NovelToon NovelToon
Sumpah Pengawal Kuno

Sumpah Pengawal Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mamah Nissa

Gugur dalam tragedi berdarah di abad ke-14, jiwa Nyai Kencana—kesatria wanita Kerajaan Sunda—terlempar ke masa modern. Ia merasuki raga Citra, mahasiswi beasiswa yang nekat melompat dari jembatan demi menjaga kehormatannya dari jebakan pemerkosaan.
​Kini, Citra bangkit dengan kepribadian baru: dingin, tegap, dan menguasai ilmu kanuragan kuno. Tidak ada lagi Citra lemah yang bisa ditindas!
​Perubahan drastis Citra membuat Elang Dirgantara, pewaris tunggal konglomerat yang angkuh dan sombong, penasaran sekaligus jengkel. Hubungan mereka layaknya anjing dan kucing yang selalu bergesek konflik.
​Namun, roda takdir berputar. Keluarga Elang bangkrut total dalam semalam. Diusir, dikhianati teman-temannya, dan nyaris bunuh diri.
Bagaimana kisahnya baca terus novelnya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Nissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Double Date yang Gagal

Kalimat penuh kiasan yang meluncur dari bibir ranum Citra Kencana laksana sebuah mantra pengunci yang membekukan seluruh persendian Elang. Mantan pangeran kampus itu berdiri mematung selama beberapa detik, mencerna setiap jengkal diksi puitis yang terasa terlalu berat untuk diucapkan oleh seorang mahasiswi modern.

Sebelum Elang sempat membalas atau melontarkan pembelaan demi menjaga sisa egonya, Surya sudah melangkah gesit meninggalkan area gerobak kayu. Dengan selembar kain lap kusam tersampir di pundak dan senyuman lebar yang memamerkan deretan giginya, pemuda asal Malang itu langsung menjatuhkan diri untuk ikut duduk bersila di atas tikar lesehan, tepat di samping Kirana.

"Waduh, waduh... Mbak Citra kalau dawuh kok ngeri men toh, Rek. Bobote kayak dengerin ceramah sesepuh keraton," celetuk Surya, memotong ketegangan dengan gaya santai yang tanpa beban. Ia menoleh ke arah Kirana, lalu mengedipkan sebelah matanya dengan percaya diri yang kelewat batas. "Tapi gak apa-apa, mumpung angkringan agak senggang karena ronda malam belum lewat, abang penjual siomay sing paling ganteng se-Jawa Timur ini mau menemani para pelanggan VIP. Khusus buat Mbak Kirana, tak kasih servis bintang lima plus senyuman manis tanpa pemanis buatan."

Kirana yang sedang bersiap mengunyah sepotong sate telur puyuh mendadak menghentikan gerakannya. Ia menatap Surya dari ujung rambut kribo tipisnya hingga ke sandal gunungnya dengan ekspresi wajah yang sangat sarkastik.

"Servis bintang lima dengkulmu anjlok!" cibir Kirana ceplas-ceplos, sengaja menggeser posisi duduknya dua jengkal menjauh dari Surya. "Heh, tembakau Malang! Gak usah sok manis ya lo di sini. Bau asap arang lo itu loh, lebih pekat daripada masa depan lo kalau gagal lulus semester ini. Gak usah tebar pesona, gak mempan!"

Surya justru memegangi dadanya dengan ekspresi dramatis, seolah-olah kata-kata ketus Kirana adalah anak panah yang menembus jantungnya. "Aduh, Mbak... tusukan katamu itu lho, lebih perih daripada cipratan minyak panas di wajan. Tapi gak apa-apa, pepatah Malang mengatakan: makin galak manusianya, makin legit rasanya kalau sudah sah di pelaminan. Ya toh, Elang?" Surya mendongak, lalu menarik ujung celemek kain yang dikenakan Elang dengan paksa. "Ayo, Lang! Ndak usah kaku kayak pocong yang lagi viral. Duduk sini ikut nimbrung, mumpung ada es teh gratis."

Dengan posisi yang teramat canggung dan pergolakan batin yang luar biasa berat, Elang akhirnya terpaksa ikut duduk bersila di sudut meja kayu pendek, berhadapan langsung dengan Citra.

Kehadiran empat remaja di atas tikar lesehan itu mendadak menciptakan sebuah atmosfer ganjil, sebuah ilusi double date dadakan yang gagal total sejak detik pertama karena perbedaan kasta sosial yang telah runtuh berantakan.

Kontras dengan keributan penuh komedi segar yang ditunjukkan oleh Surya dan Kirana, suasana di belahan meja antara Elang dan Citra justru merosot menjadi sebuah kesunyian yang luar biasa intens dan mencekam. Elang menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya yang kusut di balik bayangan lampu minyak angkringan yang remang.

