NovelToon NovelToon
Si Jenius Pasar Saham

Si Jenius Pasar Saham

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

Theo, seorang bocah jenius dengan pemahaman luar biasa tentang pasar modal, lahir di keluarga yang serba kekurangan. Kehidupannya yang sederhana berbanding terbalik dengan kecemerlangannya dalam menganalisis grafik saham dan memprediksi tren pasar. Suatu ketika, sebuah kesempatan tak terduga datang saat ia menemukan sebuah buku tua berisi strategi investasi legendaris. Dengan modal nekat dan kecerdasannya yang tak tertandingi, Theo mulai merintis jalan dari nol. Ia bertekad membuktikan bahwa kecerdasan finansial dapat mengubah nasib, bahkan bagi anak dari keluarga miskin sekalipun, dan membawa keluarganya keluar dari jurang kemiskinan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Percakapan di Taman Sekolah

Theo melangkah mendekat ke bangku taman tempat Elsa duduk. Ia melihat Elsa menatapnya, senyum kecil tersungging di bibirnya. Theo membalas senyum itu, lalu duduk di samping Elsa. Suasana taman sekolah yang tenang dan rindang terasa sangat berbeda dengan keramaian acara amal semalam.

"Hai," sapa Theo, sedikit gugup.

"Hai, Theo," jawab Elsa, suaranya lembut. Ia memainkan ujung bajunya, tampak sedikit ragu untuk memulai percakapan.

"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Theo, mencoba memecah keheningan. Ia penasaran, apa gerangan yang membuat Elsa ingin bertemu dengannya secara khusus.

Elsa menarik napas panjang. "Begini," mulainya, "aku ingin berterima kasih padamu lagi."

Theo mengerutkan kening. "Berterima kasih untuk apa? Aku kan tidak melakukan apa-apa."

"Tentu saja kau melakukan sesuatu," sahut Elsa. "Saat di perpustakaan tempo hari, kau sangat baik padaku. Dan semalam, kau juga membantuku dan juga ibuku. Kau berbeda dari kebanyakan anak di sini, Theo. Kau perhatian." Wajah Elsa sedikit merona saat mengatakannya.

Theo merasa sedikit malu mendengar pujian itu. Ia tidak menyangka Elsa mengingat kejadian di perpustakaan dengan begitu jelas, apalagi menganggapnya sebagai sesuatu yang istimewa. "Ah, itu bukan apa-apa, Elsa. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan."

"Tapi tidak semua orang melakukannya," balas Elsa. "Di Glory School, kebanyakan orang terlalu sibuk dengan diri mereka sendiri. Kau membuatku merasa nyaman." Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Aku... aku merasa sedikit kesepian di sini kadang-kadang. Meskipun aku punya banyak teman, tapi rasanya sulit untuk benar-benar terhubung."

Theo mendengarkan dengan saksama. Ia bisa merasakan kejujuran dalam ucapan Elsa. Ia sendiri juga terkadang merasa demikian, meskipun ia berusaha keras untuk beradaptasi.

"Aku mengerti," kata Theo

...****************...

Theo mendengarkan dengan saksama. Ia bisa merasakan kejujuran dalam ucapan Elsa. Ia sendiri juga terkadang merasa demikian, meskipun ia berusaha keras untuk beradaptasi.

"Aku mengerti," kata Theo. "Meskipun aku baru di sini, aku juga merasakan hal yang sama. Terkadang rasanya semua orang terlalu fokus pada pencapaian mereka sendiri."

Elsa mengangguk setuju. "Ya. Tapi setidaknya sekarang aku tahu ada seseorang yang bisa diajak bicara, seseorang yang mau mendengarkan." Ia tersenyum tulus pada Theo.

Percakapan mereka berlanjut, mengalir lebih lancar dari yang mereka bayangkan. Mereka mulai bercerita tentang kehidupan masing-masing. Elsa menceritakan bahwa ayahnya adalah seorang politikus terkemuka di negeri ini. Ia sering bepergian untuk urusan pekerjaan, dan Elsa seringkali merasa harus mandiri sejak kecil. Ia juga menceritakan tentang tekanan yang ia rasakan untuk selalu berprestasi dan menjaga nama baik keluarga.

"Kadang rasanya seperti aku hidup dalam bayangan ayahku," ujar Elsa dengan nada sedikit sedih. "Semua orang mengenalnya, dan aku merasa harus selalu sempurna agar tidak mengecewakannya."

Theo mendengarkan dengan penuh empati. Ia bisa membayangkan betapa beratnya beban yang dipikul Elsa. Ia kemudian mulai bercerita tentang dirinya. Ia menceritakan tentang ibunya yang bekerja keras untuk membiayai sekolahnya, dan tentang keinginannya untuk membuat ibunya bangga.

"Aku hanya ingin membuktikan pada Ibu bahwa semua kerja kerasnya tidak sia-sia," kata Theo. "Dan aku juga ingin membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku bisa bersaing di sekolah sebagus ini."

Elsa mendengarkan cerita Theo dengan penuh perhatian. Ia melihat ketulusan dan tekad yang kuat di mata Theo. Ia merasa kagum dengan semangat Theo, dan juga tersentuh oleh cerita tentang ibunya.

...****************...

