5 perempuan dengan keturunan setengah Dewa Dewi yang sangat kuat dan darah mereka yang mengalir dengan kekuatan yang melumpuhkan dan petualangan yang akan mereka hadapi di negeri ajaib Euthopia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bsf10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Berhasil?
Di udara, Azzura berhadapan langsung dengan mata naga bayangan yang kini mulai merah menyala. Ia bisa merasakan rasa takut yang luar biasa, namun ia juga merasakan detak jantung teman-temannya di bawah sana, dan kehangatan orang tuanya di Bumi yang masih tersisa di dalam Kunci Mageia.
"Ini bukan hanya untukku! Ini untuk masa depan dua dunia!" teriak Azzura.
Ia mengangkat Kunci Mageia setinggi mungkin. Permata-permata di tongkat itu menyala dalam frekuensi yang sama. Api, Udara, Es, Tanah, dan Tumbuhan menyatu menjadi satu tombak cahaya murni.
ZREEEEENG!
Azzura menukik tajam, menembus tubuh naga bayangan itu dengan tombak cahayanya hingga makhluk itu meledak menjadi serpihan kegelapan yang menghilang.
Azzura mendarat tepat di depan bola Inti Dunia yang kini sudah hampir tertutup warna hitam sepenuhnya. Valerius, yang melihat hal itu, mencoba melepaskan serangan terakhirnya. "JANGAN!"
Namun, Rachel, Luna, Vera, dan Olivia serempak menembakkan energi elemen mereka ke arah Valerius, menciptakan perisai yang tak tertembus.
"Sekarang, Azzura!" teriak mereka berempat.
Azzura menancapkan Kunci Mageia tepat ke pusat Inti Dunia.
Seketika, seluruh ruangan itu menjadi putih bersih. Cahaya yang luar biasa terang meledak keluar dari Inti, menyapu bersih warna hitam Gerhana Merah. Energi itu merambat ke atas, menembus permukaan bumi Utopia, dan melenyapkan kegelapan di langit hingga langit kembali menjadi ungu cerah yang indah.
Valerius terhempas ke dinding kristal, kekuatannya terserap habis oleh pemurnian Inti. Ia jatuh terduduk, tak berdaya.
Azzura tetap memegang gagang Kunci yang kini tertanam di dalam Inti. Ia bisa merasakan Euthopia kembali bernapas. Aliran sihir di dunia itu kembali murni.
Setelah cahaya meredup, kelima sahabat itu berkumpul di depan Inti yang kini bersinar lembut. Mereka semua tampak kelelahan, baju mereka compang-camping, namun ada senyum kemenangan di wajah mereka.
"Kita berhasil..." bisik Vera sambil menyeka debu di pipinya.
"Gerhana Merahnya sudah hilang," ujar Luna sambil menatap ke atas.
Xander mendekat, ia menyimpan pedangnya dan menatap mereka berlima dengan rasa hormat yang mendalam. "Kalian benar-benar melakukannya. Kalian baru saja menyelamatkan sejarah dunia ini."
Azzura menatap Kunci Mageia yang kini menjadi bagian permanen dari Inti Dunia. Ia tahu bahwa meskipun kunci itu sudah tidak di tangannya, kekuatan dan ikatan yang mereka bangun selama tiga hari ini akan selamanya ada di dalam diri mereka.
"Euthopia sudah aman," ucap Azzura pelan. "Dan sekarang... kita punya banyak hal yang harus dijelaskan kepada semua orang di akademi ini."
Kemenangan di ruang Inti Bumi tidak hanya mengembalikan cahaya ke langit Euthopia, tetapi juga mengubah takdir kelima sahabat itu selamanya. Setelah debu pertempuran mereda dan Archmagus Valerius diamankan oleh pasukan penjaga yang masih setia, Akademi Mageia berubah menjadi pusat perayaan yang luar biasa.
Tiga hari setelah peristiwa Gerhana Merah, Aula Utama Akademi Mageia dipenuhi oleh puluhan murid dan staf. Tidak ada lagi suasana mencekam atau tatapan curiga. Langit-langit aula yang tinggi kini memantulkan cahaya warna-warni elemen yang stabil.
Azzura, Rachel, Luna, Olivia, dan Vera berdiri di atas panggung utama. Di hadapan mereka, Profesor Elian—yang ternyata telah pulih dari pengaruh sihir hitam dan kembali menjadi sosok bijak—berdiri dengan jubah kebesarannya.
"Selama ribuan tahun, kita menunggu ramalan tentang kembalinya lima elemen murni," suara Elian menggema, membuat seluruh aula hening. "Banyak yang mengira kekuatan itu akan datang dalam bentuk kehancuran, namun lima gadis ini mengajarkan kita bahwa kekuatan terbesar bukanlah sihir itu sendiri, melainkan ikatan yang mereka bawa dari dunia asal mereka."
Elian melangkah maju, memegang lima lencana emas berbentuk bintang Mageia.
"Azzura Adams, Rachel Brown, Luna Xendrick, Olivia, dan Vera. Atas nama seluruh rakyat Utopia dan Dewan Keamanan yang baru, saya anugerahkan gelar 'The Sentinels of Mageia'—Penjaga Keseimbangan Dunia."
Sambil menyematkan lencana itu, Elian berbisik kepada Azzura, "Ayahmu akan sangat bangga, Azzura."
"Terima kasih, Profesor," jawab Azzura dengan mata berkaca-kaca.
Rachel menoleh ke arah teman-temannya sambil tersenyum lebar. "Lihat, kita tidak hanya lulus ujian masuk, kita malah jadi pemilik sekolahnya sekarang!"
"Jangan sombong dulu, Rachel," goda Luna sambil tertawa kecil. "Kita masih punya tumpukan tugas kelas sejarah yang belum dikerjakan."
Vera menyikut mereka berdua. "Tugas? Aku lebih pusing mikirin bagaimana caranya merayakan ini dengan makanan enak!"
Olivia mengangguk setuju. "Aku setuju dengan Vera. Tapi lihatlah, semua orang bersorak untuk kita. Rasanya... seperti mimpi yang jadi nyata."
Guruh tepuk tangan membahana di seluruh aula. Siswa-siswa yang dulu meremehkan mereka, termasuk Xander yang berdiri di barisan depan dengan senyum tipisnya, kini memberikan penghormatan tulus.