NovelToon NovelToon
Zee Dan Kamera Tua

Zee Dan Kamera Tua

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Time Travel / Mengubah Takdir
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: _SyahLaaila

Setelah bertahun-tahun tak pernah dibuka, gudang tua di belakang rumah akhirnya kembali disentuh Zee. Dia hanya berniat merapikan peninggalan kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Di antara debu dan kardus usang, Dia menemukan sebuah kamera analog tua yang tak pernah Dia ingat sebelumnya, kamera itu masih menyimpan satu gulungan film.

Karena penasaran, Zee mencoba memotret halaman belakang rumahnya, tempat sumur lama yang sudah kering berdiri sunyi di dalam pagar, tidak ada yang aneh saat Dia menekan tombol rana. Namun saat hasil cetaknya muncul, Dia terkejut.

Di dekat sumur kering itu, tampak sebuah pintu tua transparan, berdiri tegak tanpa dinding, seolah-olah mengarah tepat ke bibir sumur, pintu itu tidak ada saat Dia memotret.

Zee bingung apa maksud dari jepretan kamera tua itu? Penasaran lanjutan cerita nya? Yukk ikutin kelanjutan ceritanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _SyahLaaila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16.

Angin malam berhembus pelan di antara pepohonan.

Zee berdiri sejenak, menatap kegelapan yang kini terasa lebih tenang. Laut yang tadi bergemuruh perlahan kembali sunyi, seolah semua yang terjadi hanyalah mimpi.

Namun Zee tahu, semuanya nyata. Dia menggenggam erat berlian di tangannya, matanya terpejam. Dalam benaknya, Dia membayangkan kamar kamar tidurnya.

Sling!

Dalam sekejap_

Dunia di sekitarnya menghilang. Ketika Zee membukanya mata, Dia sudah berada di dalam kamarnya.

Cahaya lampu yang lembut menyambutnya. Suasana begitu kontras dengan hiruk-pikuk yang baru saja Dia tinggalkan.

Tanpa membuang waktu, Dia berjalan ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya dari sisa sebuah hari ini. air hangat mengalir membasahinya dan membawa sedikit ketenangan.

Setelah itu Dia turun ke bawa untuk makan seadanya. Matanya mulai terasa berat, dan begitu Dia merebahkan diri di atas tempat tidur... matanya perlahan terpejam, dan Zee tertidur lelap.

Kembali ke Desa Pesisir.

Malam belum benar-benar berakhir, di tengah kegelapan kapal besar datang dengan di atasnya penuh dengan muatan bangunan.

Satu per satu sosok turun dari kendaraan khusus. Mereka bergerak cepat, tepat dan tanpa ragu.

Tim pembangunan, tanpa banyak suara, mereka langsung bekerja.

Pilar-pilar beton panjang diturunkan ke dalam laut. Dengan presisi yang luar biasa, tiang-tiang kita di tancapkan jauh ke dasar laut, mencengkram tanah bawah laut dengan kokoh.

Suara mesin terdengar rendah... hampir tidak menggangu. Struktur demi struktur mulai terbentuk, dan dalam yang terasa mustahil kerangka dermaga mulai terlihat.

Lalu lantai beton terpasang dan pegangan dibangun. Semuanya tersusun rapi, kuat dan kokoh.

Hanya dalam satu jam, dermaga itu selesai di bangun.

Tanpa jeda, mereka mulai melanjutkan pekerjaan berikutnya. Jalan di dalam Desa.

Tanah yang sebelumnya becek dan tidak rata, perlahan berubah. Lapisan demi lapisan di susun dengan cepat. Permukaan di ratakan, lalu di perkuat dengan beton yang halus dan tahan lama.

Jalan setapak kini berubah menjadi jalur yang layak. Kuat, rapi dan nyaman saat di lalui. Dan juga pemasangan lampu jalan yang terang.

Malam itu, Desa Pesisir itu mulai berubah dalam diam. Tanpa satu pun warga yang menyadari tentang perubahan itu.

Keesokan paginya... cahaya matahari mulai masuk melalui celah jendela rumah Pak Sam.

Bu Yati adalah orang pertama yang terbangun. Seperti biasa, Dia melangkah keluar untuk memulai hari yang baru.

Namun langkahnya terhenti dengan mata yang membelalak. "Astaga..."gumamnya lirih

Tanpa menunggu, Dia segera berbalik dan masuk ke dalam rumah. "Pak! bangun, Pak!" panggilnya sedikit tergesa.

