Tara dan Devan sudah menikah selama tiga tahun. Hanya Tara yang jatuh cinta di sini. Selama tiga tahun, Tara berusaha membuat Devan jatuh cinta. Apakah Tara berhasil saat ia tahu persis pernikahannya dengan Devan berbeda dengan pernikahan normal lainnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yesstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Tara bergegas keluar dari kantor, menuju gerbang, dan menyetop kendaraan umum yang lewat. Ia mengatakan tujuannya pada sopir.
Beberapa kali kendaraan umum itu berhenti, menurunkan atau menaikkan penumpang. Tara duduk sedikit gelisah. Ia harus segera sampai ke alamat tujuan yang dikirim Devan beberapa saat yang lalu.
Saat Tara sibuk bekerja, ponselnya berbunyi. Melihat nama Devan di layar, Tara sempat mengacuhkannya. Tapi, satu pesan masuk dari Devan membuat Tara terhenyak sesaat dan langsung meminta ijin keluar pada atasannya. Ada urusan sangat penting. Dan mendesak.
Devan kecelakaan.
Angkutan umum berhenti di gerbang perumahan. Tara turun dan membayar ongkos. Ia menatap sejenak gerbang itu, memastikan bahwa perumahannya benar.
Tara berjalan sedikit berlari menuju pos satpam di dekat gerbang dan menunjukkan alamat rumah yang dikirim Devan.
Salah satu satpam berbaik hati mengantarkan Tara menggunakan motor karena alamat rumah Devan berada di gang paling belakang.
Setelah mengucap terima kasih, Tara sedikit berlari ke arah pintu. Ia berdiri diam di depan pintu. Menenangkan sejenak napasnya yang tak beraturan.
Setelah cukup tenang, ia mengetuk pintu.
Tara memanggil nama Devan berulang kali. Tak ada sahutan. Tara meraih gagang pintu, mendorong pelan. Pintu tak terkunci.
Tara masuk perlahan. Mengedarkan pandangan ke ruang tamu. Tak ada orang. Tara kembali memanggil Devan.
Masih tak ada sahutan.
Tara melangkah semakin dalam. Tepat saat kakinya menginjak pembatas antara ruang tamu dan ruang tengah, ia merasakan ada yang berkelebat di belakangnya.
Sebelum Tara sempat berbalik, mulutnya tiba-tiba dibungkam sesuatu dan tubuhnya terhuyung jatuh, ditangkap oleh pria di belakangnya yang tersenyum puas melihat Tara pingsan dalam pelukannya.
Dengan santainya, pria itu membopong tubuh Tara menuju kamar. Setelah memastikan Tara nyaman, pria itu menatapnya lirih.
“Hanya dengan begini, aku bisa menggagalkan pernikahanmu dan David, Ra.”
***
Dea dan Vito berjalan bersisian keluar dari kantor. Langit cerah tanpa awan membuat cahaya senja memancar lembut. Langkah Dea terhenti di lobby kantor saat matanya menangkap seseorang duduk di atas motor dekat pos satpam.
“Ada apa?” Vito menoleh, ikut menghentikan langkah.
Dea menunjuk seseorang dengan dagunya. Vito ikut melihat. Dahinya berkerut.
“Siapa dia?”
Dea tak menjawab. Ia langsung berjalan menuju seseorang itu. Vito mengernyit heran, namun mengikuti langkah Dea dari belakang.
“David?”
Pria yang duduk santai sambil bermain ponsel di atas motornya pun mendongak. Melihat siapa yang menyapanya, David mematikan layar ponselnya dan tersenyum ramah.
“Hai, Mbak.” David menyapa ramah. Ia tahu bahwa perempuan ini adalah sahabat dari Tara.
“Kamu kesini mau jemput Tara?” Dea bertanya lamat-lamat sambil melihat wajah David.
David mengangguk.
“Tapi Tara ijin keluar siang tadi dan sampai saat ini dia nggak kembali.”
Ucapan Dea membuat David terhenyak. Ijin keluar sejak siang?
“Apa Tara nggak ngabarin kamu?” Dea bertanya lagi.
David menggeleng pelan.
“Dia kayak yang buru-buru gitu. Aku tanya dia nggak jawab.”
David melihat Dea,” Apa Mbak nggak tahu dia ijin kemana dan kenapa?”
Dea menggeleng pelan.
“Coba kamu cari ke rumah. Siapa tahu dia sakit. Aku chat dari siang juga nggak dibalas sama dia.”
David gegas menyalakan motornya. Setelah mengucap terima kasih, motor pun melaju cukup kencang walau lalu lintas sedikit padat karena dipenuhi para karyawan pulang bekerja.
