NovelToon NovelToon
SIMFONI TAK BERATURAN

SIMFONI TAK BERATURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:546
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.

Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.

Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.

Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Lampu gantung kristal di ruang tamu itu membiaskan cahaya kekuningan yang hangat, memantul di atas lantai marmer yang mengkilap hingga nyaris bisa digunakan untuk bercermin. Sandi dengan telaten membimbing ibunya duduk di sofa beludru berwarna krem yang sangat empuk. Begitu tubuh mereka tenggelam dalam kelembutan sofa tersebut, Ibu Sandi refleks meraba permukaannya dengan jemari yang kasar akibat terlalu sering bersentuhan dengan deterjen.

Ia mendekatkan wajahnya ke telinga anak semata wayangnya dan berbisik sangat pelan, seolah takut suaranya akan merusak keheningan mewah di sana. "San... sofanya saja jauh lebih empuk daripada kasur kapuk kita di rumah ya. Rasanya seperti duduk di atas awan."

Sandi terkekeh kecil, merasakan sedikit sesak di dadanya melihat kekaguman polos sang ibu. Ia menggenggam tangan ibunya yang kurus dan membalas dengan bisikan yang penuh tekad. "Sabar ya, Bu. Suatu saat nanti, Sandi akan belikan sofa yang lebih empuk dari ini buat Ibu di rumah kita sendiri."

Mata Ibu Sandi berkaca-kaca, ia mengulas senyum bangga yang tulus. "Jika itu kamu yang bilang, Ibu yakin kamu pasti bisa, San. Asalkan kamu tetap rendah hati, belajar yang rajin, dan jadi orang sukses yang jujur." Sandi hanya mengangguk mantap sambil membatin Aamiin dalam hati.

Saskia, yang sejak tadi berdiri tak jauh dari mereka, memperhatikan interaksi rahasia itu dengan dahi berkerut. Matanya yang bulat berpindah-pindah dari Sandi ke Ibu Lisa dengan raut wajah yang luar biasa penasaran. Ia merasa ada sesuatu yang sangat manis namun ia tak diajak berbagi.

Sandi melirik ke arah Saskia yang masih mematung bingung. "Ngapa lo, Sas? Nahan berak? Muka lo sudah kayak cucian belum diperas begitu," celetuk Sandi dengan gaya bicaranya yang khas.

"Iiiihhh, Sandi jorok banget sih!" Saskia langsung menghampiri dan mencubit lengan Sandi dengan gemas. "Aku tuh cuma penasaran, kenapa kamu bisik-bisik terus sama Ibu kamu? Aku kan juga mau tahu apa yang diomongin."

"Dih, kepo banget jadi anak! Memangnya nggak boleh gue berbagi rahasia negara sama nyokap gue sendiri?" tantang Sandi sambil menjauhkan lengannya dari jangkauan jemari Saskia.

"Ya kan aku juga pengen akrab sama Tante Lisa," sahut Saskia sambil mengerucutkan bibirnya, membuat wajahnya tampak makin menggemaskan.

Sandi memutar otaknya untuk menjahili gadis itu. Ia memasang wajah serius. "Tadi gue lagi ngomongin lo. Nyokap gue bilang, 'San, Saskia itu cantik banget ya, sopan lagi'. Gitu katanya."

Seketika, wajah Saskia berubah merah padam hingga ke telinga. Ia tersipu malu dan menyembunyikan wajahnya di balik tangannya. "Iiiih, Tante... aku jadi malu banget tahu kalau dipuji begitu," ucap Saskia dengan suara yang mendadak lembut.

Ibu Sandi terkekeh melihat tingkah laku Saskia yang sangat ekspresif, lalu menoleh ke arah anaknya dengan tatapan memperingatkan. "Kamu ini, San, jangan suka bohong begitu. Nggak baik godain anak orang."

Sandi tertawa renyah, tawa yang memenuhi ruangan mewah itu. "Habisnya dia kepo banget, Bu. Kalau nggak dikasih jawaban 'pemanis' begitu, dia nggak akan berhenti nanya sampai besok pagi."

"Tapi makasih ya, Tante. Tante juga cantik kok, kelihatan awet muda," balas Saskia tulus, yang dibalas Ibu Sandi dengan senyum hangat dan ucapan terima kasih yang tulus pula.

