Reigan Douglas hanya bisa patuh saat Kakek memaksanya menikahi Hana—gadis "kampung" bermata bulat. Pernikahan itu terasa datar dan mati. Bagi Reigan, kehadiran wanita itu hanya akan membatasi geraknya sebagai penguasa Odelgard.
Namun, segalanya berubah ketika sebuah peluru melesat dan nyaris menembus pelipisnya. Reigan pun menyadari satu fakta yang menghantam egonya: peluru penyelamat itu berasal dari senjata milik Vesper—sniper legendaris yang ternyata adalah Hana, istrinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 19 Penyusup
Mata gelap Reigan berkilat berbahaya, namun sebelum ia sempat bersuara atau melepaskan kungkungannya, Hana sudah bergerak lebih dulu.
Tanpa kepanikan, wanita itu meletakkan telapak tangan kanannya yang dingin di dada tegap Reigan, mendorongnya pelan namun bertenaga untuk memberi ruang gerak. Silet di balik mulutnya urung ia gunakan karena prioritasnya mendadak berubah.
"Ayo," ajak Hana.
Hana tidak menunggu perintah. Dengan gaun formalnya yang anggun, ia membalikkan tubuh dan bergerak secepat bayangan, menyusuri koridor belakang yang remang menuju ruang kerja Kakek Arthur.
Reigan menggeram pelan dalam hati, mengikuti langkah efisien wanita itu dengan tangan yang sudah menyusup ke balik jas, siap mencabut senjatanya.
Langkah mereka berhenti tepat beberapa meter sebelum belokan pintu ruang kerja. Suara gesekan halus dari dalam ruangan terdengar janggal di tengah kesunyian lorong.
Melalui celah pintu yang sedikit renggang, bayangan seorang pelayan internal—orang dalam yang mengenakan seragam keluarga Douglas—terlihat sedang membungkuk di atas meja kerja kuno. Tangannya memegang sebuah alat suntik kecil, bersiap menyuntikkan cairan bening ke dalam botol obat harian milik Kakek Arthur.
Reigan menerjang masuk dengan sentakan kasar yang mematikan.
"Brengsek!"
Mendengar gebrakan pintu, pelayan itu berbalik kilat. Alih-alih menyerah, pria itu justru menarik sebilah pisau komando kecil dari balik celemeknya dan mengayunkannya secara membabi buta ke arah dada Reigan.
Perkelahian jarak dekat pecah dalam satu ketukan waktu yang sempit. Reigan menghalau tusukan pertama, mencengkeram lengan musuh dengan keras
Namun pelayan itu cukup licik; ia memutar tubuhnya dan memanfaatkan momentum untuk mengarahkan ujung suntikan beracun ke leher Reigan.
Sebelum jarum itu sempat menyentuh kulit Reigan, Hana merangsek maju menembus celah sempit di antara mereka. Gerakannya luwes, dingin, dan tanpa ragu sedikit pun.
Dengan satu sentakan tangan yang kaku dan penuh perhitungan, Hana mencengkeram pergelangan tangan pelayan yang memegang alat suntik tersebut.
Krak!
Bunyi tumpul dari tulang yang bergeser menggema singkat bersama lolongan tertahan dari mulut pelayan itu.
Cengkeraman Hana begitu kuat hingga jemari si pelayan otomatis melemas, menjatuhkan botol racun dan alat suntiknya tepat ke atas telapak tangan kiri Hana yang sudah bersiap menangkapnya sebelum cairan itu sempat tumpah ke lantai.
Pembersihan yang sangat bersih dan efisien.
Reigan langsung menekan tubuh pelayan itu ke atas meja kerja jati, mengunci lehernya dengan lengan kekarnya yang berotot.
"Siapa yang mengirimmu?!" desis Reigan dengan suara rendah yang menguarkan nuansa kegelapan mutlak. "Katakan, atau aku akan membuatmu memohon untuk mati!"
Namun, pelayan itu tidak menjawab. Rahangnya bergerak dengan sentakan kaku—menggigit sesuatu yang tersembunyi di balik dinding giginya. Sebuah kapsul sianida.
Hanya dalam hitungan detik, bola mata pria itu berputar ke atas, tubuhnya mengejang hebat di bawah tekanan lengan Reigan, sebelum akhirnya terkulai lemas tak bernyawa di atas meja kerja. Bunyi napas terakhirnya yang tercekat menyisakan keheningan yang mencekam di dalam ruangan.
Reigan mendengus kasar, melepaskan cengkeramannya pada mayat yang kini terbujur kaku. Matanya yang tajam langsung beralih pada Hana.
