Pewaris Pedang Samudera yang memilih berlayar ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Lantas bagaimana cara dia untuk memanfaatkan pusaka legendaris itu dan mewujudkan perdamaian di Shenzhou jika dia sendiri adalah sampah yang dimanjakan ibu dan kakak perempuannya?
"Ibuku memberiku segalanya kecuali kebebasan. Kakakku memberiku perlindungan meski aku tidak memintanya. Sementara Ayahku memberiku mimpi yang membuatku terus berjalan meski semua orang berkata untuk berhenti. Aku adalah orang paling beruntung sekaligus paling terkekang di dunia."
Novel Xianxia baru dari Dana Brekker, bisa langsung baca aja. Tinggalkan like, vote, dan komentarnya kalau suka. Terima kasih!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 : TRAUMA
Ruang pribadi Qinghan di dalam kapal tidak punya banyak barang selain tempat tidur yang rapi dengan selimut terlipat di sudutnya. Satu meja dengan peta yang sudah digulung kembali. Dinding tanpa hiasan. Lantai tanpa karpet. Ruangan yang mencerminkan penghuninya dengan sangat akurat, bersih, tertib, disiplin dan tidak menyisakan ruang untuk hal-hal yang tidak perlu.
Malam itu, ada dua hal yang tidak biasa di dalamnya.
Hua Ling duduk di lantai di samping Renoa yang meringkuk di sudut dekat dinding, tangannya mengusap lembut rambut di antara dua telinga kucing gadis itu dari atas ke bawah. Renoa tidak menolak sentuhan itu, tapi tubuhnya tidak sepenuhnya rileks, dan telinga runcing di atas kepalanya bergerak ke arah setiap suara yang masuk dari luar ruangan.
Mungkin itu karena Panglima Perang Qinghan berdiri di depan sudut itu dengan tangan terlipat. "Kalung itu dari mana?"
Jelas bukan pertanyaan yang ramah, tapi bukan pertanyaan yang kasar juga, hanya pertanyaan yang tidak membungkus dirinya dengan basa-basi.
Renoa tidak menjawab sedari tadi. Tatapannya justru ke lantai.
"Kak." Haifeng memilih berdiri di sisi ruangan yang berbeda dari kakaknya, cukup jauh dari sudut tempat Renoa duduk untuk tidak terasa mengurung. "Kita bukan ancaman."
"Kita perlu informasi," kata Qinghan.
"Informasi tidak bisa dipaksa keluar."
Qinghan menatapnya sebentar dengan ekspresi yang mempertimbangkan apakah argumen itu layak didebatkan, lalu kembali diam.
Lantas Haifeng berjongkok, masih di posisinya yang jauh dari sudut itu. "Hei." Suaranya jauh lebih pelan dari cara dia biasanya berbicara. "Aku tahu ini tidak mudah. Aku tahu kau tidak punya alasan untuk mempercayai siapa pun malam ini. Tapi bisakah kau ceritakan satu hal saja dulu? Contohnya seperti namamu."
Seperti yang Haifeng duga, tidak ada jawaban selama beberapa hitungan. Sebelum akhirnya muncul juga dengan begitu lirih, "Renoa."
Haifeng tersenyum dengan cara yang tidak memaksa siapa pun untuk membalasnya. "Renoa... Nama yang bagus." Dia tidak bergerak lebih dekat. "Aku Haifeng. Yang di sampingmu Hua Ling, dia tabib, dia tidak akan menyakitimu. Lalu yang berdiri di sana," dia menunjuk ke arah kakaknya, "itu kakakku, Qinghan. Kami anak-anak Wei Changsong dari Long Yuan, jadi kami tidak akan menyakitimu."
Reaksi yang muncul sesudahnya tidak ada dalam perhitungan siapa pun di ruangan itu.
Terlihat jelas bagaimana cara Renoa berteriak dan bergerak ke sudut paling jauh dari sudut yang sudah dipilihnya, kaki mendorong dirinya ke belakang sampai punggungnya membentur dinding dengan tangan menutupi wajahnya.
Hua Ling pun bergerak mengikutinya dan memeluknya dari samping. "Hei, hei. Tidak apa-apa. Tidak ada yang akan menyakitimu."
Di saat yang sama, tangan Qinghan mendarat di pundak adiknya. "Biarkan dulu."
Haifeng tidak bergerak selain menatap Renoa yang masih bergetar ketakutan di sudut itu, suara tangisannya terdengar di antara deri kapal yang bergoyang pelan di pelabuhan.
Kendati demikian, dia tidak mundur.
Setelah beberapa menit, ketika suara itu mereda menjadi tarikan napas yang tidak teratur, Haifeng perlahan mendekati sudut itu dan berjongkok di depan Renoa pada jarak yang masih cukup jauh.
"Lihat? Kami tidak akan menyakitimu," katanya. "Aku berjanji. Tapi kalau kau tidak mau bercerita, aku juga tidak tahu cara membantumu. Dan aku sangat ingin membantu."
Renoa mengangkat wajahnya dari tangan yang menutupinya, matanya merah, dan di dalamnya ada sesuatu yang lebih berat dari sekadar ketakutan malam ini. Sesuatu yang sudah lama tinggal di sana.
"Aku tidak butuh bantuan," katanya tidak marah. Hanya sangat lelah. "Aku hanya ingin mati."
"Haifeng." Suara itu keluar sebelum adiknya melangkah lebih jauh.