Pak Sam yang masih setengah tertidur mengernyit, "Ada apa, Bu?"

"Cepat bangun! Lihat di luar!" ujar Bu Yati.

Pak Sam mengusap wajahnya, masih bingung. "Memangnya ada apa pagi-pagi begini?"

"Jalan sama dermaga yang dijanjikan Nak Zee, sudah jadi!" ucap Bu Yati dengan suara tak percaya.

Pak Sam langsung duduk tegak. "Apa?, masa secepat itu, Bu?"

"Beneran, Pak! Coba lihat sendiri! Banyak warga sudah di luar, mereka lagi jalan di atas jalan beton sama dermaga itu!" jawab Bu Yati cepat.

Belum sempat Pak Sam berdiri. Pintu terbuka cepat. Doni masuk dengan napas sedikit terengah, tapi wajahnya penuh semangat.

"Ayah! Ibu!, ayo keluar! Kita lihat, jalan sama dermaga dari Kak Zee sudah jadi!" katanya cepat, dengan tak bisa menahan antusiasnya.

Pak Sam dan Bu Yati saling pandang, masih ada rasa tidak percaya. namun rasa penasaran jauh lebih besar.

Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka bertiga segera keluar rumah. Dan saat kaki mereka menginjak tanah di depan rumah, mereka terdiam.

Di hadapan mereka, jalan beton yang rapi terbentang. Halus, kuat dan tidak ada lagi becek seperti dulu.

Sedangkan di kejauhan, dermaga berdiri kokoh di tepi laut, menjulur ke dalam air dengan megah.

Beberapa warga sudah berkumpul di sana. Ada yang berjalan perlahan, menguji pijakan mereka.

Ada yang hanya berdiri memandangi dengan mata tak percaya. Suara kagum terdengar di mana-mana.

Pak Sam tidak dapat berkata apa-apa, Dia hanya menatap dengan lama dan dalam.

Sementara Doni tersenyum lebar, dengan menarik tangan Ayahnya. "Hebat kan, Yah. Kak Zee janji dan benar-benar menepatinya."

Bu Yati menutup mulutnya, matanya mulai berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya, harapan itu terasa nyata.

Dan di saat itu, Desa Pesisir kecil itu tidak lagi sama seperti dulu.

Sementara di tempat yang berbeda, Zee perlahan membuka matanya.

Cahaya matahari sudah masuk melalui celah tirai, menyinari kamar dengan hangat. Untuk sesaat, Dia hanya berbaring diam dan mengingat semua yang terjadi semalam.

Zee menghela napas pelan, lalu bangkit dari tempat tidur.

Hari baru telah di mulai. Seperti biasa, Dia membersihkan diri, lalu turun ke bawah.

Di halaman belakang, suasana terasa segar. Embun pagi masih menempel di dedaunan, dan angin lembut membawa aroma bunga di taman yang menenangkan.

Tapi ada yang berbeda, Pak Ali terlihat berdiri di dekat kebun buah-buahan. Menatap sesuatu dengan wajah kagum dan tak percaya.

Zee pun berjalan mendekat ke Pak Ali. "Pagi Pak," sapanya

Pak Ali langsung menoleh. "Eh, Neng Zee! Pas sekali!" katanya dengan nada sedikit bersemangat.

Zee tersenyum tipis. "Ada apa Pak?"

Pak Ali segera menunjuk ke arah kebun buah-buahan. "Neng, itu buah-buahannya sudah bisa di panen."

Zee mengikuti arah tunjukan Pak Ali. Matanya menatap deretan pohon yang kini penuh dengan buah.

Buah-buahannya sangat lebat, segar, dan sedikit lebih besar dari buah biasanya. contohnya saja stroberi sebesar kepalan tangan bayi.

Zee tidak terlalu terkejut, dan sebenarnya Dia sudah tahu. Karena setiap ada waktu, Zee diam-diam membawa air dari ruang di dalam sumur tua itu untuk menyiram tanaman buah dan bunga.

Hasilnya kini terlihat jelas. Zee hanya tersenyum kecil. "Bagus dong Pak."

Pak Ali mengangguk cepat. "Bagus sekali Neng! Saya sampai heran, biasanya tidak secepat ini besarnya dengan ukurannya juga besar-besar begini. Tanah di belakang rumah Neng Zee ini memang paling subur dah."

Tak lama kemudian, Bu Maya ikut keluar. "Wah... Sudah bisa di panen ya? Katanya sambil mendekat.

