NovelToon NovelToon
Dua Kehidupan Suamiku

Dua Kehidupan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Konflik etika
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

​Rania, seorang dokter spesialis bedah yang logis dan tenang, merasa hidupnya adalah definisi kebahagiaan. Suaminya, Damar, adalah kontraktor sukses yang penyayang. Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Damar hilang tanpa jejak. Polisi menyerah, namun insting Rania sebagai istri dan dokter mengatakan ada yang tidak beres.

​Penyelidikan mandiri membawanya ke sebuah ruang bawah tanah di kantor lama Damar. Di sana, ia menemukan koleksi gaun, wig, dan alat rias.

Apa yang terjadi pada Damar ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana yang di Percepat

Rania melangkah kembali ke dalam ruangan ballroom dengan dada yang masih terasa sesak. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak, menarik napas panjang sedalam mungkin, dan menepuk-nepuk pipinya agar rona merah bekas tangisnya sedikit tersamarkan. Ia mengeluarkan cermin kecil dari tas tangannya, memulas kembali lipstik tipis, dan memastikan matanya tidak terlalu bengkak. Ia tahu persis, di dalam sana ada dua pasang mata yang sangat peka terhadap setiap perubahan emosinya: Bapak Suprapto dan Ibu Lastri.

Ia masuk dengan langkah yang dipaksakan anggun. Suasana pesta masih meriah; suara tawa Bude Sumi terdengar mendominasi ruangan saat menceritakan betapa bangganya dia pada Danang. Rania segera mengambil tempat duduk di samping Ibu Lastri, mencoba ikut serta dalam percakapan yang sedang berlangsung.

"Lama sekali di belakang, Nduk? Antre ya?" tanya Ibu Lastri sambil mengusap lengan Rania.

"Iya, Bu. Ramai sekali di luar tadi," jawab Rania pendek, mencoba tersenyum sealami mungkin.

Namun, menipu seorang ibu yang sudah menganggapnya sebagai darah daging sendiri ternyata tidak semudah itu. Ibu Lastri merasakan ada yang berbeda. Ia memperhatikan bagaimana jemari Rania terus memilin ujung taplak meja, dan bagaimana pandangan mata menantunya itu sering kali kosong, menatap ke arah pintu keluar seolah sedang menunggu seseorang yang tak kunjung datang.

"Ran, ini coba dimakan supnya. Tadi Danang sendiri yang mengantarkan ke meja kita, katanya ini menu andalan di hotel ini," ujar Ibu Lastri lagi.

Rania menoleh, namun fokusnya tidak pada makanan. "Oh, iya Bu... terima kasih. Mas Damar memang suka sup begini kalau di rumah."

Deg. Jantung Ibu Lastri mencelos. Rania salah sebut. Padahal Ibu Lastri tadi menyebut nama Danang, tapi Rania menjawab dengan nama Damar. Kesalahan kecil itu adalah alarm besar bagi Ibu Lastri. Ia segera menghentikan aktivitas makannya dan menatap Rania dengan saksama.

"Ran... kamu kenapa? Kok sepertinya melamun terus? Tadi Ibu bilang Danang, kenapa kamu jawab Damar?" bisik Ibu Lastri dengan nada penuh selidik namun tetap lembut agar tidak terdengar kerabat lain.

Rania tersentak, ia baru menyadari kekeliruannya. "Eh... maaf, Bu. Maksud Rania tadi Danang. Rania cuma... agak pening sedikit, mungkin karena pengaruh ruangan yang terlalu dingin."

Ibu Lastri tidak percaya begitu saja. Ia melihat ada sisa-sisa maskara yang sedikit luntur di sudut mata Rania. "Kamu habis menangis ya di belakang tadi? Ada yang mengganggumu? Apa kamu bertemu seseorang di lobi?"

Pertanyaan itu membuat Rania hampir runtuh. Ia ingin sekali berteriak bahwa ia baru saja mendengar suara suaminya, bahwa ia baru saja mengejar bayangan suaminya di lobi. Namun, ia teringat pesan Bapak Suprapto: jangan sampai membuat keributan yang bisa menjadi bahan gosip keluarga besar. Apalagi ini adalah hari bahagia Danang.

"Tidak ada apa-apa, Bu. Benar. Rania hanya merasa sedikit mual karena kehamilan ini. Mungkin bayinya sedang ingin dimanja," jawab Rania sambil memaksakan tawa kecil dan mengusap perutnya.