Tak lama kemudian, Mama Saskia muncul kembali bersama seorang Asisten Rumah Tangga yang membawa baki besar berisi berbagai macam hidangan. Ada teh melati hangat yang aromanya menenangkan, kue-kue pasar premium, hingga camilan impor yang tertata rapi.

"Jeng Lisa, Sandi, ayo silakan diminum. Ini cuma camilan kecil sebelum kita makan malam nanti," ajak Mama Saskia ramah. Sandi dengan sigap mengambilkan gelas teh untuk ibunya, memastikan suhunya pas sebelum diberikan.

"Aduh, repot-repot sekali, camilannya banyak banget," ucap Ibu Sandi merasa sungkan.

Mama Saskia tersenyum lebar sambil melirik putrinya. "Iya, mumpung tadi pulang sekolah, Saskia yang paling heboh minta mampir beli semua ini. Katanya buat Sandi, biar Sandi senang pas sampai sini."

Uhukk! Uhukk! Sandi yang baru saja menyesap tehnya langsung tersedak. Air teh nyaris keluar dari hidungnya karena terkejut. Ibu Sandi segera mengelus punggung anaknya dengan lembut. "Pelan-pelan, Nak, minumnya jangan buru-buru."

"Maaf, Tante... Sandi kaget saja. Bisa-bisanya Saskia beli camilan sebanyak ini cuma buat Sandi. Perut Sandi kan bukan karung beras," protes Sandi sambil menyeka mulutnya dengan tisu.

Mama Saskia semakin semangat membocorkan rahasia anaknya. "Bukan cuma buat dimakan di sini, San. Dia juga sudah menyiapkan beberapa tas kantong penuh camilan buat kamu bawa pulang nanti. Katanya biar kamu punya stok makanan pas lagi belajar malam."

Sandi tersentak. "Sas! Wah, parah lo! Nanti tetangga gue bilang apa kalau gue pulang bawa tentengan sebanyak itu? Bisa-bisa dikira gue habis menang undian sabun cuci!"

"Ya tinggal bilang saja kalau itu pemberian dari aku, San! Apa susahnya sih?" jawab Saskia enteng sambil cengar-cengir tanpa rasa bersalah.

Kedua ibu itu terkekeh melihat perdebatan lucu tersebut. Namun, di tengah tawa mereka, suara pintu utama yang berat terbuka lebar. Seorang pria lanjut usia namun masih tampak sangat tegap dengan aura wibawa yang kuat melangkah masuk. Rambutnya sudah memutih seluruhnya, namun sorot matanya masih tajam. "Assalamualaikum," ucap pria itu berat.

Saskia seketika menoleh dan matanya berbinar. "KAKEK!!!" Ia berlari kencang, menghambur ke pelukan kakeknya yang baru pulang.

"Eh, cucu Kakek yang paling bawel. Ada tamu ya di dalam?" tanya sang kakek sambil mengelus rambut Saskia.

Saskia mengangguk penuh semangat. "Ayo, Kek! Saskia mau kenalin sama teman Saskia yang paling hebat, namanya Sandi. Dia yang selalu jagain Saskia di sekolah kalau ada yang gangguin."

Kakek Saskia tersenyum tipis. "Oh ya? Ayo antar Kakek ke sana. Kakek mau lihat siapa anak laki-laki yang berani mengklaim diri bisa menjaga cucu Kakek yang ajaib ini."

Saskia menuntun lengan kakeknya menuju ruang tamu. Namun, saat mereka sampai di ambang pintu ruangan itu, langkah kaki sang kakek mendadak terhenti. Tubuhnya yang tegap tiba-tiba mematung. Matanya yang tadi tajam kini membelalak lebar, bukan menatap Sandi, melainkan terpaku sepenuhnya pada sosok wanita yang duduk di sofa: Ibu Lisa.

Seketika, tangan kakek Saskia yang tadinya kokoh mulai bergetar hebat. Napasnya terdengar memburu dan berat. Ia seolah sedang melihat hantu dari masa lalu yang bangkit kembali.

"Kamu... kamu Lisa, bukan?" tanya kakek Saskia dengan suara parau yang hampir tak terdengar.

