NovelToon NovelToon
Kemampuan Tak Pernah Sama

Kemampuan Tak Pernah Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:518
Nilai: 5
Nama Author: Geb Lentey

Setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda, ada yang berbakat di olahraga, ada yang berbakat di ilmu pengetahuan, ada juga yang berbakat di seni. Kayla seorang siswa yang membuktikan bahwa setiap orang bisa berubah asal punya kemauan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Geb Lentey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Hari itu terasa melelahkan bagi Kayla. Setelah semua yang terjadi lomba, latihan, perasaan yang mulai rumit, dan pengakuan dari Reyhan kepalanya terasa penuh. Ia pulang dengan langkah pelan, tas di pundaknya terasa lebih berat dari biasanya, bukan karena isinya tapi karena pikirannya.

Sesampainya di rumah, suasana terlihat biasa saja. Sepi. Tenang.

“Maa… Kayla pulang…” ucapnya sambil membuka sepatu.

Tidak ada jawaban. Kayla mengernyit sedikit.

“Ke mana ya…”

Ia melangkah masuk ke dalam rumah. Baru saja ia ingin masuk ke kamar...

“Surprise!!!”

Kayla langsung terlonjak kaget.

“Astaga!”

Dari ruang tengah, seseorang berlari menghampirinya dan langsung memeluknya erat.

“Kaylaaa!”

Kayla membeku beberapa detik. Lalu matanya membesar.

“KAK NADYAAA?!” teriak Kayla

Ia langsung membalas pelukan itu erat.

“Ya ampun kakak pulang?!”

Nadya tertawa kecil sambil memeluk adiknya.

“Iyaaa, kangen gak?"

Kayla hampir menangis.

“KANGEN BANGET!”

Mereka berdua masih berpelukan beberapa saat, seolah melepas rindu yang sudah lama tertahan.

Mama keluar dari dapur sambil tersenyum melihat mereka.

“Udah Mama bilang, nanti juga kaget,” katanya.

Kayla langsung menatap kakaknya lagi.

“Sejak kapan pulang?! Kenapa gak bilang sih?!”

“Biar surprise lah,” jawab Nadya sambil mencubit pelan pipi Kayla.

Kayla tertawa kecil. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia merasa ringan.

Malam itu, suasana rumah berubah jadi hangat. Mereka makan bersama, tertawa, dan bercerita banyak hal. Nadya menceritakan kehidupan kuliahnya, teman-temannya, dan pengalaman barunya.

Namun di tengah cerita itu…

Nadya memperhatikan Kayla.

Lebih diam dari biasanya.

“Kay…” katanya pelan.

Kayla menoleh. “Iya, Kak?”

“Kamu kenapa?”

Kayla langsung pura-pura santai.

“Hah? Gak kenapa-kenapa kok.”

Nadya menyipitkan mata.

“Kamu pikir aku gak tahu?”

Kayla terdiam. Nadya tersenyum lembut.

“Aku kenal kamu.”

Suasana jadi sedikit hening. Akhirnya, Kayla menghela napas pelan.

“Kayla… lagi bingung aja, Kak.”

Nadya langsung mendekat sedikit.

“Bingung soal apa?”

Kayla menunduk.

“Perasaan…”

Nadya tersenyum kecil.

“Wah… udah mulai ya.”

Kayla sedikit kesal.

“Ih Kakak…”

Namun Nadya tetap tersenyum.

“Ceritain.”

Dan untuk pertama kalinya Kayla menceritakan semuanya. Tentang Arga, tentang masa lalu, tentang perubahan tentang Reyhan dan tentang perasaannya yang sekarang tidak sederhana. Nadya mendengarkan dengan serius. Tidak memotong. Tidak menghakimi. Setelah Kayla selesai, ruangan kembali hening.

“Jadi…” kata Nadya pelan, “kamu lagi di posisi harus milih ya?”

Kayla mengangguk. Nadya berpikir sejenak.

“Aku gak akan bilang kamu harus pilih siapa,” katanya.

Kayla menatapnya.

“Tapi aku mau kamu ingat satu hal.”

“Apa?"

Nadya tersenyum lembut.

“Orang yang tepat itu… bukan cuma yang bikin kamu senang.”

“Tapi yang bikin kamu tetap jadi diri kamu sendiri.”

Kayla terdiam.

“Kamu sekarang udah jauh berubah, Kay,” lanjut Nadya.

“Jangan sampai kamu kehilangan itu lagi… cuma karena perasaan.”

Kalimat itu terasa dalam.

Kayla menunduk.

“Iya…”

Nadya menepuk pelan kepala Kayla.

“Dan satu lagi…”

Kayla menoleh.

“Kalau dia benar-benar serius…”

“Dia akan tetap ada, tanpa kamu harus kehilangan dirimu.”

Sunyi. Namun kali ini sunyi yang menenangkan. Kayla tersenyum kecil.

“Makasih ya, Kak…”

Nadya tersenyum.

“Selalu.”

Malam itu, Kayla masuk ke kamarnya dengan hati yang lebih ringan.

Ia duduk di meja belajarnya.

Melihat buku…

melihat catatan…

Dan tersenyum.

