Gadis miskin dipaksa menikah menggantikan kakaknya dengan CEO dingin.
Awalnya dihina dan diabaikan, tapi perlahan suaminya berubah.
Tanpa diketahui, sang istri ternyata memiliki identitas tersembunyi yang bisa menghancurkan semua orang yang meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 - Balasan Elegan
Suasana aula tidak benar-benar kembali seperti sebelumnya meskipun percakapan mulai terdengar lagi dan alunan musik perlahan mengisi ruang. Gelas-gelas kembali beradu pelan, beberapa tamu melanjutkan obrolan yang sempat terhenti, namun arah perhatian tidak lagi menyebar seperti awal acara karena sebagian besar masih menyisakan fokus pada satu titik yang sama.
Perubahan itu tidak terlihat mencolok, tetapi terasa jelas dalam cara orang-orang melirik dan menilai ulang apa yang baru saja mereka saksikan. Jika sebelumnya Alyssa hanya menjadi bahan bisikan yang tidak dianggap penting, kini kehadirannya justru menarik perhatian dengan cara yang berbeda, bukan karena kontroversi, melainkan karena sikap yang ia tunjukkan.
Beberapa tamu masih memperhatikannya dari kejauhan, namun ekspresi mereka tidak lagi sama seperti sebelumnya yang cenderung meremehkan. Ada rasa ingin tahu yang muncul, bahkan pada mereka yang tadi ikut tertawa, seolah mereka mencoba memahami sesuatu yang terlewat.
Alyssa tetap berdiri di tempatnya tanpa berpindah, tidak berusaha mencari posisi yang lebih nyaman atau menjauh dari keramaian. Ia mengambil segelas air baru dari pelayan yang lewat, lalu kembali berdiri dengan sikap yang sama seperti sebelumnya, tenang dan tidak tergesa.
Kali ini, keheningan yang mengelilinginya bukan karena ia diabaikan oleh lingkungan sekitar, melainkan karena orang-orang justru memperhatikannya dengan lebih serius. Tidak ada lagi tawa kecil yang sengaja dibuat terdengar, tidak ada lagi bisikan terang-terangan yang mencoba menjatuhkannya.
Seorang pria paruh baya mendekat dengan langkah yang mantap, mengenakan jas abu-abu dengan potongan rapi yang menunjukkan kebiasaan menjaga penampilan. Wajahnya terlihat serius namun tidak kaku, dan cara ia membawa diri menunjukkan bahwa ia terbiasa berada dalam lingkungan seperti ini.
“Nona Alyssa.”
Alyssa menoleh dengan gerakan ringan.
“Iya.”
“Saya Armand Pratama,” katanya sambil mengangguk sedikit. “Saya sering bekerja sama dengan keluarga Wijaya.”
Alyssa membalas anggukan itu dengan sikap yang sama sopannya, tanpa terlihat gugup atau berlebihan.
“Senang bertemu dengan Anda.”
Nada suaranya tetap halus dan jelas, tidak berubah meskipun situasi di sekitarnya masih menyimpan perhatian dari banyak orang.
Armand memperhatikannya sejenak, seolah mencoba membaca lebih jauh dari sekadar jawaban yang diberikan.
“Pembicaraan Anda tadi cukup menarik,” katanya dengan nada yang tidak dibuat-buat.
Alyssa tidak menunjukkan reaksi berlebihan, ia hanya sedikit memiringkan kepala sebelum menjawab dengan tenang.
“Hanya percakapan biasa.”
Armand tersenyum tipis, namun matanya tetap fokus.
“Tidak semua orang bisa menyampaikan hal seperti itu dengan cara yang sama.”
Alyssa tidak langsung menanggapi, ia memberi jeda sejenak sebelum akhirnya berbicara.
“Kadang yang membuat sesuatu terdengar berbeda bukan isinya, tapi cara menyampaikannya.”
Armand mengangguk pelan, jelas setuju dengan pernyataan itu tanpa perlu menambahkan banyak kata.
“Masuk akal.”
Beberapa tamu lain mulai mendekat tanpa disadari, tertarik oleh percakapan yang terasa lebih terarah dibandingkan obrolan ringan di sekitarnya. Lingkaran kecil terbentuk kembali, namun kali ini tidak diisi oleh bisikan atau tawa, melainkan pertukaran pendapat yang lebih serius.
---
Cassandra berdiri tidak jauh dari sana dengan posisi yang masih sama, namun sikapnya tidak lagi seutuh sebelumnya. Tangannya tetap memegang gelas, tetapi gerakannya tidak lagi santai, seolah ia hanya mempertahankan kebiasaan tanpa benar-benar menikmati minuman di dalamnya.
Matanya tertuju pada Alyssa dan orang-orang yang kini mulai berbicara dengannya, memperhatikan setiap perubahan yang terjadi tanpa bisa mengabaikannya begitu saja. Apa yang ia lihat tidak sesuai dengan rencana yang sudah ia susun, dan hal itu membuatnya sulit tetap tenang.
