Selama tiga tahun, Nayra mendedikasikan hidup untuk suaminya, Lettu Ardana Prajakelana. Seorang pria abdi negara yang merangkap profesi sebagai psikolog kesatuan. Semua terjadi karena perjodohan.
Namun, menjelang usia pernikahan yang ke ketiga, sebuah nama lain justru sering digaungkan Ardana. Mantan kekasihnya kembali, mengemis harap dan memohon Ardana menceraikan Nayra. Lalu apa yang akan terjadi dengan pernikahan Ardana dan Nayra setelah mantan kekasih Ardana kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Lagi-lagi Tiana Ngamuk
Ardana tampak gelisah, dia kerap kali melihat jam di tangannya. Sementara waktu saat ini sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Dia harus pulang, sebab sang Mama sebelum tiba di rumahnya tadi saat diantar pulang, mewanti-wanti untuk menjaga Nayra.
"Aduh...bagaimana ini?" bingungnya masih melihat jam di tangannya. Keadaan ini, diam-diam diamati Tiana.
"Aku tahu Mas Arda gelisah karena dia bingung mau pulang. Biarkan saja, aku tidak akan tidur cepat-cepat. Aku akan terus melek agar Mas Arda tetap bertahan," bisik Tiana dalam hati.
"Mas Arda, kenapa sejak tadi Mas selalu melihat arloji? Itu arloji mahal, kan?"
"Nggak Tia, ini sudah malam, sepertinya Mas harus pulang. Kamu segera tidur, sebab kalau kamu begadang, Mas takut kondisi kamu kambuh lagi. Tensi kamu bisa naik dan cepat memicu stres," bujuk Ardana, akhirnya dia mengakui bahwa kegelisahannya ini karena ia harus pulang.
"Mas...tega banget kamu mau pulang setelah dua malam kamu tidak menungguin aku di sini. Kenapa sih, apa sekarang kamu lebih bela dan mencintai istrimu?" Tiana marah, kilatan matanya kembali memerah. Ardana sudah was-was kalau Tiana kembali ngamuk.
"Tidak Tia, istri Mas memang baru sembuh dari sakit, dan Mama berpesan agar Mas menjaganya. Kalau di hari pertama kesembuhannya, dia sudah kehilangan Mas, Mas khawatir dia akan laporan ke Mama," jawab Ardana resah.
"Alah, hanya gara-gara itu. Biarkan saja dia laporan, biar orang tua Mas Arda tahu kalau kita saat ini bersama," balas Tiana meremehkan.
Ardana terdiam, kini dia dilanda bingung. Apa yang harus dia lakukan?
"Mas...duduk dengan tenang di sampingku. Kalau Mas Arda ngantuk, Mas bisa tiduran di sofa itu. Aku akan merasa tenang kalau kamu sudah berada di dekatku."
Ardana tidak bisa menolak, ia tetap di samping Tiana.
Tiana senang, akhirnya Ardana bisa ia taklukan. Dengan leluasa Tiana bisa memegang tangan Ardana dengan erat.
"Mas, kapan dong pernikahan kita terwujud? Setidaknya pernikahan siri dulu?"
Jantung Ardana seakan mau copot mendapat pertanyaan dadakan seperti itu. "Apa? Pernikahan siri?" Wajah Ardana masih diliputi kaget.
"Iya, kenapa? Kenapa Mas Arda sangat kaget? Kalau Mas Arda tidak bisa menceraikan istrimu, lebih baik ikat aku dengan pernikahan siri. Dengan menikah siri, aku jamin aku akan sembuh dari sakit ini. Sebab, setiap berada di dekat Mas Arda, hati aku merasa tenang dan nyaman," tutur Tiana menjelaskan bagaimana perasaannya jika ia menikah siri dengan Ardana.
"Tapi, itu tidak mungkin Tia. Kalau ketahuan kantor, bisa fatal. Mas terancam kena sanksi," balas Ardana sambil menghela napas dalam.
"Ya sudah, kalau begitu ceraikan saja. Alasannya mudah, dia tidak bisa memberikan Mas Arda anak, iya, kan?" desak Tiana lagi, membuat pikiran Ardana semakin kalut.
Di tengah-tengah pikiran yang kalut, tiba-tiba pintu ruang rawat Tiana dibuka seseorang.
"Mbak Tia...aku datang, Mbak."
Ardana terkejut, lalu melepaskan tangannya dari cengkraman Tiana.
"Ohhh...maaf, rupanya ada yang menunggu." Perempuan muda itu kembali mundur dan merasa tidak enak karena melihat Ardana di sana, di samping Tiana.
"Siapa dia, apakah dia terapis yang pernah Mbak Tiana sebutkan tempo hari?" gumam perempuan muda itu keheranan.
Ardana berdiri, dia mempersilahkan perempuan muda yang usianya seumuran Nayra itu untuk mendekati ranjang.
