NovelToon NovelToon
Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Duda / Cintapertama
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah kehilangan bayinya saat melahirkan, hidup Amira tak lagi sama. Luka di hatinya belum sembuh ketika keluarga seorang kyai besar datang menawarkan kontrak sebagai ibu susu untuk cucu mereka yang mengalami kuning karena menolak susu formula.

Awalnya ia menolak, tetapi rasa iba pada bayi kecil itu membuatnya luluh. Apalagi suaminya sendiri yang menyuruhnya menerima tawaran dengan bayaran besar dan misi sang suami agar bisa masuk ke pesantren.

Sejak tinggal di ndalem pesantren, Amira mulai dekat dengan putra kyai itu. Tangisan bayi tersebut hanya reda dalam pelukannya. Pertemuan dengan kyai juga membuka sebuah rahasia antara Amira dan kyai muda tersebut.

Di saat Amira berusaha menjaga kehormatan dan rumah tangganya, ia justru dikhianati oleh lelaki yang paling ia percaya. Suaminya berselingkuh. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

“Aku enggak tahu setelah ini harus bagaimana…” Tangis Amira pecah lagi. “Aku enggak punya siapa-siapa lagi…”

Perempuan tua itu langsung memeluk kepala Amira lembut. “Jangan bilang begitu.” Beliau ikut menangis. “Selama ibu masih hidup…” usapannya berpindah ke rambut Amira penuh kasih, “…kamu enggak sendirian.”

Amira langsung terisak di pangkuan beliau. Dan kalimat berikutnya membuat tangisnya semakin pecah.

“Setelah ini…” suara perempuan tua itu bergetar lembut, “mungkin statusmu bukan lagi menantu ibu.”

Amira memejamkan mata kuat-kuat.

“Tapi di hati ibu…” beliau mengusap kepala Amira pelan, “Kamu sudah ibu anggap seperti putri ibu sendiri.”

Tangis Amira langsung tak terbendung. Sudah lama sekali ia tidak merasakan kasih sayang setulus ini. Bahkan di tengah kehancuran rumah tangganya Allah masih memberinya seseorang yang memeluk lukanya dengan begitu hangat. Itulah kenapa hingga detik ini, meski hatinya hancur, ia tak menyesal pernah menikah dengan Mirza sebab ia punya ibu sebaik ibunya Mirza.

***

Pagi itu suasana rumah masih muram. Amira baru saja selesai minum obat penurun panas yang dipaksa ibu mertuanya sejak subuh tadi. Demamnya belum benar-benar turun. Kepalanya masih berat, matanya sembab akibat menangis semalaman. Ia sedang duduk diam di ruang tengah ketika terdengar suara motor dan mobil berhenti di depan rumah.

Tak lama, tok. tok. tok. Ketukan pintu terdengar cukup keras.

Ibu Mirza mengernyit lalu berjalan membukanya. Dan begitu pintu terbuka wajah beliau langsung berubah dingin.

Di depan rumah berdiri ibu Nurul bersama beberapa saudara mereka. Ada dua lelaki dan seorang perempuan paruh baya yang wajahnya tampak penuh penilaian. Sementara Nurul berdiri di belakang mereka dengan wajah pucat.

“Assalamu’alaikum,” ucap ibu Nurul datar.

Ibu Mirza menjawab singkat tanpa senyum. “Ada apa?”

“Kami mau ambil barang-barang Mirza.”

Kalimat itu membuat Amira yang duduk di dalam langsung menegang. Dadanya kembali terasa nyeri. Rupanya Mirza benar-benar tidak pulang semalam.

Ibu Mirza mempersilakan mereka masuk dengan wajah keras. Begitu masuk ke ruang tamu, tatapan keluarga Nurul langsung jatuh pada Amira. Dan salah satu saudara Nurul tiba-tiba berdecak kecil.

“Ya ampun…” katanya sinis. “Ada juga ya perempuan yang tega sama sahabat sendiri.”

Ruangan langsung sunyi. Amira perlahan mengangkat wajah.

Sementara ibu Mirza langsung menatap tajam. “Apa maksudnya?”

Perempuan itu melipat tangan di dada. “Nurul cerita semuanya.” Nada suaranya penuh sindiran. “Dia sampai hamil begini karena dari dulu memang saling cinta sama Mirza.”

Amira menggenggam ujung bajunya erat. Dan perempuan itu melanjutkan tanpa rasa bersalah sedikit pun.

“Kalau memang tahu Mirza suka sama Nurul…” bibirnya mencibir tipis, “kenapa dulu masih mau dinikahi?”

Ibu Mirza langsung melangkah maju. “Jaga bicaramu.”

Namun ibu Nurul ikut bersuara kali ini. “Saudara saya cuma kasihan sama Nurul.” katanya dingin. “Dia sekarang hamil anak ustaz, tapi malah diancam dipenjara.”

Amira tertawa kecil. Tawa lelah yang terdengar pahit. Lucu sekali. Yang berzina siapa. Yang dihancurkan rumah tangganya siapa. Tetapi dirinya yang kini diposisikan sebagai perempuan jahat.