Wanita itu masih berdiri tegak di sampingnya, dengan tenang mengamati botol kecil berisi cairan bening di tangannya.
Napasnya sedikit memberat akibat gerakan taktis barusan, membuat dadanya yang terbalut gaun malam naik-turun dengan ritme yang konstan, namun wajahnya tetap menjadi topeng es yang kaku.
Tidak ada trauma, tidak ada ketakutan setelah melihat nyawa melayang di depan matanya.
"Kau..." Reigan menatap Hana intens, menyeka sisa peluh di pelipisnya sendiri sambil mengatur napas. Wanita ini bergerak lebih cepat dari pengawal elitku! batin Reigan, rahangnya mengeras menahan gejolak takjub yang asing.
Brak!
Pintu ruang kerja kembali dihantam terbuka dari luar sebelum Reigan sempat membalas kalimat menusuk itu. Marco melangkah masuk lebih dulu dengan pistol kaliber besar terhunus di tangannya, disusul oleh Nico yang menempel ketat di belakang sembari menatap layar tablet taktis yang menyala terang.
"Bos! Sinyal sensor gerak kamar Kakek—"
Kalimat Marco terputus di udara. Ekor matanya menangkap jasad pelayan yang sudah terbujur kaku di atas meja jati, lengkap dengan botol suntikan beracun yang berdiri tegak di samping asbak kristal.
Nico langsung menurunkan tabletnya, menyesuaikan letak kacamatanya sekilas dengan mata yang menyipit tajam. Gawai taktis mereka memang menerima alarm bahaya yang sama dari sistem induk milik Reigan, namun mereka tidak menyangka pertempuran di dalam ruangan ini sudah selesai bahkan sebelum tim pengamanan luar sempat mengambil posisi.
"Bersihkan," perintah Reigan pendek tanpa menoleh ke arah kedua anak buahnya. Suaranya rendah dan sarat akan otoritas yang dingin. "Bawa sampah ini dan dua penjaga yang pingsan di luar lewat koridor belakang. Jangan sampai ada tamu pesta yang tahu tempat ini sempat ditembus."
"Siap, Bos," sahut Marco cepat.
Tanpa banyak tanya, ia dan Nico segera bergerak efisien menarik jasad pelayan tersebut menjauh dari meja kerja, mengisolasinya ke sudut lorong luar agar tidak memicu keributan di aula pesta. Lalu menutup pintu kembali seakan tidak terjadi apa-apa.
Hana melangkah mendekat, meletakkan botol racun tersebut di atas meja dengan bunyi ketukan pelan yang kaku, tepat di samping asbak kristal kakek Arthur.
"Luka di punggungmu bisa robek kembali jika kau bergerak sekasar itu, Hana," desis Reigan lagi, suaranya merendah satu oktav saat melangkah maju, kembali mengikis jarak di antara mereka hingga aroma tubuh Hana yang bercampur samar dengan bau belerang racun kembali mengusik indra penciumannya.
Hana mendongak, menatap manik mata gelap Reigan dengan tatapan datarnya yang menyengat harga diri. Bibirnya tersenyum tipis. Senyuman tidak peduli.
Reigan mendengus gelap, hendak melangkah maju untuk membalas sarkasme itu ketika telinga tajamnya menangkap suara ketukan langkah kaki formal yang mendekat dari balik pintu luar koridor utama.
Seseorang sedang menuju ke ruangan ini.
Dan dari ritme langkahnya yang berat namun santai, itu jelas bukan langkah Kakek Arthur ataupun Rowand.
Musuh lain, atau kaki tangan Leon, sedang berjalan masuk.
Sebelum Hana sempat berbalik ke arah pintu, Reigan bergerak secepat kilat. Dengan satu gerakan kaku, ia mencengkeram pergelangan tangan Hana, menarik tubuh ramping wanita itu masuk lebih dalam ke sudut ruangan yang paling gelap—tersembunyi di balik pilar beton besar dan bayangan lemari buku raksasa.
Reigan mendorong tubuh Hana hingga punggung wanita itu membentur dinding panel kayu ek yang kaku demi menyembunyikan siluet gaunnya dari pandangan pintu masuk.
Duk.
Kedua tangan kekar Reigan langsung merangsek maju, mengunci sisi pinggang Hana, merapatkan dada bidangnya hingga tidak ada celah di antara mereka. Jantung Reigan berdegup kencang di balik kemeja hitamnya akibat sisa adrenalin tempur dan kedekatan fisik yang terpaksa ini.
semangattttt
lanjutttt😄💪
lanjuttt
smangattt💪😄