⚠️⚠️TIDAK ADA UNSUR LGBT, NAMANYA JUGA DEWI RUBAH, YANG PALING DISUKAI ADALAH JIWA DAN TUBUH MEREKA⚠️⚠️
Bagaimana kalau seorang Dewi rubah yang dihukum malah melarikan diri? kucingnya yang selama ini seperti kucing biasa ternyata kucing dunia. bersenang-senang? tentu saja hal itu yang paling disukai nona rubah kita ini. bagaimana kesenangan nona rubah di dunia manusia dan pelarian nya? di setiap cerita akan beda judul utama karena dia tidak hanya melarikan diri, tetapi juga menjadi sistem kesenangan diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Cinta untuk Nona Muda" 14
Tiga hari berlalu begitu saja.
Tiga hari yang bagi sebagian besar murid SMA Seiran hanyalah rutinitas biasa yang menjemukan, mulai dari bunyi bel, jam pelajaran, suasana kantin, hingga waktu pulang. Namun bagi mereka yang terlibat dalam pusaran cinta segitiga yang semakin rumit, tiga hari ini terasa seperti tiga babak pertempuran sengit tanpa akhir.
Di tengah semua kekacauan itu, Lucy, sang Dewi Rubah yang menyamar sebagai gadis imut dan polos, berdiri dengan anggun sambil menarik benang-benang takdir sesuka hatinya.
Hari Pertama
Pagi itu, Lucy turun dari motor Kaito dengan senyuman cerah yang menghiasi wajahnya. "Terima kasih banyak ya, Kaito! Sampai nanti di kelas!"
Kaito hanya mengangguk pelan, menyimpan helmnya ke tempat biasa, lalu berjalan di samping gadis itu. Mereka kini sudah menjadi pemandangan yang tidak asing lagi bagi seisi sekolah dan bahkan mendapatkan julukan sebagai pasangan terbaik. Namun di depan gerbang kelas, seseorang ternyata sudah berdiri menunggu kedatangan mereka.
Orang itu adalah Ren Arisugawa.
Dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku dan wajah sedatar biasanya, Ren menyambut mereka. Begitu matanya menangkap sosok Lucy dan Kaito yang berjalan berdampingan dengan sangat akrab, rahang ketua OSIS itu seketika mengeras.
"Lucy," panggil Ren memecah keheningan. "Bisa bicara sebentar?"
Lucy menatap Ren lalu beralih menatap Kaito dengan ekspresi wajah yang mendadak berubah menjadi canggung. "Ah... iya bisa. Kaito, kalau begitu aku ke kelas duluan tidak apa-apa, kan?"
Kaito menatap Ren dengan tajam, dan Ren membalas tatapan itu dengan tidak kalah dingin. Udara di antara kedua cowok itu seketika terasa sangat tegang, bahkan rasanya hampir bisa dipotong dengan sebilah pisau.
"Hm," jawab Kaito akhirnya dengan ketus sebelum melangkah masuk ke dalam kelas tanpa memedulikan mereka lagi.
Lucy kemudian berjalan mendekat ke arah Ren. "Ada apa, Ren?"
"Aku..." Ren sempat menundukkan kepalanya sejenak sebelum mengeluarkan sebuah benda dari dalam sakunya. Benda itu ternyata adalah sekotak mochi stroberi. "Aku kebetulan lewat toko kue tadi pagi. Kamu sangat menyukai yang ini, kan?"
Sepasang mata Lucy langsung berbinar gembira, dan kali ini ekspresinya benar-benar asli tanpa akting. "MOCHI STRAWBERRY EDISI TERBATAS!" Dia segera mengambil kotak tersebut dengan kedua tangannya lalu memeluknya erat-erat layaknya sebuah harta karun berharga. "Terima kasih banyak, Ren! Kamu ternyata masih ingat!"
"Tentu saja aku ingat." Suara Ren terdengar jauh lebih melembut dari biasanya. "Kamu kan selalu membawa susu stroberi ke sekolah. Jadi kurasa kamu pasti menyukai buah stroberi."
"Kamu perhatian sekali." Lucy mengulas sebuah senyuman yang sangat manis. "Hal ini membuatku merasa menjadi perempuan yang spesial."
Ren langsung membuang mukanya ke arah lain demi menyembunyikan rona merah yang mulai menjalar di kedua telinganya. "Aku hanya tidak suka melihatmu terus-menerus dirundung kesedihan."