"Ini sungguh luar biasa, Neng Zee," tambahnya dengan mata berbinar.

Zee mengambil salah satu buah strawberry, lalu membersihkannya sebentar. "Coba kita rasakan, semoga saja rasanya tidak mengecewakan." katanya

Mereka bertiga pun segera mencicipinya. Begitu gigitan pertama, mereka seketika terdiam dengan mata membelalak.

Rasanya manis, tapi tidak berlebihan. Segar, seolah langsung menjernihkan pikiran mereka.

"Ini..." gumam Bu Maya tidak bisa berkata-kata lagi, saking terkejutnya.

Pak Ali mengangguk pelan. "Rasanya berbeda."

Zee cuman memperhatikan reaksi mereka saja. Dalam hatinya, Dia sudah menduga manfaatnya. Setiap buah itu seolah memiliki manfaatnya sendiri.

Ada yang bisa membuat tubuh lebih segar, menenangkan, menghangatkan dan menyembuhkan penyakit yang ringan.

Zee menatap kebun kecilnya itu sejenak. "Pak Ali, buahnya sangat banyak sekali, kalau tidak di panen, nanti bisa busuk," katanya

"Betul juga Neng." jawab Pak Ali

Zee tersenyum kecil. "Kita panen saja semuanya hari ini."

Tidak butuh waktu lama lagi, mereka mulai memanennya. Keranjang demi keranjang terisi penuh.

Buah-buahan itu terlihat begitu segar, bahkan mengkilap di bawah sinar matahari.

Zee kemudian memberikan sebagian kepada Pak Ali dan Bu Maya. "Ini untuk Bapak dan Ibu," katanya.

"Loh, Neng ini kebanyakan," ujar Bu Maya.

"Tidak apa-apa Bu," jawab Zee lembut.

Tak hanya mereka saja, Zee juga menyisihkan sedikit juga untuk Pak Rahman dan para tukang yang selama ini membantu membangun tokonya.

Kemudian, Dia membawa sedikit juga ke rumah tetangganya Bu Sari. "Bu Sari, ini untuk Ibu ya, ini dari hasil kebun saya Bu" ucapnya.

Bu Sari tampak senang sekaligus heran melihat ukurannya. " Wah, besar-besar sekali, Nak. Terima kasih banyak Nak."

"Sama-sama Bu." jawab Zee dengan tersenyum.

Namun jumlahnya masih terlalu banyak. Zee kembali ke halaman belakang lagi, menatap sisa hasil panen. "Kalau dibiarkan begini saja, sayang sekali." gumamnya

Dia lalu menoleh ke Pak Ali. "Pak..."

"Iya Neng?" jawab Pak Ali

"Bisa bantu saya jual sebagian buah-buahan ini?"

Pak Ali langsung mengangguk. "Bisa sekali Neng, nanti saya coba bawa ke pasar kecamatan."

Zee tersenyum lega. "Terima kasih Pak, ini ada sedikit uang juga untuk Pak Ali. Sewa mobil pick up ya." sambil menyodorkan uang 5 lembar 100 ribu

Setidaknya, ini juga bisa menjadi awal usahanya yang masuk akal, dan tidak mencurigakan.

Setelah semuanya selesai, Zee menyisihkan sebagian buah di jual di AetherShop, untuk menambahkan Koinnya yang sudah habis. Dan sebagian di masukkan ke dalam tas kecil untuk Doni.

1
Ida Kurniasari
Doble up thorr
Ida Kurniasari
Doble up thor
Ida Kurniasari
Doble up dong thorr😍
keyza formoza
lanjut thoorr
Ida Kurniasari
sangat sangat menarik thor
SyahLaaila: siap kak☺️
total 1 replies
Ida Kurniasari
bagus banget thorr,lanjutt up😍
Ida Kurniasari
😍
Chen Nadari
The best Thorr
SyahLaaila: makasih kak☺️
total 1 replies
Ida Kurniasari
baru bab satu aja udah deg degan thor,ceritamu bikin penasaran
Musdalifa Ifa
menguji kesabaran
Andira Rahmawati
mau nabung dulu biar puas entar bacanya👍👍💪💪💪
Andira Rahmawati
trusss semangat💪💪💪 lanjuttt
Andira Rahmawati
lama amattt jadi penasaran...
Andira Rahmawati
hadir thorr
Twis G
semangat author 🌹🌹🌹
Narina
lanjut thor semakin penasaran 😍😍
Narina
cerita nya seru thor lanjut 🌷🌷🌷
SyahLaaila: siap kak ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!