NovelToon NovelToon
Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Kultivasi
Popularitas:445
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

Klan Jenderal Cang yang agung berdiri di ujung jurang kehancuran. Titah rahasia Kaisar Yan telah turun, mengincar nyawa setiap anggota keluarga yang memegang kendali militer. Sebagai pewaris tunggal, Cang Qixuan memilih jalan yang paling dibenci dunia demi menyelamatkan klannya: menjadi sampah. Ia menenggelamkan diri dalam lautan arak, judi, dan wanita, menghamburkan emas kekaisaran seolah debu. Di balik cemoohan rakyat dan tawa meremehkan musuh-musuhnya, Qixuan merajut Jaring Bayangan. Setiap keping emas yang ia lempar di rumah bordil adalah investasi intelijen; setiap aib yang ia ciptakan adalah perisai pelindung. Berawal dari kultivasi yang hancur, ia memanjat kembali dari dasar jurang kekuasaan, menelan penghinaan untuk kelak menelan seluruh Kekaisaran Yan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 32 kiamat finansial Surga dan meriam penembus batas dewa

Balairung Kesempurnaan Surgawi di puncak Sekte Titah Langit selalu menjadi simbol keabadian dan ketertiban mutlak di Benua Tengah. Pagi itu, sinar matahari keemasan menyinari lantai kristal yang tembus pandang, memantulkan keagungan dari ratusan pilar berukir naga yang menyangga atap langit. Namun, kemegahan fisik itu berbanding terbalik dengan keheningan mencekam yang kini meracuni udara di dalam ruangan tersebut.

Kaisar Surgawi Huangpu Taiyi duduk mematung di atas singgasananya. Mata abadinya yang biasanya memancarkan arogansi keilahian kini melotot menatap lima belas kursi giok yang kosong melompong di barisan depan dewan agung.

Di tengah ruangan, Kepala Inkuisitor Langit berlutut dengan tubuh gemetar hebat, dahinya menempel pada lantai kristal yang dingin. Di tangannya terdapat setumpuk gulungan laporan pembukuan yang tintanya seolah berubah menjadi racun mematikan.

"Ulangi laporanmu, Inkuisitor," suara Huangpu Taiyi terdengar sangat pelan, sangat tenang, namun keheningan yang mengikutinya terasa seperti pisau raksasa yang digantung tepat di atas leher semua orang di ruangan itu. "Ulangi sekali lagi agar telingaku yang sudah hidup ribuan tahun ini tidak salah mendengar."

Kepala Inkuisitor menelan ludah, keringat dingin membasahi punggung zirahnya. "Y-Yang Mulia Kaisar Surgawi... Berdasarkan audit fajar tadi... Lima belas tetua divisi utama telah menghilang tanpa jejak. Mereka... mereka tidak diculik. Formasi pelacak jiwa menunjukkan bahwa mereka menghapus sendiri jejak spiritual mereka dan pergi melalui portal evakuasi darurat."

Inkuisitor itu menarik napas putus asa sebelum menyampaikan pukulan terakhir.

"Selain itu... Perbendaharaan Militer Pusat kosong. Tujuh puluh persen cadangan *Baja Bintang* telah dialihkan ke rute fiktif dan lenyap. Seluruh persediaan pil penyembuh tingkat dewa yang dijadwalkan untuk pasukan perbatasan telah ditukar dengan pil kosong berisi debu. Dan yang paling fatal... sandi akses untuk sepuluh formasi pelindung di gerbang timur dan selatan ibukota telah dihapus dari inti pusat. Saat ini, ibukota Titah Langit berada dalam kondisi lumpuh pertahanan."

*KRAAAK!*

Lengan singgasana yang terbuat dari kristal bintang purba—materi yang diklaim tidak bisa dihancurkan oleh senjata kelas Kaisar sekalipun—hancur menjadi debu putih di bawah cengkeraman tangan Huangpu Taiyi.

Seluruh tetua agung yang tersisa di ruangan itu serentak bersujud, tidak berani mengangkat wajah mereka. Tekanan gravitasi dari ranah *Kaisar Langit (Heavenly Emperor)* yang sedang murka meledak tak terkendali. Ruang dimensi di dalam balairung itu retak, memunculkan kilatan petir hitam yang menyambar membabi buta.

