NovelToon NovelToon
Si Jenius Pasar Saham

Si Jenius Pasar Saham

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

Theo, seorang bocah jenius dengan pemahaman luar biasa tentang pasar modal, lahir di keluarga yang serba kekurangan. Kehidupannya yang sederhana berbanding terbalik dengan kecemerlangannya dalam menganalisis grafik saham dan memprediksi tren pasar. Suatu ketika, sebuah kesempatan tak terduga datang saat ia menemukan sebuah buku tua berisi strategi investasi legendaris. Dengan modal nekat dan kecerdasannya yang tak tertandingi, Theo mulai merintis jalan dari nol. Ia bertekad membuktikan bahwa kecerdasan finansial dapat mengubah nasib, bahkan bagi anak dari keluarga miskin sekalipun, dan membawa keluarganya keluar dari jurang kemiskinan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Kebenaran yang Menyakitkan

Persahabatan antara Theo dan Cristal semakin erat, begitu pula ikatan antara Ibu Ratna dan Tiara. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, baik anak-anak maupun ibu mereka. Suatu sore, Tiara mengajak Ibu Ratna dan Theo untuk berkunjung ke rumahnya.

"Ayo, Bu Ratna, Theo. Mampir ke rumahku sebentar. Kita bisa minum teh sambil anak-anak bermain," ajak Tiara dengan ramah.

Ibu Ratna tersenyum. Ia merasa nyaman dengan Tiara. Selama ini, ia tidak pernah memikirkan lebih jauh tentang latar belakang Tiara. Baginya, Tiara adalah seorang ibu yang baik dan wanita yang berwawasan luas. Ia menerima ajakan itu dengan senang hati.

Sesampainya di rumah Tiara, Ibu Ratna terkesima dengan kemewahan yang terpancar di setiap sudut ruangan. Desain interior yang elegan, perabotan mahal, dan lukisan-lukisan artistik menghiasi dinding. Ia merasa sedikit canggung, karena rumahnya jauh dari kemewahan seperti ini. Namun, keramahan Tiara membuatnya merasa lebih rileks.

Saat anak-anak asyik bermain di taman belakang, Tiara mengajak Ibu Ratna duduk di ruang keluarga. Mereka melanjutkan obrolan santai, namun Ibu Ratna masih merasa ada sesuatu yang menggelitik pikirannya. Ia merasa pernah melihat kemewahan seperti ini sebelumnya, atau mungkin ia pernah mendengar tentang rumah sebesar ini.

"Rumahmu indah sekali, Tiara," puji Ibu Ratna tulus. "Pasti sangat nyaman tinggal di sini."

Tiara tersenyum, namun ada sedikit nada sedih dalam matanya. "Terima kasih, Bu Ratna. Ini rumah yang besar, tapi kadang terasa sepi." Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Suami saya, Rendra, yang membangun semua ini."

Seketika, dunia Ibu Ratna seakan berhenti berputar. Nama "Rendra" menghantamnya seperti palu godam. Rendra. Pria yang telah menghancurkan hidup Baskara, suaminya.

...****************...

Seketika, dunia Ibu Ratna seakan berhenti berputar. Nama "Rendra" menghantamnya seperti palu godam. Rendra. Pria yang telah menghancurkan hidup Baskara, suaminya. Pria yang menjadi penyebab kehancuran finansial keluarga mereka, yang membuat Baskara terpuruk dalam kesedihan dan kehilangan semangat hidup. Jantung Ibu Ratna berdebar kencang, tangannya sedikit gemetar. Ia harus bersikap tenang. Jika Tiara tahu siapa dirinya dan hubungannya dengan Baskara, situasinya bisa menjadi sangat rumit dan menyakitkan.

Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan keterkejutannya. "Rendra... suami Anda?" tanyanya, berusaha agar suaranya terdengar datar dan tidak menunjukkan emosi yang bergejolak di dalam dirinya.

Tiara mengangguk, matanya kini terlihat lebih muram. "Iya, Bu Ratna. Rendra. Dia memang bekerja keras untuk membangun semua ini. Tapi..." Tiara menghela napas panjang. "Dia sangat jarang di rumah. Pekerjaannya selalu menyita waktunya. Kadang berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, ia tidak pulang. Kami jarang sekali bisa menghabiskan waktu bersama sebagai keluarga."

Ibu Ratna mendengarkan dengan seksama, mencoba memproses informasi baru ini. Di satu sisi, ia merasa dendam yang mendalam terhadap Rendra. Di sisi lain, ia melihat Tiara, seorang wanita yang tampaknya juga merasakan kehilangan dan kesepian karena suaminya yang jarang pulang. Ia melihat Cristal yang bermain riang di taman, tidak menyadari kompleksitas hubungan orang tuanya.

