NovelToon NovelToon
Penulis Erotis Tawanan Tuan Mafia

Penulis Erotis Tawanan Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Mafia
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: nenah adja

Kristella Duan tak menyangka jika pekerjaannya sebagai penulis novel erotis membawanya terjebak dalam pusaran obsesi mafia kejam Dominic Stralerr. Ketua klan mafia terbesar yang hanya bisa bergairah karena membaca novel yang dia buat.

Bagaimana Kristella di tekan untuk membuat cerita- cerita hanya untuknya, dan demi membangkitkan gairahnya yang telah mati. Hingga sebuah ide gila muncul yang Kristella kira bisa membuatnya lepas dari tekanan tersebut, namun justru membuatnya semakin terjerat dan tak bisa lepas.

"Bagaimana kalau kita praktekan saja secara langsung, Tuan?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenah adja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lari

29 guys, itu pun yang satu dari aku😟 ternyata memang segitu kemampuannya 😫 tapi ya syutralah ya. Gimana lagi, kita lihat nanti saja oke😅

Pokonya untuk sekarang happy reading🥰

...

"Apa katanya?" Ella bertanya sekali lagi setelah sebelumnya dia dua kali bertanya.

"Tuan masih membutuhkanmu. Jadi jangan bermimpi kau bisa pergi." Itu jawaban ketiga dari Bobby yang seolah tak lelah dan hanya senyum mengejek saat dia terus menjawab pertanyaan Ella.

"Apa dia gila!" Ella menampakan wajah kesal. "Bukan itu perjanjiannya!" Ella menghentakkan kakinya kesal.

"Kalian pikir aku ini apa? Aku juga—"

"Tunggu, Nona Ella!" Bobby menaikan tangannya memotong ucapan Ella. "Kau bisa menyampaikan keluhanmu secara langsung dengan membawa naskah baru nanti malam."

"Apa?"

"Kalau begitu aku permisi."

"Tunggu!" Ella hendak mengejar namun Bobby lebih dulu menutup pintu kamarnya membuat Ella semakin kesal.

Ella menendang pintu keras. Dominic benar- benar menyebalkan.

"Sialan! Kenapa dia terus menahanku." Ella melangkah ke arah jendela lalu melihat pelataran rumah. "Apa aku mencoba lari saja?" Ella melihat penjaga yang beberapa menit sekali berkeliling meski di siang hari, seolah mereka sangat waspada. Ella yakin kewaspadaan ini bukan hanya karena takut dia kabur, tapi memang ada yang tak beres dengan rumah ini.

Memang apa lagi, dimana mereka membunuh tapi tetap tak ada yang tahu bahkan mereka tetap tenang seolah itu bukan kejahatan.

"Tapi, bagaimana caranya aku lari?" Ella mengepalkan tangannya erat. "Kalau tidak di coba tidak akan tahu bagaimana nanti, kan?" Mata Ella berkilat menatap gerbang tinggi yang jauhnya beberapa meter dari sana.

Ella menoleh dan mengambil ponselnya di meja, lalu dompet kecil miliknya. Dia datang kesana tanpa apapun. Jadi, dia tidak akan membawa apapun. Itu sudah cukup baik, kan? Dia bahkan tidak mencuri apapun bahkan meski hampir satu bulan tenaganya terkuras demi menulis cerita- cerita gratis itu untuk Dominic.

Ella memasukan dompet dan ponselnya ke saku hoodie-nya. Lihatlah dia bahkan pergi dengan pakaian miliknya lagi tanpa membawa pakaian- pakaian pemberian Dominic.

Ingat Dominic rasanya kesal setengah mati. Kenapa ada orang yang tak tahu malu seperti itu?

Apa pria itu berpikir dia barang miliknya yang bisa di perlakukan sesuka hati?

Hati Ella semakin kesal saat mengingat lagi apa yang terjadi malam kemarin. Dan bisa- bisanya dia juga menikmati itu bahkan hampir terbuai. "Aku bahkan kesal saat dia tiba-tiba berhenti," gumam Zena. "Dasar perawan murah!" Ella merasa seperti wanita haus belaian sebab Dominic yang justru berhenti begitu saja.

