IG & Tiktok : Tulisan_Nic
Naufal Adhitama (32), dokter anestesi yang hangat dan mudah bergaul, dikenal sebagai playboy karena sering dekat dengan banyak perempuan.
Meski begitu, ia percaya pernikahan harus berlandaskan cinta—bukan sekadar komitmen tanpa rasa.
Hingga ia bertemu Anin Ratri Maharani (27), perempuan dengan luka masa lalu dan trauma pada pria playboy akibat keluarga yang hancur.
Untuk pertama kalinya, Naufal ingin bertahan.
Namun saat cinta itu mulai tumbuh dan mereka ingin melangkah ke pernikahan, masa lalu dan rasa takut justru menjadi ujian terbesar.
Bisakah cinta mereka bertahan, atau justru hancur sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"Liat kalian, aku jadi pengen nyanyi juga nih."
Naufal, tanpa banyak bicara meraih microphone yang sudah tersedia.
"Aku jadi pengen nyanyi-in lagu ini sama kalian." Naufal menunjuk Bryan dan Anin bergantian "Boleh kan?"
Bryan mengangguk dan mengacungkan jempolnya,
"Sip, panggung ini buat Lo Bang!" serunya.
Anin terpaku, namun tetap ingin berada di dekat Naufal. Jujur saja, sedari tadi sebenarnya dia ingin sekali berada di sisi Naufal. Terlebih saat melihat justru Elena yang di sebelah Naufal, ia merasa begitu cemburu. 'Harus nya aku, harusnya aku yang di sana' jerit hatinya.
Naufal mendekati Bryan, setengah berbisik "Lagunya spesial Bry, Nuansa Bening."
Tentu Bryan tahu dengan lagu itu, lantas mulai memainkan instrumen pembuka. Semua tamu undangan sontak kembali fokus dengan panggung. Gemuruh tepuk tangan memenuhi gedung, bahkan sepasang pengantin pun melambaikan tangannya, memberi dukungan.
Naufal mendekat sejenak pada Anin, ia membisikkan sesuatu, tepat di telinga Anin. "Sayang, ini lagu yang mewakili perasaan kita."
Mendengar itu Anin bagai terpogram untuk mengangguk.
"Oh...tiada yang hebat, dan mempesona ketika kau lewat di hadapanku, biasa saja..." Naufal memulai bait lagunya.
"Waktu perkenalan, lewatlah sudah...Ada yang menarik pancaran diri...Terus mengganggu..." Anin sigap menyambung liriknya.
"Mendengar cerita sehari-hari ...Yang wajar tapi tetap mengasyikkan..." lanjutnya.
Di bagian reff, mereka menyanyikannya berdua. Pandangan mereka bertemu, saling bicara melalui irama lagu.
"Kini terasa sungguh, Semakin engkau jauh, Semakin terasa dekat ..."
"Akan ku tumbuh kembangkan, Kasih yang kau tanam. Di dalam hatiku ..."
Semakin lama, semakin mereka larut dalam alunan lagu. Bait-bait lirik bagai perwakilan apa yang tengah ada di dalam hati masing-masing. Tatapan mereka saling memberi tahu, bahwa rasamu dan rasaku adalah sama.
Bryan fokus pada tuts pianonya, permainan nya semakin dewasa. Mengalun sesuai irama, sesekali ia mengimprovisasi dan di sambut dengan suara khas Naufal yang begitu serasi.
Sontak membuat decak kagum dari para tamu undangan. Kolaborasi antara Naufal, Anin dan Bryan begitu menyihir perhatian. Bak pertunjukan orkestra berkelas, mereka bertiga menyelesaikan lagu tanpa ada cela. Semuanya sempurna.
Hingga sampai di bagian akhir, Bryan sengaja menggantungkan tuts pianonya, semakin membuat pendengar merasa candu. Inginkan pertunjukan selanjutnya.
"Lagi!" teriak orang-orang di sela tepuk tangan mereka.
Di antara riuhnya tepukan tangan tamu undangan, ada sepasang mata yang menatap mereka bertiga dengan tatapan iri.
Siapa lagi kalau bukan, tatapan Elena.
Merasa kalah, kalau sekarang justru yang di sebelah Naufal adalah gadis lain. Bukan dirinya, yang sedari tadi sudah merasa yakin, dengan mudah mendapat perhatian Naufal.
Naufal sendiri menyadari, jika ia terus-terusan berduet dengan Anin, sudah di pastikan akan membuat curiga dari orang tuanya. Lantas Naufal berinisiatif untuk memanggil Viola, Ale dan Gerald untuk ikut bernyanyi bersama-sama.
Suasana semakin meriah ketika semua yang Naufal panggil hadir di panggung bersama mereka.
Anin ingin keluar dari area panggung tersebut, tapi tangan Naufal gegas menahan. Jadilah ia kini tetap di atas panggung, bersama ayank yang sedari tadi sangat di inginkannya.
Anin tersenyum tipis, menunjukkan pada Naufal betapa kini dia bahagia.