"Pengkhianatan massal..." desis Huangpu Taiyi, suaranya kini terdengar seperti geraman binatang buas yang terluka. "Lima belas pilar birokrasiku, para dewa yang telah kuberikan kekuasaan dan umur panjang... menjual ibukota ini dari dalam?! Kepada siapa?! Kepada pemuda fana dari Benua Timur itu?!"

Di sudut ruangan, Patriark Yun Canghai dari Sekte Langit Berkabut yang berstatus sebagai pengungsi menekan tubuhnya serendah mungkin ke lantai. Tubuhnya bergetar hebat. Ia teringat kembali pada hari ketika armada Qixuan menghancurkan Teratai Darah. Ia telah memperingatkan mereka. Ia telah mengatakan bahwa pemuda itu tidak berperang menggunakan pedang.

*Cang Qixuan tidak meruntuhkan tembok, dia membeli para penjaga yang menjaga tembok tersebut!* batin Yun Canghai dipenuhi kengerian absolut. Kekayaan pemuda itu telah mencapai tahap di mana ia bisa memanipulasi keserakahan para dewa tertinggi.

"Yang Mulia!" salah satu tetua jenderal memberanikan diri untuk bersuara. "Tanpa sandi formasi dari Tetua Gerbang Timur, Formasi *Jaring Pembakar Langit* yang baru saja kita pasang di perbatasan Lautan Awan Spiritual tidak bisa dihubungkan dengan urat bumi ibukota! Formasi itu kini beroperasi dengan daya minim! Jika armada iblis Jinling itu datang, mereka akan menembusnya dengan mudah!"

Huangpu Taiyi perlahan bangkit dari singgasananya. Wajahnya yang awet muda kini tampak mengerikan, dipenuhi urat-urat kehitaman akibat amarah yang meracuni darah surgawinya.

Ia akhirnya menyadari bahwa ia tidak sedang berhadapan dengan sekte saingan atau monster purba. Ia berhadapan dengan parasit yang menyerang sistem saraf kekaisarannya, melumpuhkan organ-organ vitalnya sebelum pertarungan fisik dimulai.

"Jika lintah darat itu mengira bahwa melumpuhkan birokrasiku berarti melumpuhkan kekuatan Benua Tengah, maka dia terlalu meremehkan apa artinya menjadi seorang Kaisar Langit," geram Huangpu Taiyi. Ia melangkah turun dari anak tangga singgasana, jubah emasnya berkobar layaknya api matahari sejati.

"Tetua Agung!" perintah Sang Kaisar. "Tinggalkan perbatasan! Tarik mundur seluruh pasukan garda depan ke dalam radius lima puluh li dari ibukota! Jika formasi gerbang tidak bisa diaktifkan menggunakan sandi, maka kita akan mengaktifkannya menggunakan *Darah Primordial*!"

Para tetua terkesiap. Mengaktifkan pertahanan kota menggunakan darah primordial berarti Sang Kaisar Surgawi harus mengorbankan sebagian esensi umurnya sendiri untuk membangkitkan kehendak leluhur kuno yang terkubur di bawah ibukota.

"Aku sendiri yang akan menjadi inti dari ibukota ini," mata Huangpu Taiyi berkilat dengan kegilaan seorang penguasa tiran. "Biarkan armada mainannya datang. Biarkan dia melihat bahwa setelah semua uangnya dihabiskan untuk menyuap anjing-anjing pengkhianat itu, di hadapan kekuatan murni Kaisar Langit, kekayaan hanyalah tumpukan kertas yang menunggu untuk dibakar!"

Sementara kepanikan dan keputusasaan membakar Benua Tengah, di sisi lain dunia, pemandangan yang sangat surealis sedang terjadi di lantai dasar Menara Teratai Emas.

Lima belas pria tua yang mengenakan jubah mewah compang-camping tampak sedang berlutut di atas lantai pualam yang dingin. Mereka adalah para tetua tinggi dari Sekte Titah Langit yang malam sebelumnya memegang kekuasaan atas jutaan nyawa. Kini, mereka gemetar ketakutan, tidak berani menatap langsung ke arah pemuda berjubah hitam yang duduk santai di kursi malas di hadapan mereka.