“Dia pacarnya Tara, Sayang?”
Dea menoleh ke belakang. Hampir lupa kalau Vito dari tadi mengikutinya.
“Semoga Tara baik-baik aja,” angguk Dea.
David sampai di depan rumah Tara dengan selamat. Walau selama perjalanan tadi, ia tak fokus. Banyak pertanyaan juga dugaan-dugaan tentang Tara yang ijin dari kantor sejak siang. Ia juga baru ingat kalau chat terakhirnya dengan Tara adalah saat jam makan siang perempuan itu. Setelahnya, mereka tak komunikasi lagi.
Sambil mengetuk pintu rumah, David berusaha menelepon Tara. Namun, nomor Tara tak aktif. David terus mengulang panggilan. Berharap Tara baik-baik saja saat ini walau pikirannya dipenuhi skenario buruk yang terjadi pada kekasihnya.
Suara motor masuk ke halaman membuat David menoleh lalu berbalik.
“David? Ngapain lo ketok pintu rumah gue kenceng gitu?” Haris bertanya sembari melepas helm-nya.
David menatap Haris,” Bang. Tolong bukain pintu. Dari tadi aku ketuk pintu, Tara nggak dengar. Apa dia ketiduran?”
Haris melangkah sambil mengernyitkan dahi. “Tara? Maksudnya Tara sudah pulang? Apa gimana?”
“Aku tadi jemput Tara seperti biasa. Kata temannya, Tara ijin keluar dari siang. Dia nggak ngabarin aku. Dan sekarang ponselnya mati.”
Haris menatap David sebentar lalu dengan cepat memutar kunci rumahnya. Haris masuk ke dalam diikuti David. Matanya memindai cepat ke seluruh ruangan. Haris membuka kamar Tara.
Kosong.
Haris dan David saling tatap lalu berseru memanggil Tara.
Tak ada sahutan.
“Bang, Tara nggak ada. Dia dimana, Bang?” David berseru panik.
Haris terdiam. Napasnya terengah. Otaknya berpikir cepat, mengira-ngira dimana Tara sekarang.
“Temannya bilang apa lagi saat Tara ijin keluar, Vid?” Haris menatap David.
“Tara keluar terburu-buru. Dia nggak jawab waktu ditanya temannya mau kemana.”
Haris menyandar lemas di tembok lalu terduduk. Ia baru pulang bekerja dan sudah menerima kabar buruk.
Adiknya menghilang.
David ikut terduduk di samping Haris dengan pandang kosong menatap dinding.
“Tara dimana, Bang?”
Haris diam. Mendadak ia menoleh bersitatap dengan David yang sepertinya punya pemikiran yang sama dengannya.
“Devan.” Mereka berkata pelan, bersamaan.
“Gue bakal cari Tara di rumahnya.” Haris berdiri. Diikuti David.
“Aku ikut, Bang.”
“Jangan! Kali ini, biar gue yang cari dia dan membawa Tara pulang.”
“Tapi, Bang—“
“Lo nggak tahu apa-apa tentang Devan, Vid. Kalau benar ini ada hubungannya sama Devan, cuma gue yang bisa bawa Tara pulang. Gue nggak mau lo berhubungan sama Devan. Dia bisa jadi sangat berbahaya.” Haris memotong cepat dan menatap serius pada David.
David terdiam. Ia juga khawatir. Tapi ucapan Haris benar. Ia tak tahu apa-apa tentang Devan.
“Lo bisa pulang dan tunggu kabar dari gue. Gue bakal pastiin Tara baik-baik aja. Gue Abangnya. Lo harus percaya sama gue.”
David tak punya pilihan selain mengangguk dan menurut. “Baik, Bang. Cepat bawa Tara pulang.”
Haris hanya berganti baju, lalu keluar rumah setelah mengunci pintu. Ia bergegas ke rumah Devan.
Sampai di sana, rumah Devan kosong. Haris berseru sambil mengetuk pintu, tapi tak ada sahutan dari dalam.
Haris menghubungi Devan. Dering pertama langsung diangkat Devan.
“Wah. Tumben lo nelepon gue. Kenapa, Ris? Kangen kah?”
Haris mendengus jijik. “Dimana Tara?”
Devan yang tengah duduk santai di sofa, menatap pintu kamar dimana Tara tertidur dengan senyuman puasnya.
“Kok nanya gue?”
“Nggak usah sok polos. Gue tahu lo yang culik adik gue.”
Devan tertawa sinis. “Adik lo balita sampai harus gue culik, heh?”
Haris mengepalkan tangan.
“Gue nggak perlu culik dia kalau dia yang datang sendiri ke pelukan gue. Apa itu salah gue?”
Bersambung…