NovelToon NovelToon
Istri Yang Kau Anggap Bodoh

Istri Yang Kau Anggap Bodoh

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Selingkuh
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.

Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~

Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.

Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.

Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.

Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.

Rana tahu.

Rana melihat.

Ia menyadari.

Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.

Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?

Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26

Selamat membaca

°°°°°

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pucuk 17

Pagi itu masih basah oleh sisa embun. Udara terasa segar, dan suara kaki para pelari berpadu dengan kicauan burung di taman terbuka itu. Dipta duduk di bangku kayu, napasnya masih tersengal setelah jogging. Kaosnya sedikit basah oleh keringat, tapi wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibanding hari-hari biasanya.

Ia menunduk, menatap sepatu olahraganya, sampai sebuah suara kecil memecah lamunannya.

"Om..."

Dipta mengangkat kepala. Seorang anak laki-laki berdiri di depannya, menggenggam botol minum kecil. Matanya bulat, wajahnya bersih, dan entah kenapa...ada sesuatu yang terasa familiar.

Belum sempat ia berkata apa-apa, seorang wanita datang dari arah belakang anak itu.

"Raka, jangan ganggu orang-"

Kalimat itu terhenti di tengah jalan.

Laras.

Waktu seperti berhenti sejenak.

Dipta berdiri perlahan. "Laras..."

Ia baru ingat, jika anak ini adalah Raka. Putra dari Laras yang waktu itu bertemu dengannya di toko dessert. Maklum, ia hanya melihat sekilas, saat sidang perceraian Dipta belum sempat bertemu kembali dengan Raka karena Dipta harus segera pulang ke Yogyakarta.

Laras tersenyum tipis, senyum yang sama seperti dulu- hangat, tenang, dan entah kenapa selalu berhasil membuat hati Dipta sedikit goyah. "Aku kira siapa."

Raka memandang mereka berdua, lalu menarik tangan Laras. "Mama kenal?"

Laras mengangguk pelan. "Teman lama."

Sampai pada akhirnya mereka memilih duduk di bangku yang sama. Awalnya ada suasana canggung di antara mereka, namun lama-lama menjadi hangat tanpa mereka sadari. Sedangkan Raka bermain di dekat mereka, sesekali tertawa kecil saat mengejar kupu-kupu.

"Aku nggak nyangka kalau kamu masih suka jogging," kata Laras, memecah keheningan.

Dipta tersenyum kecil. "Bukan suka...lebih ke butuh."

"Buat lari dari pikiran?" Laras menatapnya dalam.

Dipta terdiam sejenak, lalu terkekeh pelan.

"Mungkin."

Ada jeda yang tidak terasa berat. Justru... nyaman.

Laras menatap wajah Dipta lebih lama, seperti mencoba membaca sesuatu yang tak terucap. "Kamu masih suka motret?"

Pertanyaan itu sederhana. Tapi entah kenapa, terasa seperti membuka pintu yang sudah lama terkunci.

Dipta menghela napas pelan. "Nggak lagi."

"Kenapa?"

"Semenjak menikah..." ia berhenti sejenak, menatap tanah, "hidupku ya cuma kerja. Buat Rana. Buat anak-anak. Nggak kepikiran lagi soal hal-hal kaya gitu."

Laras diam.

Lalu ia tersenyum. Bukan senyum biasa. Senyum yang dulu selalu Dipta kenal- senyum yang seolah memahami dirinya lebih dari siapa pun.

"Bukannya...jadi diri sendiri juga penting?"

Dipta mengangkat kepala.

Kalimat itu sederhana. Tapi terasa menghantam sesuatu dalam dirinya.

Ia teringat masa-masa dulu- kamera di tangannya, berburu cahaya sore, menghabiskan waktu di tempat-tempat kecil yang sepi tapi penuh cerita. Ia teringat bagaimana ia dulu bisa duduk berjam-jam hanya untuk menulis, atau sekedar menikmati lagu dengan mata terpejam.

Dan semua itu...hilang.

Bukan karena ia lupa.

Tapi karena ia berhenti.

"Kadang," lanjut Laras pelan, "kita terlalu sibuk jadi apa yang orang lain butuhkan...sampai lupa kita sendiri sebenarnya siapa."

Hening.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Dipta tidak punya jawaban.

~

Pintu rumah terbuka perlahan.

Suara engselnya terdengar pelan, kontras dengan langkah kaki Dipta yang masih berat setelah jogging. Ia masuk, melepas sepatu, lalu menatap ke dalam rumah yang...sunyi.

"Rana?" panggilnya, suaranya menggema tipis di ruang tamu.

Tidak ada jawaban.

Ia melangkah lebih dalam. "Alaric? Masayu?"

Tetap hening.

Biasanya, pagi seperti ini rumah akan dipenuhi suara- entah tawa anak-anak, atau suara Rana yang mengingatkan ini-itu. Tapi hari ini...kosong.

Dipta menghela napas pelan, lalu berjalan menuju dapur. Tangannya sudah hampir membuka kulkas ketika sesuatu menarik perhatiannya.

