Lin Chen, seorang pemuda yang dianggap sampah karena memiliki Meridian Spiritual rusak, secara tidak sengaja menyentuh Phoenix bayi yang sedang bereinkarnasi. Pertemuan itu justru memberinya warisan terlarang tertinggi — "Sembilan Ikatan Phoenix Abadi".
Teknik kultivasi ini mengharuskan ia menikahi dan melakukan kultivasi ganda dengan Sembilan Phoenix Agung. Semakin banyak Phoenix yang ia taklukkan, semakin kuat ia. Namun, teknik ini dianggap melanggar tatanan langit, sehingga seluruh dunia kultivasi ingin membunuhnya.
"Dunia bilang aku terlarang? Baiklah… aku akan menikahi semua Phoenix dan membakar langit ini hingga hangus!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Langit yang Mulai Bergetar
Jauh dari Pegunungan Cang Lei.
Jauh melampaui wilayah yang dikenal oleh para kultivator biasa.
Di atas lapisan awan kesembilan, berdiri sebuah istana megah yang seolah menggantung di langit.
Tempat itu dikenal sebagai Istana Surgawi.
Pusat kekuasaan yang mengawasi tatanan dunia selama ribuan tahun.
Di menara tertinggi istana tersebut, seseorang perlahan membuka matanya dari meditasi panjangnya.
Ia tidak terbangun karena suara ataupun karena gangguan dari luar.
Melainkan karena sesuatu yang jauh lebih penting.
Sebuah getaran.
Getaran yang muncul dalam jaringan energi dunia.
Getaran yang seharusnya tidak mungkin ada.
Pria itu berdiri perlahan.
Wajahnya tidak menunjukkan tanda-tanda usia.
Ia tidak terlihat muda.
Namun juga tidak tampak tua.
Seolah waktu telah kehilangan pengaruh terhadap dirinya.
Sepasang mata berwarna ungu gelap memandang ke kejauhan dengan ketenangan yang dingin dan menekan.
Dialah Kaisar Surgawi Zi Xiao.
Penguasa Istana Surgawi.
Salah satu eksistensi terkuat di Benua Tianhuang.
Ia melangkah menuju balkon menara.
Di bawahnya terbentang lautan awan tanpa batas.
Di atasnya terbentang langit malam yang dipenuhi bintang-bintang.
Biasanya pemandangan seperti itu tidak mampu menarik perhatiannya.
Namun kali ini berbeda.
Tatapannya tertuju ke arah selatan.
Ke tempat yang bahkan tidak dapat dijangkau oleh pandangan manusia biasa.
"Aneh..."
Suara rendahnya bergema pelan.
"Itu muncul lagi."
Di belakangnya, seorang penjaga berjubah hitam dan emas segera berlutut.
"Yang Mulia?"
Zi Xiao tidak langsung menjawab.
Ia masih merasakan denyutan samar yang mengalir melalui jaringan energi dunia.
Sangat lemah.
Namun cukup jelas bagi seseorang dengan tingkat kekuatannya.
"Kirim para pengamat." Perintahnya terdengar tenang. "Selidiki seluruh wilayah selatan."
Penjaga itu segera menundukkan kepala lebih dalam.
"Perintah akan segera dilaksanakan."
Zi Xiao menyipitkan matanya.
Denyutan itu terasa begitu familiar.
Seperti sesuatu yang telah lama menghilang.
Sesuatu yang seharusnya tidak pernah muncul kembali.
"Beritahu juga Dewan Tetua." Nada suaranya menjadi lebih serius. "Ada kemungkinan kita perlu meninjau kembali salah satu keputusan yang dibuat ribuan tahun lalu."
Penjaga itu sedikit terkejut. Namun ia tidak berani mempertanyakan perintah tersebut.
Meski begitu, rasa penasaran tetap muncul.
"Keputusan yang mana, Yang Mulia?"
Keheningan sejenak menyelimuti balkon.
Angin dingin dari lapisan awan tertinggi berembus perlahan.
Kemudian Zi Xiao akhirnya menjawab. Matanya masih tertuju ke arah selatan.
Ke arah Pegunungan Cang Lei yang tersembunyi jauh di balik kabut.
"Keputusan mengenai Phoenix."
Wajah penjaga itu langsung berubah.
Meski hanya sesaat.
Karena seluruh dunia mengetahui satu fakta. Phoenix telah lenyap sejak ribuan tahun lalu. Atau setidaknya, itulah yang diyakini semua orang.
Sementara itu, di Pegunungan Cang Lei.
Lin Chen sama sekali tidak mengetahui bahwa keberadaannya telah menarik perhatian salah satu penguasa dunia.
Malam itu, ia tetap menjalani latihannya seperti biasa.