Sementara itu di dalam kelas, Kaito menyaksikan seluruh adegan manis itu dari balik jendela. Tangannya mengepal kuat di atas meja menahan rasa dongkol.
"Mochi stroberi," batin Kaito kesal. "Kenapa hal itu sama sekali tidak terpikirkan olehku sebelumnya?"
Hari Kedua
Hujan turun dengan sangat deras tepat saat jam pulang sekolah tiba. Lucy berdiri mematung di depan pintu gerbang sambil menatap langit kelabu dengan ekspresi yang tampak murung. Kaito kebetulan ada jadwal latihan basket sore ini sehingga tidak bisa mengantarnya pulang, sedangkan Ren sendiri sedang sibuk memimpin rapat OSIS.
"Kamu tidak membawa payung?"
Sebuah suara yang sangat familier mendadak membuat Lucy menoleh. Ren sudah berdiri tepat di sampingnya sambil memegang sebuah payung hitam. Wajah cowok itu tampak sedikit basah dan napasnya agak terengah-engah, menandakan kalau dia baru saja berlari kencang untuk menuju ke tempat ini.
"Ren? Bukankah kamu seharusnya sedang memimpin rapat?"
"Kutinggalkan sebentar." Ren segera membuka payungnya dengan sigap. "Ayo, biar kuantar kamu pulang."
"Tapi..."
"Aku tidak mungkin bisa membiarkanmu pulang kehujanan."
Lucy menatap payung itu bergantian dengan wajah Ren sebelum akhirnya tersenyum kecil. "Baiklah kalau begitu."
Mereka berdua akhirnya berjalan berdampingan di bawah lindungan payung yang sama dengan jarak bahu yang hampir bersentuhan. Lucy sengaja menggeser langkah kakinya sedikit lebih dekat, sebuah trik sederhana yang cukup efektif untuk membuat jantung Ren berdegup dengan jauh lebih cepat.
"Aku sangat menyukai hujan," ujar Lucy tiba-tiba memecah keheningan.
"Kenapa begitu?"
"Karena hujan selalu bisa membuat segala hal di sekitar kita terlihat jauh lebih tenang. Dan..." Lucy menatap wajah Ren dengan lekat. "...karena hari ini kamu ada di sini bersamaku."
Langkah kaki Ren sempat terhenti sejenak karena terkejut. "Lucy..."
"Aku hanya bercanda kok!" Lucy langsung tertawa kecil melihat reaksi serius cowok itu. "Ayo cepat lanjutkan jalannya, kaki rampingku sudah mulai kebas karena basah. Nanti aku tiba-tiba jadi mermed gimana"
Ren merasa lucu dengan perkataan itu "kalau begitu, biarkan aku menjaga mermed itu"
Mereka pun melanjutkan perjalanan menerobos rintik hujan. Dari kejauhan, tepatnya dari dalam gedung olahraga, Kaito terus menatap kebersamaan mereka dari balik jendela kaca. Bola basket yang berada di dalam cengkeraman tangannya bahkan hampir saja penyok karena dia menekannya dengan kekuatan yang luar biasa.
Hari Ketiga
Lucy tampak duduk sendirian di atas bangku taman yang terletak di bagian belakang sekolah. Kotak bekal yang ada di pangkuannya sama sekali belum tersentuh, dan wajahnya dipasang dengan ekspresi murung yang sangat meyakinkan. Dia tentu saja sedang berakting demi menunggu seseorang datang.
Benar saja, dugaan dewinya sama sekali tidak meleset.
"Kenapa bekalnya tidak dimakan?"
Kaito sudah berdiri tegap di samping bangku dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku, mencoba menyembunyikan ekspresi khawatirnya yang teramat sangat.
"Ah, Kaito." Lucy menggelengkan kepalanya pelan. "Aku hanya sedang tidak merasa lapar."
"Kamu itu selalu lapar setiap hari dan setiap jam." Kaito langsung mengambil posisi duduk di samping gadis itu. "Jadi kalau sampai kamu tidak merasa lapar seperti sekarang, pasti sedang ada sesuatu yang salah."
Lucy terdiam sejenak sebelum akhirnya menghela napas panjang. "Aku hanya sedang merasa bingung."
"Bingung karena hal apa?"
