"Saat pedang musuh hampir mencabut nyawaku, sebuah suara mekanis mengambil alih kendali tubuhku dan mengubahku menjadi mesin pembunuh yang sempurna."
Jacob adalah pangeran kedua kerajaan Helios yang selalu berlindung di balik punggung kakaknya, George. Namun, sebuah pengkhianatan di medan perang membuat George lumpuh dan pasukan mereka terbantai. Di tengah keputusasaan, sebuah Sistem Auto Pilot aktif di dalam kesadaran Jacob. Sistem ini tidak memberikan misi atau hadiah cuma-cuma, melainkan mengambil alih kendali saraf otot Jacob untuk melakukan gerakan bertarung yang mustahil dilakukan manusia biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Bangkitnya Pasukan Mimpi Buruk
"Ayo terus bergerak! Jangan ada yang berani menjatuhkan beban itu sebelum matahari terbenam!" teriak Veldora dengan suara yang menggelegar ke seluruh penjuru lapangan.
Satu minggu telah berlalu sejak Jacob memberlakukan jadwal siksaan fisik yang sangat ekstrem tersebut. Ratusan prajurit elit yang sebelumnya sangat dibanggakan oleh kerajaan kini terlihat seperti mayat hidup yang dipaksa berjalan membawa bongkahan batu besar di punggung mereka.
Keringat bercampur darah menetes dari tubuh mereka membasahi tanah berdebu di bawah terik matahari yang menyengat. Tidak ada keluhan yang keluar dari mulut mereka karena rasa sakit yang teramat sangat telah membungkam pita suara mereka sepenuhnya.
{Satu minggu pertama adalah fase penghancuran mental dan fisik. Jika mereka bisa melewati hari ini, sisa latihannya hanya akan menjadi rutinitas.}
"Bagikan ramuan pemulihan itu sekarang juga, Natali," perintah Jacob yang sedang duduk mengamati dari atas balkon batu.
Natali segera memberi isyarat kepada para pelayan istana untuk membawa tong-tong kayu berisi cairan herbal berwarna hijau pekat ke tengah lapangan. Wanita itu menatap para prajurit yang langsung menyerbu tong tersebut dengan tatapan yang sangat datar.
"Mereka meminumnya seperti orang gila kelaparan, Baginda," ucap Natali sambil memperhatikan para ksatria yang saling berebut jatah ramuan.
Jacob tersenyum tipis melihat pemandangan yang sangat kacau tersebut.
"Ramuan itu akan meregenerasi otot mereka yang robek dalam hitungan jam secara paksa. Besok pagi, mereka akan bangun dengan kekuatan yang sedikit lebih besar dari hari ini," jelas Jacob dengan nada suara yang sangat yakin.
||||||||||||||
Satu bulan kemudian, pemandangan di lapangan istana telah berubah secara drastis. Prajurit tidak lagi terlihat kepayahan saat memikul batu raksasa di bahu mereka untuk berlari mengelilingi lapangan.
Veldora mengayunkan pedang kayunya ke arah salah satu prajurit secara mendadak dengan tenaga penuh. Prajurit itu menangkis serangan sang jenderal hanya dengan satu tangan kosong tanpa bergeser sedikit pun dari posisinya semula.
"Hahaha! Sangat mengesankan! Tulang kalian sekarang sekeras baja murni!" tawa Veldora dengan penuh rasa bangga.
Jacob berjalan menuruni tangga balkon dan mendekati barisan pasukannya dengan wibawa seorang raja penakluk. Matanya memindai perubahan fisik yang terjadi pada setiap individu di depannya dengan bantuan antarmuka transparan.
[Analisa Panca Indra: Kepadatan otot target meningkat tiga ratus persen. Kapasitas paru-paru mencapai tingkat maksimal. Tidak ada indikasi kelelahan pada denyut nadi rata-rata.]
{Sistem tidak pernah berbohong. Resep herbal itu benar-benar mengubah struktur biologis mereka menjadi mesin pembunuh tanpa batas.}
"Kalian sudah mulai terbiasa dengan siksaan ini, Veldora?" tanya Jacob sambil menatap jenderalnya yang juga terlihat jauh lebih besar dan berotot mengerikan.
"Tentu saja, Baginda! Pasukan ini sekarang bisa berlari dari ibu kota ke perbatasan Scolar tanpa perlu berhenti untuk minum setetes air pun!" jawab Veldora dengan semangat yang meluap-luap.
