Perhatian!!!
Harap bijak dalam membaca.Terima kasih 🙏 🫶
Elian sang Ice Prime Ministry selalu bersitegang
dengan Lyra the Iron Rose, CEO De La Vega Corporate yang menangani cyber security dan peralatan militer. Namun, siapa sangka keduanya memiliki hubungan terlarang yang sangat panas dan romantis dan penuh tantangan. Dimulai dari perjodohan dengan orang lain yang dilakukan oleh keluarga dan partai mereka, sehingga mereka memiliki misi untuk membatalkan perjodohan. Selain itu pengkhianatan yang dilakukan keluarga mereka sendiri tidak kalah peliknya.
Apak Elian dan Lyra bisa bersatu dan memiliki hidup normal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benih Kebebasan
Hujan tipis mulai membasuh jalanan Aethelion, menciptakan lapisan mengkilap di atas aspal yang memantulkan lampu-lampu neon kota yang tak pernah tidur. Di dalam apartemen rahasia mereka, suasana terasa sangat sunyi, kontras dengan gemuruh yang ada di dalam dada Lyra. Ia sudah mengganti pakaian kerjanya dengan gaun tidur sutra berwarna putih tulang yang longgar. Tangannya tak bisa berhenti mengelus perutnya yang masih terasa sangat datar, namun di dalamnya, ia tahu segalanya telah berubah.
Pintu terbuka dengan bunyi klik elektronik yang halus. Elian masuk dengan langkah yang terdengar lebih berat dari biasanya. Ia meletakkan kunci dan tasnya, lalu segera menghampiri Lyra. Wajahnya yang tegang karena perdebatan sengit di parlemen seketika melunak saat melihat sosok wanita itu berdiri di dekat jendela.
Elian mendekat, melingkarkan lengannya di pinggang Lyra dan membenamkan wajahnya di ceruk lehernya. Ia menghirup aroma tubuh Lyra yang menenangkan, sebuah pelarian dari bau kertas dokumen dan pengkhianatan politik yang ia hadapi sepanjang hari.
"Kau terdengar sangat lelah saat kita bicara di telepon tadi," bisik Elian, suaranya rendah dan penuh kekhawatiran. Ia memutar tubuh Lyra agar menghadapnya, menangkup wajah cantik itu dengan kedua tangan besarnya. "Apa yang terjadi? Apa ayahmu melakukan sesuatu dari pengasingannya?"
Lyra menatap mata Elian, mata yang biasanya memancarkan kedinginan seorang diktator, namun kini hanya berisi cinta yang tulus. Lyra menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian yang bahkan lebih besar daripada saat ia menghadapi dewan direksi.
"Ayahku bukan lagi ancaman, Elian. Aku sudah memastikan itu," ujar Lyra pelan. "Tapi ada sesuatu yang berubah. Sesuatu yang akan mengubah rencana kita selamanya."
Pengakuan di Balik Cahaya Lilin
Lyra membimbing tangan kanan Elian, membawanya turun dari pipinya, melewati dadanya yang berdegup kencang, dan menempelkan telapak tangan pria itu tepat di atas perutnya. Elian mengerutkan kening, tampak bingung sejenak. Namun, saat ia merasakan kehangatan kulit Lyra dan melihat cara wanita itu menatapnya dengan binar yang rapuh, sebuah kesadaran perlahan mulai merayap di benaknya.
"Lyra... apa maksudnya ini?" suara Elian bergetar, sesuatu yang sangat jarang terjadi pada pria setangguh dirinya.
"Ada kehidupan di sini, Elian," bisik Lyra, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya. "Bukan rencana bisnis, bukan Project Xylos, bukan pula perebutan tahta. Ini adalah bagian dari kita. Aku sedang mengandung anakmu."
Keheningan yang mengikuti kata-kata itu terasa abadi. Elian mematung. Pria yang mampu menjawab pertanyaan tersulit di parlemen dalam hitungan detik itu kini kehilangan kata-kata. Matanya beralih dari perut Lyra kembali ke wajahnya, mencari kepastian. Saat ia melihat kelembutan yang nyata di sana, Elian perlahan berlutut di depan Lyra.
Ia menempelkan keningnya di perut Lyra, memejamkan mata rapat-rapat. Untuk pertama kalinya, Elian Theron Valerius merasa takut, bukan takut akan musuh politik, tapi takut akan dunia yang kejam ini bagi makhluk sekecil itu.
"Seorang anak..." Elian bergumam, suaranya pecah oleh emosi yang meluap. "Dia tidak boleh lahir di sini, Lyra. Tidak di Aethelion. Tidak di antara serigala-serigala yang kita pimpin."
Sumpah Sang Ayah
Elian bangkit, memeluk Lyra dengan kekuatan yang protektif seolah ingin melindungi mereka berdua dari seluruh semesta. "Kita harus mempercepat semuanya. Aku tidak akan membiarkan anak ini tumbuh di bawah bayang-bayang intrik yang memuakkan ini. Dia tidak akan pernah tahu apa itu 'The Iron Rose' atau 'Perdana Menteri yang Dingin'. Dia hanya akan tahu bahwa orang tuanya mencintainya di tempat yang bebas."
Lyra menangis di dada Elian, rasa lega yang luar biasa membanjiri dirinya. "Aku sudah mulai mengalihkan aset secara permanen, Elian. Aku sudah menyiapkan dokumen pengunduran diri yang akan dirilis secara otomatis saat kita sudah melintasi perbatasan."
"Aku akan melakukan hal yang sama," ujar Elian tegas. "Aku akan memicu krisis kabinet buatan yang akan memaksa parlemen fokus pada pemilihan baru, memberikan kita celah untuk menghilang tanpa jejak. Kita akan pergi ke pesisir Selatan, jauh dari jangkauan jaring-jaring kekuasaan ini."
Malam yang Penuh Makna
Malam itu, tidak ada gairah yang beringas atau hiruk pikuk nafsu. Mereka berbaring di tempat tidur, saling berpelukan dalam keheningan yang sangat intim. Elian tidak henti-hentinya mengelus perut Lyra dengan lembut, seolah sedang berkomunikasi dengan benih kehidupan di sana yang akan menjadi masa depan mereka.
"Kapan kau menyadarinya?" tanya Elian lembut, suaranya terdengar sangat damai.
"Pagi ini, saat kau sedang mandi," Lyra tersenyum kecil di dalam dekapan Elian. "Tubuhku seolah memberitahuku bahwa pertempuran kita di Aethelion sudah selesai. Kita sudah menang, Elian. Kita menjatuhkan semua musuh kita, dan hadiahnya adalah ini. Kehidupan baru yang murni."
Elian mengecup bibir Lyra dengan penuh pemujaan. "Kita akan meninggalkan kekuasaan ini, Lyra. Biarkan mereka berebut bangkai Aethelion. Kita akan membangun dunia kita sendiri, di mana hanya ada cinta, tanpa pengkhianatan."
Dalam kegelapan apartemen rahasia itu, rencana pelarian terbesar dalam sejarah negara mulai disusun. Mereka bukan lagi sepasang rival yang haus kuasa, melainkan sepasang orang tua yang siap meninggalkan segalanya demi keselamatan anak mereka. Aethelion mungkin akan kehilangan pemimpin terbaiknya, namun Lyra dan Elian akhirnya menemukan jalan pulang yang sebenarnya.
Matahari esok hari akan melihat mereka kembali mengenakan topeng kekuasaan untuk terakhir kalinya, namun di dalam hati mereka, mereka sudah bukan lagi milik Aethelion. Mereka sudah bebas.
lanjutkan kak