"Entahlah." Lucy mengalihkan pandangannya menatap hamparan langit luas. "Kadang-kadang aku merasa kalau diriku ini tidak pantas untuk dikelilingi oleh orang-orang hebat sepertimu dan Ren. Aku kan hanya seorang gadis biasa."
"Kamu sama sekali tidak biasa."
"Itu hanya kata-kata manis untuk menghiburku saja."
"Itu adalah sebuah fakta." Kaito menatap wajah Lucy dengan tatapan yang sangat serius. "Kamu itu berbeda dari gadis lainnya. Dan aku... aku benar-benar tidak suka melihatmu bersedih."
Kaito kemudian mengeluarkan sebuah benda dari dalam sakunya. Benda itu adalah sekotak cokelat impor premium yang sengaja dibelinya langsung dari Belgia. "Aku tidak tahu jenis cokelat apa yang kamu sukai. Jadi aku putuskan untuk membeli yang ini saja."
Lucy menatap kotak cokelat itu bergantian dengan wajah Kaito sebelum pipi tembemnya perlahan merona merah. "Kaito..."
"Sudah, terima saja tidak usah banyak alasan."
Lucy akhirnya mengambil cokelat itu dengan kedua tangannya. "Kalian berdua ini sebenarnya kenapa sih? Kenapa selalu saja memberiku makanan yang manis-manis?"
"Karena kamu selalu menunjukkan senyuman terbaikmu setiap kali sedang memakan sesuatu yang manis."
Lucy tidak bisa menahan tawa renyahnya kali ini. "Jadi maksudmu, kamu sangat ingin melihatku tersenyum?"
Kaito memilih untuk tidak memberikan jawaban, meskipun kedua telinganya kini sudah memerah sempurna karena menahan rasa malu.
Sementara itu, di sepanjang koridor lantai dua, Hana Himura ternyata menyaksikan seluruh momen kebersamaan itu dengan mata kepalanya sendiri.
Dia berdiri mematung di dekat jendela sambil menatap tajam ke arah Lucy dan Kaito yang berada di bangku taman. Tangannya mencengkeram pinggiran jendela besi dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih sempurna.
"Lihat saja kelakuannya," desis Hana dengan penuh dendam di dalam hatinya. "Dia duduk di sana berlagak seperti seorang putri yang tidak berdosa, dikelilingi oleh dua pria tampan yang sibuk memperebutkannya. Sementara aku... AKU..."
"Tuan Putri, saya mohon tolong tenangkan diri Anda dulu..."
"Bagaimana mungkin aku bisa tenang?! Lihat sendiri kelakuan mereka! Lihat gadis sialan itu! Dia sudah merebut semua hal yang seharusnya menjadi milikku!"
Hari ini sudah memasuki hari ketiga sejak Hana mencoba untuk mendekati Ren secara agresif. Namun hasilnya benar-benar nihil karena Ren selalu saja menemukan cara untuk menghindarinya dengan berbagai alasan, mulai dari urusan rapat OSIS hingga kesibukan mendesak lainnya. Parahnya lagi, setiap kali Hana mencoba untuk mendekati Kaito, hasilnya jauh lebih mengenaskan.
Hana ingat betul kejadian kemarin saat dia mencoba mencegat Kaito di depan ruang ganti klub basket dengan memasang senyuman terbaiknya. "Kaito! Aku Hana. Kita pernah bertemu sebelumnya saat kamu membantuku yang tersesat di dekat lapangan basket. Kamu masih ingat, kan?"
Kaito hanya menatapnya dengan pandangan yang sangat dingin saat itu. "Oh."
"Hanya... hanya respons itu saja? Oh?"
"Ada perlu apa lagi?"
"Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih secara resmi dengan..."
"Tidak perlu repot-repot."
Kaito langsung berjalan pergi meninggalkannya begitu saja seolah-olah kehadiran Hana tidak lebih penting daripada sebutir debu.
Namun perlakuan berbeda justru ditunjukkan cowok itu kepada Lucy. Gadis sialan itu dibelikan cokelat impor, dijemput setiap pagi, dan ditatap dengan sebuah tatapan hangat yang tidak akan pernah diberikan kepada Hana.
"Aku benar-benar tidak habis pikir!" Hana hampir saja menjerit frustrasi di dalam hatinya. "Aku ini adalah tokoh protagonis di dunia ini! Sistemku sendiri yang mengatakannya! Seharusnya kedua pria itu memperebutkan AKU, BUKAN DIA!"