Sebuah kertas kecil berwarna pink, ditempel rapi di pintu kulkas.

Tulisan tangan yang sangat ia kenal.

Rana.

Dipta terdiam sejenak sebelum ia mengambilnya.

Mas, aku keluar sebentar ya.

Alaric sama Masayu dari tadi merengek pengen nangkep serangga. Jadi aku ajak ke taman deket rumah.

Sarapan sudah aku siapin di meja makan.

kalau dingin, tinggal dipanasin aja di microwave ya.

Jangan lupa makan.

Tulisan itu sederhana. Bahkan ada sedikit coretan kecil di ujungnya- seperti kebiasaan Rana yang selalu menambahkan sentuhan kecil di setiap catatannya.

Ia menarik napas pelan, lalu membuka kulkas. Mengambil sebotol air mineral, meneguknya beberapa kali tanpa jeda, seolah mencoba menelan sesuatu yang tiba-tiba terasa mengganjal di dadanya.

Langkahnya kemudian beralih ke meja makan.

Di sana sudah tersaji sarapan.

Sederhana.

Ikan acar dengan aroma asam segar yang khas, salad sayur yang ditata rapi, dan potongan buah- pir dan apel- yang sudah dikupas dengan bentuk kecil-kecil, seolah memudahkan siapa pun yang ingin memakannya.

Dipta berdiri di sana, tidak langsung duduk.

Matanya menyapu meja itu perlahan.

Semua terlihat biasa.

Terlalu biasa.

Dan mungkin… justru itu yang selama ini ia abaikan.

Ia menarik kursi, duduk, lalu menatap piring di depannya. Tangannya mengambil garpu, tapi gerakannya melambat.

Tanpa sadar, bayangan pagi tadi kembali muncul.

Suara Laras.

Senyumnya.

Dan kalimat itu-

"Bukannya jadi diri sendiri juga penting?"

Dipta mengusap wajahnya pelan.

Lalu matanya kembali jatuh pada meja makan.

Pada sarapan yang sudah disiapkan.

Pada buah yang dikupas dengan rapi.

Pada catatan kecil berwarna pink yang kini masih ia genggam di tangan kirinya.

Dua dunia itu… terasa begitu berbeda.

...****************...

Bersambung...

Nantikan terus ya, apakah Dipta akan tetap memilih hidup tenang bersama Rana? Atau justru kembali hidup bergairah seperti bersama Laras?

Dukung Yehppee dengan cara vote, like, komen, dan subscribe yaaaaaa :)

Happy reading 🫶

1
Ma Em
Dipta makin jauh masuk dlm jebakan Laras , semoga Rana secepatnya bisa membuktikannya kan bahwa Laras sengaja jebak Dipta untuk bisa menguasai perusahaan Dipta .
Ma Em
Ayo Rana cari bukti sebanyak banyak kalau Laras dekat dgn Dipta bkn karena msh cinta tapi Laras ada niat jahat pada perusahaan Dipta dan setelah semua terkumpul bukti kelicikan dan kejahatan Laras bongkar semua kejahatan Laras lalu Rana gugat cerai Dipta .
Ma Em
Ayo Rana kumpulkan bukti sebanyak banyaknya bahwa Dipta ada main hati dgn Laras setelah itu baru buat Dipta menyesal .
Gemuruh riuh
Go Rana!!! bikin calon pelakor itu tahu diri!!!!
Gemuruh riuh
turut berdukacita thor
Gemuruh riuh
waw, apakah Rana bakal menjebak Dipta dan Laras?
Ma Em
Turut berduka juga Thor , semoga almarhumah Husnul hotimah diampuni dosanya ditempatkan di surganya Allah 🤲🤲🤲.
Yehppee: makasih kak🫶
total 3 replies
Ma Em
Bagus Rana si Laras suruh masuk saja ke perusahaan Dipta agar mudah dipantau nya dan setelah Dipta ketahuan ada Main dgn Laras lalu jatuhkan saja agar nama Dipta dan Laras tercemar dan hancur .
Gemuruh riuh
wkwkwkkwk Hamdan jangan ke geeran entar patah hati sendiri
Gemuruh riuh
sa ae lu Hamdan🤣
Gemuruh riuh
hati-hati Ran, suamimu terpikat lagi sama cinta lamanya
Gemuruh riuh
wkwkw sarkas nih Rana
Gemuruh riuh
poor Rana
Gemuruh riuh
jodoh, mati, rezeki udah ada yang atur
Gemuruh riuh
li xian😍
Gemuruh riuh
waduh, Rana!!! hati-hati, sepertinya ada udang di balik bakwan
Gemuruh riuh
wkwkwk viralin guys🤣
Gemuruh riuh
cocok bener Kim ji won jadi Rana, pokonya bikin Rana Badas thor
Gemuruh riuh
makin seru, jangan di bikin menye-menye Rana nya thor😍
Ma Em
Rana lambat banget gerak nya dan membiarkan Dipta jln bareng sama selingkuhan nya .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!