Ibu Sandi yang tadinya hendak berdiri untuk memberi hormat, mendadak membeku. Wajahnya menunjukkan keterkejutan yang luar biasa. Ia menatap pria tua itu lekat-lekat, mencoba mencari potongan memori yang hilang. "Iya, Pak... saya Lisa. Bagaimana... bagaimana Bapak bisa tahu nama saya?"

Hening menyergap seketika. Ruangan yang tadinya penuh tawa kini mendadak sunyi senyap, menyisakan ketegangan yang menyesakkan dada. Kakek Saskia tidak menjawab, ia hanya berdiri mematung sembari menatap langit-langit ruang tamu dengan tatapan yang sangat dalam, seolah sedang menahan bendungan air mata yang hampir pecah oleh kenangan puluhan tahun silam.

Suasana di ruang tamu yang semula hangat oleh tawa mendadak beku, seolah oksigen di ruangan itu tersedot habis oleh ketegangan yang menggantung di udara. Mama Saskia dengan raut cemas segera menghampiri mertuanya, memegang lengan pria tua itu yang masih nampak gemetar.

"Papa? Papa kenapa? Wajah Papa pucat sekali, ayo duduk dulu, Pah," ucap Mama Saskia lembut sembari membimbing langkah sang kakek menuju sofa tunggal yang berhadapan langsung dengan Ibu Lisa.

Kakek Saskia duduk dengan perlahan, punggungnya yang biasa tegak kini nampak sedikit membungkuk seolah memikul beban memori yang sangat berat. Ia menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang dalam dan bergetar, lalu matanya yang mulai berkaca-kaca menatap lekat ke arah Ibu Lisa. Sandi, Saskia, dan Mama Saskia hanya bisa terpaku dalam kebingungan yang luar biasa. Ibu Sandi sendiri tampak meremas jemarinya, ada guratan ketakutan dan keheranan yang terpancar dari wajahnya yang sederhana.

"Kamu... kamu benar-benar Lisa? Lisa menantunya Aipda Sofian Effendi? Purnawirawan Sofian dari satuan Brimob itu?" suara sang kakek pecah, penuh dengan nada kerinduan yang mendalam.

Ibu Sandi tersentak, matanya membelalak lebar. "Iya... itu benar nama mertua saya, Pak. Tapi... bagaimana Bapak bisa tahu nama almarhum mertua saya?"

Mendengar konfirmasi itu, Kakek Saskia tidak langsung menjawab. Ia justru menyandarkan punggungnya, lalu tawa kecil keluar dari bibirnya. Tawa itu perlahan mengeras menjadi tawa lepas yang getir, sebuah tawa yang seolah menertawakan garis takdir yang begitu ajaib. Ia menengadah, menatap langit-langit ruang tamu yang mewah seolah sedang berbicara pada seseorang di alam sana.

"Sofian... ternyata takdir memang sebercanda yang selalu kamu bilang di barak dulu," gumamnya lirih.

Ia kemudian memperbaiki posisi duduknya, menatap Ibu Lisa dengan tatapan hormat yang sangat tulus. "Saya adalah Purnawirawan Jenderal Heru Pramono. Di luar sana, orang mengenal saya dengan pangkat dan jabatan, tapi di mataku mertuamu itu adalah seorang rekan."

Ia menggelengkan kepalanya perlahan, mencoba mengusir bayangan masa lalu yang menyerbu pikirannya. "Lebih dari sekadar rekan, saya adalah sahabat seperjuangannya. Dan ada satu hal yang harus kamu tahu, Lisa... saya memiliki hutang nyawa yang tak akan pernah bisa saya bayar kepada ayahmu. Kepada Aipda Sofian."

Keheningan total menyergap. Sandi menahan napas, menatap kakek di depannya dengan perasaan tak percaya. Ternyata, di balik pertemuan anak-anak sekolah ini, tersimpan benang merah berdarah dan penuh kehormatan dari masa lalu yang kini terajut kembali di ruang tamu mewah Pondok Indah tersebut.

Suasana ruang tamu yang megah itu mendadak terasa sesak oleh aura kewibawaan dan nostalgia yang pekat. Jenderal Heru Pramono, pria yang biasanya tampak tak tergoyahkan, kini berbicara dengan suara yang sesekali parau, seolah setiap kata yang keluar adalah kepingan sejarah yang berat.

"Pah? Maksud Papa... hutang nyawa bagaimana?" tanya Mama Saskia dengan suara bergetar, memecah keheningan yang mencekam.