"Aku tahu," kata Haifeng tanpa menoleh. "Tapi aku tetap di sini."
Renoa menatapnya sebelum menatap Hua Ling yang masih ada di sisinya dan kembali ke Haifeng.
"Kekaisaran Long Yuan," katanya lebih tegas. "Long Yuan dan Kerajaan Tengkorak Hitam. Dua perkumpulan iblis yang datang ke pulau kami. Yang membunuh semua orang keturunan Yao Ren yang tidak bisa berlari, dan memperbudak yang tersisa." Tangannya mengepal di pangkuannya. "Sementara Wei Changsong yang memimpin semua kekejaman itu."
Haifeng membuka mulutnya.
"Ayah kami tidak—" Kalimat itu berhenti di tengahnya sebelum Haifeng menutup mulutnya sendiri.
Adapun Renoa sudah berbalik ke dinding.
Setelah interaksi nan melelahkan itu, lorong kapal jadi terasa lebih sempit dari biasanya.
"Ayah tidak mungkin melakukan itu," kata Haifeng saat berdiri di luar ruangan sebelumnya. "Kita tahu seperti apa Ayah. Dia angkuh, dia keras kepala, dia tidak mau menerima bantuan siapa pun. Tapi dia bukan iblis ataupun seorang penjahat."
Qinghan tidak langsung menjawab. Tangannya masuk ke dalam lipatan bajunya dan mengeluarkan sebuah gulungan. "Ini dari orang-orang yang aku temui hari ini di kota, saat kau di gang itu." Dia menyerahkan gulungan itu. "Itu catatan dari beberapa pedagang senior dan satu navigator yang sudah berlayar di lautan ini tiga puluh tahun. Kebetulan mereka memang sempat menyebut nama Long Yuan, termasuk Wei Changsong."
Haifeng mengambil gulungan itu dan matanya bergerak lincah di atas tulisannya. Kemudian mengangkat wajahnya dan menatap kakaknya langsung.
Qinghan membalasnya dengan tatapan yang sudah terlalu sering melatih dirinya untuk tidak menunjukkan apa yang ada di baliknya. "Dengarkan dulu sebelum menyimpulkan."
"Aku mendengarkan."
"Mereka bilang Long Yuan." Qinghan melipat tangannya. "Tapi kita tahu armada laut Long Yuan tidak pernah punya kekuatan untuk beroperasi di wilayah ini. Sejak Ayah meninggal, tidak ada ekspedisi Long Yuan yang sampai sejauh ini. Bahkan sebelum Ayah meninggal, ekspedisi resmi kita hanya sampai ke batas perairan tengah. Yang artinya, nama Long Yuan yang disebut orang-orang ini bukan Long Yuan yang sama."
Haifeng menatap gulungan itu lagi. "Jadi maksud Kakak... seseorang menggunakan nama itu?"
"Seseorang menggunakan nama Ayah secara spesifik." Qinghan mengambil gulungan itu kembali. "Kerajaan Tengkorak Hitam butuh nama yang menakutkan dan sudah dikenal untuk memudahkan operasi mereka. Nama Wei Changsong di lautan ini punya bobot yang tidak perlu mereka bangun dari nol."
Lantas Haifeng berpikir seribu kali lipat lebih cepat. Dalam catatan-catatan tua yang pernah dibacanya tentang taktik militer laut, ada satu bab tentang penggunaan nama dan reputasi sebagai senjata psikologis. Musuh yang sudah dikenal lebih ditakuti daripada musuh baru yang belum punya nama, dan nama yang paling efektif adalah nama yang sudah punya buktinya sendiri.
Nama Wei Changsong di lautan punya bukti yang sangat nyata.
"Wei Changsong palsu," guman Haifeng. "Mungkin masih beroperasi sampai sekarang."
"Atau orang yang mengklaim sebagai dirinya," imbuh Qinghan. "Yang lebih mengkhawatirkan."
Keduanya berdiri dalam lorong yang hanya diterangi lampu minyak di dindingnya, membiarkan kesimpulan itu duduk di antara mereka cukup lama untuk dipahami dari semua sudutnya.
"Tidurlah," kata Qinghan setelah sekian lama mereka bertukar pemikiran.
"Aku tidak mengantuk."
"Adikku, jangan ngeyel."
Haifeng mendesah pendek. "Tianbao dan yang lain jadi menginap di kota?"
"Iya,” jawab Qinghan. "Chen Mo juga ikut setelah menyerahkan budak-budak yang diselamatkan ke pihak berwajib. Selain itu juga untuk memastikan sahabatmu tidak mabuk-mabukan dan tidak bermain dengan wanita sembarangan."
Haifeng mengangguk satu kali. "Oh, baguslah." Ia berbalik untuk pergi namun berhenti saat suara Qinghan terdengar lagi dari belakangnya.
"Kenapa kau membeli gadis itu?"
Haifeng berdiri di tempat dengan punggung masih ke arah kakaknya. "Chen Mo yang membebaskan sisanya."
"Aku tanya kenapa kau beli gadis itu."
"Karena Chen Mo—"
"Haifeng."
Haifeng menoleh setengah badan. "Karena aku tidak bisa melewati gang itu dan berpura-pura tidak melihat." Kalimatnya keluar tanpa ornamen. "Itu saja."
Qinghan menatapnya dari ujung lorong itu saat Haifeng melanjutkan langkahnya. “Cepat sekali dia dewasa, ibu pasti tidak akan suka mendengar hal ini.”