Arka tidak pernah menyangka pernikahannya akan runtuh karena sebuah ponsel tersembunyi.
Istrinya yang lembut dan sempurna ternyata menyimpan kehidupan lain yang tidak pernah ia ketahui.
Chat tengah malam. Nama asing. Dan kebohongan kecil yang perlahan berubah menjadi mimpi buruk.
Namun semakin Arka mencari kebenaran… semakin ia sadar bahwa semua orang di sekitarnya menyimpan rahasia.
Karena terkadang— orang yang tidur di sampingmu belum tentu orang yang benar-benar kamu kenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
BAB 19: BAGAIMANA MUNGKIN?
"Pertanyaan itu bukan sekadar rasa ingin tahu. Itu adalah jeritan akal sehat yang menolak menerima kenyataan. Bagaimana mungkin hal yang begitu besar, begitu nyata, begitu dekat... bisa berubah menjadi kebohongan belaka? Bagaimana mungkin aku bisa begitu buta selama ini?"
Di dalam kepala Arka, pertanyaan itu terus berputar tanpa henti, berulang kali, seolah memantul di dinding-dinding kosong yang luas. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin?
Semakin ia merenung, semakin ia menyusun potongan fakta yang saling bertentangan itu, semakin ia merasa kepalanya mau pecah. Bukan karena sedih, bukan karena marah, tapi karena takjub yang bercampur ngeri. Takjub betapa hebatnya penipuan itu, dan ngeri betapa bodohnya dirinya sendiri.
Ia teringat satu kejadian spesifik, kejadian yang dulu ia anggap momen paling romantis dan menyentuh hati. Waktu ulang tahun pernikahan pertama mereka. Elena memberinya kado sebuah jam tangan mahal. Wanita itu bercerita panjang lebar, dengan mata berbinar dan suara bergetar penuh haru.
"Mas, aku menabung dari gajiku sendiri berbulan-bulan lamanya. Aku ingin memberikan sesuatu yang berharga, sesuatu yang tahan lama, seperti cinta kita. Aku beli ini di toko perhiasan besar di Jakarta Pusat, pas hari libur bulan lalu. Ingat kan aku bilang mau pulang telat karena ada rapat? Sebenarnya aku ke sana, berjalan kaki jauh-jauh cuma buat beli ini dengan tanganku sendiri."
Waktu itu Arka menangis terharu. Ia memeluk istrinya erat, merasa menjadi pria paling beruntung di dunia. Ia percaya setiap kata. Ia percaya pengorbanan itu.
Tapi sekarang, setelah mengetahui kebenaran tentang siapa Elena sebenarnya, tentang kekayaan keluarga Wijaya yang mereka rampas, tentang harta yang melimpah di tangan Adrian... pertanyaan itu meledak di kepalanya.
Bagaimana mungkin wanita yang punya miliaran uang hasil curian, yang hidup mewah di atas penderitaan orang lain, yang bisa beli puluhan jam tangan itu dalam sekejap mata... berpura-pura menabung berbulan-bulan? Bagaimana mungkin dia berpura-pura susah payah, berpura-pura sederhana, berpura-pura hemat... hanya untuk menjaga peran istri sederhana yang dicintai suaminya?
Itu bukan sekadar berbohong soal uang. Itu kebohongan soal jiwa. Itu akting yang begitu mendalam, begitu detail, sampai ke hal-hal yang paling kecil dan tak penting sekalipun.
Arka teringat lagi soal waktu. Soal ketidaklogisan yang dibahasnya dengan Daniel tadi.
Bagaimana mungkin seseorang bisa hidup dua kehidupan secara bersamaan?
Pagi hari dia berangkat kerja sebagai Elena Wijaya, pegawai kantor biasa, berpakaian sopan, pulang sore, memasak makan malam, mengeluh soal macet dan gaji kecil. Tapi di saat yang sama, di jam-jam yang katanya di kantor, dia ada di Bandung, di vila mewah itu, memakai gaun mahal, minum minuman berharga jutaan, merencanakan pembunuhan dan pencurian harta bersama Adrian.
Bagaimana mungkin?
Bagaimana mungkin satu tubuh bisa berada di dua tempat berbeda? Bagaimana mungkin satu mulut bisa mengucapkan kata-kata suci "Aku cinta kamu" di satu sisi, dan mengucapkan "Dia harus disingkirkan" di sisi lain? Bagaimana mungkin satu pasang mata bisa menatap dengan penuh kasih sayang, lalu menatap lagi dengan penuh kebencian atau ketidakpedulian?