Jenderal Heru menatap menantunya, lalu beralih ke Saskia, Sandi, dan terakhir tertuju lama pada Ibu Lisa. Ia menarik napas dalam, mencoba menstabilkan emosinya. "Jadi, sebelum ABRI dipisahkan pada 1 April 1999, kami berada di bawah panji yang sama. Saat kerusuhan puncak 21 Mei 1998 pecah, saya bertugas mengamankan sektor yang dikuasai massa. Hari itu, saya benar-benar tidak yakin akan pulang dalam keadaan bernyawa. Amarah massa sudah di puncak, dan saya sudah menjadi samsak hidup di tengah kepungan mereka."

Beliau memejamkan mata sejenak, membayangkan kilas balik kejadian kelam itu. "Di saat saya sudah di ambang kematian, seorang prajurit menerjang kerumunan itu tanpa ragu. Dia menyelamatkan saya, memanggul tubuh saya menjauh dari maut. Dalam kesadaran yang sangat tipis, saya melihat sosok yang menggendong saya sambil berlari menembus asap dan lemparan batu. Sosok itu adalah mertuamu, Lisa. Aipda Sofian."

Saskia yang biasanya tak bisa diam, kini terduduk mematung. Matanya bulat menatap sang kakek, menyerap setiap inci cerita yang terdengar seperti skenario film aksi, namun nyata.

"Tahun 1999, saat ABRI resmi dipecah menjadi TNI dan POLRI, saya bertemu lagi dengan mertuamu. Kami sudah memakai seragam yang berbeda secara institusi, tapi jiwanya tetap sama. Begitu melihat pangkat saya, dia langsung berdiri tegak dan memberikan hormat yang sangat tulus. Tapi saya? Saya tidak peduli dengan protokoler itu. Saya langsung memeluknya. Dialah orang yang menyelamatkan saya lalu menghilang begitu saja setelah menyerahkan saya ke tim medis di lapangan," lanjut Jenderal Heru dengan senyum getir.

Ibu Lisa menunduk dalam. Air mata mulai membasahi pipinya. Ada rasa rindu yang menyayat pada sosok mertuanya, namun ada kebanggaan yang membuncah luar biasa mengetahui sang mertua adalah pahlawan bagi orang lain.

"Lalu sejak itu, Papa tidak pernah bertemu lagi?" tanya Mama Saskia lirih.

"Setelah pertemuan itu, saya lebih sering menemuinya. Saya berkali-kali menawarkan bantuan, posisi, atau apa pun sebagai balas budi, tapi Sofian tetaplah Sofian. Dia menolak dengan halus. Sampai akhirnya dia berpulang di tahun 2000, tepat setahun setelah menjadi anggota Brimob Polri resmi. Saat itu, saya sedang tugas luar dan tidak bisa hadir di pemakamannya," Jenderal Heru menarik napas panjang, penyesalan nampak jelas di wajahnya.

"Begitu saya kembali dan mendapat kabar dia sudah dimakamkan, saya bersumpah akan menjaga keluarganya yang tersisa. Tapi saat saya mendatangi rumah lama kalian, kamu sudah pindah, Lisa. Saya kehilangan jejak. Padahal saya sangat mengenal wajahmu dari foto yang selalu dia bawa di dompetnya... foto kalian bertiga: Sofian, kamu, dan suamimu—anak dari Aipda Sofian—yang meninggal lebih dulu."

Isakan Ibu Lisa pecah. Kenangan tentang dua pria hebat dalam hidupnya—ayah dan mertuanya—kembali menyeruak. Sandi yang duduk di sampingnya segera merangkul dan mengelus punggung ibunya, memberikan kekuatan meski matanya sendiri nampak berkaca-kaca.

Saskia, dengan naluri tulusnya, berdiri dari duduknya. Ia melangkah perlahan, lalu tanpa ragu memeluk Ibu Lisa dari samping, ikut merasakan keharuan yang mendalam. Ruang tamu mewah itu kini bukan lagi sekadar tempat pertemuan dua keluarga, melainkan tempat di mana sebuah janji lama dan hutang kehormatan akhirnya menemukan jalan pulangnya.

1
Shintara
Yuk di baca yuk
Shin Nara
Next thor
Shintara: update setiap jam 9 pagi ya kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!