Jacob mencabut pedangnya perlahan dan menunjuk ke arah barisan prajurit yang berdiri tegak seperti patung raksasa.
"Serang aku secara bersamaan. Aku ingin melihat apakah kecepatan kalian bisa mengimbangi kekuatan kasar itu di medan tempur sungguhan," tantang Jacob dengan tatapan mata yang sangat tajam.
Sepuluh prajurit barisan depan langsung melesat maju tanpa ragu sedikit pun saat mendengar perintah tersebut. Gerakan mereka sangat cepat, hampir menyerupai kecepatan gerak Natali saat sedang berada dalam mode pembunuh bayaran.
Bentrokan senjata terjadi dengan sangat brutal di tengah lapangan berdebu itu. Jacob harus menggunakan refleks tingkat tingginya secara maksimal untuk menangkis rentetan serangan bertenaga badai yang datang dari segala arah secara bersamaan.
"Bagus! Terus tingkatkan tekanan kalian!" teriak Jacob sambil menendang dada salah satu prajurit hingga orang itu terlempar jauh ke belakang.
Prajurit yang terlempar itu bangkit seketika tanpa meringis kesakitan sedikit pun. Mereka mengatur ulang formasi dengan sangat presisi, kembali mengepung Jacob dari empat penjuru arah mata angin tanpa menyisakan celah.
Bentrokan terjadi lagi, kali ini suara logam beradu berbunyi sangat memekakkan telinga para pelayan istana yang menonton. Jacob bisa merasakan getaran keras merambat di lengannya setiap kali menahan serangan dari pasukannya sendiri.
{Kekuatan fisik mereka sudah melampaui batas normal manusia biasa. Jika ada seribu prajurit dengan kekuatan seperti ini, tidak ada satu pun benteng di dunia yang bisa bertahan dari serbuan kami.}
||||||||||||||
Waktu terus bergulir hingga tepat tiga bulan sejak program latihan brutal itu pertama kali dimulai. Matahari sedang terik-teriknya bersinar, namun hawa dingin yang sangat mencekam justru menyelimuti seluruh area lapangan utama istana Helios.
Jacob berdiri di atas podium kebesaran dengan jubah hitam yang berkibar gagah tertiup angin. Di sampingnya, Natali berdiri dengan tubuh yang sedikit bergetar karena emosi ketakutan yang mendalam yang sama sekali tidak bisa dia sembunyikan.
"Tuanku... aura mereka saat ini sangat mengerikan," bisik Natali sambil memegang erat gagang belatinya dengan tangan yang berkeringat dingin.
Jacob menatap ke bawah, ke arah ribuan prajurit yang berdiri mematung dalam formasi yang sangat rapi dan rapat. Tidak ada satu pun suara napas atau gerakan kecil yang terdengar dari barisan tersebut, seolah mereka bukan lagi makhluk hidup.
Setiap prajurit di lapangan itu tidak lagi memancarkan kehangatan layaknya manusia biasa yang hidup. Sorot mata mereka terlihat sangat kosong dan mematikan, seolah jiwa manusia mereka telah digantikan secara paksa oleh insting murni untuk membantai musuh secara efisien.
Natali menggigit bibirnya hingga nyaris berdarah karena tekanan dari tatapan ribuan prajurit itu. Ia adalah mantan pembunuh bayaran yang sudah melihat banyak bentuk kematian, namun aura dari pasukan di bawah sana benar-benar membuatnya merinding ketakutan.
"Saya merasa seperti sedang berdiri di depan gerbang neraka yang terbuka lebar saat menatap mereka, Baginda," tambah Natali dengan suara yang semakin bergetar.
Veldora melangkah maju menuju podium dan berlutut dengan satu kaki tepat di depan Jacob. Jenderal besar itu sendiri kini memiliki tatapan mata yang sangat dingin dan kejam, layaknya monster predator tingkat tinggi yang sedang menunggu perintah untuk memangsa korban.
"Pasukan telah selesai ditempa dengan darah dan rasa sakit, Baginda Raja. Kami menunggu perintah penghancuran dari Anda," ucap Veldora dengan suara yang sangat rendah namun menggema ke seluruh lapangan.
