Ling Fan, pemuda 17 tahun dari Klan Ling, lahir tanpa Dantian—cacat yang membuatnya dihina sebagai sampah. Di balik ejekan, dia menyimpan rahasia: tubuhnya mampu melahap Qi langit dan bumi.
Saat Klan Ling dihancurkan klan saingan, Ling Fan selamat seorang diri. Di reruntuhan, dia juga menemukan Telur Hitam misterius. Teknik terlarang terbangun "Tubuh Penelan Langit" aktif, mengubahnya dari manusia biasa menjadi pemangsa energi. Setiap luka, setiap penghinaan, hanya membuatnya makin kuat karena dia menelan semuanya.
Kini dia berjalan sendirian, dikejar sekte besar, diburu iblis kuno, dan dicap sesat. Dari Arena Batu Hitam hingga Lembah Guntur, Ling Fan menelan petir, menghancurkan jenius, dan membalik takdir. Tapi harga kekuatan itu adalah kemanusiaannya.
Ketika langit sendiri menginginkannya mati, mampukah pemuda tanpa Dantian ini menelan langit sebelum dia dilahap kegelapannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*LAPAR TIGA HARI*
Dingin menjadi satu-satunya hal yang dirasakan Ling Fan saat kesadarannya kembali. Itu bukan berasal dari sisa es Sumur Naga Beku yang membeku di lantai, melainkan dari ulu hatinya sendiri. Dantian Iblis di dadanya meredup, menyisakan energi setipis benang yang membuat setiap tarikan napas terasa seperti tusukan sembilu pada tulang rusuknya.
Ia membuka mata dan mendapati atap Kuil Leluhur yang retak memperlihatkan langit senja yang suram. Bau darah kering dan batu hangus menyengat hidungnya, menjadi saksi bisu pertempuran tiga hari lalu.
"Akhirnya kau bangun juga, bocah," suara serak Penjaga memecah keheningan. "Kau pingsan tiga hari tiga malam tanpa jeda."
Ling Fan mencoba duduk, namun lengan kirinya yang baru tumbuh terasa rapuh seperti kaca yang siap pecah kapan saja. Luka telur di ulu hatinya terasa gatal dan kosong, sebuah tanda bahwa ia berada di ambang kematian.
"Lapar," bisik Ling Fan, suaranya parau. "Berapa lama lagi Dantian ini bisa bertahan?"
"Energi sumur sudah habis kau bakar untuk membunuh si botak itu. Sisa di Dantianmu sekarang hanya cukup untuk detak jantung sampai besok pagi. Setelah itu, kau akan menjadi mayat sungguhan sama sepertiku," jawab Penjaga sambil bersandar di pilar patah dengan elang tulang di bahunya.
Ling Fan menoleh ke samping dan melihat Yue Lian yang masih terbaring. Es di wajah wanita itu telah mencair, digantikan warna kulit yang mulai membaik meski napasnya masih sangat lemah. Ia hidup karena Ling Fan memberikan separuh jatah energinya tiga hari lalu.
"Kau benar-benar bodoh," sindir Penjaga. "Kau sekarat karena memberikan energi itu pada perempuan ini. Sekarang kau bahkan tidak bisa menyedot energi dari kuil yang sudah mati ini."
"Kita harus keluar dari sini. Aku harus mencari energi baru," tegas Ling Fan meski suaranya bergetar.
"Mencari makan? Kau pikir kultivator Inti Emas tumbuh di pohon seperti buah?" Penjaga tertawa sinis. "Lima belas pengecut yang lari tempo hari pasti sudah melapor. Sekarang yang datang bukan lagi Inti Emas Puncak, tapi Jiwa Baru Lahir yang kekuatannya seluas lautan."
Belum sempat Ling Fan merespons, derap langkah kaki dan kuda besi terdengar dari luar kuil. Pintu yang sudah hancur itu ditendang kasar hingga debu beterbangan. Tiga puluh orang berjubah naga hitam masuk dengan aura yang mencekam, dipimpin oleh pria paruh baya berjanggut tiga helai yang memiliki lencana naga hitam logam di dadanya—Inti Emas Tingkat Akhir.
"Kakak keduaku... kau yang membunuhnya," ucap pria berjanggut itu tenang, namun auranya membuat lantai batu di bawahnya retak.
"Siapa kau?" tanya Ling Fan sambil menahan tekanan Qi yang membuat dadanya sesak.
"Aku adalah pembalasanmu. Kepala Klan memerintahkan untuk membawa kepala kalian bertiga. Dengan Telur Penghancur itu, Klan Naga Hitam akan naik ke Langit Lapisan Tiga," sahut pria itu dengan senyum tanpa mata.
"Sumpah kedua, bocah. Aku sudah menjagamu tiga hari, sekarang jaga nyawamu sendiri," bisik Penjaga sambil melangkah maju.
"Kau mau kabur?" tanya Ling Fan sinis.
"Aku sudah mati sepuluh ribu tahun lalu, tapi aku tidak mau terkubur lagi hanya karena kau mati konyol," Penjaga menoleh ke arah musuh. "Hei, Klan Naga Hitam! Aku punya tawaran. Ambil kepalaku dan kembalikan jantungku yang kalian curi seribu tahun lalu, lalu biarkan aku pergi. Bocah ini silakan kalian cincang sesuka hati."
