Kaelen Voss, pemuda yang dianggap sampah karena tak memiliki kekuatan apa pun seketika mendapatkan kekuatan legendaris Sistem Penguasaan Elemen. Dia mampu mengendalikan segala elemen, dari dasar hingga yang terkuat. Melalui perjalanan dan pertempuran, dia bangkit dari keterpurukan, mengungkap rahasia masa lalu, dan akhirnya mengalahkan penguasa kegelapan untuk menjadi sosok terhebat yang menguasai segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pingsan Karena Kelelahan
Kaelen berdiri tegak di sana. Uap panas berwarna kuning keemasan mengepul keluar dari pori-pori kulitnya. Matanya yang tadinya abu-abu kini berkilat dengan Cahaya Petir yang hidup. Berkedip-kedip setiap kali dia berkedip. Rasa sakit di tubuhnya lenyap digantikan oleh kekuatan yang meluap-luap, begitu besar hingga dia merasa bisa membelah langit jika dia mau.
Kaelen menatap Baron yang terhuyung-huyung hampir jatuh. Suaranya rendah namun bergetar dengan kekuatan yang menekan hati semua orang yang mendengarnya.
"Kau bilang, rasakan kekuatan yang tak bisa aku impikan?" ucap Kaelen pelan namun jelas. "Terima kasih. Berkatmu, aku sekarang mengerti segalanya tentang Petir. Kau benar. Petirmu sangat kuat, sangat cepat, dan sangat menyakitkan. Tapi sayang sekali, kau lupa satu hal penting."
Kaelen melangkah maju selangkah. Hanya satu langkah, namun karena energi petir yang mengalir di kakinya, dia seolah berpindah tempat dan sudah berada tepat di depan wajah Baron.
"Elemen apa pun, sekuat apa pun pemiliknya. Pada dasarnya, semuanya adalah milikku. Semuanya tunduk pada aturanku. Dan kau... kau hanya peminjam kecil yang sombong."
Baron gemetar hebat. Dia ingin bergerak. Dia ingin menyerang lagi, tapi tubuhnya tidak merespons. Tidak hanya karena dia kehabisan tenaga, tapi karena rasa takut yang murni. Di depan matanya, bukan lagi pemuda desa yang lemah. Yang berdiri di sana adalah sosok yang memancarkan wibawa seorang Penguasa Mutlak. Tekanan itu begitu berat hingga lutut Baron lemas, dan akhirnya dia berlutut ke tanah. Kepalanya tertunduk dalam kekalahan yang menyakitkan.
"Aku... aku tidak mungkin kalah. Aku jenius... Aku bangsawan," gumam Baron tak percaya. Air mata amarah dan rasa malu menetes di pipinya.
"Kekalahanmu bukan karena kau lemah, Baron," jawab Kaelen dingin. "Tapi karena kau berdiri di jalur yang salah. Kau berpikir kekuatan adalah alat untuk menindas dan menyakiti orang lain. Kau lupa bahwa kekuatan sejati adalah tanggung jawab. Dan sekarang, kau telah membayar harga atas kesombonganmu."
Suasana hening sepenuhnya. Tidak ada satu pun suara yang terdengar. Ribuan siswa yang menyaksikan adegan itu sama sekali tidak mampu bergerak atau bersuara. Otak mereka seolah berhenti bekerja. Apa yang baru saja mereka lihat? Pengguna elemen Petir tingkat Lanjutan sekaligus kebanggaan akademi dikalahkan habis-habisan hanya dalam satu pertukaran serangan terakhir? Dan bukan hanya dikalahkan, tapi energinya disedot habis sampai nyaris menjadi orang biasa?
Ini bukan lagi sekadar kemenangan. Ini adalah penghancuran total.
Darah dingin mengalir di punggung setiap siswa Kelompok Mahkota Emas yang ada di sana. Jika Baron saja bisa dikalahkan semudah itu. Bagaimana dengan mereka? Bagaimana dengan Reynald sendiri?
Di kejauhan, di pinggiran lapangan terlihat Reynald berdiri diam di balik tiang besar. Tangannya mengepal erat hingga kukunya menusuk telapak tangan sampai berdarah. Wajahnya yang biasanya dingin dan penuh percaya diri kini berubah pucat dan penuh ketakutan. Dia melihat segalanya. Dia melihat apa yang dilakukan Kaelen. Dan untuk pertama kalinya, Pangeran itu sadar sepenuhnya bahwa musuh yang dia anggap sampah itu adalah makhluk yang jauh di luar jangkauan pemahamannya.