"Silahkan, Mbak, mendekat saja," ujar Ardana sambil mengayun tangannya memberikan tempat untuk perempuan muda yang ternyata Nepa.
Nepa tersenyum, lalu mendekat. "Terimakasih, Mas. Saya datang ke sini bermaksud menjaga Kakak saya. Tadinya saya dan kedua orang tua saya mau datang. Tapi, saya kasihan kalau kedua orang tua kami ke sini, mereka sudah lelah karena pekerjaan."
"Baiklah, kalau begitu saya tinggal dulu keluar, ya. Mbak...euhh...maaf siapa namanya?"
"Nama saya Nepa, Mas."
"Mbak Nepa, silahkan bicara dengan Kakaknya. Saya keluar dulu. Kalau ada apa-apa, panggil Perawat atau Dokter jaga di ruang piket," tukas Ardana.
Nepa mengangguk.
"Mas Arda, jangan pergi Mas. Aku tidak mau ditungguin adik aku. Aku mohon. Kalau kamu pergi, maka aku akan ngamuk lagi," tahan Tiana mengancam.
Arda yang sudah melangkah dua langkah menuju pintu, terpaksa kembali menoleh dan menatap Tiana dengan serba salah.
"Tia, Mas hanya ke ruang piket. Kamu bicara dulu dengan adikmu, ya." Ardana kembali membujuk Tiana dengan lembut.
Nepa mengamati interaksi antara sang kakak dan pria yang disebut Mas Arda barusan. Nepa menduga-duga siapakah pria itu, apakah mantan kekasih yang pernah Tiana sebut tempo hari?
Setelah Ardana pergi, Nepa mendekat dan duduk di samping Tiana. "Mbak, siapa pria itu. Apa dia terapis yang Mbak bilang mantan kekasih yang meninggalkan Mbak menikah?" cecar Nepa sangat penasaran.
Tiana tersenyum. "Iya. Terus kenapa?"
"Dia kan punya istri, kenapa Mbak selalu menuntut dia yang ingin menjaga Mbak di sini? Kan ada aku, Papa atau Mama? Papa dan Mama ingin banget nungguin Mbak di sini, mereka khawatir dengan Mbak?" Nepa menatap lekat Tiana, dia tidak setuju dengan sikap yang diambil Tiana.
"Itu urusanku, Nepa. Jangan ikut campur. Dan awas, kalau kamu sampai membuat Papa dan Mama nungguin aku di sini," sengor Tiana dengan galak.
"Mbak pasti takut ketahuan kalau Mbak telah melakukan pembersihan sisa kuret Mbak enam bulan lalu, kan?" serang balik Nepa.
"Suttt, diam...jangan keras-keras!" sentak Tiana takut.
"Harusnya yang bertanggung jawab pada diri Mbak adalah Pilot bajingan itu. Mbak desak dia, karena dia yang telah membuat Mbak nyaris gila seperti ini. Mbak nggak berani desak dia. Kenapa malah orang lain dikenai getahnya?"
"Nepa, kurang ajar kamu. Aku bukan gila, aku hanya merasa tertekan. Kenapa kamu justru memojokkan aku di saat aku memiliki cara sendiri untuk menyembuhkan mental aku? Apapun caraku, sebaiknya kamu jangan ikut campur," sengak Tiara lagi dengan suara meninggi.
"Tapi, cara Mbak salah."
"Kamu harus tahu, Nepa. Aku nggak bisa nuntut pria itu, sebab aku sudah diancam. Kenapa juga kamu malah sebut pria itu lagi, membuat aku semakin stres saja? Lagipula, istrinya pernah mengancam aku dengan menghadirkan orang-orang bertubuh besar. Gimana aku bisa nuntut? Aku berharap, dia kecelakaan saja dalam pesawat." Ucapan Tiana emosional.
"Jangan mendoakan buruk, sebab di dalam pesawat itu tidak hanya Pilot bajingan itu," sergah Nepa.
"Sudahlah Nepa, pergi dari sini. Kamu tidak aku butuhkan. Yang aku butuhkan adalah Mas Arda. Aku bisa membuat dia percaya kalau aku seperti ini gara-gara dia."
Nepa mendengus, dia menggeleng tidak setuju. Baginya Tiana sudah benar-benar gila.
"Mbak gila. Mbak benar-benar sudah gila."
"Aku memang gila, Nepa. Tergila-gila sama Mas Arda. Sekarang kamu pergi. Pergiiii...."
Tiana berteriak. Ardana yang kebetulan sudah berada di depan ruangan Tiana, mendengar teriakan Tiana.
"Tiana ngamuk lagi?"
Dan Ardana kamu tuh bodoh , mau aja dibohongin sama Tiana 😡😡😡
Udah deh ini mah fix kamu harus harus pergi Nayra daripada tersiksa batin kamu , kamu berhak bahagia Nayra 🫢🫢🫢
mantau dikit lagi nih...