"Suuut" lelaki itu membekap Garima dengan telapak tangan besarnya, mereka saat ini tengah berada gang kecil penuh dengan kupu - kupu malam yang dengan gamblang menjajahkan tubuhnya.
Tubuh Garima bergetar karena ketakutan, matanya menatap lelaki misterius didepannya itu dengan melotot "siapa dia ?, apa dia seorang penjahat ?" gumam Garima dalam hati.
"Tuhan tolong aku" jerit batin Garima kembali, tidak berapa lama terdengar suara langkah kaki yang banyak membuat seluruh gang sempit dan kumuh itu menjadi ramai.
Para wanita yang sedang menjalankan pekerjaannya lari terbirit - birit karena kehadiran beberapa orang yang sedang mencari seseorang.
Lelaki itu mendorong tubuh Garima membuat rumah kecil milik Garima terbuka dan dia dengan sengaja mencium bibir Garima saat salah satu lelaki berambut gondrong memperhatikan mereka.
Garima terkejut dengan aksi lelaki didepanya itu hingga dia tidak bisa berkata apa - apa dan bingung akan melakukan apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sukapena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Loka yang terluka
Loka menyerahkan ponsel baru pada Rima sementara Rima menerima dengan ragu - ragu "nomorku sudah ada disana, jika kau membutuhkan sesuatu hubungi saja aku" Rima melihat Loka sekilas kemudian mengangguk mengerti.
"Terima kasih" Loka hanya mengangguk kemudian berjalan menuju mobil diikuti oleh Rima dibelakangnya, mereka saling diam beberapa saat didalam mobil.
"Dimana tempat tinggalmu aku akan mengantar" Rima menunjukkan nama tempat kos yang dia tinggali, tidak pama kemudian mobil mereka telah sampai didepan kos milik Rima "terima kasih tuan" Loka melihat Rima yang kemuar dari mobil.
Loka ikut keluar dari mobil kemudian berjalam dengan berlari kecil menghampiri Rima yang saat ini memutar kunci pintu kos miliknya, Rima terkejut saat tiba - tiba Loka menarik tangannya kemudian mereka saling menatap.
"Loka, namaku Loka" Rima mengeryitkan dahi bingung dengan apa yang Loka katakan padanya "Panggil aku Loka, jangan panggil aku Tuan" Rima mengangguk kemudian menarik tangannya yang masih dalam genggaman Loka.
Mereka kemudian saling canggung "sudah pulang Rim ?" suara tetangga kos menyapa Rima "ah iya mbak" Rima menanggapi dengan tersenyum sopan "siapa dia Rim ?, pacarmu ?" Rima menggeleng dengan kuat "aku tidak mengenalnya, tadi dia yang menolongku saat aku pingsan ditempat kerja" senggahan Rima membuat Loka menegang dan kemudian kembali dengan sikap dinginnya.
Loka berjalan menuju mobil tanpa berpamitan dengan Rima, membuat Rima bertanya - tanya didalam hati "kenapa dia ?" Loka menghidupkan mesin mobil kemudian pergi dari halaman kos milik Rima.
"Rim ganteng juga orang tadi, gaet lah" Rima tertawa kemudian menggelengkan kepala mendengar penuturan dari tetangga kos nya itu "mbak Veni ada - ada aja" setelah itu Rima permisi masuk kedalam kos.
Bunyi dering ponsel milik Loka berbunyi kemudian Loka mengambil ponselnya dan mengangkat telfon tersebut "halo Bim, nanti akan ku ceritakan padamu" setelah itu Loka menutup telfon dengan sepihak.
Loka menuju rumah sepetak yang sudah ada Bima dan Hilda, Bima mengangkat satu alisnya melihat Loka memasuki Rumah dengan wajah yang sangat dingin.
"Ada apa ?" Loka melihat Bima sekilas kemudian menghela nafasnya "As siapa wanita tadi ?" Hilda mulai mencerca Loka dengan pertanyaan.
Saat Loka menolong Rima yang tiba - tiba tidak sadarkan diri, Loka lupa jika dirinya tidak hanya sendirian datang ke rumah makan tersebut melainkan bersama dengan Hilda.
Dan sudah pasti akan banyak pertanyaan yang teman baiknya itu lontarkan untuknya terutama Bima, lelaki kepo yang memiliki mulut seperti wanita itu sangat menyukai sebuah gosip.
"Dia yang kita cari selama ini Bim" Bima terkejut kemudian tersenyum lebar, sementara Hilda melihat dua orang laki - laki yang saat ini saling pandang dengan serius semakin penasaran dengan jawaban Loka.
"Siapa yang kalian cari bangsat ?, kenapa tidak ada yang memberitahuku" Hilda bertanya dengan sangat jengkel "dia, wanita itu yang selama ini sedang ku cari dengan Loka karena wanita itu saksi mata kejahatan bella" Hilda melototkan kedua bola matanya karena terkejut.
"Bagaimana dia bisa pergi dari cengkraman Bella secara hidup - hidup ?" selama ini tidak ada satu orang pun yang akan hidup jika sudah mengetahui jejak kejahatan Bella itulah membuat Hilda sangat penasaran dengan Rima.
"Dia berasal dari sana dan salah satu anak dari pekerja Bella" Hilda semakin terkejut mendengar penjelasan Loka "gila" gumam Hilda dengan lirih dan tidak percaya dengan itu semua.