"Tuan Putri, tampaknya telah terjadi sebuah anomali besar di dalam dunia ini. Gadis bernama Lucy itu seharusnya hanyalah karakter figuran kutu buku yang ditakdirkan mati karena didorong dari tangga oleh karakter antagonis. Namun dia ternyata tidak mati, melainkan berubah menjadi jauh lebih cantik dan populer seolah-olah ada seseorang yang sengaja mengubah takdir alurnya."
Hana terdiam sejenak mencerna penjelasan itu sebelum sebuah senyuman dingin perlahan terukir di bibirnya. "Jadi dia juga seorang pemain. Dia bukan karakter asli dari dunia ini."
"Kemungkinan besarnya memang demikian, Tuan Putri."
"Bagus kalau begitu." Hana meletakkan kembali buku yang dipegangnya ke atas rak dengan kasar. "Kalau dia sesama pemain, aku tidak perlu lagi bersikap baik kepadanya. Dia adalah musuhku, dan seorang musuh harus segera dihancurkan."
Sore harinya, Kaito tampak mengantarkan Lucy pulang seperti biasanya. Jalanan kota terlihat masih basah setelah sisa hujan reda, menyisakan udara sore yang terasa sangat segar. Lucy duduk di jok belakang sambil memeluk erat pinggang Kaito, meskipun pikirannya saat ini sedang melayang ke tempat lain.
"Sudah tiga hari berlalu. Rasa suka mereka berdua terus saja naik turun dengan tidak menentu. Kadang persentase Ren menyentuh angka lima puluh lima persen, lalu di hari berikutnya Kaito yang menyusul di angka yang sama. Mereka benar-benar mirip seperti komoditas saham."
"Itu semua kan terjadi karena kamu terus-menerus mempermainkan perasaan mereka," komentar Lili yang mendadak menyahut di dalam kepalanya.
"Aku tahu hal itu. Dan jujur saja, permainan ini terasa sangat menyenangkan."
"Kamu tidak merasa lelah melakukan semua akting ini?"
"Lelah dari mana?" Lucy menyeringai puas di dalam hati. "Aku bisa mendapatkan mochi stroberi, cokelat Belgia, susu impor, dan besok pasti akan ada banyak hadiah manis lainnya. Ditambah lagi ada dua pria tampan yang rela memperebutkanku. Kenapa juga aku harus merasa lelah?"
Motor sport itu mendadak berhenti karena lampu merah menyala. Kaito menolehkan kepalanya sedikit ke belakang. "Lucy."
"Ya? Ada apa?"
"Gadis yang tadi pagi, Hana Himura." Suara Kaito terdengar sangat datar seolah-olah sedang melaporkan sebuah fakta yang tidak penting. "Aku memang pernah membantunya sekali saat dia tersesat di dekat lapangan basket. Hanya sebatas itu saja dan aku sama sekali tidak mengenalnya lebih jauh."
Lucy terdiam sejenak mendengarnya sebelum sengaja mengubah nada suaranya menjadi lebih pelan dan lirih. "Oh begitu..."
"Kenapa responmu begitu?"
"Tidak apa-apa kok. Hanya saja dia terlihat sangat cantik, kaya, dan sepertinya dia juga menaruh rasa suka kepadamu."
"Aku tidak peduli dengan semua hal itu."
"Tapi..."
"Lucy." Kaito memutar tubuhnya sedikit demi bisa menatap langsung wajah gadis itu dari balik helmnya. "Aku sama sekali tidak peduli dengan kehadiran gadis lain."
Lampu lalu lintas mendadak berubah menjadi warna hijau, dan motor pun kembali melaju membelah jalanan. Namun kali ini, sepasang tangan Lucy memeluk pinggang Kaito dengan sedikit lebih erat dari sebelumnya.
"Dia bilang kalau dia tidak memedulikan kehadiran gadis lain," pikir Lucy menganalisis kalimat itu. "Namun dia sendiri tidak mengatakan kalau dia memedulikanku. Menarik sekali, dia ternyata masih mencoba untuk menjaga jarak denganku."
"Atau mungkin saja dia sebenarnya merasa takut?" usul Lili memberikan analisis lain.
"Bisa jadi. Tapi hal itu sama sekali bukan masalah besar. Yang terpenting adalah fakta bahwa Hana sudah mencoba untuk mendekatinya dan berujung pada kegagalan total."
