Assalamualaikum wr.wb. cerita dari Hormoni ilmu dan amal di pesantren ini kelanjutan untuk cerita gus aqlan ke Aisyah.
Waktu Seketika wanita yang begitu elegan dan wibawa sangat dewasa bernama Aisyah Adeeba (anak dari papa arya dan mama laras), Kemudian kejadian yang begitu bahaya bagi mama laras karena pria tidak memberi tau kepadanya pada akhirnya Cinta mereka terhalang dengan mama laras kepada Aisyah. Pada bulan berbulan mereka ditemukan kembali Aisyah kuliah di terkenal di kalangan mahasiswa maupun mahasiswi lainnya, mereka berpapasan dengan mereka waktu ketemu getaran hati mereka bersatu kembali tapi mereka tidak tau kalau mereka pernah ketemu bahkan akrab.
"Apa kami pernah ketemu " batin Aisyah
"Apa wanita ini sangat familiar sekali wajah " batin pria berbaju putih dengan peci dan sorban yang rapih.Pria ini adalah anak dari suami-istri memiliki pesantren di jawa tengah nama pesantrennya Nurul ilmi,dengan pemilik Kiyai abdul dan nyai Maryam,pria tadi adalah gus aqlanArdhani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8. Salah Sangka di Pom Bensin
ೄೄྀೄྀೄྀೄྀ A&Qೄྀೄྀೄྀೄྀೄྀ
Suara mesin mobil Aisyah yang tadinya mati suri, kini akhirnya menderu halus dan stabil setelah berhasil diisi bensin. Papa Arya menghela napas lega, jari-jarinya memutar setir dengan santai melaju meninggalkan area parkir kampus.
"Alhamdulillah, jadi bisa jalan nih. Besok Aisyah bisa pakai lagi," gumamnya pelan.
Malam mulai turun, langit berwarna gelap dihiasi lampu-lampu jalan yang mulai menyala. Papa Arya melaju pelan menuju pom bensin terdekat untuk memastikan tangki benar-benar penuh dan tidak ada masalah lagi. Saat mobilnya masuk perlahan ke area pengisian SPBU yang cukup ramai itu, matanya yang tajam dan teliti langsung menangkap sosok yang sangat dikenali di pom nomor 3, tepat di sebelah posisinya sekarang.
Itu dia! Gus Aqlan!
Papa Arya tersenyum lebar, tangannya sudah siap mengetuk kaca jendela untuk menyapa. "Wah, kebetulan banget nih! Mau sapa dulu ah, makasih udah bantuin anakku tadi," batinnya antusias.
Namun... senyum di wajah Papa Arya itu tiba-tiba membeku dan berubah menjadi tatapan heran yang dalam.
Di samping Gus Aqlan, berdiri dengan anggun seorang wanita muda yang sangat cantik jelita. Wanita itu memakai gamis berwarna soft blue yang sangat rapi dan syar'i, hijabnya menutup dada dengan sempurna. Saat ini, wanita itu sedang membantu memegang jeriken air minum besar, dan sesekali menata barang-barang di bagasi mobil.
Yang membuat Papa Arya ternganga bukan hanya kecantikannya, tapi sikap mereka yang terlihat sangat akrab dan mesra.
Gus Aqlan terlihat sangat santai, bahkan tertawa kecil dengan nada rendah sambil berkata sesuatu pada wanita itu. Wanita itu pun tertawa renyah, lalu menepuk pelan lengan Gus Aqlan dengan sikap manja yang sangat wajar.
Pemandangan itu terlihat begitu harmonis, begitu pas, dan begitu utuh di mata orang yang melihatnya dari jauh.
GEDUBAR!
Jantung Papa Arya seakan berhenti berdetak sesaat.
"Wah... pantas saja tadi dia buru-buru sekali ingin pamit pulang," batin Papa Arya sambil menggeleng-gelengkan kepala, mulutnya bergumam pelan penuh kesadaran.
