NovelToon NovelToon
GADIS MALANG DENGAN TAKDIRNYA(CEO)

GADIS MALANG DENGAN TAKDIRNYA(CEO)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:663
Nilai: 5
Nama Author: lestari visa

GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)

"Hayu siapa yang penasaran sama kisah Aruna, gadis malang yang terpaksa menyerahkan hidupnya jadi milik seorang pria yang sangat tampan, kaya raya, tapi dikenal sangat kejam dan berhati dingin? 😯💔

Dipaksa menikah cuma demi bertahan hidup, dihina, diremehkan, dan dianggap cuma barang milik semata. Namun Aruna berjanji dalam hatinya, dia bakal buktikan kalau dia juga punya harga diri yang tak boleh diinjak. Apakah dia sanggup hadapi sifat angkuh dan kejam Aris Baskara? Bagaimana nasibnya hidup di antara kemewahan yang ternyata penuh dengan penghinaan dan rasa sakit? 🤔

Baca yuk ceritanya! Kisah cinta penuh luka, amarah, air mata, dan takdir yang bikin hati campur aduk. Dijamin bikin penasaran dari bab pertama sampai akhir 📖🔥

📖 Judul: GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
(Penulis: Lestari Visa)"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lestari visa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Kebenaran di Balik Topeng

Aditya melangkah perlahan menyusuri lorong yang agak sepi dan redup cahayanya, menjauh dari hiruk-pikuk pesta yang masih terdengar samar-samar dari kejauhan. Setiap langkah kakinya terasa penuh kewaspadaan, matanya terus memindai setiap sudut ruangan, setiap pintu, dan setiap bayangan yang ada di sekelilingnya. Ia tahu betul bahwa ia sedang berjalan menuju wilayah yang paling berbahaya dan tidak diketahui, menemui wanita yang dianggap sebagai sosok paling misterius dan sulit ditebak di antara keluarga Tanudjaya.

Tak lama kemudian, ia sampai di depan sebuah pintu kayu besar yang tampak kokoh dan kuno, terletak di ujung lorong yang cukup tersembunyi. Dengan napas yang diatur sedemikian rupa agar tetap tenang dan terkontrol, Aditya mendorong pintu itu perlahan hingga terbuka. Di dalam sana, ruangan itu tampak cukup luas, beraroma kayu tua dan buku-buku, diterangi oleh cahaya lampu gantung yang redup dan hangat. Di tengah ruangan, berdiri sosok wanita yang mengenakan gaun merah darah yang indah namun menakutkan itu, Clarissa Tanudjaya. Wanita itu berdiri membelakangi pintu, menatap ke luar melalui jendela besar yang menghadap ke taman yang gelap dan sepi.

Mendengar suara pintu yang terbuka dan tertutup kembali, Clarissa pun perlahan berbalik badan. Wajahnya yang cantik namun dingin dan tanpa ekspresi kini menatap lurus ke arah Aditya, matanya yang tajam dan dalam seolah mampu menembus setiap pikiran dan perasaan yang ada di dalam diri pemuda itu.

"Selamat malam, Tuan Aditya Pratama. Terima kasih karena Anda bersedia datang memenuhi panggilan saya, meskipun saya tahu Anda pasti merasa sangat curiga dan ragu-ragu untuk bertemu dengan saya sendirian di tempat yang tersembunyi seperti ini," ucap Clarissa dengan suara yang rendah, lembut, namun terdengar begitu tegas, berwibawa, dan penuh rahasia.

Aditya tetap berdiri tegak dan percaya diri, menatap balik mata Clarissa dengan tatapan yang sama tajam dan penuh kewaspadaan. Ia tidak mau menunjukkan sedikit pun rasa takut atau keragu-raguan di hadapan wanita ini.