Keesokan harinya yang merupakan hari keempat, Ren tampak menemui Lucy di dalam ruang perpustakaan yang sepi saat jam istirahat berlangsung. Wajah ketua OSIS itu terlihat sedikit lebih kusut daripada biasanya, kemungkinan besar karena dia sedang kekurangan waktu tidur.
"Aku mendengar sebuah kabar," ujar Ren memulai pembicaraan sambil mengambil posisi duduk di samping Lucy.
"Kabar tentang apa?"
"Hana Himura. Gadis itu kabarnya mencoba untuk mendekati Kaito kemarin sore."
Lucy langsung memasang ekspresi wajah yang tampak terkejut. "Oh ya? Tapi dia juga sedang mencoba untuk mendekatimu belakangan ini, kan?"
"Hal itu jelas berbeda. Dia..." Ren mendadak menghentikan kalimatnya sejenak. "Aku sama sekali tidak peduli dengan apa pun yang dia lakukan."
"Kalimat itu adalah kalimat yang sama dengan yang diucapkan oleh Kaito kemarin."
Suasana di antara mereka seketika berubah menjadi hening. Ren menatap wajah Lucy dengan sebuah intensitas tatapan yang terasa sangat berbeda dari biasanya. "Kaito benar-benar mengatakan hal itu kepadamu?"
"Iya. Dia bilang kalau dia tidak memedulikan kehadiran gadis lain." Lucy sengaja menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil memainkan ujung rok seragamnya. "Kalian berdua ini sebenarnya kenapa sih?"
"Kenapa bagaimana?"
"Kenapa kalian berdua harus repot-repot memperebutkanku seperti ini?" Lucy mendongakkan kepalanya, menatap lurus ke dalam manik mata Ren dengan sepasang mata yang sengaja dibuat berkaca-kaca. "Aku kan hanya seorang gadis biasa yang tidak secantik Hana dan tidak sekaya dirinya. Aku bahkan..."
"Cukup, hentikan ucapanmu."
Suara Ren terdengar sangat tegas, jauh lebih tegas daripada biasanya. Dia dengan cepat langsung meraih jemari tangan Lucy dan menggenggamnya dengan sangat erat.
"Jangan pernah sekali-kali kamu membandingkan dirimu dengan gadis seperti dia. Kamu... kamu itu sangat berbeda dari siapa pun."
"Berbeda dalam hal apa?"
"Kamu..." Ren tampak sedikit kesulitan untuk mencari kata-kata yang tepat untuk mengungkapkannya. "...kamu selalu bisa membuatku merasa nyaman setiap kali berada di dekatmu. Rasanya aku bisa menjadi diriku sendiri yang apa adanya."
Lucy menatap wajah cowok itu dengan lekat. Sesaat kemudian, genangan air mata yang sesungguhnya, bukan lagi hasil dari sebuah akting, perlahan mulai muncul di sudut matanya. Hal itu terjadi bukan karena dia merasa tersentuh dengan ucapan tulus Ren, melainkan karena alasan lain.
"Astaga, ketulusan cowok ini benar-benar murni tanpa rekayasa. Hal ini malah membuatku merasakan sebersit rasa bersalah yang aneh."
"Seorang dewi sepertimu bisa merasakan rasa bersalah?" Lili langsung terkekeh mengejek di dalam kepalanya.
"Hanya sedikit saja kok. Sangat sedikit, kira-kira seukuran butiran debu."
Di luar area perpustakaan, Hana ternyata sedang berdiri bersembunyi di balik rak buku besar sambil menguping setiap untaian kalimat yang mereka ucapkan. Wajah gadis itu seketika berubah drastis dari yang semula dipenuhi amarah menjadi pucat pasi, sebelum akhirnya kembali memerah padam karena murka.
"Nyaman? Bisa menjadi diri sendiri? Omong kosong macam apa itu?!" Hana mencengkeram buku yang ada di tangannya dengan sangat kuat hingga sampul tebalnya hampir saja robek. "Seharusnya AKULAH yang bisa membuatnya merasa nyaman! Akulah sang protagonis di dunia ini, bukan gadis sialan itu!"
"Tuan Putri, sepertinya kita benar-benar harus segera mengubah strategi pendekatan kita..."
"STRATEGI MACAM APA LAGI SIKH?! Aku ini sudah mencoba segala cara yang memungkinkan! Aku mendekati Ren dan dia menolakku mentah-mentah! Aku mendekati Kaito dan dia mengabaikanku seolah aku tidak ada! Sementara gadis itu hanya perlu duduk diam saja dan kedua pria itu akan langsung datang menghampirinya layaknya anjing penurut!"