“Astaghfirullah…” ibu Mirza sampai gemetar menahan marah. “Kalian datang ke sini bukan buat minta maaf?”

“Memangnya cuma anak kami yang salah?”

Kalimat itu membuat Amira akhirnya bangkit berdiri perlahan. Tubuhnya masih lemas karena demam. Namun matanya kini terlihat dingin. “Cukup.” Suaranya serak tetapi tegas.

Semua langsung menoleh padanya.

Amira menatap ibu Nurul dan saudara-saudaranya satu per satu. “Kalau kalian datang ke sini hanya untuk menyalahkan saya…” napasnya bergetar pelan, “Lebih baik ambil barang Mirza lalu pergi.”

Suasana ruang tamu langsung menegang. Ibu Nurul tampak tidak suka dengan jawaban Amira.

Sementara salah satu saudara Nurul malah tersenyum miring. “Wah, sekarang berani juga ngomong.”

Ibu Mirza langsung naik pitam. “Kurang ajar!”

Namun Amira menahan lengan ibu mertuanya pelan. Ia terlalu lelah untuk bertengkar lebih jauh. “Kalian mau ambil barang Mas Mirza, kan?” suara Amira tetap tenang meski wajahnya pucat karena demam. “Silakan.”

Nurul sejak tadi hanya menangis sambil berdiri di belakang ibunya. Tatapannya beberapa kali mencoba melihat Amira, tetapi Amira sama sekali tidak membalas. Karena setiap melihat wajah perempuan itu dadanya kembali terasa sesak.

Salah satu saudara Nurul mulai masuk ke kamar Amira dan Mirza untuk mengambil pakaian serta barang-barang Mirza. Dan pemandangan itu terasa menyakitkan. Seperti benar-benar sedang memindahkan seorang suami dari rumah istrinya menuju rumah perempuan lain.

“Astaghfirullah…” ibu Mirza sampai memalingkan wajah menahan tangis.

Namun keluarga Nurul rupanya belum puas. “Ada ya perempuan…” saudara Nurul kembali menyindir sambil melipat tangan di dada, “yang enggak bisa melayani suami tapi masih mau dipertahankan.”

Ruangan mendadak hening. Wajah ibu Mirza langsung merah menahan marah. Sementara Amira hanya berdiri diam beberapa detik. Lalu perlahan tertawa kecil. Tawa yang membuat semua orang di ruangan itu justru merasa tidak nyaman.

“Kalian lucu sekali.” Suara Amira pelan. Tetapi tajam. “Kalian datang ke rumah perempuan yang baru kehilangan anak…” matanya mulai berkaca-kaca lagi, “Lalu menyalahkannya karena suaminya berzina.” Tak ada yang menyahut. Amira melanjutkan dengan senyum pahit. “Kalau memang Nurul begitu bangga dicintai lelaki yang sudah punya istri…” tatapannya akhirnya jatuh langsung ke Nurul, “Maka selamat. Semoga saja Mirza bisa setia padamu, Rul. Sebab balasan Allah itu pasti ada untuk orang yang zalim. Kalau tidak di dunia ya di akhirat nanti."

Nurul langsung menangis makin keras. Kalimat itu menghantam telak.

Bahkan ibu Nurul langsung terdiam.

Dan Amira belum selesai. “Percayalah.” senyumnya tipis penuh kepedihan. “Kalau dia bisa melakukan itu padaku…” ia menarik napas pelan, “Suatu hari dia juga bisa melakukannya padamu.”

Ruangan kembali sunyi total. Tak ada lagi yang berani menyindir. Karena untuk pertama kalinya mereka sadar perempuan yang mereka hadapi bukan sekadar istri yang diselingkuhi. Tetapi perempuan yang sudah terlalu terluka hingga tidak takut kehilangan apa pun lagi.

***

Akhirnya keluarga Nurul benar-benar pergi. Beberapa tas pakaian dan kardus milik Mirza dibawa keluar satu per satu. Tak ada lagi ucapan pamit. Tak ada permintaan maaf. Pintu rumah tertutup pelan setelah mereka pergi.

Dan mendadak rumah itu terasa kosong sekali.

Amira masih berdiri diam di ruang tamu sambil memandangi bekas jejak kardus yang tadi diseret keluar. Bekas kehidupan rumah tangganya. Yang kini benar-benar dibawa pergi.

Sementara ibu Mirza perlahan terduduk di lantai. Tatapan perempuan tua itu kosong beberapa detik. Lalu tiba-tiba tangisnya pecah keras.

“Ya Allah…” Beliau sampai memukul dadanya sendiri sambil menangis histeris.

Amira langsung kaget. “Ibu…”

Namun perempuan tua itu justru mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi sambil menangis. “Ya Allah…” suaranya bergetar penuh kesedihan. “Ampuni dosa anak hamba…” Tangis beliau semakin keras. “Hamba gagal mendidiknya…”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!