Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Sari Mendekati Maya
Dua hari setelah makan siang yang memuakkan itu, Maya menerima pesan dari Sari.
Pagi masih mendung. Maya sedang menyiram tanaman di taman belakang ketika ponsel bergetar di saku celemek. Dia mengeringkan tangan, membuka layar.
Kak Maya, hari ini ada waktu? Aku mau ngobrol. Sendirian saja.
Maya membaca tiga kali. Jari menggantung di atas keyboard. Di dalam rumah, Yuni membersihkan dapur, suara piring terdengar dari balik jendela.
Ada perlu apa, Sari?
Cuma kangen. Aku butuh teman curhat. Kakak kan perempuan, pasti ngerti.
Maya tersenyum pahit. Perempuan yang mengerti. Sari tidak tahu seberapa dalam pemahaman itu.
Jam berapa?
Jam 10 di kafe dekat rumah Kakak? Aku jemput ya.
Tidak usah. Aku bisa naik taksi online.
Oke. Aku tunggu.
Maya memasukkan ponsel ke saku, kembali menyiram. Tangannya bergerak otomatis, tapi pikirannya melayang. Sari ingin curhat tentang Ardi. Tentang hubungan mereka yang mulai retak. Dan Maya harus duduk di sana, mendengarkan, memberi nasihat, berpura-pura menjadi ibu tiri yang baik—padahal dialah penyebabnya.
---
Ardi baru selesai mandi ketika Maya masuk ke kamar tidur. Dia duduk di tepi ranjang, menyisir rambut basah, menatap bayangannya di cermin.
"Sari ajak aku ketemu."
Ardi berhenti mengeringkan rambut. "Kapan?"
"Jam sepuluh. Di kafe dekat sini."
Dia berjalan mendekat, berdiri di belakang Maya, tangan menyentuh pundaknya. "Aku ikut."
"Tidak." Maya menatapnya lewat cermin. "Dia minta sendirian."
"Tapi—"
"Ardi." Suaranya lembut tapi tegas. "Dia tidak akan menyakitiku. Dia hanya ingin curhat."
Ardi duduk di sampingnya. "Kau yakin?"
Maya menoleh, tersenyum tipis. "Aku sudah menghancurkan hatinya. Setidaknya aku bisa mendengarkan keluh kesahnya."
Ardi tidak menjawab. Maya benar. Jika Sari ingin curhat pada Maya, itu mungkin caranya melepaskan—atau caranya menguji seberapa dalam luka itu.
"Jangan bilang apa-apa," kata Ardi akhirnya. "Tentang kita."
"Aku tidak bodoh." Maya berdiri, mengambil jaket tipis. "Aku hanya akan mendengarkan."
---
Kafe di kawasan Menteng itu kecil dan sepi di pagi hari. Maya duduk di meja dekat jendela, memesan teh hangat. Di luar, langit masih mendung.
Sari datang sepuluh menit kemudian, langkah cepat, senyum sudah disiapkan. Kemeja putih lengan panjang, rambut dikuncir kuda, wajah segar—terlalu segar untuk seseorang yang hatinya sedang terluka.
"Kak Maya!" Sari duduk di hadapan Maya, meletakkan tas di kursi samping. "Maaf telat. Macet."
"Tidak apa-apa." Maya menyodorkan menu. "Mau pesan apa?"
"Kopi hitam saja. Lagi males makan."
Pelayan datang, mencatat pesanan, pergi. Sari menatap Maya dengan mata berbinar, seperti tidak ada yang salah.
"Kak, makasih ya mau ketemu. Aku nggak punya banyak teman perempuan buat curhat."
Maya tersenyum. "Curhat tentang apa?"
Sari menarik napas, senyum perlahan memudar. "Tentang Ardi."
Maya memegang cangkir teh, menghangatkan telapak tangan. "Ada apa dengan Ardi?"
Sari menunduk, jari memainkan ujung taplak meja. "Dia jadi dingin akhir-akhir ini, Kak. Aku nggak tahu kenapa."
Maya diam.
"Dulu dia selalu sempatkan waktu buat aku. Telepon, chat, ketemu. Sekarang—" Sari mengangkat bahu, tersenyum pahit. "Sekarang kayak orang asing. Tiduran di sampingku pun matanya kosong."
Maya menyesap tehnya. Tidak tahu harus berkata apa.
"Aku udah coba ngobrol serius sama dia," lanjut Sari. "Tapi dia selalu bilang 'aku lelah' atau 'banyak kerjaan'. Padahal aku tahu ada yang lain."
Maya meletakkan cangkir pelan. "Maksudmu?"