Elsa mendengarkan cerita Theo dengan penuh perhatian. Ia melihat ketulusan dan tekad yang kuat di mata Theo. Ia merasa kagum dengan semangat Theo, dan juga tersentuh oleh cerita tentang ibunya.

"Tapi untunglah ayahku tidak melarang hobi-hobiku seperti bermain biola dan menulis," kata Elsa, senyumnya sedikit mengembang. "Meskipun memang, seperti yang kubilang tadi, semuanya harus dituntut sempurna." Ia menghela napas pelan, ada sedikit keraguan dalam suaranya.

Theo memperhatikan ekspresi Elsa. Ia bisa merasakan bahwa di balik semua kesempurnaan yang dituntut, ada beban yang dirasakan Elsa. Tiba-tiba, sebuah ide muncul di benaknya.

"Hei," panggil Theo, menatap Elsa dengan sorot mata berbinar. "Bagaimana kalau kita belajar bersama? Dan bersaing secara sehat untuk meraih peringkat pertama di sekolah ini?" Tantang Theo, nadanya penuh semangat.

Elsa terkejut mendengar tantangan itu. Ia menatap Theo, matanya sedikit menyipit, namun ada kilatan geli di sana. "Hei," balas Elsa, senyumnya melebar, "aku orangnya tidak bisa ditantang, lho. Sekalipun itu kau!" Ucapnya sambil tertawa kecil.

Theo ikut tertawa mendengar jawaban Elsa. Tawa mereka berpadu, mengisi udara taman sekolah yang tenang. Perasaan canggung yang sempat ada di antara mereka kini benar-benar hilang, digantikan oleh kehangatan persahabatan yang baru saja bersemi.

"Baiklah, kalau begitu kita lihat saja nanti siapa yang akan meraih peringkat pertama," balas Theo, masih dengan senyum di wajahnya.

"Siap!" sahut Elsa, matanya berbinar penuh semangat.

Mereka melanjutkan obrolan, kini terasa lebih santai dan akrab. Percakapan tentang pelajaran, hobi, dan impian masa depan mengalir begitu saja. Theo dan Elsa menyadari bahwa meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda, mereka memiliki banyak kesamaan, terutama dalam hal ambisi dan keinginan untuk membuktikan diri

...****************...

Bel masuk berbunyi, menandakan waktu istirahat telah usai dan pelajaran akan segera dimulai. Theo dan Elsa saling berpandangan, senyum masih terukir di wajah mereka.

"Sepertinya kita harus kembali ke kelas," ujar Theo.

"Ya," sahut Elsa. "Sampai jumpa lagi, Theo."

"Sampai jumpa, Elsa," balas Theo.

Mereka pun berpisah, kembali ke kelas masing-masing.

Di kelas Theo, pelajaran ekonomi dasar pun dimulai. Meskipun Theo sudah memahami materi ini di luar sekolah, ia menyadari bahwa cara pengajaran di Glory School terasa berbeda. Ia merasa semua murid di kelasnya memiliki pemahaman yang setara dengannya, seolah mereka semua adalah siswa-siswa pilihan yang sudah terbiasa dengan materi-materi lanjutan.

Setiap kali guru mengajukan pertanyaan, hampir seluruh murid di kelasnya mengangkat tangan untuk menjawab. Termasuk Theo, yang dengan percaya diri memberikan jawaban yang tepat. 'Ini benar-benar sekolah elit,' pikir Theo dalam hati, mengagumi standar akademis yang tinggi di tempat ini.

Hal yang sama pun terjadi di kelas Elsa. Para siswi di kelasnya juga menunjukkan tingkat pemahaman yang luar biasa, membuat suasana belajar terasa sangat dinamis dan kompetitif.

...****************...

Di waktu yang sama, di sebuah sekolah internasional yang megah, tempat Cristal, putri dari konglomerat ternama Rendra, bersekolah, suasana juga tengah ramai.

Di taman sekolah yang asri, Cristal sedang asyik berbincang dengan salah satu temannya. Percakapan mereka mengalir lancar dalam bahasa Inggris, membahas berbagai topik yang menarik minat mereka. Setelah temannya berpamitan dan pergi, Cristal kembali tenggelam dalam pikirannya. Ia merenung, mengingat kembali kenangan bersama Theo dua tahun lalu. Senyum tipis terukir di bibirnya saat ia mengingat kebaikan dan keceriaan Theo.

"Dia bersekolah di mana ya sekarang?" tanya Cristal dalam hati, rasa penasaran mulai menggelitiknya. Sejak kejadian di rumahnya dua tahun lalu, ayahnya, Tuan Rendra, melarang Cristal untuk berteman lagi dengan Theo. Tuan Rendra memiliki pandangan yang berbeda mengenai pergaulan putrinya, dan ia merasa pertemanan dengan Theo tidak sesuai dengan citra keluarga mereka. Larangan itu membuat Cristal harus menjauhi Theo, meskipun ia sendiri tidak sepenuhnya mengerti alasannya. Kini, tanpa ada kabar, Cristal hanya bisa bertanya-tanya dalam hati tentang keberadaan Theo.

1
Tosari Agung
hati hati Rendra Theo dan anakmu yang belum tentu di pihakmu akan membuat serangan saham yang menukik 🤣🤣🤣🤣🤣
Rahul: aman, author akan membuat cerita semenarik mungkin🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!