Untuk pertama kalinya setelah lama…

ia tidak merasa bingung.

Bukan karena sudah punya jawaban. Tapi karena ia tahu ia tidak sendirian.Dan mungkin kehadiran Nadya kali ini bukan kebetulan. Tapi sesuatu yang Kayla butuhkan di waktu yang tepat.

Keesokan harinya, Kayla bangun dengan perasaan yang sedikit berbeda. Tidak sepenuhnya ringan, tapi juga tidak seberat sebelumnya. Kehadiran Kak Nadya seperti memberi ruang di hatinya—ruang untuk berpikir lebih jernih, tanpa terburu-buru.

Saat sampai di sekolah, suasana seperti biasa. Namun begitu ia melangkah masuk ke koridor, matanya langsung menangkap satu sosok yang sudah menunggu tidak jauh dari kelas.

Reyhan.

Ia bersandar santai, tapi begitu melihat Kayla, ia langsung berdiri tegak.

“Pagi,” katanya.

Kayla sedikit terkejut, tapi tersenyum. “Pagi, Kak.”

Beberapa detik terasa canggung… tapi tidak tidak nyaman.

Reyhan menggaruk belakang lehernya sedikit, seperti berpikir.

“Aku gak ganggu kan?” tanyanya.

Kayla menggeleng. “Enggak kok.”

Reyhan mengangguk pelan.

“Gimana…?” tanyanya hati-hati.

Kayla tahu maksudnya. Tentang kemarin. Tentang perasaan itu. Kayla menarik napas kecil.

“Aku masih butuh waktu,” jawabnya jujur.

Reyhan tersenyum tipis.

“Iya… aku tahu.”

Tidak ada perubahan ekspresi yang drastis. Tidak ada kekecewaan berlebihan. Dan justru itu membuat Kayla merasa lebih tenang. Sejak hari itu, Reyhan mulai lebih dekat dengan Kayla. Namun bukan dengan cara yang memaksa. Ia tidak sering mengajak bicara di depan banyak orang. Tidak membuat Kayla jadi pusat perhatian. Tapi ia selalu ada di waktu yang tepat. Seperti saat Kayla kesulitan soal matematika di kelas, Reyhan hanya akan lewat, melihat sekilas, lalu menulis satu petunjuk kecil di kertasnya.

“Coba lihat pola ini,” tulisnya.

Atau saat Kayla lupa membawa botol minum, Reyhan diam-diam meletakkan minuman di mejanya tanpa banyak bicara. Salsa yang melihat itu hanya bisa senyum-senyum sendiri.

“Wah… halus banget ya orangnya,” bisiknya.

Kayla hanya menunduk sambil tersenyum kecil. Suatu sore di perpustakaan, mereka kembali belajar bersama. Kali ini suasananya sedikit berbeda. Lebih santai.

“Kayla,” panggil Reyhan pelan.

“Iya?”

“Kalau kamu lagi capek… istirahat juga gak apa-apa.”

Kayla menatapnya.

“Kamu terlalu keras sama diri sendiri kadang.”

Kalimat itu sederhana. Tapi Kayla langsung terdiam. Karena itu benar. Ia tersenyum kecil.

“Iya ya…”

Reyhan tidak melanjutkan. Tidak menasihati. Hanya kembali membuka bukunya. Dan justru itu yang membuat Kayla merasa nyaman. Tidak diatur. Tidak ditekan. Beberapa hari kemudian, saat pulang sekolah, Reyhan berjalan di samping Kayla. Langkah mereka pelan.

“Kamu udah makan?” tanya Reyhan.

“Belum.” jawab Kayla

“Mau mampir kantin dulu?” sekali lagi Reyhan bertanya

Kayla berpikir sebentar. Lalu mengangguk.

“Iya, boleh.”

Mereka duduk berhadapan di kantin. Obrolannya ringan. Tentang pelajaran. Tentang lomba. Tentang hal-hal kecil. Dan di tengah obrolan itu Kayla tertawa. Lepas. Reyhan memperhatikannya. Tanpa berkata apa-apa. Di kejauhan Arga melihat itu lagi. Namun kali ini ia tidak langsung mendekat. Ia hanya berdiri. Memperhatikan. Dan perlahan ia mengerti. Bahwa kedekatan seperti itu tidak bisa dipaksakan. Sementara itu, Kayla mulai merasakan sesuatu yang baru. Bukan perasaan yang membuatnya bingung. Bukan yang membuatnya sakit. Tapi yang membuatnya tenang. Malam itu, Kayla duduk di kamarnya. Ia mengingat semua yang terjadi hari ini. Tentang Reyhan, tentang sikapnya, tentang cara dia memperlakukan Kayla. Ia tersenyum kecil.

Lalu berkata dalam hati:

"Mungkin… aku mulai nyaman." batin Kayla

Namun kali ini Kayla tidak terburu-buru memberi arti. Ia hanya membiarkan semuanya berjalan. Perlahan. Dan untuk pertama kalinya perasaan itu tidak terasa menakutkan. Melainkan hangat.

1
Ditzz
semangat buat kakaknya😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!