Jemarinya yang kaku bergerak kikuk, membolak-balik tusuk sate usus yang tersisa di atas piring plastik dengan ritme yang tidak beraturan, murni untuk mengalihkan rasa canggung yang meremukkan batinnya.

Ia merasa teramat tidak nyaman karena dari sudut matanya, ia tahu sepasang mata bulat milik Citra sedang mengawasinya secara konstan. Tatapan Citra begitu tenang, datar, menyelidik, dan sarat akan wibawa purba yang seolah mampu menembus setiap lapisan pertahanan psikologisnya.

Gengsi Elang yang masih tersisa di dasar batinnya mendadak bergejolak, memicu rasa frustrasi yang membuatnya nekat mengangkat kepala. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Citra dengan pandangan ketus, mencoba menggunakan sisa keberaniannya untuk memecah kesunyian yang menyiksa.

"Kenapa lo lihat-lihat gue kayak gitu?" desis Elang, nadanya tajam namun volumenya sengaja diperkecil agar tidak merusak perdebatan Surya dan Kirana. "Puas lo sekarang? Puas lihat gue yang dulu lo benci, sekarang jadi pelayan miskin yang mukanya penuh jelaga hitam? Kenapa lo gak ikutan ngejek gue kayak Natasha atau Samudra? Bukannya ini momen paling pas buat lo buat balas dendam atas semua omongan gue di koridor dulu?"

Citra tidak menunjukkan perubahan ekspresi sedikit pun mendengar semburan ketus Elang. Jiwa Nyai Kencana yang bersemayam di dalam raga itu justru mengulas sebuah senyuman tipis yang teramat samar, sebuah senyuman kedewasaan seorang kesatria tua yang sedang menghadapi amukan emosi seorang anak kecil.

"Balas dendam... adalah watak dari jiwa-jiwa yang kerdil, Elang Dirgantara," ucap Citra, suaranya terdengar begitu jernih, berat, dan bergema dengan wibawa formal yang memotong seluruh defensif Elang. "Roda takdir yang memutar posisimu dari atas takhta menuju tanah kering malam ini... bukanlah sebuah hukuman dari manusia, melainkan cara semesta menguji apakah wadah ragamu memiliki kelayakan untuk memikul beban yang lebih besar di masa depan. Menertawakan seorang pria yang sedang bertarung menurunkan egonya di balik gerobak kayu... adalah tindakan yang merendahkan kehormatanku sendiri sebagai seorang manusia."

Kata-kata Citra menghantam batin Elang dengan telak. Semburan kalimat dewasa itu laksana sebuah cermin besar yang dipasang di depan wajahnya, menelanjangi seluruh sifat manja, kekanak-kanakan, dan kerapuhan mental yang selama ini ia sembunyikan di balik kilau harta kakeknya. Elang bungkam seketika, kehilangan seluruh kosakata defensifnya di hadapan pembawaan misterius gadis di depannya.

Di tengah keheningan yang intens itu, sepasang mata tajam Citra mendadak beralih menatap telapak tangan kanan Elang yang diletakkan di atas lutut. Di sana, di dekat pangkal ibu jari, terdapat sebuah luka melepuh kecil berwujud kemerahan akibat terkena letupan percikan bara arang kelapa saat ia mengipas sate tadi, sebuah luka kecil yang bagi kulit manja Elang terasa teramat perih menyengat.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Citra memajukan tubuhnya secara anggun melintasi ruang meja pendek. Gerakannya yang teramat tak terduga membuat Elang tersentak kecil, berniat menarik tangannya mundur. Namun, dengan presisi gerakan yang cepat dan luwes, tangan kiri Citra melesat maju, menyambar dan mengunci pergelangan tangan kanan Elang dengan genggaman jemari yang terasa hangat namun bertenaga kokoh.

Citra menggunakan tangan kanannya untuk mengambil sebongkah es batu kecil dari dalam gelas wedang jahenya yang belum habis. Ia membungkus es batu tersebut menggunakan selembar tisu kering murahan dari kotak plastik gerobak, lalu menempelkan bungkusan es dingin itu dengan kelembutan yang teramat sangat tepat di atas permukaan kulit tangan Elang yang melepuh merah.

Set.

Rasa dingin yang ekstrem seketika beradu dengan rasa panas yang membakar di kulit Elang, memicu gelombang kejut psikologis yang luar biasa dahsyat di dalam seluruh sistem sarafnya. Sentuhan mendadak yang begitu intim dari jemari halus Citra pada pergelangan tangannya membuat jantung Elang berdegup kencang dengan ritme yang tidak wajar, sebuah sensasi aneh yang memicu percikan chemistry romansa tipis yang teramat kuat di antara mereka berdua di tengah remangnya tenda angkringan.