***
Selesai acara resepsi, mereka berpamitan. Antrian mengular, namun tidak membuat semuanya kesal, karna ramahnya keluarga Dewangga menyambut semua tamu-tamunya.
Tiba Naufal bersalaman dengan Albie.
"Bro, nikah juga akhirnya pria kaya raya, tampan dan bukan duda." Selorohnya seraya mengulurkan tinju, dan Albie menyambut dengan gerakan yang sama. Sesaat tinju mereka bertemu, lantas berpelukan singkat.
"Eh... Tadi nyanyi, sekalian curhat? Anin udah berhasil buat kamu insyaf?"
Naufal terbahak mendengarnya, " Ye...kamu sih nikah. Aku nggak ada tempat curhat, curhat sama lagu jadinya kan. Btw, Anin beneran bikin insyaf Bie. Dia bikin aku pengen nyusul kalian."
Albie terperangah, "Seriusan?"
"Kali ini aku serius, bisa mati aku kalo nggak ada dia. Soalnya dia itu, mirip kamu banget. Galaknya ngalahin kamu malah."
Albie menepuk pundak Naufal pelan, "Sumpah gue di ijabah."
"Sekarang sumpahin lagi, biar cepet nyusul kalian!"
Albie masih tidak percaya, apa benar yang Naufal katakan?
"Tapi sekarang, kok kalian nggak barengan? Anin malah sama Zifa sama Yoan?"
Naufal mendekat di telinga Albie, lantas berbisik-bisik "Bokap sama Nyokap belum tahu, sengaja. Nanti deh aku ceritain semuanya. Panjang pokoknya."
Albie menautkan alisnya, lantas mengangguk. Karna padatnya antrian tamu undangan yang ingin berpamitan, jadi tidak memungkinkan untuk Albie bicara dengan Naufal panjang lebar.
Naufal pun beralih pada Qistina,
"Hidup baik-baik ya sama Albie, jangan bikin banyak masalah. Aku nggak suka kalo Albie kena masalah." ucapnya saat bersalaman.
"Dih, nggak indah tau, hidup tanpa masalah." timpal Qistina.
"Nggak indah, awas aja kalau Albie jadi kenapa-napa."
Lantas Qistina merapat pada suaminya, seolah ingin meminta dukungan.
"Orang Mas Albie-nya aja bahagia- bahagia aja." lantas menoleh pada Albie , "Ya kan Mas?"
"Siapa bilang?" Albie menjawab, tanpa pertimbangan.
Sontak membuat Qistina cemberut, merasa Albie sudah berkhianat. Tidak lagi berada di pihaknya sebagai istri.
Naufal menahan tawa, "Udah ya, baru juga di pelaminan udah mau ribut aja. Pokoknya kalian hidup berdua baik-baik deh, terus cepet-cepet bikin Albie junior."
Qistina masih cemberut, menatap Naufal dengan malas. Berbeda dengan Albie, dia justru tersenyum semakin lebar.
Naufal bergegas turun dari pelaminan, setelah menyempatkan untuk mengambil foto bersama.
Ia langsung menuju parkiran, lantas mengetikkan pesan terkhusus untuk "My Ice Queen"
Pesan itu terkirim, namun belum ada balasan. Berubah warna juga belum tanda centangnya.
Namun Naufal tetap sabar, ia menunggu dengan menekuri layar ponsel di tangan.
"Naf, kamu sendirian? Lagi nungguin Om Frans sama Tente Regina, atau malah nungguin aku?"
Naufal mendongak, lantas memicingkan mata ketika mengetahui kalau suara barusan ternyata adalah suara Elena.
"Nggak, nggak lagi nungguin siapa-siapa." jawabnya acuh, kembali menekuri layar ponselnya.
"Kalo nggak lagi nungguin siapa-siapa, gimana kalo langsung ke rumah sakit pusat aja? Dan aku bisa numpang di mobil kamu?"
Naufal menggeleng, lantas meliriknya sekilas. "Maaf, aku nggak biasa satu mobil sama perempuan. Kamu cari taksi aja."
Elena menghembuskan nafas kasar, 'Nggak Albie, Nggak Naufal, kenapa susah banget sih di deketin' keluh hatinya.
"Oke, aku cari taksi online aja."
Tapi lagi-lagi, Naufal tidak meresponnya.
'Mungkin pake cara ini, bisa kali ya...?' batin Elena, yang tengah mendapatkan ide brilian menurutnya.
Sengaja ia berjalan, lalu membengkokkan kakinya agar terjatuh dan berharap Naufal menangkapnya. Saat itulah teori dari mata jatuh ke hati bekerja, bak sinetron-sinetron FTV yang sering di tontonnya.
"Awww!" Elena meringis, seraya menjatuhkan tubuhnya.
Namun Elena salah perhitungan, Naufal tetap dengan layar ponselnya, tidak sedikitpun bergeming. Alhasil ia jatuh ke lantai semen kasar parkiran, tanpa satu orang pun membantunya.
Sia-sia lah skenario Elena.
Dan dari kejauhan, Anin tersenyum melihatnya.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