"Hal itu bisa terjadi karena dia..." Sistem di dalam kepala Hana tampak ragu-ragu untuk melanjutkan penjelasannya. "Ada sesuatu yang benar-benar tidak beres dengan data diri gadis itu. Semua datanya sama sekali tidak cocok dengan database yang saya miliki."
"Apa maksud dari ucapanmu itu?!"
"Dia itu seharusnya sudah mati di dalam alur cerita yang asli. Lucy si kutu buku ditakdirkan tewas setelah didorong dari atas tangga oleh karakter antagonis wanita. Namun dia ternyata tidak mati, melainkan bertransformasi menjadi jauh lebih cantik dan populer seolah-olah ada sebuah kekuatan besar yang sengaja mengubah garis takdir hidupnya."
Hana terdiam seribu bahasa mendengar penjelasan sistemnya. Perlahan tapi pasti, sebuah senyuman yang terasa sangat dingin dan kejam mulai terukir di sudut bibirnya. "Jadi dia juga seorang pemain yang menggunakan sistem. Dia bukan karakter asli dari belahan dunia ini."
"Kemungkinan besarnya memang demikian, Tuan Putri."
"Baguslah kalau begitu." Hana meletakkan kembali buku yang dipegangnya ke atas rak dengan gerakan anggun. "Kalau dia ternyata adalah sesama pemain, aku tidak perlu lagi berpura-pura bersikap baik di depannya. Dia adalah musuh besarku, dan seorang musuh sudah selayaknya harus segera dihancurkan berkeping-keping."
Sore harinya, Lucy tampak sedang duduk sendirian di atas anak tangga darurat yang terletak di bagian belakang gedung sekolah. Dia sengaja datang ke tempat sepi ini karena membutuhkan waktu untuk berpikir dengan tenang tanpa adanya gangguan dari Ren, Kaito, ataupun murid lainnya.
"Lili, tolong berikan laporan mengenai persentase terbaru dari mereka berdua."
"Rasa suka Ren Arisugawa saat ini berada di angka enam puluh persen, begitu pula dengan rasa suka Kaito Fujiwara yang seimbang di angka enam puluh persen. Menariknya, tingkat kejahatan di dalam diri Kaito kini sudah turun drastis ke angka tiga puluh persen."
"Persentase yang sangat seimbang," pikir Lucy sambil menyunggingkan sebuah seringai puas. "Kedua cowok itu sekarang berada di posisi yang setara. Dan tingkat kejahatan Kaito bisa turun drastis padahal Hana sudah resmi menampakkan dirinya di sekolah ini."
"Hal itu justru terjadi karena kehadiran Hana membuat Kaito sama sekali tidak tertarik kepadanya. Fokus perhatiannya saat ini sudah sepenuhnya tersedot kepadamu."
"Hal yang sama juga berlaku untuk Ren." Lucy menyandarkan bagian belakang kepalanya ke dinding tembok yang dingin. "Aku ini memang benar-benar seorang dewi yang jenius."
"Atau mungkin saja kedua cowok manusia itu yang terlalu mudah untuk kamu manipulasi."
"Dua hal itu pada dasarnya sama saja kok."
Lucy perlahan memejamkan kedua matanya, membiarkan hembusan angin sore yang sejuk menerpa permukaan kulit wajahnya. Tiga hari penuh diisi dengan pertempuran psikologis yang melelahkan, tiga hari melakukan akting tanpa henti, dan tiga hari menjadi pusat perhatian utama dari dua pria yang paling diincar di seantero sekolah, sementara sang protagonis wanita asli hanya bisa menggertakkan giginya menahan amarah dari kejauhan.
"Lalu apa rencana tindakanmu selanjutnya?" tanya Lili penasaran.
"Pertahankan posisi yang sekarang, tingkatkan intensitasnya, dan..." Lucy kembali membuka sepasang matanya, menatap lurus ke arah langit sore yang mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan. "...buat Hana menjadi semakin frustrasi dengan keadaannya. Aku sangat ingin melihat seberapa jauh dia akan bertindak untuk menyingkirkanku."
"Kamu benar-benar sangat menikmati permainan ini, ya?"
"Tentu saja, aku menikmati setiap detik dari prosesnya."