Api unggun kecil menyala di depan tempat berlindungnya.
Sedangkan dirinya duduk bersila sambil mengatur aliran energi di dalam tubuh.
Perubahan yang terjadi beberapa hari terakhir sangat jelas.
Tingkat kultivasinya telah meningkat dari Tingkat Kedua Kebangkitan Roh ke Tingkat Ketiga Kebangkitan Roh hanya dalam waktu empat hari.
Kecepatan seperti itu bahkan sulit dipercaya bagi para jenius besar.
Apalagi bagi seseorang yang sebelumnya dianggap tidak mampu berkultivasi.
Namun Lin Chen tahu bahwa peningkatan itu bukan hanya soal kecepatan.
Kualitas energinya juga berbeda.
Energi Phoenix jauh lebih padat dibanding energi spiritual biasa.
Lebih kuat.
Lebih hidup.
Dan membawa tekanan alami yang tidak dimiliki kultivator lain pada tingkat yang sama.
Kemajuan kendalinya terhadap Api Phoenix juga semakin baik.
Kini ia mampu mempertahankan nyala api dalam waktu yang jauh lebih lama.
Ia dapat mengubah bentuknya sesuai kehendak.
Bahkan telah menemukan cara melapisi tubuhnya dengan lapisan tipis energi Phoenix sebagai perlindungan.
Meski belum terlalu kuat, hasilnya cukup menjanjikan.
Setidaknya ia tidak lagi merasa benar-benar tidak berdaya.
Masih banyak hal yang harus dipelajari.
Masih banyak kekuatan yang belum ia pahami.
Namun untuk pertama kalinya, jalan di depannya mulai terlihat jelas.
Menjelang tengah malam, Lin Chen menghentikan latihannya.
Pikirannya kembali mengingat percakapan yang terjadi beberapa malam lalu.
Suara misterius dari dalam warisan Phoenix.
Salah satu dari delapan Phoenix yang masih tersegel.
Seseorang yang telah mulai terbangun.
Seseorang yang jelas tidak mudah diajak bekerja sama.
Lin Chen tersenyum tipis.
Ia tidak merasa terganggu oleh hal itu.
Kesulitan bukanlah sesuatu yang baru baginya.
Selama tujuh belas tahun hidupnya, hampir tidak ada hal yang datang dengan mudah.
Karena itu, satu tantangan tambahan tidak membuatnya gentar.
Perlahan ia memejamkan matanya.
Di dalam dadanya, Api Phoenix berdenyut dengan irama yang stabil.
Seperti jantung kedua yang baru saja lahir.
Sementara itu, jauh di atas langit yang tidak mampu dijangkau oleh pandangan manusia biasa, hukum-hukum dunia mulai bergetar pelan.
Getarannya sangat kecil.
Hampir tidak berarti.
************
Tujuh hari telah berlalu, Lin Chen saat ini berdiri di puncak sebuah tebing tinggi yang menghadap ke hamparan hutan luas. Dari tempat tersebut, pandangannya dapat menjangkau hampir seluruh wilayah pegunungan yang telah menjadi rumah sementaranya selama beberapa minggu terakhir.
Lautan pepohonan membentang tanpa ujung.
Kabut tipis masih menggantung di beberapa lembah, sementara sinar matahari siang menembus celah-celah awan dan menerangi puncak-puncak hutan dari kejauhan.
Di ufuk yang sangat jauh, terlihat siluet samar sebuah kota.
Kota Langit Biru.
Lin Chen memandang kota itu cukup lama. Namun tidak ada gejolak emosi yang muncul di wajahnya.
Tidak ada kerinduan, kebencian ataupun kemarahan yang membara.
Kota itu adalah bagian dari masa lalunya, dan suatu hari nanti, cepat atau lambat, ia akan kembali ke sana.
Bukan untuk mencari belas kasihan.
Bukan pula untuk membuktikan sesuatu kepada mereka.
Apalagi demi balas dendam yang lahir dari amarah.
Ia akan kembali karena jalan yang dipilihnya akan membawanya melewati banyak tempat.
Termasuk tempat-tempat yang pernah meninggalkan luka dalam hidupnya.
Perlahan, Lin Chen menarik napas panjang.
Saat ini, tingkat kultivasinya telah mencapai Tingkat Keempat Kebangkitan Roh.
Bahkan tidak lama lagi ia akan menembus tingkat berikutnya.
Jika dibandingkan dengan masa lalunya, kemajuan itu terasa hampir mustahil.
Selama tujuh belas tahun, ia terjebak pada tingkat yang sama tanpa mampu bergerak maju.
Kini, hanya dalam waktu singkat, ia telah melampaui apa yang dulu dianggap sebagai batasnya.
