."
"Klien kami merasa ada indikasi penggelapan data yang dilakukan oleh Saudara Dedik. Kami berhak mengamankan aset sebelum data itu disalahgunakan atau dijual ke pihak lain."
Gua pengen teriak "Halah, pret!" tapi suara gua ketahan di tenggorokan. Dijual ke mana coba? Ke tukang gorengan?!
"Dijual?" Dedik ketawa tipis, tipe ketawa yang bikin orang ngerasa bego. "Satu-satunya orang yang mau jual data ini adalah klien lo sendiri, Rendy. Arlan mau klaim ini sebagai hasil riset dia buat dapet promosi di kantornya, kan?"
Muka Arlan merah padam. "Bacot lo, Ded! Ambil!"
Dua orang berjas itu mulai maju. Dedik nggak mundur. Dia malah ngeraih gitar akustiknya yang ada di samping pintu, tapi bukannya buat mukul, dia malah meluk gitar itu.
"Rey, lo dengerin gua," bisik Dedik tanpa nengok ke belakang. "Begitu gua kasih kode, lo lari lewat pintu belakang. Kak Tiara udah siapin motor warga di sana."
"Lo langsung ke kampus, cari Pak Dekan. Jangan berenti meskipun Arlan teriak."
"Tapi Ded, lo gimana?!" gua ketakutan setengah mati.
"Gua punya cara sendiri. Now!"
Dedik tiba-tiba maju dan sengaja numpahin gelas kopi item yang masih penuh di atas meja deket pintu, tepat ke arah sepatu mengkilap salah satu orang berjas itu.
"Woy! Sialan!"
Di saat perhatian mereka teralih, Dedik narik lengan gua dan dorong gua ke arah dapur. "LARI, REY!"
Gua nggak mikir dua kali. Gua lari sekenceng-kencengnya nembus dapur penginapan yang sempit, loncat lewat jendela belakang yang pendek, dan bener aja, di sana udah ada motor bebek warga yang mesinnya nyala.
Kak Tiara udah nunggu dengan muka pucat.
"Reyna! Naik!"
Gua naik ke boncengan, Kak Tiara langsung tancap gas. Dari kejauhan, gua bisa denger suara Arlan teriak-teriak manggil nama gua, tapi motor kita udah melesat nembus jalanan desa yang masih sepi.
***
Sementara itu, di penginapan...
Dedik duduk tenang di kursi kayu, ngeliatin Arlan dan pasukannya yang kebingungan karena Reyna udah ilang.
"Puas lo?" Arlan nyengkerem kerah kaos Dedik. "Lo pikir lo bisa menang cuma dengan nyembunyiin laptop itu? Gue bisa laporin lo ke polisi atas tuduhan pencurian!"
Dedik ngelepasin tangan Arlan dengan gerakan santai. Dia benerin kerah kaosnya yang kusut.
"Pencurian apa, Lan? Laptop itu punya gua. Gua beli pake duit tabungan gua sendiri. Isinya? Data mentah yang nggak bakal berguna tanpa algoritma pengolah yang gua tanem di server pribadi gua,"
Dedik berdiri, terus jalan ke arah dispenser buat ngambil air. "Lo mau bawa gua ke polisi? Silahkan."
"Tapi lo harus jelasin dulu ke mereka kenapa perwakilan sponsor kayak lo ngejar-ngejar mahasiswa jam enam pagi di desa terpencil cuma buat sebuah laptop."
Arlan gemeteran nahan marah. Dia ngerasa kalah telak. Logika Dedik selalu punya celah buat bikin dia kelihatan kayak orang tolol.
"Rendy, lakuin sesuatu!" perintah Arlan.
Rendy cuma diem, dia ngeliat ke arah jalanan desa. Dia sadar, kalau masalah ini makin panjang, reputasi dia sebagai pengacara juga bakal hancur karena terlibat dalam perebutan data yang nggak jelas status hukumnya.
"Lan, kita nggak bisa paksa dia kalau dia nggak pegang barangnya," bisik Rendy. "Kita harus ke kampus sebelum cewek itu sampe ke Dekan."
"Telat," sahut Dedik sambil minum air mineralnya. "Reyna itu Sagitarius, Lan. Dia ceroboh, tapi kalau soal lari dari masalah, dia itu yang paling kenceng."
"Jam segini jalanan ke kota masih sepi, dia bakal sampe lebih cepet dari mobil mewah lo yang susah lewat tanjakan itu."
***
Gua meluk tas itu kenceng banget. Angin pagi nusuk kulit gua, tapi adrenalin gua lagi di puncak. Kak Tiara bawa motor kayak pembalap liar, nyalip truk-truk pengangkut sayur dengan lincah.
"Rey! Lo pegangan yang kuat! Kita harus sampe sebelum jam kantor mulai!" teriak Kak Tiara.
"Iya, Kak!"
Pikiran gua cuma satu, Dedik. Gua takut dia dipukulin atau diapa-apain sama orang-orang gede itu. Meskipun Dedik nyebelin, dia udah ngerasain semua pahitnya proyek ini bareng gua.
Dia yang nuntun motor pas bensin abis, dia yang meluk gua pas kedinginan di hutan, dia yang belain gua dari Arlan.
Kita nyampe di depan gedung Dekanat jam delapan teng. Satpam kampus sampe kaget liat asdos cantik dan mahasiswi akuntansi yang mukanya kucel, baju penuh tanah, turun dari motor warga yang butut.
"Pak Dekan ada?!" tanya Kak Tiara napasnya Senin-Kamis.
"Ada Bu, baru aja masuk. Tapi..."
