Lin Xiaoxi tewas kelaparan, namun jiwanya digantikan oleh Chu Yue, Putri Tabib jenius dari masa kuno. Terbangun di tubuh gadis desa miskin, ia dibekali Ruang Dimensi berisi herbal ajaib untuk mengubah nasibnya.
Di kota, sang penguasa Mo Yan sedang sekarat karena penyakit aneh yang tak tersembuhkan. Takdir mempertemukan mereka di jalanan, di mana satu tusukan jarum Xiaoxi menyelamatkan nyawa sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20 二十
Suasana di kediaman Mo Yan malam itu tidak sesunyi biasanya. Suara langkah kaki para pelayan yang membawa kotak-kotak besar dan tas belanjaan bermerk mewah terdengar bersahut-sautan di koridor lantai atas. Xi’er berdiri di tengah ruangan dengan tangan bersedekap, menatap tumpukan barang yang seolah tidak ada habisnya itu dengan tatapan ngeri.
"Tuan kaku, kau benar-benar sudah kehilangan kewarasanmu." gumam Xi'er saat Mo Yan melangkah mendekat. "Untuk apa semua kain ini? Kau pikir aku ini serangga yang butuh berganti kulit setiap jam?"
Mo Yan tidak menjawab. Ia justru berjalan menuju sebuah pintu kayu jati besar yang berada tepat di sebelah kamar tidur Xi'er, pintu yang selama ini selalu terkunci rapat. Dengan satu sentuhan sidik jari pada panel perak di sampingnya, pintu itu terbuka perlahan, menyingkapkan sebuah ruangan yang membuat napas Xi'er tertahan sejenak.
"Ini... ini tempat apa?" bisik Xi'er.
Ruangan itu sangat luas, dengan lantai marmer putih yang terasa hangat karena sistem pemanas di bawahnya. Dinding-dindingnya dipenuhi oleh lemari kaca transparan dengan pencahayaan warm white yang membuat setiap helai kain di dalamnya berpendar mewah. Di tengah ruangan, terdapat sebuah sofa bundar berwarna krem dan sebuah meja pajangan kaca berisi jam tangan, perhiasan, dan sabuk kulit.
"Ini ruang gantimu Xi'er. Di dunia ini, kami menyebutnya Walk-in Closet." jelas Mo Yan santai. "Semua yang kita beli di mal tadi sudah ditata oleh pelayan di sini. Kau tidak perlu lagi menumpuk bajumu di atas kursi seperti yang kau lakukan di laboratorium."
Xi'er melangkah masuk dengan ragu. Ia mendekati sebuah lemari kaca yang terbuka otomatis saat ia mendekat. "Wah! Lemari ini punya mata! Dia tahu aku datang!" seru Xi'er, hampir melompat mundur. "Dan lihat cermin ini! Kenapa ada tulisan angka-angka melayang di permukaannya? Apakah cermin ini sedang menghitung sisa umurku?!"
Mo Yan terkekeh, suara tawanya terdengar sangat renyah. "Itu cermin pintar Xi'er. Dia hanya menunjukkan suhu udara dan memberikan rekomendasi baju mana yang cocok dengan cuaca hari ini. Dia tidak akan mengambil umurmu."
Xi'er mengusap permukaan cermin itu dengan jari telunjuknya. "Sangat angkuh. Bahkan sebuah kaca pun ingin mengatur apa yang harus kupakai."
Namun, sifat asli Xi'er sebagai tabib segera muncul. Ia melihat rak-rak yang sangat luas dan kosong di bagian sudut bawah. "Tuan kaku, ruangan ini terlalu luas jika hanya untuk kain. Bolehkah aku menaruh beberapa kotak kayu berisi akar Ginseng dan jamur kering di sana? Ruangan ini sangat kering dan bersih, sangat cocok untuk mengawetkan bahan obat tingkat tinggi!"
Mo Yan membelalakkan matanya. Bayangan baju-baju sutra bermerk miliknya berbau aroma herbal yang tajam dan menyengat langsung melintas di benaknya. "Tidak! Jangan berani-berani menaruh akar-akar busukmu di ruangan ini Xi'er! Ruangan ini adalah tempat untuk kecantikan, bukan gudang apotek!"
"Akar busuk kau bilang?!" Xi'er melotot, berkacak pinggang. "Satu potong akar itu bisa membeli sepuluh baju tipis yang kau banggakan ini! Kau tidak punya selera seni pengobatan sama sekali!"
Keesokan harinya, kejutan tidak berhenti di rumah saja. Saat Xi'er sampai di kantor Mo Group dan masuk ke area laboratorium pribadinya, ia menemukan sebuah pintu baru di bagian belakang, tepat di sebelah taman herbalnya.
"Zuo Fan, apa lagi ini?" tanya Xi'er curiga pada asisten setia Mo Yan.