Kemampuan mengendalikan Api Phoenix juga berkembang pesat.
Ia tidak lagi kesulitan memanggil atau mempertahankan nyala api tersebut.
Meskipun masih jauh dari kekuatan sebenarnya, setidaknya ia sudah mampu menggunakannya dalam pertarungan.
Indera spiritualnya pun meningkat.
Sekarang ia dapat merasakan keberadaan makhluk hidup dan aliran energi di sekitarnya dengan jauh lebih jelas dibanding sebelumnya.
Namun dari semua perubahan yang terjadi, ada satu hal yang menurutnya paling berharga.
Yaitu pemahaman tentang dirinya sendiri.
Selama bertahun-tahun, identitasnya selalu ditentukan oleh orang lain.
Oleh Klan Lin yang menganggapnya sampah.
Oleh para tetua yang memandangnya sebagai beban.
Oleh Yue Suyin yang meninggalkannya demi masa depan yang lebih cerah.
Dan oleh Batu Pengukur yang selalu menunjukkan hasil yang membuat orang menertawakannya.
Namun sekarang semuanya berbeda.
Ia tidak lagi melihat dirinya melalui penilaian orang lain.
Ia juga tidak membiarkan warisan Phoenix membuatnya terlalu tinggi menilai diri sendiri.
Lin Chen memahami siapa dirinya sebenarnya.
Ia hanyalah seorang pemuda biasa.
Tidak terlahir sebagai jenius.
Tidak memiliki bakat luar biasa sejak kecil.
Namun ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki banyak orang.
Ketekunan.
Kesabaran.
Dan tekad yang tidak pernah benar-benar patah.
Warisan Phoenix hanyalah alat.
Sedangkan kemampuan untuk terus melangkah adalah miliknya sendiri.
Perlahan ia mengangkat tangannya, kemudian membuka telapak tangannya ke arah langit.
Seketika nyala api merah keemasan muncul di atas telapak tangan tersebut.
Api itu berputar perlahan seperti matahari kecil yang hidup.
Angin yang berembus di puncak tebing sama sekali tidak mampu menggoyahkan nyalanya.
Api Phoenix bukanlah api biasa.
Ia memiliki kehendaknya sendiri.
Lin Chen menatap nyala itu dengan tenang.
"Delapan Phoenix yang bereinkarnasi." Suaranya terdengar pelan. Hampir tenggelam oleh hembusan angin.
"Kekuatan yang dapat mengguncang dunia."
"Klan-klan kuno."
"Istana Surgawi."
"Bahkan langit itu sendiri."
Tatapannya menjadi semakin dalam.
"Lalu ada aku." Ia tertawa kecil. Bukan karena mengejek dirinya sendiri, melainkan karena menyadari betapa anehnya keadaan yang sedang ia hadapi.
"Baru Tingkat Keempat Kebangkitan Roh."
Api di tangannya berkedip pelan, kemudian ia menutup telapak tangannya.
Nyala itu menghilang, namun kehangatannya masih tersisa.
Lin Chen tersenyum tipis.
"Dulu aku bertahan selama tujuh belas tahun di Tingkat Pertama Kebangkitan Roh."
"Kalau bisa melewati itu, seharusnya aku juga bisa melewati yang ini."
Tidak ada kesombongan dalam ucapannya, hanya keyakinan yang lahir dari pengalaman.
Perlahan ia berbalik meninggalkan tepi tebing.
Di hadapannya terbentang jalan setapak yang kembali memasuki hutan.
Jalan yang belum diketahui ujungnya.
Jalan yang akan membawanya menuju dunia yang jauh lebih luas.
Menuju delapan Phoenix yang masih tertidur.
Menuju rahasia yang tersembunyi sejak ribuan tahun lalu, dan menuju pertarungan melawan takdir yang bahkan belum dimulainya.
Warisan yang ia bawa bukan sekadar teknik kultivasi.
Warisan itu adalah sebuah janji.
Janji kepada Phoenix terakhir yang telah mempercayakan segalanya kepadanya.
Janji kepada delapan Phoenix yang tersebar di berbagai penjuru dunia.
Dan janji kepada dirinya sendiri.
Bahwa kali ini, apa pun yang menghalangi jalannya tidak akan mampu menghentikannya.
Dengan langkah mantap, Lin Chen mulai berjalan.
Satu langkah.
Lalu langkah berikutnya.
Di dalam dadanya, Api Phoenix berdenyut perlahan.
Seolah merespons tekad yang baru saja ia teguhkan.
Sementara itu, jauh di atas langit yang tidak dapat dijangkau oleh manusia biasa, tatanan dunia mulai bergetar sedikit lebih kuat dibanding sebelumnya.