Gua nggak nunggu satpam selesai ngomong. Gua langsung lari ke lantai dua, ke ruangan Pak Dekan yang pintunya masih kebuka dikit.
BRAK!
Gua buka pintunya tanpa ngetok. Pak Dekan yang lagi minum teh hampir aja kesedak.
"Pak! Tolong, Pak! Riset 'Harmoni Nada' mau disabotase!" teriak gua sambil naruh laptop di meja beliau.
Pak Dekan ngerutin dahi, ngelepas kacamata bacanya. "Reyna? Tiara? Ada apa ini? Kenapa kalian berantakan sekali?"
Kak Tiara masuk dan mulai ngejelasin semuanya. Dari mulai intimidasi Arlan, masalah sponsor yang nggak sehat, sampe data riset yang udah berhasil disempurnain sama Dedik tadi malem.
Pak Dekan dengerin dengan serius. Beliau itu orangnya objektif, dan beliau sangat bangga sama Dedik karena Dedik salah satu mahasiswa berprestasi di TI.
"Buka datanya," perintah Pak Dekan.
Gua buka laptop Dedik. Begitu nyala\, ada pesan di layarnya: "PASSWORD: REYNA_SAGI_69".
Gua ngerasa pipi gua panas. Sialan lo Ded, password aja pake nama gua! Gua ketik password-nya, dan muncul sebuah file video dan audio.
Begitu gua klik play, suara gitar Dedik yang jernih keluar dari speaker laptop, disusul sama suara gua yang nyanyi di tengah hutan bambu.
Visualnya nunjukin grafik frekuensi yang bergerak sinkron sama suara bambu yang bergetar. Indah banget.
Pak Dekan diem. Matanya berkaca-kaca dikit. "Ini... ini luar biasa. Frekuensi bambu kuning ini bener-bener bisa jadi terapi akustik yang baru. Dan vokal Reyna memberikan resonansi yang nggak diduga."
Tiba-tiba, pintu ruangan kebuka lagi. Arlan masuk bareng Rendy dengan muka penuh amarah.
"Pak Dekan! Saya keberatan! Data itu adalah milik perusahaan kami!" teriak Arlan.
Pak Dekan berdiri, auranya langsung berubah jadi sangat berwibawa. "Saudara Arlan, saya sudah mendengar semuanya."
"Sebagai Dekan, saya menyatakan bahwa riset ini adalah properti akademik Universitas. Sponsor hanya memiliki hak publikasi bersama, bukan kepemilikan mutlak atas ide."
"Tapi kami sudah keluar uang banyak!"
"Uang Anda tidak bisa membeli integritas akademik mahasiswa saya," sahut Pak Dekan telak.
"Dan saya baru saja mendengar laporan dari warga desa lewat telepon sekretaris saya, bahwa Anda membawa orang-orang luar untuk mengintimidasi mahasiswa saya di lokasi riset."
"Itu pelanggaran berat dalam kontrak kerja sama kita."
Arlan melongo. Rendy langsung narik lengan Arlan, ngasih kode buat diem. Mereka kalah telak.
"Silakan keluar, Saudara Arlan. Urusan kontrak akan ditangani oleh bagian hukum Universitas," kata Pak Dekan mutlak.
Begitu Arlan dan pengacaranya keluar dengan muka malu, gua langsung lemes dan duduk di lantai. Rasanya beban sepuluh ton di pundak gua ilang seketika.
"Makasih, Pak..." gumam gua.
"Dimana Dedik?" tanya Pak Dekan.
"Dia masih di desa, Pak. Dia..."
Belum selesai gua ngomong, HP Kak Tiara bunyi. Video call dari Dedik. Kak Tiara langsung angkat dan arahin ke gua dan Pak Dekan.
Di layar, kelihatan muka Dedik yang lagi duduk santai di depan penginapan, lagi makan pisang goreng sambil megang gitar. Mukanya bersih, kayak nggak abis ada kejadian apa-apa.
"Gimana, Rey? Aman?" tanya Dedik lewat layar.
"AMAN, DED! Pak Dekan udah liat datanya! Lo nggak apa-apa kan?! Lo nggak dipukulin?!" teriak gua histeris.
Dedik ketawa tipis. "Gua aman. Orang-orang berjas itu ternyata cuma satpam kantor Arlan yang disuruh akting jadi tukang pukul."
"Begitu Arlan pergi, gua kasih mereka kopi sama pisang goreng, mereka malah curhat soal gaji yang telat."
Gua pengen nangis sekaligus pengen ketawa. Cuma Dedik yang bisa ngadepin situasi genting kayak gitu dengan cara sesantai itu.
"Dedik, kerja bagus," kata Pak Dekan dari samping gua. "Segera balik ke kampus. Kita siapkan sidang terbuka buat proyek ini."
"Siap, Pak. Tapi logikanya, saya butuh tidur dua belas jam dulu sebelum sidang," jawab Dedik yang bikin Pak Dekan cuma bisa geleng-geleng kepala.
Dedik natap gua lewat layar HP. Matanya yang tadinya dingin, sekarang kelihatan sangat... hangat.
"Rey, jaket gua jangan lupa dicuci ya. Bau keringet lo soalnya."
"DEDIK! NYEBELIN BANGET SIH LO!"
Gua matiin video call-nya dengan muka merah padam, tapi di dalem hati, gua tau kalau "Partner Sialan" gua ini adalah orang yang paling gua sayang saat ini.
***
Proyek "Harmoni Nada" sukses besar dan dapet perlindungan kampus! Tapi gimana kelanjutan hubungan Dedik dan Reyna setelah insiden "pelukan pencegah hipotermia" itu? Apakah mereka bakal tetep jadi partner kerja, atau beneran jadi partner hidup?