Arka menutup wajahnya dengan kedua tangan, menggigil membendung emosi yang meluap.
"Pak Daniel... aku tidak mengerti," bisiknya parau. "Bagaimana mungkin dia melakukan ini semua tanpa salah langkah sedikit pun? Dua tahun, Pak. Dua tahun setiap hari, setiap jam, setiap menit dia harus berpura-pura. Dia harus ingat siapa dia saat bersamaku, siapa dia saat bersama Adrian. Dia harus ingat kebohongan mana yang sudah dia katakan, kebohongan mana yang belum. Dia harus mengatur waktu, mengatur cerita, mengatur perasaan. Bagaimana mungkin otak manusia sanggup menampung semua kepalsuan itu tanpa gila?"
Daniel Sihombing diam sejenak, menatap Arka dengan pandangan yang dalam dan penuh pengertian. Detektif itu tahu betul pertanyaan ini adalah tahap paling sulit bagi korban penipuan besar. Bukan menerima bahwa pasangannya jahat, tapi menerima bahwa pasangannya sangat pandai menjadi orang lain.
"Itulah keahlian mereka, Pak Arka," jawab Daniel pelan namun tegas. "Claire Nathania tidak berpura-pura menjadi Elena Wijaya. Claire Nathania hidup sebagai Elena Wijaya. Bagi dia, itu bukan akting. Itu strategi bertahan hidup. Itu cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan Adrian... Adrian melatihnya, mengawasinya, memberinya panduan. Mereka berdua menyusun skenario ini seperti menyusun rencana perang."
Daniel menunjuk ke arah vila yang diam membisu di balik kabut.
"Bapak tahu, Pak? Mereka punya catatan. Di dalam sana, ada buku besar berisi semua detail kehidupan Elena Wijaya. Kebiasaan apa yang harus dilakukan, hal apa yang tidak boleh dikatakan, tanggal-tanggal penting yang harus diingat, bahkan sampai ke makanan kesukaan dan cara tertawa. Setiap kali Elena pulang ke Bandung, mereka melakukan evaluasi. 'Hari ini aku hampir salah sebut nama', 'Hari ini aku hampir salah ingat alamat', 'Hari ini Arka bertanya soal masa lalu'. Mereka perbaiki, mereka tambal, mereka buat makin sempurna."
Arka ternganga ngeri.
Bagaimana mungkin?
Bagaimana mungkin rumah tangganya, cinta kasihnya, momen-momen indahnya... semuanya hanyalah materi evaluasi di meja kerja Adrian dan Claire? Bagaimana mungkin ciuman, pelukan, dan percakapan malam mereka... dicatat, dianalisis, dan dinilai keberhasilannya sebagai misi?
"Aku pernah sakit keras, Pak Daniel," kata Arka, suaranya pecah. "Dua bulan lalu. Demam tinggi, hampir masuk rumah sakit. Dia merawatku siang malam. Dia tidak tidur, dia menyuapiku makan, dia mengompresiku, dia menangis sambil berdoa agar aku sembuh. Aku pikir... aku pikir itu bukti cinta terbesar. Aku pikir meski dia punya rahasia, meski dia sembunyi-sembunyi, rasa sayang itu asli."
Arka menatap detektif itu dengan mata basah dan bingung.
"Bagaimana mungkin seseorang bisa berpura-pura peduli saat orang yang ada di depannya sedang sekarat? Bagaimana mungkin dia menangis untuk orang yang sebenarnya dia anggap sampah atau alat?"
Daniel menghela napas panjang. Pertanyaan Arka adalah pertanyaan jutaan dolar. Pertanyaan yang tak akan pernah dimengerti oleh orang yang hatinya bersih.
"Karena bagi Claire, Pak... merawat Bapak saat sakit itu bukan soal kasih sayang. Itu soal aset. Bapak adalah aset berharga yang sedang rusak. Dia menangis bukan karena takut kehilangan orang yang dicintai. Dia menangis karena takut kehilangan barang yang berguna sebelum waktunya. Dia berdoa bukan demi keselamatan jiwa Bapak, tapi demi kelancaran rencana mereka."
Daniel mendekatkan wajahnya, suaranya menjadi berat dan dingin.
"Bayangkan seorang pedagang yang barang dagangannya hampir dicuri orang. Dia akan marah, dia akan sedih, dia akan berusaha mati-matian menyelamatkan barang itu. Bukan karena dia mencintai barang itu sebagai makhluk hidup, tapi karena barang itu bernilai uang bagi dia. Begitu juga Claire. Bapak adalah barang berharga yang harus dijaga agar tetap berfungsi sampai mereka selesai memakainya."