Sari mengangkat wajah, mata mulai berkaca-kaca. "Aku nggak tahu, Kak. Mungkin dia punya orang lain. Atau mungkin aku yang kurang."
"Kamu tidak kurang, Sari."
"Terus kenapa dia berubah?" Suara Sari bergetar. "Dari kuliah aku sudah sama dia. Aku tahu dia nggak sempurna. Dia dingin, kadang cuek, sibuk kerja. Tapi aku selalu ada. Aku selalu percaya suatu hari dia akan berubah."
Maya menatap Sari. Air mata mulai menggenang di sudut mata gadis itu. Maya ingin berkata maafkan aku, tapi kata-kata itu terlalu egois.
"Aku nggak tahu harus gimana, Kak." Sari menunduk, suara teredam. "Dia nggak pernah cerita. Setiap aku tanya, dia diem. Aku sudah cari tahu, tapi nggak ketemu siapa—siapa pun yang buat dia berubah."
Maya meneguk teh, berusaha tenang. "Mungkin dia sendiri belum siap bicara."
"Siapa pun dia, aku iri." Sari mengangkat wajah, mata merah. "Dia bisa dapat hati Ardi yang selama ini susah aku raih. Dia bisa buat Ardi tersenyum, buat Ardi pulang cepat, buat Ardi jadi lembut. Kak, kamu kan tinggal serumah sama Ardi. Kamu pasti lihat perubahan dia."
Maya merasakan dadanya sesak. "Aku—"
"Aku tahu kamu pasti tahu." Sari meraih tangan Maya, menggenggam erat. "Kak, tolong bilang. Siapa wanita itu? Aku nggak akan marah. Aku cuma mau tahu, aku kalah sama siapa."
Maya menatap tangan Sari yang menggenggam tangannya. Hangat. Tapi hangat itu menyiksa. Dia ingin melepaskan, ingin lari, ingin berhenti berpura-pura.
"Sari." Suara Maya keluar lebih pelan dari yang direncanakan. "Mengetahui siapa dia tidak akan mengubah apa pun. Ardi mungkin sedang bingung. Dan kau—" dia berhenti, mencari kata. "Kau pantas mendapatkan seseorang yang memilihmu tanpa keraguan."
Sari melepaskan genggaman, menyandarkan tubuh di kursi. Air mata jatuh di pipi, tapi dia tidak menyentuhnya.
"Kak, kenapa cinta itu susah banget?" bisiknya.
Maya tidak menjawab. Dia hanya menatap Sari, perempuan muda yang terlalu baik untuk luka yang diberikan padanya. Di dalam hati, Maya bertanya hal yang sama. Kenapa aku harus mencintai anak tiri sendiri? Kenapa aku harus melukai perempuan sebaik ini?
"Kak, aku tahu kamu dekat sama Ardi." Sari mengusap air mata dengan punggung tangan, berusaha tersenyum. "Aku titip dia, ya. Jaga dia. Soalnya—" suara patah. "Aku nggak tahu harus gimana lagi."
Maya mengangguk, tidak bisa bicara. Jika dia bicara, suaranya akan pecah.
Sari mengambil kopi yang sudah dingin, menyesap pelan. Wajah perlahan pulih, senyum kembali meski tidak secerah tadi.
"Kak, kamu bahagia di sini?" tanya Sari tiba-tiba.
Maya terkejut. "Maksudnya?"
"Di rumah ini. Dengan Pak Bram yang jarang ada, dengan Ardi yang—" Sari berhenti, sepertinya sadar kata-katanya hampir melenceng. "Maksudku, kamu sendiri sering. Nggak kesepian?"
Maya tersenyum. Senyum yang sudah dilatih sejak pertama datang ke rumah ini. "Aku baik-baik saja."
Sari menatapnya lama, mata seperti mencari sesuatu. "Kak, kamu baik banget. Aku beruntung punya calon ibu mertua sebaik Kakak."
Maya menahan napas. Kata calon ibu mertua seperti duri di tenggorokan. Dia tersenyum, tapi di dalam hatinya menangis. Jika kau tahu, Sari. Jika kau tahu aku bukan ibu mertua yang kau kira.
---
Mereka mengobrol lebih lama, topik bergeser ke hal yang lebih ringan. Sari bercerita tentang butik yang akan dibuka, tentang teman kuliah yang akan menikah, tentang liburan yang dulu direncanakan dengan Ardi. Maya mendengarkan, mengangguk, sesekali bertanya—seperti ibu tiri yang baik, seperti teman yang peduli.
Tapi setiap kali Sari menyebut nama Ardi, Maya merasakan pisau di dadanya berputar perlahan.