Ibu Lastri akhirnya terdiam, meski matanya tetap menyimpan kecurigaan. Ia hanya bisa berdoa dalam hati agar menantunya itu tidak memendam beban yang terlalu berat. Ia merangkul bahu Rania, memberikan kekuatan tanpa kata-kata, sementara acara pertunangan itu perlahan mencapai puncaknya dan akhirnya ditutup dengan doa bersama.

Perpisahan di Area Parkir

Setelah acara selesai, rombongan keluarga besar mulai bergerak menuju area parkir. Bude Sumi tampak sangat puas dengan keberhasilan acara anaknya. "Terima kasih ya Mbak Lastri, mas Prapto, sudah datang jauh-jauh dari Kendal. Nanti kalau ada waktu, mampir ke rumah Danang ya, biar dekat nanti dengan orang orang hebat."

"Iya, Sum. Insya Allah kalau ada kesempatan," jawab Bapak Suprapto ramah sembari membimbing Ibu Lastri dan Rania masuk ke dalam mobil.

Mobil mereka perlahan merayap keluar dari area drop-off hotel. Rania menatap melalui jendela kaca yang gelap ke arah lobi hotel yang perlahan menjauh. Di dalam benaknya, suara "wanita" di toilet tadi masih terus bergema. Apakah aku benar-benar berhalusinasi? Ataukah Jakarta memang telah membawaku pada kegilaan? batinnya pilu.

Ia tidak tahu bahwa tepat saat mobilnya melewati gerbang keluar hotel, di sebuah sudut restoran fine dining di lantai dasar hotel tersebut, dua orang sedang duduk berhadapan dalam suasana yang sangat intim.

Jamuan Malam dan Rencana yang Dipercepat

Mario menyesap red wine-nya dengan elegan, matanya tak pernah lepas dari sosok Dara yang duduk di hadapannya. Dara tampak sangat cantik di bawah cahaya lilin, mengenakan gaun yang baru saja ia beli dari butik mewah di Semarang. Ia tampak sangat lahap menikmati steak premium yang dipesan Mario.

"Kamu suka makanannya, Sayang?" tanya Mario lembut.

Dara mendongak, tersenyum manis—senyum yang telah berhasil menghapus identitas maskulin Damar hampir sepenuhnya. "Suka sekali, Mario. Terima kasih sudah membawaku ke sini. Maaf ya, gara-gara aku, kamu jadi tidak enak pada karyawannmu itu."

Mario mengibaskan tangan. "Danang akan mengerti. Dia sudah bahagia dengan acaranya. Lagipula, kamu adalah prioritasku sekarang. Aku punya kabar penting untukmu."

Dara meletakkan pisau dan garpunya, tampak tertarik. "Kabar apa?"

Mario memajukan tubuhnya, meraih tangan Dara dan menggenggamnya erat di atas meja. "Aku sudah berkoordinasi dengan klinik di Bangkok tadi sore. Awalnya jadwal operasimu adalah bulan depan, tapi aku meminta mereka mempercepatnya. Aku sudah membayar biaya tambahan untuk VIP slot."

Jantung Dara berdebar kencang. "Kapan?"

"Minggu depan," jawab Mario mantap. "Hari Selasa kita akan terbang ke Thailand. Aku ingin semua proses ini segera selesai. Aku ingin kamu segera pulih dan kita bisa memulai hidup baru sebagai pasangan yang utuh. Aku tidak mau menunda-nunda lagi, Dara. Aku merasa semakin cepat kamu berubah sepenuhnya, semakin aman perasaan kita."

Dara terpaku. Minggu depan. Itu jauh lebih cepat dari yang ia bayangkan. Ada rasa senang yang membuncah, namun di sudut terkecil hatinya, ada rasa takut yang mendalam. Operasi kelamin adalah langkah yang tidak bisa diubah kembali. Begitu ia menjalaninya, sosok "Damar" akan terkubur selamanya secara fisik.

"Kenapa dipercepat, Mario?" tanya Dara lirih.

"Entahlah... perasaanku mengatakan kita harus bergerak cepat. Aku punya insting bisnis yang kuat, dan instingku bilang bahwa semakin lama kita di sini, risiko masa lalumu muncul kembali akan semakin besar. Aku ingin membawamu pergi jauh sebelum ada orang yang mengenalimu," Mario menjelaskan dengan nada posesif.