“Kenapa jadi seperti ini…” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.
Ibu Daren melirik ke arahnya, mengikuti arah pandang yang sama tanpa langsung bereaksi.
Cassandra menghela napas perlahan, mencoba mengatur ekspresinya agar tetap terlihat wajar.
“Tadi seharusnya dia sudah kehilangan muka,” katanya dengan nada rendah. “Kenapa malah berbalik seperti ini.”
Ia tidak melanjutkan kalimatnya, namun jawabannya sudah terlihat jelas di depan mata tanpa perlu dijelaskan.
Alyssa tidak jatuh seperti yang diharapkan.
Sebaliknya, ia justru berdiri lebih kuat di tengah situasi yang seharusnya menjatuhkannya.
Cassandra menyipitkan mata, ketidaknyamanan itu mulai terlihat lebih jelas meskipun ia berusaha menutupinya.
Ia tidak menyukai arah ini.
Tidak menyukai ketika kendali mulai bergeser dari tangannya.
---
Di sisi lain, Daren masih berdiri di tempatnya dengan posisi yang tidak banyak berubah sejak tadi, namun ekspresinya tidak lagi sepenuhnya datar seperti sebelumnya. Tatapannya tetap tertuju pada Alyssa, namun ada sesuatu yang berbeda dalam cara ia melihat.
Ia memperhatikan bagaimana Alyssa berbicara, bagaimana ia merespons setiap pertanyaan tanpa terburu-buru dan tanpa menunjukkan keraguan. Tidak ada usaha untuk terlihat lebih dari yang sebenarnya, namun justru itu yang membuat orang-orang di sekitarnya mulai mendengarkan dengan serius.
Seorang wanita melangkah sedikit lebih dekat, terlihat tertarik dengan arah pembicaraan yang mulai berkembang.
“Apakah Anda membaca buku ekonomi?”
Alyssa mengangguk kecil.
“Beberapa.”
“Topik apa yang Anda minati?”
Alyssa tidak langsung menjawab, ia berpikir sejenak sebelum akhirnya memberi jawaban yang jelas.
“Perubahan pola konsumsi dan dampaknya terhadap keputusan investasi jangka panjang.”
Wanita itu terdiam sejenak, tampak tidak menyangka jawaban yang diberikan akan searah itu.
“Cukup spesifik.”
Alyssa tersenyum tipis, tidak berusaha menonjolkan diri.
“Hal-hal kecil sering memberi dampak besar jika diperhatikan dengan tepat.”
Percakapan berlanjut dengan ritme yang terjaga, topik berganti dari satu ke yang lain tanpa terasa dipaksakan. Dari buku, pembahasan bergeser ke bisnis, lalu ke isu sosial yang lebih ringan, dan Alyssa mengikuti semuanya tanpa terlihat kesulitan.
Ia tidak mendominasi pembicaraan, namun juga tidak tertinggal, seolah ia tahu kapan harus berbicara dan kapan cukup mendengarkan.
Daren memperhatikan semua itu tanpa mengalihkan pandangan, dan perlahan muncul sesuatu yang tidak bisa ia abaikan begitu saja.
Bukan sekadar rasa heran.
Lebih dari itu.
Perasaan yang datang tanpa ia rencanakan, namun terasa jelas ketika ia melihat bagaimana Alyssa berdiri di tengah semua itu.
---
“Bagaimana pendapat Anda tentang tren properti saat ini?”
Seorang pria bertanya dengan nada serius, menunjukkan bahwa ia benar-benar ingin mendengar jawaban.
Alyssa tidak langsung menjawab, ia memberi waktu sejenak untuk menyusun pikirannya sebelum berbicara.
“Pasarnya terlihat stabil di permukaan, tetapi cukup sensitif terhadap perubahan kecil.”
Pria itu mengangguk, memberi isyarat agar ia melanjutkan.
“Perubahan seperti apa?”
“Kepercayaan,” jawab Alyssa dengan nada tetap tenang. “Selama kepercayaan terjaga, orang akan terus berinvestasi, tetapi ketika itu goyah, pergerakannya bisa berubah dengan cepat.”
Beberapa orang mengangguk pelan, tampak mempertimbangkan apa yang baru saja ia katakan.
“Menarik.”
“Jarang ada yang melihat dari sisi itu.”
Alyssa tersenyum tipis.
“Karena sering dianggap terlalu sederhana.”
Percakapan semakin hidup tanpa terasa dipaksakan, dan posisi Alyssa dalam lingkaran itu berubah secara alami tanpa perlu pengakuan langsung. Ia tidak lagi dipertanyakan, melainkan didengarkan, dan perbedaan itu terasa jelas bagi siapa pun yang memperhatikan.
