NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kaisar Pedang Yang Terlupakan

Kebangkitan Kaisar Pedang Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Fantasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: hajdhts

"Seribu tahun lalu, aku adalah puncak dari segala ilmu pedang. Kini, aku hanyalah sampah yang dihina oleh keluargaku sendiri."

Ling Chen adalah seorang pemuda dari keluarga cabang yang lemah dan tidak memiliki bakat dalam kultivasi pedang. Di dunia di mana kekuatan pedang adalah segalanya, ia menjadi bulan-bulanan, dikhianati oleh tunangannya, dan hampir tewas di tangan saudara sepupunya sendiri.

Namun, di ambang kematian, segel kuno di dalam jiwanya hancur. Ingatan sebagai Kaisar Pedang Surgawi, penguasa semesta yang pernah ditakuti oleh para dewa dan iblis, bangkit kembali. Dengan teknik "Sembilan Tebasan Langit" yang telah lama hilang dan pedang karatan yang ia temukan di gudang tua, Ling Chen memulai langkahnya untuk menagih hutang darah.

Satu per satu genius yang sombong akan ia tebas. Kerajaan yang dulu mengkhianatinya akan berlutut di bawah kakinya. Langit mungkin melupakannya, tapi dunia akan segera tahu bahwa sang penguasa telah kembali untuk merebut tahtanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hajdhts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerhana di Langit Istana

Fajar di hari yang dinantikan akhirnya tiba, memecah kesunyian malam di atas langit Jakarta dan Jombang.

​Ling Chen membuka matanya perlahan di teras Paviliun Kain Surga. Jubah naga hitam barunya berkibar pelan ditiup angin pagi yang membawa hawa dingin.

​Mu Rong'er berjalan keluar dari dalam kamar sambil menggendong Kuro yang masih setengah mengantuk.

​"Tuan Muda, hari ini adalah waktunya," ucap Mu Rong'er dengan nada suara yang campur aduk antara gugup dan bersemangat.

​"Ya, hari ini adalah hari di mana utang darah dan pintu rusak itu harus dilunasi," jawab Ling Chen datar tanpa menoleh.

​"Kyuu~!" Kuro menyahut pendek, menegakkan telinga kecilnya seolah merasakan atmosfer yang mulai berubah mencekam.

​Suasana di luar Paviliun Kain Surga benar-benar berbeda dari hari-hari biasanya.

​Jalanan granit yang biasanya ramai oleh pedagang kaki lima, kini tampak sepi melompong seperti kota mati.

​"Tuan Muda, lihat ke bawah," bisik Mu Rong'er sambil menunjuk ke arah jalanan utama di bawah mereka.

​"Pasukan Garda Emas... jumlahnya tiga kali lipat lebih banyak dari kemarin," lanjut Mu Rong'er dengan mata menyipit.

​Ling Chen melirik ke bawah, melihat barisan zirah emas yang berbaris rapat mengitari kompleks istana inti.

​"Mereka mengira tumpukan daging berbaju besi itu bisa menahan laju pedangku," kekeh Ling Chen meremehkan.

​TOK! TOK! TOK!

​Suara ketukan pintu yang tergesa-gesa memecah obrolan mereka dari arah pintu masuk lantai tiga.

​Pelayan toko yang kemarin menerima batu roh dari Ling Chen masuk dengan wajah yang pucat pasi dan tubuh gemetaran.

​"Tu-Tuan Agung... kereta kuda yang Anda pesan sudah siap di bawah," lapor pelayan itu dengan suara terbata-bata.

​"Tapi... tapi di luar sana... seluruh distrik sudah dikepung oleh pasukan inti kerajaan, Tuan!" lanjutnya panik.

​"Tidak usah panik, jalankan saja tugasmu dengan baik," jawab Ling Chen tenang sambil berjalan mendekati meja kasir.

​Ling Chen mengambil sebutir batu roh murni lagi, lalu menjatuhkannya ke telapak tangan pelayan yang gemetar itu.

​"Ini upah tambahan karena ketepatan waktumu. Sekarang, mundurlah ke tempat yang aman," perintah Ling Chen.

​Pelayan itu langsung menerima batu roh tersebut dengan mata berbinar, lalu buru-buru mundur dan mengunci diri di ruang bawah tanah.

​"Mu Rong'er, siap untuk bersenang-senang?" tanya Ling Chen sambil membetulkan letak pedang hitam karatan di pinggangnya.

​"Aku selalu siap selama berada di belakangmu, Tuan Muda," jawab Mu Rong'er dengan senyuman yang mulai terlihat berani.