"Selamat malam, Nona Clarissa. Memang harus saya akui, saya merasa sangat penasaran sekaligus waspada atas permintaan Anda. Saya bertemu dengan Anda di sini karena saya merasa Anda memiliki sesuatu yang sangat penting dan berharga untuk disampaikan kepada saya, sesuatu yang mungkin berkaitan erat dengan hal-hal yang sedang kami cari dan kami hadapi saat ini. Jadi, bicaralah... Apa sebenarnya yang ingin Anda sampaikan kepada saya? Dan apa tujuan sebenarnya Anda memanggil saya ke sini?" tanya Aditya dengan nada yang tenang, langsung pada intinya, dan tanpa basa-basi yang tidak perlu.

Clarissa tersenyum tipis, sebuah senyum yang samar, dingin, namun kali ini terasa sedikit lebih terbuka dan tidak sepenuhnya tertutup seperti sebelumnya. Ia berjalan perlahan mendekati Aditya, langkah kakinya begitu ringan dan anggun, seolah ia sedang melayang di udara.

"Kamu memang pemuda yang cerdas, berani, dan tegas... Persis seperti apa yang saya dengar tentang dirimu, Tuan Pratama. Tidak heran kamu bisa memimpin perusahaan sebesar dan sekompleks milik keluarga Pratama dengan sangat baik dan sukses. Dan juga... tidak heran pula kamu adalah orang yang dipilih oleh takdir untuk mendampingi wanita itu..." ucap Clarissa dengan nada yang penuh makna, matanya terus menatap tajam ke arah Aditya seolah sedang menunggu reaksi apa pun yang akan muncul dari wajah pemuda itu.

Jantung Aditya berdegup kencang mendengar ucapan itu. Ia tahu, kata-kata Clarissa bukanlah sekadar ucapan kosong atau tebakan sembarangan. Ada makna yang sangat dalam dan nyata di balik setiap kata yang diucapkan wanita itu.

"Apa maksud ucapan Anda itu, Nona Clarissa? Wanita apa yang Anda maksud? Apakah Anda berbicara tentang pasangan saya, Luna?" tanya Aditya, berusaha tetap tenang namun nada suaranya sedikit berubah menjadi lebih serius dan penuh peringatan.

Clarissa tertawa kecil, suara tawanya terdengar renyah namun masih menyisakan rasa dingin dan misterius yang mendalam. Ia menggelengkan kepalanya perlahan.

"Tidak perlu berpura-pura lagi, Aditya. Tidak perlu menyembunyikan atau menyangkal apa pun lagi di hadapanku. Saya tahu segalanya... Saya tahu siapa sebenarnya Luna, dan dari mana asalnya. Saya tahu bahwa dia adalah cucu dari Sinta, wanita yang pernah menjadi bagian dari keluarga ini puluhan tahun yang lalu. Saya tahu bahwa dia adalah anak kandung dari Laras, dan keturunan langsung dari darah daging Arthur Tanudjaya..."

Napas Aditya seakan terhenti seketika. Tubuhnya menegang sepenuhnya, matanya terbelalak lebar menatap Clarissa dengan rasa kaget dan tak percaya yang luar biasa besar. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa wanita ini ternyata sudah mengetahui segalanya, mengetahui rahasia terbesar dan paling berbahaya yang mereka sembunyikan dengan sangat rapi. Ia merasa seolah tanah di bawah kakinya bergeser dan hilang seketika.

"Kamu... Kamu tahu segalanya? Bagaimana mungkin kamu bisa tahu hal itu? Siapa yang memberitahumu?" tanya Aditya dengan suara yang rendah dan penuh ketegangan, tangannya mengepal erat menahan amarah dan rasa terkejut yang meluap-luap.

Clarissa mengangguk perlahan dengan raut wajah yang kembali menjadi serius dan penuh kesungguhan. Ia berjalan menuju sebuah kursi empuk di dekat perapian yang sudah tidak menyala lagi, lalu duduk dengan tenang dan anggun, lalu memberi isyarat kepada Aditya untuk ikut duduk.