Pria berjanggut itu tertawa keras hingga suaranya menggema di seluruh aula. "Jantungmu? Sudah dimakan Kepala Klan kami seribu tahun lalu untuk menjadi pil Jiwa Baru Lahir. Kau terlambat, mayat busuk!"
Wajah Penjaga yang biasanya datar mendadak berubah kosong dan kecewa. "Begitu ya... Jadi sudah tidak ada lagi yang tersisa."
"Bunuh mereka semua! Cincang bocah itu terlebih dahulu, biarkan yang besar menjadi mainan!" perintah pria berjanggut itu dengan kejam.
Dua puluh sembilan Inti Emas mencabut pedang mereka secara serentak, mengisi kuil dengan cahaya Qi yang menyilaukan. Tekanan yang begitu besar membuat Ling Fan kembali memuntahkan darah; Dantian Iblisnya yang sekarat tidak mampu menahan beban atmosfer tersebut.
"Lapar... Berikan aku sesuatu..." rintih Ling Fan di dalam hatinya.
Tiba-tiba, rasa panas membakar ulu hatinya saat Dantian Iblis itu merespons rasa lapar yang luar biasa. Retakan Kedua di dadanya bergetar hebat, mengirimkan sinyal keinginan yang mutlak.
"Makan... Sedikit saja untuk bertahan..." suara Telur Hitam memohon di kepalanya.
Ling Fan tidak menyerang para penguasa Inti Emas di depannya. Sebaliknya, ia melompat ke arah lima belas kroco yang bersembunyi di barisan paling belakang. Sebelum ada yang sempat bereaksi, ia mencengkeram kepala salah satu dari mereka.
"Pinjamkan kultivasimu sebentar," bisik Ling Fan dingin.
"Tidaak! Argh!" jerit orang itu saat seluruh energinya disedot habis tanpa sisa.
Dantian Iblis tidak berbagi kali ini; ia menelan semuanya untuk mengisi kekosongan. Mayat kering itu jatuh berdebam, sementara bara di dada Ling Fan yang tadinya setipis benang kini membesar seukuran kuku. Cukup hangat untuk membuatnya tegak berdiri dan mengambil satu napas panjang.
"Dia mengisi tenaga! Cepat habisi!" teriak salah satu Inti Emas.
"Biarkan saja," sahut pria berjanggut dengan nada meremehkan. "Menelan kroco hanya memberinya setetes air, sementara kita adalah selautan. Habiskan dia!"
Empat belas anggota klan lainnya pingsan seketika karena ketakutan melihat rekan mereka menjadi mumi dalam sekejap. Ling Fan menatap tajam ke arah dua puluh sembilan Inti Emas di depannya, merasakan denyut Dantian Iblis yang memberi pesan singkat ke otaknya.
"Cukup untuk satu tebasan. Setelah itu, kita akan benar-benar kosong."
"Satu tebasan ya?" Ling Fan menyeringai penuh darah.
"Aku sudah tidak punya jantung untuk dipertaruhkan. Kau yang putuskan, mati sekarang atau mati nanti," ujar Penjaga sambil mengangkat bahu.
"Satu tebasan," kata Ling Fan tenang, menatap lurus ke arah pria berjanggut. "Jika kau mati, anak buahmu harus mundur. Jika aku mati, silakan ambil kepalaku."
"Bocah Fondasi 2 mau menebas Inti Emas Tingkat Akhir? Langit akan runtuh karena bualanmu!" pria berjanggut itu tertawa sambil membuka dadanya lebar-lebar. "Kemari! Tebas di sini! Aku ingin melihat seberapa kuat Dantian Iblis yang kau banggakan itu!"
Ling Fan melangkah maju dengan mantap. Seluruh energi seukuran kuku di ulu hatinya ia kumpulkan ke tangan kanan, hingga asap hitam keluar dan membentuk pedang tipis yang memancarkan aura kelaparan abadi.
"Kau yang memintanya," desis Ling Fan.
Ia mengayunkan pedang hitam itu dengan seluruh sisa hidupnya. Gerakannya tidak cepat, namun udara di sekitar pedang itu seolah tersedot masuk ke dalam kegelapan mata pedangnya.
"Apa-apaan aura ini?!" teriak pria berjanggut yang baru menyadari ada yang salah.
"Sudah terlambat untuk takut, anjing Klan Naga Hitam!" raung Ling Fan.
"Cepat bertahan! Gunakan Perisai Naga!" perintah pria berjanggut pada anak buahnya sambil mencoba membentuk pelindung darurat.
"Tidak akan sempat! Telan!" teriak Ling Fan.
Benturan energi terjadi di tengah kuil, menciptakan gelombang kejut yang meruntuhkan sisa-sisa pilar bangunan. Asap hitam menyelimuti pandangan semua orang, sementara Ling Fan berdiri diam dengan pedang yang perlahan memudar menjadi debu.
"Kau... bagaimana mungkin..." suara pria berjanggut itu terdengar serak di tengah kepulan asap.
Ling Fan terengah-engah, tubuhnya kembali mendingin saat energi terakhirnya habis. Namun matanya tetap menatap tajam, menunggu hasil dari satu-satunya pertaruhan yang ia miliki.