𝐀𝐥𝐮𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐥𝐢𝐬𝐭𝐚 nyaris mati tenggelam dan saat matanya terbuka, ia mulai menyadari jika dunianya yang sekarang hanyalah dunia novel fiksi. Ia terbangun sebagai karakter figuran dalam sebuah novel 𝚝𝚑𝚛𝚒𝚕𝚕𝚎𝚛-𝚛𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎 yang pernah ia bacanya. Sialnya lagi, Aluna bukan siapa-siapa hanya pemeran kecil yang dikenal sebagai biang kerusuhan. Tapi apa jadinya saat ia mulai menyadari, ulah kecilnya mengacaukan alur cerita?
Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahan dan bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya, Aluna justru menarik perhatian empat karakter pria berbahaya. 𝐆𝐚𝐯𝐢𝐧𝐨, si obsesif yang tak bisa membedakan cinta dan obsesi. 𝐊𝐚𝐢, si manipulatif yang pandai bermain peran. 𝐉𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧, si red flag yang sulit ditebak-beracun tapi memikat. Dan 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐬𝐭𝐢𝐚𝐧, ketua geng motor yang haus kendali. Dunia novel mulai runtuh. Alur cerita berubah liar. Aluna jadi buruan. Kini, hanya ada dua pilihan: kabur atau menghadapi mereka satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanvi Hrieya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31| Pertemuan tak Terduga
Pintu kamar berderit ketika dibuka perlahan, ruangan kamar bernuansa feminim itu tampak temaram hanya pecahan dari lampu tidur yang menyala. Pintu ditutup perlahan, Sonya melangkah sepelan mungkin hanya agar tidak mengganggu tidur Aluna. Ia duduk di bibir ranjang atensinya menatap wajah cantik putrinya, sudah menjadi kebiasaan untuk Sonya diam-diam memasukkan kamar di tengah malam di saat gadis remaja itu sepenuhnya terlelap.
Jari jemari lentiknya terulur menyentuh pipi Aluna lalu naik ke atas helai rambut yang menutupi separuh wajahnya disingkirkan, tatapan penuh cinta-kasih seorang ibu tampak jelas tanpa bisa ia tutupi. Ibu mana yang akan baik-baik saja ketika anak yang ia cintai dibawa kabur, hanya karena penyelewengan perasan dari wanita yang rahimnya di sewa.
"Mommy nggak pernah menyesali keputusan saat itu, membawamu ke dunia ini. Meskipun bukan Mommy yang melahirkan kamu secara langsung. Yang membuat Mommy merasa sakit menusuk dan menyesal adalah karena mempercayai perempuan itu sepenuhnya. Hingga kita harus terpisah selama bertahun-tahun," monolog Sonya lirih dan nyaris berbisik.
Kedua mata Sonya memerah dan panas saat ia kembali mengingat masa lalu, tidak mudah untuk Sonya. Sebagai seorang wanita ia harus menerima kenyataan jika ia kesulitan untuk hamil, karena fisiknya yang sangat lemah. Kesepakatan yang dibuat dengan suaminya mengarahkan mereka pada rahim ibu pengganti, setelah berkonsultasi dengan beberapa dokter.
Menemukan seorang wanita muda yang sehat dan bersedia menampung embrio yang telah dibuahi bukanlah perkara gampang, setelah menemukan perempuan itu. Awalnya semuanya berjalan lancar, baik Fandi maupun Sonya mengawasi serta membantu segala kebutuhan Mawar. Kehadiran Fandi disalah artikan oleh Mawar, wanita itu malah mencintai suaminya.
Puncaknya ketika Mawar mendatanginya ia bahkan berlutut di depan Sonya, menyatakan kesediaannya menjadi istri kedua Fandi. Bukan main rasa sakit yang Sonya rasakan, ia pikir Fandi mulai main gila dengan Mawar. Pertengkaran sengit sempat terjadi sebelum Fandi berhasil meyakinkan perasaannya tak pernah untuk ada perempuan lain, penolakan Fandi mengundang kemarahan Mawar-ibu pengganti.