"Duduklah, Aditya. Tenangkan dirimu dulu. Saya tidak berniat mencelakai kalian atau membocorkan rahasia ini kepada siapa pun, apalagi kepada Reynold atau Julian. Justru sebaliknya... Saya memanggilmu ke sini karena saya ingin membantu kalian, dan saya ingin memberi tahu kebenaran yang sebenarnya, kebenaran yang jauh lebih besar dan lebih rumit daripada yang selama ini kalian ketahui atau duga," ucap Clarissa dengan nada yang begitu serius dan meyakinkan, membuat Aditya perlahan mulai menurunkan kewaspadaannya sedikit namun masih tetap berhati-hati.

Aditya pun akhirnya duduk di hadapan Clarissa, menatap wanita itu dengan tatapan yang penuh rasa ingin tahu, keraguan, dan kesiapan untuk mendengarkan.

"Bagaimana mungkin kamu bisa tahu hal ini, Nona Clarissa? Dan kenapa kamu ingin membantu kami? Apa sebenarnya alasan dan tujuanmu di balik semua ini?" tanya Aditya lagi, masih belum sepenuhnya percaya dan merasa aman.

Clarissa menghela napas panjang, lalu menatap ke arah nyala api buatan di dalam perapian dengan tatapan yang jauh, seolah ia sedang kembali menelusuri memori dan masa lalu yang sudah lama terkubur dan terlupakan.

"Saya tahu karena saya adalah orang yang paling dekat dengan Paman Arthur, orang yang kamu sebut sebagai kakek kandung Luna. Saya adalah keponakan kesayangannya, satu-satunya orang yang benar-benar ia percayai dan anggap sebagai keluarga sejati. Sejak saya masih kecil, Paman Arthur sangat menyayangi dan mendekatkan diri kepada saya. Beliau menceritakan segala hal kepada saya, termasuk kisah cinta terlarang dan penuh penderitaannya dengan Sinta, serta kelahiran putri mereka, Laras. Beliau juga yang menceritakan betapa berat dan menyakitkan perasaannya saat harus membiarkan putrinya diadopsi oleh keluarga Pratama demi keselamatan dan keamanan nyawa anaknya itu, serta demi menjaga nama baik keluarga besar Tanudjaya yang sangat beliau cintai dan hormati," jelas Clarissa dengan nada yang penuh rasa haru dan simpati, matanya sedikit berkaca-kaca seolah ia sedang merasakan kesedihan dan penderitaan yang dialami oleh pamannya itu.

Aditya mendengarkan penjelasan itu dengan sangat saksama dan penuh perhatian. Perlahan-lahan, potongan-potongan teka-teki yang selama ini terpisah mulai menyatu dan membentuk sebuah cerita yang utuh dan jelas di dalam kepalanya. Ia mulai mengerti mengapa Clarissa memiliki sikap yang berbeda, mengapa ia tahu segalanya, dan mengapa ia memiliki perhatian khusus terhadap Luna dan dirinya.

"Jadi... Arthur Tanudjaya sebenarnya adalah orang yang baik dan penuh kasih sayang? Bukan orang yang jahat dan kejam seperti yang kami duga selama ini berdasarkan tulisan-tulisan lama dan cerita orang-orang?" tanya Aditya dengan nada yang penuh rasa ingin tahu dan keinginan untuk memahami lebih dalam.

Clarissa mengangguk mantap dengan raut wajah yang penuh kesungguhan dan pembelaan terhadap nama baik pamannya itu.