Dara mengangguk perlahan. Ia teringat kejadian di lobi tadi—saat ia sekilas mendengar suara teriakan seseorang yang memanggil nama suaminya. Meski ia tidak melihat siapa itu, teriakan itu sempat membuatnya merinding. Ia merasa seolah-olah masa lalu sedang mengejarnya dengan napas yang memburu.

"Baiklah, Mario. Aku ikut apa katamu. Aku juga ingin segera menjadi milikmu seutuhnya," ujar Dara, mengukuhkan tekadnya.

Mario tersenyum puas. Ia merasa sangat bangga bisa menjadi pahlawan bagi "wanita" impiannya ini. Baginya, Dara adalah karya seni yang sedang ia sempurnakan. Ia tidak peduli pada norma masyarakat, ia tidak peduli pada apa yang dianggap terlarang. Di matanya, yang ada hanyalah cinta dan kepemilikan.

Kembali ke Kesunyian Desa

Sementara itu, mobil yang membawa keluarga Rania sudah memasuki jalanan gelap menuju Kendal. Di dalam mobil, suasana sunyi. Bapak Suprapto fokus menyetir, sementara Ibu Lastri tampak tertidur karena kelelahan.

Rania terjaga, menatap hamparan sawah yang hanya diterangi cahaya bulan. Pikirannya melayang pada Aris di Jakarta. Ia meraba ponselnya, ingin mengirim pesan pada Aris tentang kejadian di hotel tadi, namun ia mengurungkannya. Ia takut Aris akan menganggapnya tidak stabil secara mental.

"Ran, kamu belum tidur?" tanya Bapak Suprapto pelan, memecah kesunyian.

"Belum, Pak. Sedang menikmati udara malam saja," jawab Rania.

"Jangan terlalu banyak pikiran, Nak. Ingat bayimu. percayalah bahwa Tuhan sedang menuntun kita pada kebenaran. Yang penting sekarang kamu aman bersama kami," ujar Bapak Suprapto, seolah bisa membaca kegelisahan di hati menantunya.

Rania mengangguk dalam kegelapan. "Iya, Pak. Terima kasih."

Perjalanan itu terus berlanjut, membawa mereka kembali ke rumah joglo yang tenang. Rania tidak menyadari bahwa di kota Semarang, pria yang ia cari sedang merencanakan pelarian terakhirnya menuju Thailand. Satu minggu. Waktu yang sangat singkat sebelum identitas Damar benar-benar dihapus dari muka bumi oleh pisau bedah di Bangkok.

Di kegelapan malam, dua takdir yang berbeda sedang bersiap untuk sebuah benturan besar. Rania yang mulai membangun klinik di desa, dan Dara yang bersiap mengubah kodratnya di luar negeri. Di sela-sela itu, Aris di Jakarta masih terus bergerak dalam bayang-bayang, tidak tahu bahwa buruannya justru sedang berada sangat dekat dengan wanita yang ingin ia lindungi.

Mobil pun akhirnya memasuki halaman rumah Kendal. Rania turun dengan langkah lelah, namun hatinya merasa sedikit lebih tenang begitu menginjakkan kaki di tanah rumah itu. Ia tidak tahu, bahwa minggu depan, saat Dara terbang ke Thailand, kebenaran tentang siapa sebenarnya pemilik perusahaan sepatu Mario akan menjadi benang merah yang menyeretnya kembali ke dalam pusaran drama yang lebih dahsyat.

1
Junita Lempoi
bagus ceritanya
𝐀⃝🥀Weny
semoga kau menyesal setelah operasi damar...
Ayu Putri
bagus
Ayu Putri
udah lah ran SM Aris aja,mas damar mu gak kembali,walopun kembali jg bukan damar yg dulu yg ada udh JD dara
Halwah 4g: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Ayu Putri
ternyata damar gay, harusnya ceraikan Rania dulu, kasian Rania nunggu yg gak pasti
Halwah 4g: emang..kasian ya say
total 1 replies
Ayu Putri
belum up ya Thor 🥺🥺🥺
Ayu Putri
lanjut kak othor
Dian Yuliana
iya kok gak ada kelanjutannya
𝐀⃝🥀Weny
thor, Iki critane dilanjut opo gak to.. kok suwi men gak up neh🤦
Halwah 4g: suabarrr nggih
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
thor ayo lanjut dong, jangan bikin penasaran...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!