Ella menginjak tangga terakhir dan melihat sekitarnya. Saat tak menemukan pelayan satu pun Ella melanjutkan langkahnya menyusuri lantai satu hingga dia benar-benar mencapai pintu.

Mata Ella masih memperhatikan dengan waspada. Dia harus berjalan beberapa puluh meter hingga mencapai gerbang, dan lagi ... gerbang itu masih di jaga penjaga berbadan besar.

"Sekarang bagaimana?" Ella menggigit bibirnya gelisah. Saat melihat seorang penjaga melangkah ke arahnya Ella segera berlari ke arah pilar besar lalu bersembunyi.

Masih dengan menyembunyikan tubuhnya di balik pilar besar, Ella mendengar seseorang tengah bicara.

"Kau tahu apa kerjanya wanita itu?" Ella mengernyit lalu mengikuti sumber suara dan melihat dua orang berseragam pelayan tengah berbicara di dekat sebuah mobil box yang lumayan besar.

"Tidak tahu, kita bahkan tak boleh bertanya."

"Tapi kau tahu, Tuan Dom bahkan membuatkan mini market itu untuknya, dan sekarang kita harus berbelanja lebih banyak dari sebelumnya." Satu pelayan menepuk badan mobil di sebelahnya.

"Kau bicara karena iri Tuan Dom melakukan itu?" Pelayan satu lagi tertawa.

"Tentu saja, kalau lihat wajahnya aku juga semakin kesal. Dia bahkan tak ada cantik- cantiknya."

"Rambutnya yang keriting bahkan kaca mata besarnya, bukankah itu sangat mengganggu?" Kembali mereka tertawa.

"Sudah kita harus segera pergi belanja. Dan jangan sampai ada yang tahu pembicaraan kita. "

"Kau benar, kalau begitu aku ambil dompetku dulu."

"Hm, cepatlah!" Seorang pelayan pergi masuk ke dalam melewati sebuah pintu yang Ella kira itu pintu menuju dapur, sementara pelayan lainnya menaiki mobil dan duduk si sebelah sopir.

Ella mengumpat dalam hati saat tahu orang yang mereka bicarakan adalah dirinya.

"Apa aku sejelek itu?" gumamnya semakin kesal, dia bahkan menarik rambut kritingnya. "Ini keriting alami, disaat orang harus menggunakan Hair Curler, aku mendapatkan dari lahir." Kenapa mereka yang ada disana semuanya bermulut jahat.

Namun meski marah Ella juga tak bisa menghampiri mereka dan menjambak rambut gelung rapi mereka. Dia hanya menatap mobil box pengangkut barang itu.

Mereka bilang mereka akan belanja, bukankah itu artinya mobil itu akan keluar dari gerbang?

Ella melihat ke belakang. Saat tak menemukan siapapun, Ella segera berjalan ke arah belakang mobil box tersebut dan tersenyum saat melihat pintu belakang sedikit terbuka.

"Kau sudah periksa pintu belakang?"

"Oh, biar ku cek." Mendengar suara Ella segera naik ke dalam mobil dan menarik pintu agar tertutup.

Tak lama kemudian pintu di dorong dan di kunci membuat ruangan di dalamnya menjadi gelap.

Ella menyalakan senter di ponselnya membuatnya melihat beberapa kotak pendingin di dalamnya.

Para orang kaya memang punya cara untuk belanja. Mereka bahkan menggunakan mobil besar untuk belanja bahkan kotak pendingin untuk bahan makanan daging agar lebih segar.

Ella duduk disana bersandar pada kotak pendingin menunggu mereka benar-benar keluar dari gerbang, lalu nanti saat mereka tiba di pusat perbelanjaan dia akan turun tanpa diketahui juga.

  ....

Dominic pulang lebih awal hari ini, bukan karena pekerjaannya yang cepat selesai, tentu saja dia yang memiliki beberapa kasino dan klub malam yang jelas beroperasi di malam hari Dominic masih sangat sibuk, bahkan biasanya nyaris tak pulang sebab bisnis ilegal lainnya yang memang membutuhkan perhatiannya.

Tapi kali ini Dominic sudah menginjakkan kakinya di rumah pukul tujuh malam sebab tak sabar ingin mengerjai gadis berkaca mata tebal di rumahnya.