Mawar menghilang dengan janin yang baru berusia tujuh bulan. Sekeras apapun mereka mencarinya, Mawar seakan hilang tanpa jejak. Sampai bertahun-tahun, mereka tak menyerah mencari Mawar dan anak yang harusnya menjadi milik mereka. Sampai satu pesan masuk dari orang tak dikenal, memberikan informasi panti asuhan serta nama anak perempuan yang diklaim sebagai anak mereka.
Sentuhan lembut pada tangan Aluna, punggung belakang telapak tangannya terasa basah saat tetesan demi tetesan air mata terjatuh. Sonya mencium perlahan punggung telapak tangan putrinya, lama sekali.
"Sonya," panggilan serak di balik pintu kamar memanggil namanya.
Sonya melepaskan telapak tangan Aluna, menurunkan kembali. Ia mengusap pipinya sebelum berdiri dari posisi duduknya, melangkah menuju pintu kamar. Suara pintu kamar terbuka dan tertutup terdengar samar, kedua kelopak mata Aluna terbuka perlahan. Ia setengah sadar saat ia mendengar pintu berderit, perkataan, sampai tindakan aneh Sonya.
"Apa itu tadi?" tanya Aluna serak, atensinya melirik ke arah pintu yang tertutup. "Kata-katanya aneh banget, seakan ada rahasia di balik rahasia. Gue paling benci rasa penasaran, dan kata-kata barusan mancing kekepoan gue tingkat tinggi."
Kedua mata Aluna memicing lalu ia menggeleng, sebagai pencinta novel baik cetak maupun online. Ia memiliki prasangka aneh, ada yang mengganjal.
"Kayaknya gue harus cari tau sendiri, apa yang sebenarnya disembunyiin oleh Mommy," sambungnya seraya mengangguk yakin.
...***...
Udara segara menerpa wajah Aluna, ia menghirup udara pagi dan tersenyum di sela langkah kakinya menuju pintu gerbang yang terbuka lebar. Beberapa siswa-siswi baik yang baru saja turun dari mobil, serta yang melangkah menuju gerbang seperti dirinya terlihat mulai ramai. Langkah kaki Aluna berhenti mendadak ketika sepasang high heels menghalangi langkah kakinya, dahi Aluna berkerut membawa atensinya ke arah wanita berpakaian modis di depannya.
Aluna kembali melangkah, melewati perempuan berdress biru muda itu begitu saja. Wanita itu berbalik mengerutkan dahi, menatap punggung Aluna yang tampak melangkah kembali. Seakan tidak mengenali dirinya, apakah Aluna sudah melupakan dirinya.
"Aluna!" seru Mawar memberanikan dirinya memanggil Aluna setelah sekian lama.
Langkah kaki Aluna berhenti mendadak, ia menoleh ke belakang. Alis matanya berkerut, Mawar melangkah mempersempit jarak di antara mereka berdua. Hingga ia berdiri di depan Aluna, tersenyum lebar dengan tatapan mata rumit.
"Maaf, Anda ini siapa ya?" Aluna memperhatikan wajah Mawar. 'Siapa pula ini orang, kenapa dia natap gue segitunya. Wait! Apa jangan-jangan dia dari agensi artis pencarian bakat. Buat nawarin gue main film?'
Mawar mendesah berat, dan menjawab, "Kamu tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, apa kamu tidak merindukan Mama, Sayang?"
DEG!
Kedua mata Aluna terbelalak, tebakannya yang terlalu percaya diri langsung retak dan musnah. Bagaimana bisa wanita yang dibicarakan oleh Zea malah mendatanginya, bahkan tahu dimana ia bersekolah. Ada banyak pertanyaan bergelayut di otak Aluna saat ini, sementara tubuhnya membeku.
"Mama merindukanmu, Sayang." Mawar bergerak memeluk tubuh Aluna tiba-tiba tanpa rasa canggung.