Jam menunjukkan pukul setengah satu. Sari melihat ponsel. "Aku harus pergi. Ada janji sama desainer."
Maya mengangguk, memanggil pelayan. Sari melarang, membayar semuanya dengan kartu kredit.
Di luar kafe, langit masih mendung. Sari berdiri di samping Maya, menatap jalan yang mulai ramai.
"Kak, makasih ya. Aku senang bisa ngobrol."
"Sama-sama, Sari."
Sari menatap Maya sebentar, lalu tersenyum. "Kak, aku titip pesan buat Ardi."
"Ya?"
"Bilang, aku nggak benci dia. Aku cuma kecewa. Tapi aku nggak akan berhenti berusaha."
Maya mengangguk, tidak bisa bicara.
Sari melangkah ke mobil, membuka pintu, lalu berhenti. Dia menoleh, mata basah lagi.
"Kak, aku harap kamu bahagia di keluarga ini. Sungguh."
Maya tersenyum, mengangkat tangan melambai. Sari masuk ke mobil, menyalakan mesin, perlahan meninggalkan parkiran.
Maya berdiri di trotoar, menatap mobil Sari yang menghilang di tikungan. Angin sore mulai bertiup, membawa bau hujan. Dia menggenggam ponsel, jari gemetar.
Pesan untuk Ardi: Sari baru saja pergi. Dia bilang dia tidak benci kamu. Hanya kecewa. Tapi dia belum menyerah.
Balasan Ardi cepat: Kamu di mana? Aku jemput.
Tidak usah. Aku naik taksi.
Maya—
Ardi, aku butuh sendiri sebentar.
Tidak ada balasan. Maya memasukkan ponsel ke saku, berjalan ke pinggir jalan, mengangkat tangan memanggil taksi. Di langit, tetesan hujan mulai jatuh.
---
Maya tiba di rumah pukul dua siang.
Yuni sedang menyetrika di ruang belakang, tidak menoleh. Rumah sunyi.
Maya naik ke lantai dua, masuk kamar, menutup pintu. Duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke luar jendela. Hujan mulai turun lebih deras.
Dia membuka laci samping ranjang, mengeluarkan buku sketsa yang lama tidak dibuka. Di dalamnya ada gambar-gambar lama—sketsa galeri impian, sketsa bunga, sketsa abstrak yang tidak selesai. Sekarang, galeri itu hanya mimpi mati.
Maya membalik halaman, menemukan gambar yang tidak sengaja dibuat beberapa minggu lalu: sketsa wajah Ardi, garis terlalu lembut untuk seorang anak tiri. Dia menatap gambar itu lama. Lalu menutup buku, menyimpannya kembali.
Ponsel bergetar. Ardi: Aku di rumah. Kamu di kamar?
Iya.
Boleh aku masuk?
Maya tidak menjawab. Tiga menit kemudian pintu terbuka perlahan. Ardi berdiri di ambang, wajah lelah, baju basah di pundak.
"Aku naik motor," katanya.
Maya menatapnya. "Kenapa naik motor? Hujan."
"Supaya cepat sampai."
Ardi masuk, menutup pintu, duduk di samping Maya. Mereka diam, hanya mendengar suara hujan.
"Dia curhat tentang kita?" tanya Ardi.
"Tidak. Dia curhat tentang kamu. Tentang sakit hatinya." Maya menunduk, jari memilin ujung baju. "Dia minta aku menjaga kamu. Karena dia nggak tahu harus gimana lagi."
Ardi tidak menjawab.
Maya mengangkat wajah, mata basah. "Kita menghancurkannya, Ardi. Dia perempuan baik."
"Aku tahu." Suara Ardi pelan tapi tegas. "Aku tahu kita menghancurkannya. Tapi aku tidak bisa mengubah perasaanku."
Maya tersenyum pahit. "Itu alasan egois."
"Aku tahu."
"Tapi aku juga egois." Maya meraih tangan Ardi, menggenggam erat. "Karena aku juga tidak bisa berhenti."
Ardi membalikkan telapak tangan, menjalin jari dengan Maya. Di luar, hujan semakin deras.
Mereka duduk di tepi ranjang berdua, dengan suara hujan yang mengisolasi mereka dari dunia luar. Tapi di dalam hati Maya, ada suara lain yang tidak bisa diabaikan—suara Sari: Aku beruntung punya calon ibu mertua sebaik Kakak.
Maya menutup mata, membiarkan air mata jatuh. Dia tidak tahu apakah air mata itu untuk Sari, untuk dirinya sendiri, atau untuk semuanya yang telah hancur.