"Begitu ya..." gumam Ibu Ratna, berusaha mencari kata-kata yang tepat. Ia tidak bisa menunjukkan rasa bencinya. Ia harus tetap menjaga sikap. "Pasti berat ya, Tiara, harus menghadapi itu sendirian."

Tiara tersenyum getir. "Ya, begitulah. Tapi demi Cristal, saya harus kuat. Saya hanya berharap Rendra bisa lebih memperhatikan kami."

...****************...

Saat Ibu Ratna dan Tiara sedang tenggelam dalam percakapan yang penuh dengan kehangatan namun juga terselip kesedihan, suara mobil mewah terdengar mendekat dari luar. Tak lama kemudian, pintu garasi terbuka dan sebuah sedan hitam mengkilap memasuki halaman.

"Ayah pulang!" seru Cristal dengan riang. Tanpa menunggu lama, ia berlari kecil meninggalkan taman belakang, menuju teras depan untuk menyambut kedatangan ayahnya.

Theo, yang sedang asyik mengamati serangga di dekat Ibu Ratna, menoleh ke arah suara mobil. Ia melihat Cristal berlari menyambut seseorang. Ia kemudian kembali duduk di samping ibunya, merasakan sedikit kelegaan karena ia tidak perlu lagi berpura-pura tidak tahu apa-apa.

Tiara tersenyum melihat putrinya berlari menyambut suaminya. "Ah, Rendra sudah pulang," katanya pada Ibu Ratna, suaranya terdengar sedikit lega. "Mari saya perkenalkan Anda dengan suami saya."

Namun, sebelum Tiara sempat bangkit, pintu depan rumah terbuka dan seorang pria tegap dengan setelan jas mahal melangkah masuk. Pria itu adalah Rendra. Wajahnya yang tampan terlihat sedikit lelah, namun matanya memancarkan aura kekuasaan dan kepercayaan diri.

Saat pandangannya menyapu ruang tamu, tatapannya tertuju pada Ibu Ratna yang sedang duduk di sofa. Seketika, senyum di wajah Rendra memudar. Matanya melebar sedikit, menunjukkan keterkejutan yang luar biasa. Ia seperti melihat hantu. Ekspresi wajahnya berubah drastis dari kelelahan menjadi tegang, bahkan sedikit pucat.

Di sisi lain, Ibu Ratna merasakan hawa dingin merayap di sekujur tubuhnya. Ia mengenali pria itu. Rendra. Pria yang menghancurkan hidup suaminya. Jantungnya berdegup kencang, namun ia berusaha keras untuk tetap tenang. Ia menatap Rendra dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara kebencian yang terpendam dan kewaspadaan yang tinggi.

...****************...

Rendra, yang masih terpaku di ambang pintu, perlahan menarik napas. Ia berusaha menguasai diri, membuang jauh-jauh keterkejutan yang mendadak menyerangnya. Ia memaksakan sebuah senyum yang terlihat kaku dan dipaksakan di bibirnya.

"Ratna?" sapanya, suaranya terdengar sedikit serak, seolah ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ada nada keheranan yang jelas dalam suaranya, namun juga terselip sesuatu yang lain, sesuatu yang sulit diartikan—mungkin rasa bersalah, atau mungkin justru rasa superioritas.

Ibu Ratna membalas sapaan itu dengan anggukan kepala yang singkat. Ia tidak ingin mengeluarkan sepatah kata pun yang bisa mengkhianati perasaannya. Ia hanya menatap Rendra, membiarkan tatapannya berbicara.

Tiara, yang berdiri di samping Ibu Ratna, mengerutkan keningnya. Ia merasakan perubahan suasana yang mendadak. Senyum Rendra yang tadi terlihat ramah saat menyambut Cristal, kini menghilang digantikan oleh ekspresi yang asing ketika melihat Ibu Ratna. Ada sesuatu yang tidak beres.

"Kalian saling kenal?" tanya Tiara, suaranya terdengar bingung dan sedikit waspada. Ia menatap bergantian antara suaminya dan tamu mereka. "Bu Ratna, Anda kenal Rendra?"

Suasana menjadi canggung seketika. Hening yang tercipta terasa berat, dipenuhi oleh ketegangan yang tak terucapkan. Rendra tidak segera menjawab pertanyaan Tiara. Ia masih menatap Ibu Ratna, seolah mencoba membaca pikirannya. Ibu Ratna pun tetap diam, membiarkan Rendra yang berada dalam posisi yang lebih sulit untuk menjelaskan.

Crisal, yang tadi berlari menyambut ayahnya, kini berdiri di dekat Rendra, merasakan keanehan dalam interaksi orang dewasa itu. Ia melihat ekspresi ayahnya yang berubah drastis, dan tatapan ibunya yang penuh tanya.

...****************...