Elang mematung, matanya terkunci pada wajah Citra yang berada hanya berjarak dua jengkal dari dadanya, mencium aroma kesunyian yang mistis dari sosok gadis beasiswa tersebut.

"Raga yang tidak terlatih... akan selalu menolak sentuhan api pertama," bisik Citra lirih, matanya menatap lurus ke arah luka melepuh tersebut sembari menekan es batu dengan ritme yang stabil. "Tahan sedikit. Dinginnya es ini akan mencegah hawa panas merusak jaringan kulitmu lebih dalam."

"C-Citra... gue bisa sendiri…" Elang terbata-bata, wajahnya mendadak terasa menghangat, memerah bukan karena asap arang, melainkan karena rasa salah tingkah yang meremukkan sisa-sisa benteng pertahanannya.

"Cie, cieee... waduh, Rek! Deloken kuwi, ono sing modus pakai acara kompres-kompresan tangan segala!"

Suara sorakan jenaka Surya memecah keheningan manis tersebut dengan seketika. Pemuda asal Malang itu tertawa terbahak-bahak sembari memukulkan kain lap kusamnya ke atas meja, memprovokasi Kirana yang langsung ikut tertawa terkekeh-kekeh melihat wajah Elang yang sudah matang seperti udang rebus karena malu digoda habis-habisan.

"Astaga, Cit! Lo sejak kapan jadi tim medis dadakan begini?" goda Kirana sarkastik, matanya berkedip-kedip menatap Elang yang mencoba menarik tangannya namun tetap ditahan oleh Citra dengan ekspresi datar tanpa riak emosi. "Tahu gitu tadi gue sengaja lecet aja biar dikompres juga sama Mas Surya."

"Lho, kalau Mbak Kirana mau, gak usah pakai es batu, tak kompres pakai kasih sayang langsung dari hati ini, Mbak!" timpal Surya cepat dengan cengiran mautnya yang langsung dihadiahi lemparan tusuk sate kosong oleh Kirana.

Namun, riuh rendah komedi segar dan kehangatan tipis di atas tikar lesehan itu mendadak buyar, menguap tak berbekas dalam hitungan persekian detik.

BRRRRRRRROOOOMM!!

Sebuah suara raungan knalpot mobil sport berkapasitas silinder besar yang teramat bising mendadak membelah kesunyian malam di luar tenda. Suara deru mesin itu sengaja digas kencang berkali-kali tepat di depan area Angkringan Tenda, menciptakan getaran hebat yang membuat permukaan air teh di dalam gelas-gelas kaca di atas meja bergoyang bergolak, sementara kepulan asap knalpot yang hitam merembes masuk melalui sela-sela lipatan terpal plastik.

Suara tawa Surya dan Kirana terhenti seketika. Elang menegang, rahangnya mengeras karena ia sangat mengenali karakteristik suara raungan mesin mobil mewah tersebut, sebuah kendaraan yang dua hari lalu masih menjadi simbol rivalitas tertingginya di kampus.

Sret!

Kain terpal pembatas pintu masuk angkringan disingkap secara kasar dari luar menggunakan ujung tongkat pemukul bisbol berbahan logam yang berkilat perak.

Dari balik kegelapan malam jalan arteri, sekelompok remaja bertubuh tegap dengan pakaian glamor dan jaket varsity mahal melangkah masuk ke dalam area tenda dengan gaya yang teramat congkak. Di barisan paling depan, berdiri Wijaya Samudra. Pemuda itu memegang tongkat bisbol di pundak kanannya, sementara tangan kirinya merapikan kerah kemeja sutra birunya.

Samudra melayangkan pandangan menghina ke sekeliling interior angkringan yang bersahaja, menatap spanduk kain kusam bertuliskan "Angkringan Tenda Arema" dengan seringai meremehkan yang menjijikkan, sebelum akhirnya sepasang matanya terkunci mutlak pada posisi duduk Elang yang tangan kanannya... masih berada di dalam genggaman erat jemari Citra.

1
Darma
hik kasihan citra
Apis
thor sebenernya ceritanya bagus tp gmn ya bnyk kata" yg g sat set ke inti jln ceritanya
Mamah Nissa: siap kk di bab awal lebih banyak bercerita, sedikit dialog ya. makasih sarannya kak, ini tanggung di draft udah sampe bab 32. bab 33 ke sana coba dibikin yang lebih simple.
total 1 replies
Sarah
Woahh, bab 1 yang keren. Meskipun kadang paragraf kerasa tetlalu panjang. Tapi masih enak diliat sih. 👍
Mamah Nissa: Makasih kakak sudah mampir mohon bimbingannya...
total 1 replies
Mamah Nissa
siap kk. makasih dah mampir mohon bimbingannya
putratunggal
mantaps ceritanya meski baru awal
Mamah Nissa: makasih kak mohon bimbinganya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!