"Ternyata... ternyata sudah ada yang mendampingi. Ganteng-ganteng begini, anak kyai lagi, punya wibawa, mana mungkin masih melajang sendirian. Pantesan aja tadi dia baik banget sama Aisyah, nawarin tumpangan sampai rumah, aku kira ada rasa apa-apa, ada sinyal cinta... Eh ternyata emang dasarnya dia orang baik dan suka menolong aja kali ya."
Papa Arya menghela napas panjang, matanya menatap pasangan muda itu dengan pandangan takjub sekaligus "kecewa" setengah bercanda.
"Ceweknya cantik juga sih... sopan lagi. Cocok banget sih sama Aqlan. Satu aliran, satu pemahaman, satu gaya hidup. Ya wajar lah kalau mereka jadian."
Perasaan Papa Arya campur aduk. Di satu sisi dia senang melihat Gus Aqlan bahagia, tapi di sisi lain, harapan besar yang tadi sore sempat muncul di dadanya—harapan agar Aisyah dan Gus Aqlan bisa berjodoh—tiba-tiba terasa pupus dan hancur berkeping-keping.
"Kasihan anakku Aisyah... Kirain ada harapan, kirain takdir yang mempertemukan, ternyata Gus Aqlan sudah punya pasangan yang pasti dan jelas," gumamnya lagi sambil menunggu giliran antrean pom. "Ya sudahlah... mungkin emang bukan jodohnya. Lagian Mama juga dari tadi marah-marah nggak setuju kan? Ya udah, ini jadi bukti kalau emang nggak bisa."
Di sisi lain pom bensin...
Sebenarnya, wanita yang berdiri di samping Gus Aqlan itu bukanlah pacar, bukan tunangan, apalagi istri.
Dia adalah Zea, adik kandung bungsunya sendiri yang baru saja tiba dari Jawa Tengah sore tadi. Dia datang khusus untuk membantu persiapan keberangkatan Gus Aqlan ke Kairo, dan juga ingin menghabiskan waktu bersama kakak kesayangannya sebelum kakaknya pergi ke luar negeri untuk waktu yang lama.
"Mas Aqlan... bensinnya sudah penuh tuh dari tadi lho! Spontannya lama banget sih!" rengek Zea manja sambil menarik-narik ujung lengan baju Gus Aqlan. "Yuk kita langsung pulang aja ya? Zea kan capek banget perjalanan jauh, pengen cepet mandi dan istirahat."
Gus Aqlan tertawa lembut melihat tingkah laku adiknya yang masih kekanak-kanakan itu. "Iya iya, sabar dong dek. Ini Mas mau bayar dulu sama ambil struknya. Kamu tunggu di mobil aja ya, nanti kepanasan, kan kamu lagi cantik-cantiknya gitu."
"Ih Mas Aqlan mah..." Zea tersipu malu.
Gus Aqlan pun membukakan pintu mobil untuk Zea, membantu adiknya masuk dengan sopan, lalu menutup pintunya dengan hati-hati. Sikap perhatian dan lembut itu terlihat sangat sempurna, benar-benar terlihat seperti pasangan suami istri atau kekasih yang sangat saling menyayangi di mata orang luar yang tidak tahu.
Mereka pun masuk ke dalam mobil, dan tak lama kemudian mobil Gus Aqlan melaju pelan meninggalkan area pom bensin, menghilang ditelan malam.
Papa Arya yang menyaksikan seluruh adegan itu dari mobilnya hanya bisa menghela napas panjang sekali, napas yang terdengar berat dan penuh kesimpulan sendiri.
"Yah... sudah punya pacar rupanya. Sudah jelas banget sikapnya," ucapnya lirih. "Nanti sampai rumah aku kasih tahu Aisyah ya. Biar dia sadar dan nggak berharap lebih. Hati-hati ya kalau jatuh cinta, Sayang... Jangan sampai sakit hati nantinya."
Tanpa Papa Arya sadar, tanpa dia ketahui, dia baru saja melakukan salah sangka yang sangat besar dan fatal malam ini. Sosok yang dia anggap sebagai "pasangan hidup" Gus Aqlan itu, ternyata adalah saudara kandung sendiri yang memiliki darah dan daging yang sama.
BERSAMBUNG....