Rendra akhirnya memecah keheningan, namun jawabannya tidak sepenuhnya menjawab rasa penasaran Tiara. "Ya, kami pernah bertemu sebelumnya," katanya, suaranya terdengar sedikit lebih terkontrol sekarang. Ia berusaha tersenyum pada Tiara, senyum yang lebih meyakinkan daripada yang tadi. "Dulu sekali, saat saya masih mengurus beberapa proyek di luar kota. Mungkin Bu Ratna juga sedang ada urusan di sana."

Tiara mengangguk, merasa sedikit lega mendengar penjelasan Rendra. Meskipun terdengar agak samar, setidaknya mereka tidak saling mengenal secara mendalam. Ia tidak ingin ada orang asing yang memiliki hubungan rumit dengan suaminya. "Oh, begitu," ucapnya, berusaha terdengar santai. "Kalau begitu, senang sekali bisa bertemu lagi, Bu Ratna. Kami jarang sekali kedatangan tamu, apalagi teman lama Rendra."

Namun, di balik senyumnya, Tiara masih merasakan sedikit kejanggalan. Ada sesuatu dalam cara Rendra menatap Ibu Ratna, dan cara Ibu Ratna membalas tatapan itu, yang terasa lebih dari sekadar pertemuan kebetulan.

Ibu Ratna, yang sejak tadi menahan gejolak emosinya, merasa ini adalah saat yang tepat untuk segera pergi. Ia tidak bisa berlama-lama di tempat ini, di hadapan pria yang telah menghancurkan hidup suaminya. Ia merasa perlu waktu untuk memproses semua ini, dan ia tidak ingin Theo terpapar pada ketegangan yang semakin terasa di udara.

"Terima kasih banyak atas undangannya, Tiara," ujar Ibu Ratna, bangkit dari sofa dengan sedikit tergesa. Ia menarik tangan Theo yang masih berdiri di dekatnya. "Maaf sekali, kami harus segera pulang. Saya belum menyiapkan makanan di rumah, dan Theo pasti sudah lapar."

Theo menatap ibunya, lalu pada Cristal yang tampak sedikit kecewa melihat mereka pergi. Ia mengerti ibunya ingin segera pulang.

Tiara terlihat sedikit kecewa karena tamu mereka harus segera pergi. "Oh, begitu ya? Sayang sekali," katanya. "Baiklah, tidak apa-apa..

...****************...

... "Baiklah, tidak apa-apa," ujar Tiara sambil mengantar mereka ke pintu. "Lain kali datang lagi ya, Bu Ratna. Kami akan senang sekali jika bisa berbincang lebih lama." Ia tersenyum tulus pada Ibu Ratna.

Ibu Ratna membalas senyum Tiara, namun di dalam hatinya, ia tahu bahwa kunjungan ini akan menjadi yang terakhir kalinya, setidaknya untuk saat ini. Ia menggenggam tangan Theo lebih erat. "Tentu, Tiara. Terima kasih banyak atas keramahannya."

Rendra berdiri di belakang Tiara, memperhatikan kepergian Ibu Ratna dan Theo. Senyum liciknya kembali muncul, namun kali ini lebih tersembunyi, hanya terlihat di sudut matanya. Ia tahu bahwa pertemuan ini bukanlah kebetulan. Ia tahu bahwa Ibu Ratna pasti mengenali dirinya, dan ia bisa merasakan tatapan penuh kebencian yang tersembunyi di balik kesopanan wanita itu.

Saat pintu tertutup di belakang mereka, Ibu Ratna menarik napas dalam-dalam, merasakan beban yang sedikit terangkat dari dadanya. Ia melirik Theo yang berjalan di sampingnya, wajahnya masih menyimpan sedikit rasa ingin tahu tentang apa yang baru saja terjadi.

"Theo, sayang," kata Ibu Ratna lembut, berusaha mengembalikan suasana ceria. "Bagaimana kalau kita mampir ke toko roti favoritmu sebentar? Ibu akan belikan kue kesukaanmu."

Theo tersenyum lebar, kegelisahan di wajahnya sedikit terhapus. "Boleh, Bu!" serunya riang.

Sementara itu, di dalam rumah mewah itu, Rendra menoleh pada Tiara. "Siapa wanita itu tadi, Sayang?" tanyanya, nadanya terdengar santai, namun matanya menyimpan kilatan yang sulit diartikan.

Tiara menjawab, "Oh, itu Bu Ratna. Dia teman baruku. Ternyata dia juga kenal kamu, Rendra. Katanya pernah bertemu dulu sekali."

1
Tosari Agung
hati hati Rendra Theo dan anakmu yang belum tentu di pihakmu akan membuat serangan saham yang menukik 🤣🤣🤣🤣🤣
Rahul: aman, author akan membuat cerita semenarik mungkin🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!