Beberapa siswa-siswi yang melewati mereka mencuri pandang dengan rasa ingin tahu, hanya saja tak ingin terlalu usil untuk sekadar berhenti menonton drama yang disuguhkan pagi ini. Apalagi gadis yang kini dipeluk oleh wanita cantik itu adalah Aluna, mereka terlalu malas jika harus ditatap tajam oleh Aluna. Lebih memilih memasuki gerbang sekolah, Aluna berkedip dua kali. Tangannya melepaskan belitan pada bahunya, dan mendorong Mawar ke belakang. Aluna mundur satu langkah, ia menatap Mawar dengan ekspresi waspada.
"Pertama-tama, Anda jangan peluk-peluk kek gitu. Anda bisa bicara dengan baik tanpa harus kontak fisik, oke. Yang kedua, ini ada di depan gedung sekolah. Aku nggak mau jadi bahan gosip orang-orang, apalagi aku ini adalah anak pasangan suami-istri yang sah. Anda lupa kalo Anda udah membuangku ke panti asuhan seperti sampah rongsokan, yeah..., aku tau sih. Nggak semua Ibu itu benar-benar bisa jadi orang tua. Aku saraniin buat Anda, jangan membuat kegaduhan," balas Aluna menggebu-gebu, tetapi masih menjaga intonasi nada suaranya agar tidak menarik perhatian orang-orang.
Mawar tidak terkejut dengan reaksi Aluna, itu sangat wajar. Mawar telah meninggalkan Aluna bertahun-tahun, sekarang ia kembali menemui Aluna dengan mengaku merindukannya. Aluna tak paham bagaimana pola pikir wanita di depannya ini, apakah ia tak tahu seberapa menyedihkan tokoh Aluna yang berada di panti asuhan. Seberapa rendah dirinya Aluna karena pekerjaan Mawar diketahui oleh satu panti asuhan, tokoh Aluna menjadi hancur karena campur tangan Mawar. Hingga ia sangat membenci tokoh Zea, berbuat jahat tanpa henti.
"Mama tau kalo kamu pasti sangat membenci Mama, maaf Sayang. Semuanya memang salah Mama, Mama harap kamu ma-"
"Aluna! Ngapain lo masih berdiri di sini. Ayo masuk bentar lagi gerbangnya bakalan ditutup. Masuk Sayang, masuk." Kai memotong perkataan Mawar, menarik pergelangan tangan Aluna menuju pintu gerbang tanpa mempedulikan Mawar yang tertegun di luar pintu gerbang.
Pintu gerbang di tutup perlahan Mawar mengepalkan kedua tangannya, dan berbalik kembali menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari posisinya sekarang. Sementara di area sekolah, Aluna berhenti melangkah membuat Kai mau tak mau ikut berhenti melangkah.
"Kalo lo nggak suka, nggak usah diladenin. Langsung aja masuk ke area sekolah, orang luar nggak bakalan bisa masuk ke sini tanpa izin," kata Kai tegas.
Aluna memicingkan kedua matanya, saat ia mendongak menatap Kai.
"Lo tau siapa dia tadi?" tanya Aluna dengan pandangan menyelidik.
Kepala Kai mengangguk. "Ya taulah, siapa yang nggak kenal dia? Seorang penghibur kalangan atas yang beberapa kali viral karena diamuk istri sah dari pria hidung belang."
"Bukan itu yang gue maksud, maksudnya gue itu. Lo tau hubungan apa yang gue punya sama dia?"
"Nggak," jawab Kai jujur, "tapi dari cara lo natap dia, kelihatan lo nggak nyaman. Dan gue nggak suka liat ekspresi wajah lo kek gitu, itu bikin hati gue ini ikutan nggak nyaman."
Aluna mendesah lega, dan melanjutkan langkah kakinya kembali. Kai ikut kembali melangkah, ia mencuri pandang ke arah pergelangan tangan Aluna yang masih ia genggam. Tampaknya gadis cantik di sampingnya itu tidak sadar, kalau sadar sudah pasti tangannya ditepis dengan ekspresi cemberut.
'Gue dapat jackpot gede pagi ini, bisa ngegenggam tangan Aluna. Dikit lagi hatinya, semangat Kai! Semangat!' Kai cengengesan di sela langkah kaki mereka.