"Paman Arthur sama sekali bukan orang jahat atau kejam, Aditya. Beliau adalah pria yang sangat baik, sangat cerdas, sangat penyayang, namun sayangnya terlahir di dalam keluarga yang salah dan berada di lingkungan yang penuh persaingan, kekejaman, dan ambisi yang buta. Beliau dipaksa untuk menjadi keras, dingin, dan kejam demi bisa bertahan hidup dan mempertahankan posisinya di dalam keluarga ini. Beliau dipaksa untuk meninggalkan wanita yang ia cintai dan anak kandungnya sendiri karena aturan-aturan kaku dan tidak manusiawi yang berlaku di keluarga Tanudjaya. Sepanjang hidupnya, Paman Arthur hidup dalam kesepian, penyesalan, dan rasa rindu yang mendalam terhadap Sinta dan Laras. Beliau sangat ingin bertemu dan menemui putrinya, namun beliau sadar bahwa hal itu hanya akan membawa bahaya besar bagi keselamatan Laras sendiri. Dan hal yang paling menyedihkan... Sampai beliau menghembuskan napas terakhirnya, beliau selalu berharap dan berdoa agar suatu hari nanti, takdir akan mempertemukan kembali keturunannya, dan agar darah dagingnya itu akan datang menuntut haknya dan mengubah nasib keluarga ini menjadi lebih baik."

Mendengar penjelasan yang begitu panjang, mendalam, dan penuh emosi itu, hati Aditya terasa terenyuh dan tersentuh dengan luar biasa besar. Ia tidak menyangka bahwa di balik sosok Arthur Tanudjaya yang ditakuti dan dianggap jahat itu, ternyata menyimpan kisah yang begitu menyedihkan, tragis, dan penuh pengorbanan. Ia semakin mengerti betapa berat dan rumitnya masa lalu yang dihadapi oleh keluarga mereka, dan betapa besarnya beban yang selama ini tersimpan dan tertutup rapat.

"Terus... Bagaimana dengan keberadaan Luna? Kenapa kamu mau membantu kami? Dan apa yang sebenarnya harus kami hadapi ke depannya?" tanya Aditya lagi, kini dengan nada yang jauh lebih lembut, penuh rasa hormat, dan percaya terhadap wanita di hadapannya ini.

Clarissa menatap mata Aditya dengan tatapan yang serius dan penuh peringatan yang tegas.

"Alasan saya membantu kalian adalah karena saya melihat ketulusan, kebaikan, dan keberanian yang ada di dalam diri Luna. Saat saya pertama kali melihatnya malam ini, saya langsung tahu bahwa dia adalah keturunan sejati Paman Arthur. Dia memiliki mata yang sama, senyum yang sama, dan kebaikan hati yang sama persis dengan apa yang dimiliki oleh Paman Arthur dan Bibi Sinta. Saya melihat di dalam dirinya potensi yang besar untuk membawa perubahan, keadilan, dan kebenaran yang selama ini hilang dari keluarga Tanudjaya. Namun, Aditya... Kalian harus tahu bahwa bahaya yang mengancam kalian sebenarnya jauh lebih besar dan mengerikan daripada yang kalian bayangkan. Keberadaan Luna adalah ancaman terbesar bagi rencana dan ambisi besar yang sedang disusun oleh Reynold dan Julian."

"Reynold dan Julian?" potong Aditya dengan kening yang berkerut bingung dan penasaran. "Apa rencana sebenarnya yang mereka miliki? Dan kenapa keberadaan Luna bisa dianggap sebagai ancaman besar bagi mereka?"

Clarissa menghela napas panjang, lalu melanjutkan penjelasannya dengan nada yang rendah namun penuh penekanan dan kesungguhan.

"Reynold dan Julian sebenarnya sedang menyusun sebuah rencana besar untuk menggabungkan seluruh aset, kekayaan, dan kekuasaan keluarga Tanudjaya menjadi satu kekuatan mutlak yang tidak terbagi. Namun, menurut peraturan dan undang-undang warisan keluarga yang asli dan sah, seluruh harta serta kekuasaan yang dimiliki oleh Paman Arthur secara otomatis akan jatuh dan menjadi milik anak kandung beliau, yaitu Laras, dan sekarang menjadi milik Luna sebagai satu-satunya pewaris sah yang masih hidup. Keberadaan Luna akan memecah belah kekuasaan dan kekayaan yang selama ini Reynold dan Julian nikmati dan kuasai sepenuhnya. Itulah sebabnya mereka akan melakukan cara apa saja, termasuk cara yang paling kotor, kejam, dan berbahaya, untuk melenyapkan keberadaan Luna selamanya agar rencana besar mereka tidak gagal dan hancur lebur."

