" Dua puluh tahun terkurung. Sebuah pernikahan tanpa suara. Dan seorang pria yang lebih memilih diam dari pada berjuang.
Arumi mengira ia akan mekar setelah menikah. Ternyata , ia hanya berpindah ke sangkar yg lebih dingin. Ketika kehidupan hidup mulai mencekik dan suaminya tetap membatu, Arumi menyadari satu hal : Untuk bisa bernafas lagi, ia harus merelakan segalanya. Termasuk status yg selama ini di anggap suci."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miss tiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu dari Istara Hitam
Restoran "Wangi Arumi" baru saja buka satu jam, namun suasana sudah terasa tegang. Tiga mobil SUV hitam mengkilap parkir berjajar di depan pintu masuk. Para pengawal berbaju safari turun dengan sigap, berdiri kaku di setiap sudut teras.
Arumi, yang sedang menata piring di meja kayu, menghentikan gerakannya. Ia melihat seorang wanita cantik dengan gaun sutra berwarna zamrud turun dari mobil tengah. Di sampingnya, seorang gadis muda yang tampak modis namun memiliki sorot mata yang tajam, serta seorang pemuda tampan dengan jaket kulit mahal.
Mereka adalah keluarga inti Baron.
"Selamat pagi, Mbak Arumi," sapa wanita itu dengan suara lembut namun berwibawa. "Saya Siska, istri dari pria yang Mbak selamatkan nyawanya kemarin."
Arumi sedikit membungkuk hormat. "Selamat pagi, Ibu Siska. Silakan duduk. Mohon maaf, restoran saya sederhana sekali."
"Sederhana tapi aromanya sangat menenangkan," timpal si gadis muda sambil melepas kacamata hitamnya. "Aku Dania, anak bungsu Papa. Dan ini kakakku, Erick."
Erick hanya mengangguk sopan, matanya menyisir ruangan dengan waspada. "Papa mengirim kami ke sini bukan hanya untuk bicara, Mbak. Tapi untuk menunjukkan rasa terima kasih yang nyata."
Kinan keluar dari ruang bermain kecil di sudut restoran, diikuti oleh Leo. Gadis kecil itu terpaku melihat keramaian di restorannya.
"Ibu... kenapa banyak orang pakai baju hitam?" bisik Kinan sambil memegang ujung celemek Arumi.
Dania berlutut di depan Kinan. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berpita emas dari tasnya. "Halo, anak cantik. Ini hadiah untukmu karena ibumu adalah orang paling berani yang pernah kakak kenal."
Kinan menatap Arumi, meminta izin. Arumi mengangguk pelan. Di dalam kotak itu terdapat sebuah gelang emas mungil dengan bandul bunga matahari.
"Wah... bagus banget! Makasih, Kak Dania!" seru Kinan kegirangan.
Siska menatap Arumi dengan tatapan seorang ibu. "Mbak Arumi, suamiku bukan orang yang mudah berhutang budi. Tapi apa yang Mbak lakukan kemarin... itu luar biasa. Dia memerintahkan Erick untuk menjamin semua pasokan logistik restoran ini akan datang dengan harga paling murah dan keamanan paling ketat."
"Saya melakukannya tanpa mengharap imbalan, Bu," jawab Arumi jujur.
"Kami tahu," potong Erick. "Justru karena itulah Papa sangat menghormati Mbak. Di dunia kami, ketulusan itu langka. Mulai sekarang, Mbak Arumi adalah bagian dari keluarga kami. Siapa pun yang berani mengganggu 'Wangi Arumi', berarti berurusan dengan seluruh keluarga Baron."
Arumi merasa bulu kuduknya berdiri. Ia tidak pernah menyangka bumbu-bumbu dapurnya akan membawanya ke dalam lingkaran kekuasaan seperti ini.
Saat mereka sedang berbincang, Adnan muncul di pintu restoran. Ia membawa buket bunga lili putih, berniat mengajak Arumi bicara soal kontrak hotelnya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Erick dan para pengawal Baron.
Sebagai pengusaha besar, Adnan tahu siapa mereka. Ada kilat cemburu dan kekhawatiran di matanya saat melihat Erick berdiri cukup dekat dengan Arumi.
"Adnan?" Arumi menyadari kehadiran pria itu.
"Sepertinya saya datang di waktu yang salah, Arumi," ujar Adnan dengan nada suara yang sedikit lebih rendah dari biasanya.
Siska tersenyum penuh arti melihat interaksi itu. "Oh, sepertinya Mbak Arumi punya pelindung lain. Baiklah, kami tidak mau mengganggu. Mbak Arumi, ingat pesan kami: Kami berhutang nyawa pada Mbak."
Keluarga Baron berpamitan dengan gaya yang sangat teatrikal. Sebelum masuk ke mobil, Dania sempat berbisik pada Arumi, "Mbak, kalau pria berkemeja biru itu macam-macam, bilang padaku ya. Aku suka seleramu!"
Arumi hanya bisa tersipu malu. Setelah mobil-mobil itu pergi, suasana kembali sunyi. Adnan mendekat, meletakkan bunga di atas meja.
"Kamu menyelamatkan Baron?" tanya Adnan, suaranya terdengar cemas. "Arumi, itu berbahaya. Orang-orang seperti mereka..."
"Mereka manusia juga, Pak Adnan," jawab Arumi tenang. "Sama seperti kita yang butuh bantuan saat terluka."
Adnan menatap Arumi dalam-dalam. Ia menyadari bahwa wanita di depannya ini bukan lagi bunga rapuh yang ia temui di pasar. Arumi telah bertransformasi menjadi pusat gravitasi yang menarik banyak orang hebat ke arahnya.
Di sudut gang, dari kejauhan, Baskara menyaksikan pemandangan itu dengan mata nanar. Ia melihat Arumi dikelilingi orang-orang kaya, pengusaha hebat, bahkan penguasa gelap. Ia merasa dunianya dan dunia Arumi kini sudah terpisah oleh galaksi yang sangat jauh.
Baskara memegang perutnya yang perih karena mag kronis, memikirkan uang pemberian Arumi kemarin yang sudah habis untuk makan sekali dan obat pereda nyeri. Ia benar-benar layu, sementara Arumi... Arumi sedang mekar dengan wangi yang tak tertandingi.