"Panggil dia ke kamarku!" katanya saat dia melewati koridor kamar Ella.

Bobby mengangguk patuh, dan membawa langkahnya ke arah kamar Ella, sementara Dominic memasuki kamarnya.

Dominic melepas jasnya lalu menyampirkannya di sandaran sofa, berlanjut membuka kancing kemejanya dengan langkah menuju kamar mandi. Dia akan menyegarkan tubuhnya dulu sebelum benar-benar bermain dengan Ella.

Baru membayangkannya saja Dominic sudah merasa geli. Belum lagi dia ingin mengulang pembuktian ke jantan an yang dia rasakan kemarin.

Dominic akan membuktikan sekali lagi. Benarkah jika hanya gadis itu yang bisa membuatnya 'berdiri'.

Sialan! Baru membayangkan sikap polosnya saja kulitnya sudah berdesir.

Ketukan pintu tak dia hiraukan hingga pintu terbuka menampilkan wajah Bobby yang sedikit menampakkan kegugupan.

"Ada apa?" Dominic melepas kemejanya menampakan otot-otot dada juga beberapa bekas luka di punggung.

"Tuan, Nona Ella tidak ada di kamar."

Dahi Dominic sedikit tertekuk. "Dia di dapur? Gadis itu suka sekali camilan."

Bobby menggeleng membuat rahang Dominic mengeras "Pelayan bilang belum melihat Nona Ella sejak pagi."

"Sekarang bagaimana Tuan? Nona Ella pergi membawa rahasia besar anda." Bobby menunggu instruksi hingga suara Dominic kembali terdengar.

"Tentu saja kita harus mencarinya." Bobby mengangguk, lalu berbalik hendak pergi, namun suara Dominic lagi- lagi terdengar.

"Tidak! Aku sendiri yang akan mencarinya." Dominic mengenakan kembali kemejanya, dan bergegas keluar diikuti Bobby yang membawa jas Dominic menyampirkan di pundak majikannya yang kini membawa hawa dingin penuh kemarahan.

.....

1
Saadah Rangkuti
memang LICIKKK..kau Dominik
Ne Ajja
lagi praktek itu, La...
kan kamu yg ngawalin....
jadi ketagihan kan itu Dom..🤭
Ne Ajja
hemmm....
ada musuh atau emang sengaja diledakin sama Dom buat ngehapus jejak 🤔🤔
S
lama banget thor up nya, udang greget deh gue nungguin 🥴
Agus Tina
ceritanya bqgus, kain dr yg lain ... ayo pembaca kemana aja kalian. rekomend ini loh
Ne Ajja
ati2 Dom...
kamu malah bikin Ella jadi takut sama kamu..
Saadah Rangkuti
akal bulus si tuan Dom imah,, biar ella kembali 😃
Ne Ajja
masuk perangkap, Dom nih
nenah adja: siap2 jadi tawanan gak tuh🤣
total 1 replies
Saadah Rangkuti
jangaaaaannn...🤣🤣🤣
Agus Tina
Yaa kalau pindah sedih deh ... tapi tetep semangat ya thor. Ceritamu bagus2 kok ...
nenah adja: tengkyu kk,😍
total 1 replies
Niar Humairah
info ya thorr kalo pindah ke ffff
nenah adja: kalau cerita ini sudah terhapus berarti sudah pindah🤣
total 1 replies
Aryati Ningsih
disini aja thor
Ne Ajja
nama pena nya apa Ka?
nenah adja: 🤣🤣🤣 bisa jadi
total 3 replies
Indah Lestari
yaaah...sedih deh,,,
bakal kangen dunks kak ....
Riri DH
jangan di drop dong Thor..
Niar Humairah
kereeen
Ne Ajja
berani juga, Dom...
Saadah Rangkuti
ternyata itu nyata ya say,,sampai basah lagi 😁😁
Ne Ajja
ayo Ella, kerja yg rajin ya...

aq dah vote kamu nih..
semoga retensi kamu bagus ya..
nenah adja: aamiin🤲 tengkyu ya🤧😍
total 1 replies
Niar Humairah
hahaaa🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!