Arka mundur selangkah, punggungnya menabrak batang pohon. Rasanya seluruh isi perutnya mau keluar. Rasanya seluruh darah di tubuhnya berubah menjadi racun.
Bagaimana mungkin?
Bagaimana mungkin aku, manusia yang punya hati dan perasaan, hidup bertahun-tahun bersama makhluk yang sama bentuk fisiknya, tapi berbeda dunia batinnya? Makhluk yang tidak mengenal cinta, tidak mengenal setia, tidak mengenal kemanusiaan?
Bagaimana mungkin aku menatap mata itu, memegang tangan itu, mencium bibir itu... tanpa pernah sekalipun menyadari bahwa yang ada di hadapanku adalah monster yang menyamar jadi manusia?
"Dan yang paling gila, Pak Daniel..." bisik Arka, matanya menatap kosong ke arah tanah basah. "Bagaimana mungkin aku masih berharap? Bagaimana mungkin di tengah semua kenyataan mengerikan ini, di tengah semua bukti kejahatan ini... aku masih berharap ada bagian kecil dari dirinya yang tersisa? Bagaimana mungkin aku masih ingin menyelamatkannya, padahal dia sudah pegang botol racun di tangannya untuk membunuhku?"
Pertanyaan terakhir itu adalah yang paling sulit, paling menyakitkan, dan paling membingungkan.
Daniel tidak langsung menjawab. Ia meletakkan tangan di bahu Arka, menatapnya dengan tatapan yang penuh empati namun tegas.
"Itulah satu-satunya hal yang tidak mereka perhitungkan, Pak. Itulah satu-satunya hal yang tidak masuk dalam skenario mereka. Claire tidak mengerti, Adrian tidak mengerti... mereka pandai memanipulasi logika, memanipulasi waktu, memanipulasi fakta. Tapi mereka tidak pernah mengerti soal hati."
Detektif itu menunjuk ke dada Arka.
"Mereka tidak mengerti bagaimana mungkin seseorang tetap mencintai meski sudah disakiti, tetap percaya meski sudah dibohongi, tetap ingin menyelamatkan meski nyawanya terancam. Bagi mereka, itu kelemahan. Tapi bagi kita... itulah bukti bahwa Bapak adalah manusia sejati. Dan justru karena hal itulah... logika mereka yang rusak itu akan runtuh. Karena mereka lupa menghitung satu variabel penting: Cinta Bapak yang tulus, meski dihadapi oleh kejahatan yang paling sempurna sekalipun."
Arka mengangkat wajahnya kembali. Pertanyaan "bagaimana mungkin" itu masih bergema di kepalanya, tapi kini nada suaranya berubah.
Bagaimana mungkin hal mengerikan ini terjadi padaku?
Bagaimana mungkin?
Jawabannya perlahan muncul, jelas dan tajam di benaknya:
Karena mereka jahat. Karena mereka licik. Karena mereka tidak punya hati.
Dan karena aku... aku terlalu polos, terlalu percaya, dan terlalu mencintai.
Tapi tidak lagi.
Malam ini, pertanyaan itu berubah makna.
Bagaimana mungkin mereka pikir mereka bisa lolos?
Bagaimana mungkin mereka pikir mereka bisa selamanya bermain dengan hidup orang lain?
Bagaimana mungkin mereka pikir kejahatan bisa bersembunyi selamanya di balik tembok kebohongan?
Arka mengeratkan genggamannya. Rasa bingung telah berubah menjadi tekad yang membara.
"Terima kasih, Pak Daniel," ucapnya tegas. "Sekarang aku paham. Aku sudah tahu jawabannya. Dan malam ini, aku akan masuk ke sana. Dan aku akan tanyakan langsung pada mereka... bagaimana mungkin mereka berpikir bahwa kejahatan sebesar ini tidak akan pernah menagih balasannya?"
Di dalam vila, suara tawa kembali terdengar, renyah dan bebas, tawa Claire yang merasa paling pintar dan paling aman.
Di luar sini, Arka tersenyum tipis, senyum yang dingin dan penuh keputusan.
Pertanyaan "bagaimana mungkin" itu akan segera terjawab.
Dan jawabannya akan menjadi hal terakhir yang akan mereka dengar sebelum semua hancur berantakan.
— BERSAMBUNG.......