{Benar-benar hasil yang luar biasa. Hanya dalam tiga bulan, mereka telah membuang seluruh kelemahan emosional mereka. Tidak ada keraguan, tidak ada rasa takut, hanya ada insting mutlak untuk menang.}
Jacob mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara, membuat seluruh prajurit serentak mengangkat kepala mereka menatap sang raja. Pandangan ribuan mata yang kosong dan kejam itu terpusat sepenuhnya pada sosok Jacob.
"Tiga bulan yang lalu, kalian adalah manusia yang sangat lemah! Kalian mudah lelah, mudah berdarah, dan mudah mati di medan perang akibat senjata musuh!" teriak Jacob dengan suara yang menggelegar memecah keheningan mencekam di siang itu.
Pasukan itu tetap membisu, namun aura mereka semakin pekat dan mematikan merespons suara lantang dari sang penguasa.
"Kalian telah melewati siksaan neraka selama tiga bulan terakhir! Kalian merasakan setiap inci otot kalian hancur berkeping-keping dan dipaksa untuk pulih kembali menggunakan rasa sakit yang tidak manusiawi!" lanjut Jacob dengan wibawa yang menggetarkan jiwa.
Tidak ada prajurit yang memprotes atau bergerak, mereka menyerap setiap kata raja mereka dengan kepatuhan yang buta.
"Namun hari ini, aku tidak lagi melihat satu pun manusia yang rapuh di lapangan ini! Aku hanya melihat sekumpulan monster kejam yang siap mengoyak dunia ini hingga ke akarnya!" seru Jacob dengan mata biru yang menyala terang.
Pasukan itu serentak menghantamkan ujung tombak tebal mereka ke tanah satu kali secara bersamaan, menciptakan dentuman suara yang sangat dahsyat hingga membuat pilar-pilar batu istana sedikit bergetar.
"Musuh-musuh kita di luar sana masih berpikir bahwa Helios hanya beruntung bisa memenangkan peperangan melawan Scolar! Mereka mengira kita akan kembali menjadi kerajaan damai yang bisa mereka injak-injak kapan saja!" teriak Jacob sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Emosi Jacob mulai meledak saat mengingat kembali bagaimana George harus gugur akibat konspirasi kejam negara tetangga yang selalu meremehkan kekuatan militer Helios.
"Kita akan membuktikan pada dunia bahwa mereka telah salah besar! Kita akan membuat setiap raja di benua ini gemetar ketakutan dan berlutut memohon ampun hanya dengan mendengar derap langkah kaki kalian dari kejauhan!" tegas Jacob dengan penuh gairah membunuh.
Natali menatap rajanya dengan rasa pemujaan yang sangat tinggi bercampur kengerian. Wanita itu menyadari bahwa Jacob baru saja selesai menciptakan sebuah kekuatan militer penakluk yang tidak akan pernah bisa dihentikan oleh kerajaan mana pun di dunia ini.
"Kalian bukan lagi sekadar ksatria pelindung istana! Kalian adalah pedang penghancur tak kenal ampun yang akan menghabisi setiap ancaman sebelum mereka berani menatap wilayah tanah kita!" teriak Jacob dari atas podium.
Veldora berdiri tegak kembali dan mengangkat kapak raksasanya tinggi-tinggi, menularkan energi yang sangat buas dan liar kepada seluruh barisan ksatria di belakangnya.
"Mulai detik ini, lepaskan nama lama kalian yang penuh dengan kelemahan masa lalu itu! Buang jauh-jauh gelar ksatria elit atau Black Knight dari ingatan kalian selamanya!" perintah Jacob dengan nada suara yang memberikan keputusan mutlak tanpa bantahan.
Suasana kembali menjadi sangat sunyi selama beberapa detik. Ribuan monster berwujud manusia berzirah itu menunggu dalam diam untuk menerima nama baru yang akan menjadi identitas kematian mereka di masa depan.
"Mulai hari ini, aku secara resmi mengubah nama pasukan ini menjadi Nightmare! Kalian adalah wujud mimpi buruk yang paling nyata bagi siapa pun yang berani menentang keberadaan kerajaan Helios!" teriak Jacob dengan sekuat tenaga hingga urat lehernya menonjol.
Gemuruh teriakan buas yang sama sekali tidak terdengar seperti pita suara manusia pecah seketika di seluruh penjuru lapangan istana. Teriakan kegilaan dari pasukan Nightmare itu mengguncang langit ibu kota, menjanjikan era baru di mana teror sesungguhnya baru saja dilahirkan dari kedua tangan sang pangeran auto pilot.