Cang Qixuan sedang menikmati pijatan di pundaknya oleh dua pelayan cantik. Matanya setengah terpejam, menikmati alunan musik kecapi. Di sampingnya, Mo Chen berdiri layaknya bayangan dewa maut, sementara Putri Yan Ling memegang sebuah papan catatan, memeriksa data yang diserahkan oleh para pengkhianat tersebut.

"Tuanku," Yan Ling melaporkan dengan nada profesional, membalik halaman catatannya. "Lima belas mantan tetua ini telah menyerahkan total lima ratus juta Kristal Inti Bintang dari kas Benua Tengah yang mereka selundupkan. Selain itu, kita mendapatkan kode cetak biru untuk Formasi *Jaring Pembakar Langit*, jalur suplai urat bumi rahasia, serta daftar nama seratus komandan militer Titah Langit beserta kelemahan fatal mereka."

Qixuan membuka sebelah matanya, melirik kelima belas tetua yang sedang bersujud itu.

"Kinerja yang memuaskan," Qixuan menguap pelan. "Kalian membuktikan bahwa pepatah lama itu benar: tidak ada benteng yang tidak bisa ditembus, yang ada hanyalah harga suap yang belum pas."

Tetua Liu, mantan pengawas persenjataan Benua Tengah, memberanikan diri mengangkat wajahnya yang berlumuran keringat. "T-Tuan Muda Dewa Kekayaan! Kami telah memenuhi bagian kami dari kesepakatan! Kami telah menyerahkan segalanya pada Anda! Membiarkan kami kabur kemari... apakah kami kini bisa mendapatkan suaka dan posisi di Jinling?"

Qixuan tertawa kecil. Tawa itu terdengar renyah, namun entah mengapa membuat bulu kuduk kelima belas mantan dewa itu berdiri.

"Posisi di Jinling?" Qixuan memberi isyarat pada pelayannya untuk berhenti memijat, lalu ia duduk tegak. "Tentu saja. Kamar Dagang Katak Emas selalu menyambut tenaga kerja baru yang memiliki pemahaman tentang angka."

Qixuan menoleh pada Shen Feiyan yang baru saja memasuki ruangan. "Feiyan, bawa kelima belas tamu kita ini ke departemen akuntansi bawah tanah. Berikan mereka masing-masing sebuah sempoa, tumpukan buku besar dari sekte-sekte yang baru kita akuisisi, dan meja kecil di sudut ruangan. Jika mereka salah menghitung satu digit pun dari laporan pajak harian kita... potong salah satu jari mereka."

Mata Tetua Liu membelalak ngeri. "A-Akuntan bawah tanah?! Tapi... tapi kami adalah ahli ranah Domain Bumi! Kami adalah petinggi sekte! Kau berjanji kami akan menjadi warga kehormatan!"

"Kau adalah warga kehormatan," Qixuan menyeringai iblis. "Di Jinling, menjadi akuntan yang mengelola uangku adalah posisi yang jauh lebih terhormat daripada menjadi dewa yang memegang pedang. Terlebih lagi, kalian adalah pengkhianat. Dan sebagai seorang pengusaha, aku tidak pernah mempercayai pengkhianat untuk memegang posisi militer atau strategis. Mulai hari ini, kalian tidak akan pernah lagi melihat matahari, merasakan qi alam, atau berlatih bela diri. Kalian akan menghabiskan sisa hidup kalian menghitung uangku hingga mati."

"I-Ini penipuan!" jerit salah satu tetua, melompat berdiri dengan niat membunuh, mencoba memanggil sisa qi Domain Bumi-nya untuk menyerang Qixuan.

Namun, sebelum tetua itu sempat melangkah, Mo Chen yang berdiri sejauh sepuluh meter hanya memicingkan matanya.

*SREK!*

Sebuah pisau bayangan tak kasat mata memotong kedua kaki tetua tersebut tepat di bawah lutut. Tetua itu jatuh berdebum ke lantai, menjerit parau saat darah menyembur mengotori pualam putih. Empat belas rekannya langsung menundukkan kepala mereka kembali ke lantai, menggigil ketakutan hingga mengompol.

Mereka akhirnya sadar. Mereka tidak lari dari kiamat menuju surga. Mereka lari dari seorang kaisar yang pemarah, hanya untuk menyerahkan diri mereka menjadi budak abadi bagi iblis kapitalis yang sesungguhnya.