Lira yang tadinya menutup mata perlahan membukanya. Saat melihat Kaelen berdiri tegak di tengah lapangan. Berkilauan dengan kekuatan yang luar biasa itu. Tangisannya berubah menjadi senyum lega dan bangga. Dimas menghela napas panjang, lalu tersenyum lebar sambil menggelengkan kepala takjub.
"Lihatlah, itulah teman kita," bisik Dimas penuh kekaguman.
Namun kemenangan besar ini ternyata memakan harga yang mahal.
Saat lonjakan adrenalin dan kekuatan itu mulai mereda. Saat euforia kemenangan perlahan menghilang. Rasa lelah yang luar biasa dahsyat seketika menghantam seluruh tubuh Kaelen. Dia sadar, menyerap dan memproses energi sebesar itu dalam waktu sesingkat itu adalah hal yang sangat berisiko. Tubuh manusia memiliki batasnya, dan dia baru saja melampaui batas itu berkali-kali lipat.
Urat-urat di sekujur tubuhnya terasa seperti akan putus. Otak dan sarafnya yang dipaksa bekerja terlalu keras kini mengirimkan sinyal bahaya yang hebat. Pandangannya mulai kabur, berputar, dan gelap perlahan. Kekuatan yang meluap-luap tadi seolah dicabut kembali, digantikan oleh kelemahan total.
Kaki Kaelen yang kokoh tadi bergetar hebat, lalu perlahan menekuk. Tubuhnya yang gagah jatuh ke belakang, dan sebelum menyentuh tanah, kesadaran Kaelen sudah hilang sepenuhnya.
"KAELEN!!"
Jeritan Lira memecah keheningan. Dia berlari secepat kilat diikuti Dimas. Jatuh berlutut di samping tubuh Kaelen yang terbaring diam. Napas Kaelen masih ada, namun sangat lemah dan pelan. Kulitnya yang tadinya berkilauan kini pucat pasi, dingin, dan tertutup keringat dingin.
Lira segera mengerahkan seluruh kemampuan elemen Air-nya yang berfungsi sebagai penyembuh. Membungkus tubuh Kaelen dengan cairan biru lembut untuk menstabilkan kondisinya. Wajahnya penuh kekhawatiran, namun ada rasa lega di sana. Dia tahu... dia tahu bahwa hari ini nama Kaelen Voss telah terukir selamanya dalam sejarah Akademi Sihir Kerajaan.
Para guru yang sejak tadi mengawasi buru-buru berdatangan. Dipimpin langsung oleh Guru Besar Valerius. Wajah Valerius penuh dengan campuran rasa kagum, kaget, dan kekhawatiran mendalam. Dia kemudian memeriksa kondisi Kaelen. Merasakan sisa-sisa energi yang masih berputar liar namun terkendali rapi di dalam tubuh pemuda itu.
"Kondisinya aman untuk saat ini," ucap Valerius lantang kepada semua orang. Suaranya bergema keras. Dia menatap kerumunan siswa yang masih terpaku. "Dia hanya kelelahan luar biasa. Tubuhnya dipaksa menampung dan mengendalikan kekuatan yang jauh melebihi kapasitas manusia biasa. Dia akan bangun dan saat dia bangun, ingatlah baik-baik pemandangan hari ini."
Valerius menatap tajam ke arah Baron yang masih berlutut lemas, lalu ke arah Reynald yang bersembunyi di kejauhan.
"Mulai hari ini, tidak ada lagi yang boleh memandang rendah Kaelen Voss. Dia bukan lagi sekadar siswa. Bukan lagi anak desa, dan bukan lagi lawan yang setara dengan kalian. Dia adalah sosok yang telah membuktikan dirinya berdiri di puncak yang berbeda. Siapa pun yang berani menantangnya lagi, pastikan kalian siap kehilangan segalanya."
Kalimat itu menjadi penutup yang menggetarkan hati. Hari itu, di Lapangan Latihan Utama hierarki kekuasaan di Akademi Sihir Kerajaan berubah drastis. Sang sampah telah menjadi raja. Dan raja baru itu kini sedang tertidur lelap. Memulihkan diri untuk bangkit kembali dengan kekuatan yang jauh lebih dahsyat, siap menghadapi konspirasi besar yang sedang menantinya di masa depan.
seperti biasa kakak selalu putus tengah jalan😩...suasananya seru+ kepo tau..../Scream/