Bagi semua orang, Ning Humaira adalah definisi kesempurnaan. Namun, perjodohan memaksanya berbagi ranjang dengan Gus Arsalan pria tampan berhati sedingin es yang menyisakan seluruh hatinya untuk wanita lain di London.
Tepat di malam pertama, sebuah kalimat kejam meluncur dari bibir sang Gus:
"Jangan pernah berharap saya akan mencintai kamu. Saya akan menafkahi lahirmu, tapi tidak dengan batinmu."
Satu minggu mereka terjebak dalam sandiwara; menjadi pasangan paling romantis di depan keluarga, namun menjadi dua orang asing di balik pintu kamar.
Lelah diabaikan dan hancur karena cinta suaminya yang tertinggal di luar negeri, Humaira akhirnya nekat mengambil langkah gila. Malam itu, selembar gaun tidur satin merah marun menjadi senjatanya untuk meruntuhkan keangkuhan sang suami.
Ketika harga diri seorang Ning bertabrakan dengan kewajiban, akankah taktik berani ini berhasil meruntuhkan tembok es Arsalan, atau justru membuatnya semakin menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keengganan di Balik Senyum Penurut
Matahari mulai condong ke barat, memancarkan rona jingga yang hangat di atas atap-atap gedung Pesantren sepuh Kiai Syamsuddin di Jombang kota. Angin sore berembus pelan, membawa suara sayup-sayup para santri yang mulai melantunkan pujian sebelum azan Magrib berkumandang.
Di dalam kamar lamanya yang bernuansa hijau muda, Humaira duduk terkurung dalam kesunyian. Matanya menatap kosong ke arah jendela yang terbuka. Meskipun dekapan hangat Ummi Fatimah siang tadi telah sedikit mengurai sesak di dadanya, bayang-bayang tuduhan kejam dan bentakan Gus Arsalan semalam masih berputar laksana kaset rusak di dalam ingatannya. Jiwanya terlampau lelah untuk sekadar memikirkan hari esok.
Tok, tok, tok.
Ketukan di pintu kamar membuyarkan lamunan Humaira. Suara lembut Ummi Fatimah terdengar dari balik daun pintu, membawa sebuah kabar yang seketika membuat jantung Humaira mencos.
"Nduk, Humaira... Ayo keluar sebentar, Nak. Ada suamimu, Gus Arsalan datang menjemput," panggil Ummi Fatimah dengan nada suara yang terdengar berseri-seri.
Humaira tertegun. Jemarinya yang bertumpu di atas pangkuan mendadak meremas kain gamis abu-abunya dengan kuat. 'Gus Arsalan? Untuk apa dia ke sini secepat ini?' batin Humaira bergejolak. Ada rasa takut, enggan, dan perih yang kembali mencuat ke permukaan. Namun, demi menjaga adab di depan ibunya, Humaira menarik napas panjang, menghapus sisa-sisa kecemasannya, lalu bangkit berdiri.
"Enggeh, Ummi. Humaira keluar," jawabnya selembut mungkin.
Saat Humaira melangkah kaki memasuki ruang tamu utama ndalem, pemandangan di depannya membuat langkahnya sempat tertahan sejenak. Di atas karpet beludru, Gus Arsalan sedang duduk bersila di hadapan Kiai Syamsuddin dan Ummi Fatimah.
Penampilan pria itu jauh dari kata angkuh yang biasanya melekat erat pada dirinya. Kemeja koko putih yang dikenakannya tampak sedikit kusut, wajah tegapnya terlihat sangat kuyu, dan ada lingkaran hitam yang jelas di bawah kelopak mata elangnya. Begitu menyadari kehadiran Humaira, Arsalan langsung mendongak. Sorot matanya yang biasa menatap tajam kini berubah menjadi tatapan yang sarat akan rasa bersalah, kerinduan yang terlambat, dan permohonan ampun yang teramat dalam.
Humaira berjalan dengan kepala menunduk, lalu mengambil posisi duduk di samping Ummi Fatimah, agak berjarak dari Arsalan.
"Nah, ini Humairanya sudah keluar, Le," ucap Kiai Syamsuddin dengan senyum kebapakan yang hangat. "Tadi Arsalan bilang katanya urusan di luar kota selesai lebih cepat dari perkiraan, Nduk. Makanya langsung ke sini karena ndak betah ditinggal istrimu lama-lama."
Mendengar gurauan sang Abah, Humaira hanya bisa tersenyum tipis sebuah senyuman formalitas yang hampa. Ia tahu betul itu hanyalah skenario kebohongan baru yang dibuat Arsalan demi menutupi aib mereka di depan orang tuanya.