"Bawa mereka pergi. Bau ketakutan mereka merusak aroma tehku," perintah Qixuan mengibaskan tangannya dengan jijik.

Setelah Shen Feiyan dan pasukan bayangan menyeret para mantan dewa itu pergi, Qixuan bangkit berdiri. Auranya yang telah menembus pertengahan ranah *Jiwa Baru* menyebar, menyelimuti seluruh menara dengan tekanan absolut yang tenang namun mematikan.

"Leng Yue," panggil Qixuan.

Wakil Jenderal itu muncul dari balik pintu perunggu raksasa di ujung ruangan. Ia sudah mengenakan zirah tempur penuh. "Hamba siap, Panglima!"

"Apakah pesananku sudah selesai dihidangkan?"

"Seluruh lima puluh ribu laras *Meriam Kiamat Timbangan Surga* generasi ketiga telah dipasang dan disinkronkan di atas dua ribu kapal armada pengangkut," lapor Leng Yue, matanya berkilat penuh semangat pertempuran. "Inti Matahari Buatan telah dipecah dan berfungsi sempurna tanpa cacat. Pasukan Naga Hitam telah bersiaga di geladak. Ibukota Jinling telah dikunci dalam *Formasi Tirai Sutra Emas* pertahanan penuh di bawah pengawasan Nona Feiyan."

Qixuan melangkah menuju jendela raksasa, menatap lautan awan yang membentang tanpa batas di atas ibukotanya.

Sudah saatnya. Tirai rahasia telah disingkap, aset musuh telah dilucuti, dan persiapan mesin perang telah mencapai puncaknya. Sang Dewa Kekayaan tidak perlu lagi bermain bayangan.

"Mari kita berangkat," ucap Qixuan lembut, namun kata-katanya bergema di telinga setiap prajurit yang bersiaga di luar sana. "Tebus setiap keping batu spiritual yang telah kuhabiskan. Kita akan pergi menagih utang ke Benua Tengah."

Di langit perbatasan antara Benua Timur dan Lautan Awan Spiritual, pemandangan epik yang belum pernah tercatat dalam kitab sejarah manapun sedang berlangsung.

Dua ribu armada kapal terbang yang dipugar dari sisa-sisa harta Benua Atas berbaris dalam formasi trapesium raksasa yang menutupi langit sejauh puluhan kilometer. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang terbuat dari kayu spiritual, kapal-kapal armada ini telah dilapisi oleh lempengan *Besi Bintang Jatuh* yang menyerap cahaya matahari, membuatnya tampak seperti ribuan pulau baja terapung yang menantang gravitasi.

Di setiap sisi lambung kapal, moncong-moncong laras meriam raksasa yang berwarna perak kehitaman menonjol keluar. Urat-urat naga merah yang terukir di pangkal meriam berdenyut-denyut seirama, memancarkan hawa panas yang luar biasa pekat akibat tenaga *Inti Matahari Buatan* yang berputar di dalamnya.

Cang Qixuan berdiri di ujung haluan kapal bendera, tepat di puncak patung kepala naga hitam yang terbuat dari obsidian. Angin kencang menerpa jubahnya, namun tidak satu pun helai rambutnya yang berantakan, tertahan oleh gravitasi domainnya sendiri.

Di kejauhan, Lautan Awan Spiritual yang biasanya berwarna kelabu, kini memancarkan pendaran merah menyala yang sangat luas. Itulah *Formasi Jaring Pembakar Langit*, garis pertahanan terluar Benua Tengah yang membentang sejauh jutaan li, dirancang untuk membakar apa pun yang mencoba masuk tanpa izin.

"Tuanku," Hong Lian yang kini menjabat sebagai Komandan Artileri Utama melaporkan melalui jaringan komunikasi spiritual. Suaranya terdengar dari megafon gaib di anjungan. "Formasi di depan kita memang beroperasi dengan daya yang lebih rendah akibat hilangnya kode sandi dari para pengkhianat itu, tetapi formasi itu ditenagai secara manual oleh urat bumi Benua Tengah. Jika kapal kita memaksa masuk, lapisan baja bintang kita akan meleleh dalam sepuluh menit!"

Qixuan menyipitkan matanya, menatap dinding api awan yang menjulang hingga menembus stratosfer tersebut.