​Mereka berdua berjalan turun menuju lantai dasar Paviliun Kain Surga, lalu melangkah keluar melewati pintu kayu besar.

​Di depan toko, sebuah kereta kuda mewah berlapis kain beludru hitam dengan dua kuda jantan perkasa sudah menunggu dengan setia.

​Begitu kaki Ling Chen menginjak jalanan luar, ratusan pasang mata dari pasukan Garda Emas langsung tertuju ke arahnya.

​"Bocah Berbaju Hitam! Berhenti di tempat!" teriak seorang komandan pasukan dari atas kuda perangnya yang besar.

​"Pangeran Agung sudah mengeluarkan titah! Menyerah sekarang atau tubuhmu akan dicincang menjadi makanan anjing!" raungnya gila.

​Ling Chen bahkan tidak melirik ke arah komandan tersebut. Dia membuka pintu kereta kuda dengan santai.

​"Mu Rong'er, masuklah duluan," ucap Ling Chen membukakan jalan untuk gadis itu.

​"Baik, Tuan Muda," sahut Mu Rong'er cepat, langsung melompat masuk ke dalam kereta bersama Kuro di pelukannya.

​Ling Chen tidak ikut masuk ke dalam kereta. Dia malah melompat naik ke atas kursi kusir, mengambil alih kendali tali les kuda.

​"Bocah Gila! Kau mengabaikan perintahku?!" raung komandan Garda Emas itu merasa harga dirinya diinjak-injak.

​"Pasukan! Serang dan hancurkan kereta itu sekarang juga!" perintah sang komandan sambil menghunus pedang panjangnya tinggi-tinggi.

​GEMURUH!

​Ratusan prajurit zirah emas langsung bergerak maju secara bersamaan, mengacungkan tombak dan perisai mereka yang berkilauan.

​Ling Chen tersenyum tipis di atas kursi kusir. Tangan kanannya perlahan menyentuh tali kekang kuda dengan lembut.

​"Kuda-kuda kecil, jalan lurus ke depan. Jangan berhenti sampai kita menabrak gerbang utama istana itu," bisik Ling Chen pelan.

​WUSS!

​Ling Chen menghentakkan tali kekang kuda sekali.

​Dua kuda jantan itu langsung meringkik nyaring, lalu melesat maju dengan kecepatan yang sangat tidak masuk akal untuk ukuran hewan fana.

​Energi Qi biru tua dari Tulang Dewa Ling Chen diam-diam mengalir ke dalam tubuh kedua kuda tersebut, melapisi mereka dengan pelindung transparan.

​BUM!

​Kereta kuda hitam itu menabrak barisan depan pasukan Garda Emas bagaikan sebuah batu meteor yang jatuh dari langit.

​Puluhan prajurit berbaju zirah emas langsung terlempar terbang ke udara dengan tulang-tulang yang patah berantakan.

​"Tembak! Tembak dengan panah api!" teriak komandan dari arah belakang dengan wajah penuh kepanikan.

​Hujan panah api yang jumlahnya ribuan mendadak melesat dari atas menara dinding pembatas, menutup jalannya cahaya matahari pagi.

​"Tuan Muda! Di atas!" teriak Mu Rong'er dari dalam kereta yang jendelanya sedikit terbuka.

​"Cuma mainan anak kecil," jawab Ling Chen santai dari atas kursi kusir.

​Ling Chen mengangkat tangan kirinya ke atas langit, lalu membuat gerakan memutar dengan jari telunjuknya.

​SREEEK~

​Sebuah pusaran angin spiritual yang sangat besar mendadak tercipta di atas kereta mereka, menyedot seluruh panah api tersebut.

​Dengan satu sentakan tangan, Ling Chen membalikkan arah pusaran angin itu kembali menuju ke arah menara-menara pengawas musuh.

​BOOM! BOOM! BOOM!

​Menara-menara pertahanan milik kerajaan langsung meledak hancur terbakar oleh senjata mereka sendiri dalam hitungan detik.

​Kereta kuda hitam terus melaju tanpa hambatan sedikit pun di atas jalanan granit yang kini dipenuhi oleh erangan kesakitan para prajurit.

​Jarak antara kereta mereka dan gerbang utama Istana Inti kini tinggal kurang dari seratus meter lagi.

​Gerbang besi raksasa setinggi sepuluh meter itu tampak tertutup rapat dengan lapisan formasi pertahanan berwarna kuning emas yang menyala kuat.

​"Pangeran Agung! Anjingmu sudah mati, sekarang giliran pemiliknya yang harus keluar!" suara Ling Chen menggema hebat di seluruh penjuru kota.