Darah Aditya seketika mendidih mendengar penjelasan itu. Ia merasa sangat marah dan geram mengetahui bahwa ada orang-orang yang begitu jahat dan serakah hingga berniat mencelakakan nyawa Luna hanya demi harta, kekuasaan, dan ambisi mereka sendiri. Ia semakin sadar bahwa musuh yang mereka hadapi ternyata jauh lebih jahat, jauh lebih kejam, dan jauh lebih berbahaya daripada yang pernah ia bayangkan sebelumnya.

"Jadi... Maksudmu, Reynold dan Julian akan berusaha membunuh atau melukai Luna hanya karena dia berhak atas sebagian harta keluarga ini? Padahal Luna sama sekali tidak menginginkan harta atau kekuasaan mereka! Kami hanya ingin hidup tenang dan damai!" ucap Aditya dengan nada yang penuh kemarahan namun juga keputusasaan.

Clarissa mengangguk perlahan dengan raut wajah yang penuh kesedihan dan kepahitan.

"Aku tahu itu, Aditya. Aku tahu kalian orang-orang yang baik dan tidak serakah. Tapi sayangnya, bagi orang-orang seperti Reynold dan Julian, keberadaan Luna saja sudah cukup menjadi ancaman besar, tidak peduli apakah dia menginginkannya atau tidak. Selama Luna masih hidup dan ada di dunia ini, hak dan wewenangnya tetap ada dan sah secara hukum. Itulah sebabnya kalian harus sangat berhati-hati, waspada, dan melindungi diri kalian sebaik mungkin. Kalian tidak boleh membiarkan siapa pun mengetahui keberadaan dan identitas asli Luna, dan kalian harus selalu berhati-hati terhadap setiap orang yang mendekat, bahkan orang-orang yang tampak paling sopan dan ramah sekalipun."

Clarissa kemudian berdiri tegak kembali, lalu berjalan menuju sebuah meja kecil di sudut ruangan dan mengambil sebuah kotak kecil yang terbuat dari kayu mahoni yang indah dan berukir. Ia membuka kotak itu dan mengeluarkan sebuah benda kecil yang bersinar indah namun memiliki bentuk yang unik dan misterius.

"Dan satu lagi... Ini adalah peninggalan milik Paman Arthur. Sebuah lencana keluarga yang hanya dimiliki oleh keturunan sah dan langsung dari garis keturunan utama Tanudjaya. Paman Arthur berpesan agar benda ini diserahkan kepada keturunannya kelak, sebagai bukti identitas, bukti hak, serta sebagai perlindungan dan kekuatan. Saya serahkan ini kepadamu, Aditya, untuk kemudian kamu berikan kepada Luna. Benda ini mungkin akan sangat berguna dan menjadi kunci penyelesaian di masa depan nanti saat kalian menghadapi masalah atau bahaya yang besar."

Aditya menerima kotak kecil itu dengan penuh rasa hormat dan kehati-hatian. Ia menatap lencana yang ada di dalamnya dengan rasa kagum dan takjub, menyadari betapa berharga dan bermakna benda itu bagi sejarah dan nasib keluarga mereka.

"Terima kasih banyak, Nona Clarissa... Terima kasih karena kamu sudah menceritakan kebenaran ini kepada kami, terima kasih atas bantuannya, dan terima kasih karena kamu sudah bersedia menjadi sekutu kami di tengah keluarga yang penuh intrik dan bahaya ini," ucap Aditya dengan nada yang sangat tulus dan penuh rasa hormat yang mendalam.