"Siapa bilang kita akan menabrak dinding itu, Hong Lian?" Qixuan tertawa pelan. "Sebuah pintu yang terkunci tidak perlu didobrak menggunakan bahu. Cukup hancurkan seluruh tembok yang menyangga pintu tersebut."

Qixuan mengangkat lengan kanannya tinggi-tinggi. Ia tidak memberikan aba-aba yang rumit.

"Uji coba lapangan generasi ketiga. Jangan menahan daya ledak. Bakar Koin Timbangan kalian hingga batas maksimal."

Perintah itu sangat sederhana, namun eksekusinya adalah kiamat bagi dunia kultivasi.

"SELURUH ARMADA! KUNCI TARGET! KOSONGKAN SISA AWAN DI DEPAN KITA!" raung Hong Lian dengan ekstasi seorang maniak senjata.

Di atas dua ribu kapal, tuas-tuas pengendali raksasa ditarik mundur secara serempak.

Di dalam lima puluh ribu ruang bakar meriam, pecahan *Inti Matahari Buatan* didorong masuk ke dalam formasi *Koin Timbangan Surga*. Hukum *Pertukaran Setara* diaktifkan secara brutal. Energi panas dan cahaya matahari murni yang tak terbatas ditukar dalam sepersekian detik menjadi energi Yin penghancur mutlak yang mengandung racun ruang dan waktu.

Suara dengungan yang menggetarkan tulang mengudara. Lautan di bawah armada terbelah menjadi ngarai sedalam ratusan meter semata-mata karena dorongan inersia dari pengumpulan energi meriam tersebut.

Kemudian, keheningan menyergap.

*DZHUUUUUUUUMMMMMMMM-----------------!!!!*

Langit tidak meledak. Langit *terhapus*.

Lima puluh ribu pilar sinar berwarna hitam pekat yang dikelilingi oleh pendaran api keemasan meletus dari lambung-lambung armada. Sinar itu jauh lebih masif, jauh lebih padat, dan jauh lebih mematikan daripada yang menghancurkan Teratai Darah. Lima puluh ribu garis lurus kematian membelah jarak ratusan kilometer dalam waktu nol koma sekian detik.

Ketika tembakan artileri massal itu menghantam dinding *Formasi Jaring Pembakar Langit* Benua Tengah, tidak ada benturan yang epik.

Hukum pertahanan tertinggi dari Sekte Titah Langit yang ditenagai urat bumi itu secara harfiah *menguap*. Sinar kiamat itu menembus jaring pertahanan seperti laser memotong sutra laba-laba. Titik-titik ledakan berantai tercipta di sepanjang garis batas Benua Tengah, merobek tabir dimensi yang memisahkan kedua benua.

Awan-awan spiritual yang menjadi ciri khas pembatas wilayah itu tersedot ke dalam ruang hampa yang tercipta akibat tembakan tersebut, meninggalkan langit yang kosong dan hitam kelam.

"Tembakan pertama sukses! Sinar berhasil mempertahankan kohesi hingga jarak tiga ratus kilometer!" teriak Hong Lian penuh kebanggaan dari ruang kontrol.

Di Benua Tengah, ratusan ribu prajurit garda depan yang diperintahkan mundur oleh Kaisar Taiyi—namun masih berada cukup dekat dengan perbatasan—merasakan dunia mereka runtuh. Gelombang kejut dari hancurnya formasi perbatasan itu menghempaskan mereka dari gunung-gunung giok mereka. Banyak dari mereka yang memuntahkan darah, organ dalam mereka hancur hanya karena resonansi sonik dari kehancuran absolut tersebut.

Qixuan menurunkan tangannya. Ia mengibas-ngibaskan kipas gioknya yang telah retak halus akibat menahan sisa gelombang kejut dari armadanya sendiri.

"Pemandangan yang cukup dramatis untuk sebuah ketukan pintu," komentar Qixuan, senyum kepuasan menghiasi bibirnya. Ia memandang celah raksasa di perbatasan dimensi yang kini menganga lebar, memperlihatkan lanskap Benua Tengah yang sesungguhnya: benua dengan pegunungan mengambang, istana-istana emas, dan langit yang dipenuhi oleh energi keabadian.

"Armada, maju," titah Qixuan. "Jangan turunkan kecepatan. Kita akan melakukan parade militer langsung menuju ibukota Titah Langit. Biarkan bayangan kapal-kapal kita menyelimuti taman bermain para dewa itu."