Arsalan berdeham pelan, mencoba menguasai suaranya yang mendadak terasa tercekat di tenggorokan melihat sosok istrinya yang tampak begitu pucat dan berjarak.
"Humaira..." panggil Arsalan, suaranya melembut, bergetar menahan gejolak emosi di dalam dada. "Saya ke sini... berniat untuk menjemputmu pulang ke Al-Anwar. Umi Khadijah juga sudah kangen di rumah. Ayo, kita pulang bersama-sama sekarang, ya?"
Kalimat ajakan itu terdengar begitu tulus di telinga Kiai Syamsuddin dan Ummi Fatimah. Kedua orang tua Humaira itu mengangguk-angguk setuju, mengira bahwa putri mereka akan langsung berkemas dan mencium tangan suaminya dengan penuh rasa patuh. Selama ini, Humaira adalah definisi anak perempuan yang tidak pernah membantah, selalu mengutamakan rida orang tua, dan mutlak patuh pada institusi pernikahan.
Namun, jawaban yang keluar dari bibir Humaira sore itu justru membalikkan semua ekspektasi.
Humaira mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata Arsalan dengan pandangan yang teramat datar dan dingin sebuah tatapan kosong yang laksana bilah es menusuk jantung Arsalan.
"Nyuwun pangapunten, Gus," ucap Humaira, suaranya terdengar begitu tenang, namun memiliki ketegasan yang mutlak. "Kulo mboten saget ikut pulang sore meniko. Kulo taksih pengen wonten mriki, taksih badhe bersama Abah kaliyan Ummi Fatimah." (Mohon maaf, Gus. Saya tidak bisa ikut pulang sore ini. Saya masih ingin di sini, masih ingin bersama Abah dan Ummi Fatimah).
Deg.
Ruangan tengah ndalem seketika diselimuti oleh keheningan yang mencekam. Senyuman di wajah Ummi Fatimah perlahan memudar, digantikan oleh kernyitan dahi yang sarat akan rasa terkejut. Kiai Syamsuddin yang sedang memegang cangkir teh pun menghentikan gerakannya di udara, menatap putri semata wayangnya dengan tatapan mata yang tidak percaya.
Arsalan merasa pasokan udara di dalam dadanya mendadak lenyap. Penolakan terang-terangan dari Humaira terasa laksana hantaman palu besar yang meremukkan sisa-sisa harapannya. Ia tahu, ini adalah hukuman atas segala kebiadaban dan tuduhan kejinya semalam. Wanita di depannya ini sedang berada di titik paling lelah.
"Humaira... Tapi di rumah pondok banyak urusan yang membutuhkanmu, Nduk," sela Ummi Fatimah dengan nada suara yang sedikit mendesak, mencoba mencairkan suasana yang mendadak kaku. "Suamimu sudah jauh-jauh datang menjemput setelah lelah dari luar kota. Ndak baik menolak permintaan suami, toh? Ayo berkemas, Le Arsalan sudah nunggu."
Humaira tidak mengalihkan pandangannya. Ia meremas jemari tangan Ummi Fatimah dengan lembut, namun keputusannya tidak goyah sedikit pun. "Ummi, kulo mohon izin... kulo taksih kangen sanget kaliyan suasana mriki. Kulo taksih pengen membantu Ummi ngurus persiapan khataman di pondok sepuh. Kulo mboten badhe lama kok, namung beberapa hari saja, Gus."
Arsalan menatap Humaira dengan dada yang berdenyut ngilu laksana diiris sembilu. Di balik ketenangan wajah istrinya, Arsalan bisa membaca sebuah pesan tersirat yang teramat jelas: *Jangan paksa saya, Gus. Jiwa saya akan mati jika harus kembali ke kamar itu sekarang.*
Menyadari situasi batin istrinya yang hancur berantakan akibat ulahnya sendiri semalam, Arsalan memilih untuk mengalah demi menghargai rasa sakit hati Humaira. Namun, ia juga tidak ingin kehilangan kesempatan untuk berada di dekat istrinya guna menebus kesalahan.
"Mboten menopo, Ummi... Abah," potong Arsalan dengan cepat sebelum Ummi Fatimah kembali memprotes putrinya. Arsalan memaksakan sebuah senyuman, lalu menatap Kiai Syamsuddin dengan takzim. "Jika memang Humaira taksih betah di sini dan ingin menemani Abah serta Ummi Fatimah, Arsalan mboten keberatan. Justru... jika Abah dan Ummi mengizinkan, bolehkah Arsalan ikut menginap di sini beberapa hari? Arsalan juga ingin ikut membantu persiapan pondok sepuh sekaligus menemani Humaira."