Clarissa tersenyum lembut, sebuah senyum yang kali ini terlihat begitu tulus, hangat, dan penuh kasih sayang, sangat berbeda jauh dengan sikap dingin dan tertutup yang selama ini ia tunjukkan kepada orang lain.

"Sudah menjadi tugas dan kewajiban saya, Aditya. Saya melakukan ini demi menghormati ingatan dan janji saya kepada Paman Arthur. Ingatlah satu hal, Aditya Pratama... Di dalam keluarga besar Tanudjaya yang penuh kegelapan dan ambisi ini, kalianlah satu-satunya cahaya dan harapan yang tersisa. Lindungi Luna dengan sekuat tenagamu, dan jangan pernah biarkan kegelapan ini menelan kalian berdua. Saya akan selalu ada di sini, mengawasi dan membantu kalian sebisa mungkin dari balik layar. Tapi sekarang, sebaiknya kamu segera kembali ke pesta dan menemui Luna. Jangan sampai ada yang curiga atau menyadari bahwa kita telah berbicara begitu lama di sini."

Aditya mengangguk mantap, lalu dengan penuh rasa hormat dan terima kasih, ia membungkukkan badannya sedikit kepada Clarissa sebagai tanda penghormatan yang mendalam.

"Tentu saja, Nona Clarissa. Sekali lagi terima kasih banyak atas segalanya. Kami tidak akan melupakan kebaikan dan bantuanmu ini."

Aditya pun akhirnya berjalan mundur perlahan dan meninggalkan ruangan itu, membawa serta beban berat namun juga kebenaran yang luar biasa besar dan berharga yang baru saja ia ketahui. Ia merasa pikiran dan hatinya kini dipenuhi oleh begitu banyak informasi, emosi, dan perasaan yang campur aduk. Ia kini tahu segalanya: tentang masa lalu, tentang Arthur Tanudjaya, tentang bahaya yang mengancam mereka, dan tentang adanya sekutu yang berharga di dalam keluarga musuh mereka sendiri.

Langkah kaki Aditya kini terasa jauh lebih berat namun juga jauh lebih mantap dan penuh tujuan. Ia tahu perjalanan mereka ke depan akan semakin berat, semakin berbahaya, dan penuh rintangan yang besar, namun ia juga tahu bahwa mereka tidak berjalan sendirian, dan mereka kini memegang kunci kebenaran yang akan menuntun mereka melewati segala kegelapan dan bahaya yang ada di depan mata.

Pintu ruangan tertutup kembali, dan pertemuan rahasia yang luar biasa itu pun berakhir, meninggalkan banyak perubahan besar dan dampak yang sangat signifikan bagi jalannya cerita dan takdir mereka selanjutnya.

(BERSAMBUNG)

📖 SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA! 🤗🩷

Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini! Semoga kalian menikmati setiap halaman dan setiap momen kebahagiaan, tawa, bahkan emosi yang terasa dalam setiap babnya ya. 🥰

Jangan lupa tinggalkan komentar dan berikan suka pada setiap bab yang kalian baca, ya! Jika kalian menyukai ceritaku, silakan tuliskan pendapat kalian — misalnya "Lanjutkan dong, ceritanya keren banget!" atau "Ceritanya bagus dan menyentuh hati!" — karena setiap kata dukungan dari kalian akan menjadi semangat terbesarku untuk terus menulis dengan lebih baik lagi. 🩷

Sekali lagi terima kasih banyak atas perhatian dan dukungannya. Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya ya! Selamat membaca dan sampai bertemu kembali! 👋👋🤗🌷

1
Ate Ida Rustono
tambah penasaran dehh
Ate Ida Rustono
penasaran jadinya
visa lestari
💪💪💪👍
visa lestari
ceritanya bagus thor semagata
visa lestari
mampir thor💪
Nadia Permatasari
mampir juga thor😍
Eemlaspanohan Ohan
lanjut makin seru
Eemlaspanohan Ohan
lanjut
Eemlaspanohan Ohan
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!