​Ling Chen berdiri dari kursi kusir. Kaki kanannya menghentak papan kayu kereta untuk melompat tinggi ke udara.

​Di puncak lompatannya, tangan kanan Ling Chen memegang gagang pedang hitam karatan di pinggang kirinya.

​"Hancur," ucap Ling Chen pendek sambil mengayunkan pedangnya ke arah bawah secara vertikal.

​SHAAARRR!

​Sebuah tebasan cahaya biru tua berukuran raksasa membelah udara pagi dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata telanjang.

​DUAAARRRR!

​Formasi pertahanan emas yang dibanggakan oleh pihak kerajaan langsung hancur berkeping-keping layaknya kaca tipis yang dipukul martil.

​Gerbang besi raksasa seberat puluhan ton itu terbelah menjadi dua bagian yang sangat rapi, lalu tumbang ke dalam dengan suara dentuman yang menggetarkan tanah Jakarta.

​Kereta kuda hitam yang dibawa Ling Chen meluncur mulus melewati puing-puing gerbang yang hancur, masuk tepat ke dalam halaman utama Istana Inti.

​Di tengah halaman istana yang megah itu, Pangeran Agung sudah berdiri menunggu dengan wajah yang merah padam karena amarah yang meluap-luap.

​Di samping kiri dan kanannya, ada tiga orang pria tua dengan jubah abu-abu yang memancarkan tekanan spiritual Alam Inti Emas tingkat puncak.

​"Ling Chen! Kau bajingan kecil dari klan rendahan!" raung Pangeran Agung dengan suara gemetar karena kombinasi marah dan ngeri.

​"Kau sudah menghancurkan gerbangku, membantai pasukanku, dan membunuh Tetua Mo dari Benua Tengah!" lanjut Pangeran Agung histeris.

​Ling Chen mendarat dengan anggun tepat di depan kereta kudanya yang berhenti perlahan. Jubah naga hitam barunya sama sekali tidak terkena setitik debu pun.

​"Aku sudah bilang lewat murid bodoh itu kemarin, kan?" ucap Ling Chen sambil berjalan mendekati Pangeran Agung.

​"Aku ke sini cuma mau menagih ganti rugi atas pintu kamarku Yang rusak. Kenapa kamu malah menyambutku dengan keributan yang tidak berguna begini?" tanya Ling Chen dengan nada super santai bin ngeselin.

​Tiga tetua jubah abu-abu di samping Pangeran Agung langsung maju selangkah ke depan, melepaskan aura maut mereka untuk mengunci pergerakan Ling Chen. Badai berdarah di dalam istana inti kekaisaran bener-bener resmi pecah detik ini juga.

1
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Kenapa ada kata Kota Jakarta ... dan juga sering sebut Jombang🤣🤣🤣 mohon koreksi sebelum Up
HINATA SHOYO
sarann tor kalo bisa ling chen pakai cincing ruanglah buat nyimpan2 appun barang yg dia punya klo sllu di simpan di jubah kuramg srekkkk aj .klo ada cincin ruangkan kerennn tuh torr/Grin/👍👍
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Uang dan kekuatan itu Mutlak🤣🤣🤣
Nanik S
Minta ganti pintu yang rusak🤣🤣🤣
Nanik S
Giliranku menunjukan permainan yang sesungguhnya👍👍👍
Nanik S
Ganggu orang makan saja... Dasar Pak Tua ..ganti baju dulu🤣🤣🤣
Nanik S
Ceritanya bagus tapi gak hidup sama sekali karena susunan kata saja ditulis aja ..banget .... Loh.....harusnya ditulis yang pas Tor
Siti Hodijah: makasih masukannya
total 1 replies
Nanik S
Lanjutkan dan kata katanya banyak kurang pas
Nanik S
Dikit dikit kata banget... cari kata lain yang Pas Tor
Siti Hodijah: contohin dong kak
total 2 replies
Nanik S
Sebagai masukan .. kata subuh dijaman dulu itu tidak ada Tor
Siti Hodijah: jadi sarannya gmnaa kaka
total 2 replies
Nanik S
Kemana lagi Lin Chen dan Mu Rong
Nanik S
Ada kata yang kurang .. salah satunya Oky dan adalagi Tot
Nanik S
Shiiip
Nanik S
Sang Kapten yang mau menyetor Nyawa ke Lin Chen
Nanik S
Jelas Beda Jiwa Kaisar yang berada didalam tubuh Lin Chen
Nanik S
Maaantaap Poooool
Nanik S
IPasukan bayangan yang berkhianat di kekaisaran
Nanik S
Keluarga Kekaisaran...benua Tengah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!