Dua ribu kapal terbang berlapis baja perlahan melesat masuk menembus celah dimensi yang hancur. Armada fana dari Benua Timur, yang didanai oleh emas dan dipersenjatai oleh arogansi absolut, secara resmi telah menginjakkan kakinya di surga Benua Tengah.

Sementara itu, di Ibukota Titah Langit, getaran hebat dari hancurnya formasi perbatasan terasa hingga ke pilar-pilar Balairung Kesempurnaan Surgawi.

Kaisar Surgawi Taiyi yang baru saja hendak menyayat pergelangannya untuk mengaktifkan formasi dari dalam ibukota, terhenti. Matanya yang keemasan membelalak tak percaya menatap ke arah ufuk selatan. Langit yang biasanya memancarkan warna-warni surgawi kini terbelah oleh jejak hitam pekat yang ditinggalkan oleh sinar kiamat.

"Formasi Jaring Pembakar Langit... hancur dalam satu serangan?" bisik salah satu Tetua Agung, tubuhnya lemas, jatuh terduduk di atas singgasana awannya. "I-Itu tidak mungkin. Walaupun tanpa sandi pelengkap, formasi itu dirancang untuk menahan pukulan dari seorang Kaisar Langit secara penuh! Kekuatan apa yang menembaknya?!"

Kepanikan menyebar layaknya wabah penyakit menular di dalam balairung yang dulunya sakral tersebut. Para dewa Benua Tengah, makhluk-makhluk yang memandang manusia fana sebagai cacing, kini merasakan teror primitif yang sama dengan yang dirasakan oleh babi di rumah potong hewan.

Yun Canghai, sang pengungsi dari Langit Berkabut, tertawa sumbang di sudut ruangan. Tawanya terdengar putus asa dan sedikit gila.

"Aku sudah bilang... Aku sudah bilang pada kalian!" racau Yun Canghai, menunjuk ke arah para tetua Benua Tengah yang pucat pasi. "Kalian mengira uangnya hanyalah benda fana! Tapi dia menggunakan uang itu untuk membengkokkan hukum alam! Dia tidak menembakkan peluru, dia menembakkan kiamat yang diproduksi massal secara industrial! Kalian semua akan mati dibakar oleh koin emas yang kalian pandang sebelah mata!"

"DIAM!" raung Kaisar Taiyi, mengayunkan tangannya. Gelombang qi yang masif menghantam Yun Canghai, melempar patriark tua itu hingga menghantam pilar kristal dan pingsan seketika.

Huangpu Taiyi terengah-engah. Mahkota emasnya sedikit miring, sebuah pemandangan yang tidak pernah terjadi dalam dua ribu tahun terakhir. Ia menolak menerima kenyataan bahwa kekaisarannya sedang diruntuhkan oleh seorang pedagang.

"Aktifkan *Bel Penggugah Leluhur*!" teriak Kaisar Taiyi dengan nada putus asa. "Panggil keempat Kaisar Purba dari Makam Bintang! Kita tidak bisa melawan armada itu dengan pasukan biasa. Kita akan menenggelamkan kapal-kapal besi itu dengan kekuatan murni dari lima Kaisar Langit!"

Di luar istana, sebuah lonceng perunggu raksasa yang besarnya menutupi separuh alun-alun kota mulai dipukul berulang kali. Dentangannya bergema dengan nada kesedihan, membangunkan monster-monster purba yang telah tidur selama ribuan tahun di bawah fondasi Benua Tengah.

Namun di kejauhan, bayangan gelap dari dua ribu kapal perang telah mulai terlihat menutupi cakrawala. Langit biru surgawi perlahan tenggelam dalam warna hitam dan emas dari armada *Fatamorgana Emas*.

Pertarungan puncak tidak akan dihindari. Surga Benua Tengah akan berhadapan langsung dengan manifestasi dari kapitalisme dan industri maut yang dibawa dari dunia fana. Bagi Cang Qixuan, para kaisar kuno yang terbangun itu bukanlah dewa yang harus ditakuti; mereka hanyalah aset-aset purba yang belum dilikuidasi ke dalam neraca kekayaannya.

1
Sang Alang
cerita sebagus ini koq kurang peminatnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!