Mendengar keputusan mendadak menantunya yang memilih ikut menginap, Kiai Syamsuddin dan Ummi Fatimah sempat saling berpandangan heran. Humaira sendiri seketika menegang di tempat duduknya, matanya membelalak kecil menatap Arsalan dengan rasa tidak percaya. Pria egois yang biasanya selalu mencari alasan untuk menghindarinya, kini justru dengan sukarela meminta izin untuk menginap di rumah orang tuanya.
"Oalah... ya tentu boleh sekali, Le," jawab Kiai Syamsuddin akhirnya, mencoba menepis rasa heran yang sempat melintas. "Ndalem selalu terbuka untukmu. Kebetulan sekali kalau kamu bisa ikut menginap, jadi Humaira ada temannya dan kamu bisa istirahat dari urusan luar kota di sini."
Setelah waktu Magrib dan makan malam bersama yang berlangsung dengan atmosfer yang cukup kaku, Humaira dan Arsalan kembali ke kamar lama Humaira. Di dalam ruangan yang tidak terlalu luas itu, ketegangan di antara keduanya kembali memuncak dalam kesunyian.
Arsalan melangkah masuk setelah menutup pintu rapat-rapat. Ia menatap Humaira yang sedang berdiri membelakanginya di dekat rak buku.
"Humaira..." panggil Arsalan lirih, suaranya sarat akan permohonan maaf. "Terima kasih sudah mengizinkan saya tinggal di sini malam ini. Saya tahu kamu masih marah, tapi tolong... beri saya kesempatan untuk memperbaiki semua retakan yang saya buat."
Humaira tidak membalikkan tubuhnya. Ia menarik napas panjang, menatap jajaran kitab di depannya dengan mata yang kembali berkaca-kaca. "Kulo mboten melarang Njenengan menginap, Gus. Njenengan berhak menjawab apa pun di depan Abah dan Ummi. Tapi kulo mohon, malam ini... biarkan kulo tenang dulu. Kulo taksih lelah."
Arsalan mengangguk pelan dengan hati yang teriris. "Iya, Humaira. Tidurlah di ranjang. Saya akan tidur di lantai menggunakan selimut tipis. Saya tidak akan mengganggumu."
Sementara itu, di ruang tengah *ndalem*, Kiai Syamsuddin dan Ummi Fatimah masih duduk bersama setelah para santri kembali ke asrama. Suasana malam terasa begitu hening, hanya terdengar detak jarum jam dinding yang berputar lambat.
"Abi..." Ummi Fatimah membuka suara dengan nada penuh kecemasan. "Ummi merasa ada yang teramat janggal dengan sikap Humaira sore tadi. Sejak kecil sampai dia menikah, Humaira itu anak yang teramat penurut. Dia ndak pernah sekalipun membantah perkataan kita, apalagi menolak secara terang-terangan permintaan suaminya untuk pulang ke rumah mereka sendiri."
Ummi Fatimah mengusap lengannya sendiri yang terasa dingin oleh firasat seorang ibu. "Menolak ajakan suami di depan orang tua itu bukan sifat Humaira, Abi. Anak itu selalu mendahulukan takzim dan rida suaminya. Dan lagi... kenapa Le Arsalan mendadak memutuskan ikut menginap di sini? Ekspresi wajah mereka berdua tadi seperti orang asing yang sedang menyimpan beban besar."
Kiai Syamsuddin mengembuskan napas panjang yang teramat berat, mengelus janggut putihnya dengan pandangan mata yang mendalam. Sebagai seorang ulama sepuh yang tajam mata batinnya, beliau menangkap adanya kejanggalan yang mutlak di antara sepasang suami istri tersebut. Ada sekat tebal tak kasat mata yang sedang memisahkan anak dan menantunya, sebuah kepalsuan yang mati-matian ditutupi dengan senyuman formalitas.
"Firasatmu ndak salah, Ummi," ucap Kiai Syamsuddin dengan suara baritonnya yang berat dan bijak. "Ada badai yang sedang menimpa rumah tangga anak kita. Humaira menolak pulang bukan karena dia tidak penurut lagi, tapi karena jiwanya sedang menahan luka yang teramat sangat hingga dia tidak sanggup lagi berpura-pura."
Beliau menatap ke arah lorong kamar lama Humaira dengan tatapan teduh namun sarat akan kekhawatiran. "Biarkan mereka di sini dulu beberapa hari. Kita pantau dari dekat. Jika retakan di antara mereka sudah terlampau membahayakan, kita sebagai orang tua wajib turun tangan untuk menanyakan kebenaran yang sesungguhnya."