---
Cassandra melihat semuanya tanpa melewatkan satu detail pun, dan semakin lama, rasa tidak nyaman itu semakin sulit disembunyikan. Ia melangkah maju lagi, mencoba masuk kembali ke dalam lingkaran yang kini tidak lagi ia kendalikan sepenuhnya.
Langkahnya masih terjaga, namun tidak sehalus sebelumnya, karena ada ketegangan yang mulai memengaruhi caranya bergerak.
“Aku tidak tahu kamu tertarik dengan hal-hal seperti itu.”
Nada suaranya tetap ringan, namun ada perubahan kecil yang sulit diabaikan.
Alyssa menoleh.
“Hanya membaca beberapa hal.”
Cassandra tersenyum, mencoba mempertahankan kesan santai.
“Sepertinya lebih dari itu.”
Alyssa tidak menanggapi kalimat itu secara langsung, ia hanya menatap sebentar sebelum kembali ke posisi semula.
Cassandra melanjutkan dengan nada yang terdengar seperti pujian, meskipun ada sesuatu di baliknya.
“Atau mungkin kamu hanya pandai menyembunyikannya.”
Alyssa menatapnya dengan tenang.
“Tidak ada yang disembunyikan.”
Cassandra tersenyum lagi, namun kali ini senyumnya tidak sepenuhnya stabil. Ia melirik ke arah orang-orang di sekitar, seolah mencari respons yang bisa mengembalikan arah seperti sebelumnya.
Namun reaksi yang ia dapatkan berbeda.
Beberapa orang hanya memperhatikan tanpa ikut menimpali, sementara yang lain terlihat lebih tertarik pada Alyssa dibandingkan mengikuti arah yang ia bangun.
Situasi itu perlahan bergeser, dan Cassandra mulai kehilangan kendali tanpa bisa menghentikannya.
---
Daren melihat perubahan itu dengan jelas tanpa perlu mendekat lebih jauh, karena perbedaan sikap orang-orang di sekitar sudah cukup menunjukkan arah yang sedang terjadi. Ia memperhatikan bagaimana Cassandra mulai kesulitan mempertahankan posisi, sementara Alyssa tetap berada di tempatnya tanpa terlihat terpengaruh.
Ia menarik napas pelan, matanya masih tertuju pada Alyssa, dan dalam diam ia mengakui sesuatu yang tidak pernah ia pertimbangkan sebelumnya.
Wanita itu jauh lebih dari yang ia kira.
---
Percakapan akhirnya mulai mereda seiring waktu berjalan, beberapa tamu kembali ke kelompok mereka, sementara yang lain berpindah ke sudut berbeda untuk melanjutkan obrolan. Namun meskipun lingkaran itu mulai terbuka, pandangan mereka terhadap Alyssa tidak kembali seperti sebelumnya.
Ada rasa hormat yang muncul secara alami, bercampur dengan rasa penasaran yang belum sepenuhnya terjawab. Perubahan itu tidak diucapkan, namun terlihat jelas dari cara mereka memandang dan memperlakukan.
Alyssa tetap berdiri dengan sikap yang sama, tidak berubah sejak awal, seolah semua yang terjadi memang tidak cukup untuk mengganggu ketenangannya. Ia tidak mencoba mempertahankan perhatian, juga tidak berusaha menjauh, melainkan hanya berada di sana dengan posisi yang sama.
Cassandra berdiri beberapa langkah darinya dengan tangan yang sedikit mengepal di sisi tubuh, meskipun ia masih menjaga ekspresi ketika seseorang melihat ke arahnya. Senyumnya tetap muncul ketika diperlukan, namun begitu pandangan itu beralih, ekspresinya berubah menjadi lebih tegang.
Rencana yang ia susun tidak berjalan seperti yang diinginkan, bahkan hasilnya justru berlawanan dengan arah yang ia harapkan. Situasi yang seharusnya ia kuasai kini perlahan beralih, dan perubahan itu terjadi tanpa bisa ia kendalikan.
Perasaan tidak nyaman itu semakin jelas, bukan hanya karena hasil yang tidak sesuai, tetapi karena ia mulai menyadari bahwa posisi yang ia anggap aman tidak lagi sekuat sebelumnya.
sadar casandra.... km itu trlalu bnyak omong n trlalu bnyk mngatur... pdahal nyata" km hnya org luar😅😅
saat itu alyssa sdh tak peduli daren...
ap nunggu alyssa tiba" kabur & tak akn prnah km temukan.... ato hmpaskn org luar yg seolah brkuasa layaknya seorang istri🙄🙄
tpi menantu... layaknya pmbantu & org asing...
smpe kpan km tetap brtahan di rumah neraka suamimu Alyssa....
dgn hrga diri yg sdh trcabik"
& tak ada lgi yg nmanya ksempatan ke 2 untuk daren mmprbaiki smuanya...🙄🙄
🤔🤔