"Tuan Mo memerintahkan kami untuk merombak ruang arsip cadangan ini menjadi ruang ganti pribadi Anda di kantor Nona Lin." jawab Zuo Fan dengan senyum sopan. "Tuan khawatir jika Anda harus menghadiri acara mendadak atau jika baju Anda kotor saat meracik obat, Anda tidak perlu pulang untuk berganti pakaian."
Xi'er membuka pintu itu dan kembali menemukan kemewahan yang serupa dengan di rumah, namun kali ini lebih minimalis dan modern. Di salah satu sudut, terdapat sebuah lemari putar otomatis yang sangat besar. Xi'er, yang rasa ingin tahunya setinggi gunung, menyentuh tombol merah di samping lemari itu.
Wuuush!
Rak-rak baju itu mulai berputar dengan kecepatan sedang, menampilkan barisan gaun, kemeja, dan tunik yang digantung rapi. Xi'er terpesona. Ia mencoba melangkah masuk ke dalam celah rak yang berputar, berniat ingin melihat "mesin sihir" di baliknya.
"Nona Xi'er, jangan—!" teriakan Vania terlambat.
Xi'er sudah terjepit di antara deretan gantungan baju dan ikut berputar di dalam lemari. "Aaa! Tolong! Aku tertelan oleh mesin kain! Tuan kaku, selamatkan aku!"
Mo Yan yang baru saja ingin memeriksa keadaan Xi'er, masuk tepat saat melihat sepasang kaki kecil dengan sandal rumah bermotif kelinci sedang berputar-putar di dalam lemarinya. Ia segera menekan tombol berhenti dengan wajah yang menahan tawa sampai memerah.
Xi'er keluar dari tumpukan baju dengan rambut acak-adakan dan wajah yang sangat pucat. "Pintumu gila! Lemarimu gila! Kenapa semua benda di gedung ini ingin memutar kepalaku sampai copot?!"
Mo Yan mendekat, mencoba merapikan kerah baju Xi'er yang miring akibat insiden tadi. "Siapa suruh kau masuk ke dalam lemari putar? Itu untuk baju, bukan untuk tabib ceroboh sepertimu."
"Aku hanya ingin memeriksa apakah ada naga kecil yang memutar rak ini!" gerutu Xi'er sambil membetulkan ikat rambutnya yang hampir lepas. "Sudahlah! Aku akan menata sendiri tempat ini. Jangan biarkan pelayanmu menyentuh bagian bawah lemari itu!"
Benar saja, sore harinya, Mo Yan menemukan cara penataan baju Xi'er yang sangat tidak masuk akal bagi dunia fashion. Xi'er menaruh semua baju yang memiliki banyak saku di barisan paling depan. Baju-baju itu kini sudah penuh dengan botol-botol kecil berisi bubuk gatal dan racun pelumpuh. Sementara gaun-gaun malam yang sangat megah dan indah justru ia tumpuk di bagian paling belakang, hampir tertutup oleh jubah putih dokternya.
"Kenapa kau menaruh gaun dari Paris itu di pojok gelap?" tanya Mo Yan bingung.
"Kain itu terlalu berat dan banyak talinya! Aku yakin itu adalah baju untuk ritual pemanggilan arwah atau upacara pernikahan kuno yang sangat rumit." jawab Xi'er santai sambil mengunyah cokelat. "Aku lebih suka baju dengan saku banyak. Sangat praktis untuk menyimpan Bubuk Tarian Cacing Panas. Jika ada musuh lagi, aku tidak perlu mencari-cari di tas."
Mo Yan menghela napas, menyerah untuk mengajari Xi'er soal estetika. Namun, tatapannya melembut saat melihat Xi'er yang kini tampak begitu nyaman di ruang barunya.
"Malam ini, kita ada makan malam pribadi dengan kolega penting." ucap Mo Yan pelan. "Pakailah salah satu baju yang tanpa saku racun. Aku ingin kau terlihat seperti manusia normal sekali saja."
Xi'er merengut. "Normal? Kau menghinaku, Tuan kaku?! Baiklah! Tapi kau harus membantuku memilih, karena semua kain di sini terlihat sama saja bagiku semuanya hanya penutup kulit yang mahal!"
Mo Yan melangkah masuk ke dalam labirin sutra itu, tangannya memilah deretan gaun hingga ia menarik sebuah gaun berwarna biru safir yang senada dengan warna matanya saat sedang serius. Ia menyerahkannya pada Xi'er.
"Pakai ini. Dan janji padaku, jangan masukkan bubuk gatal ke dalam tas pesta yang akan diberikan Vania nanti."
Xi'er menerima gaun itu, menatap pantulan dirinya di cermin pintar yang kini menampilkan gambar dirinya yang mengenakan gaun tersebut secara digital. Ia tertegun. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ia bukan lagi sekadar gadis desa yang terlempar ke dunia asing, melainkan seseorang yang benar-benar diinginkan keberadaannya.
"Akan kupertimbangkan." jawab Xi'er pelan dengan wajah yang mulai merona. "Tapi jika mereka menghinaku lagi seperti wanita di mal itu, jangan salahkan aku jika pesta makan malammu berubah menjadi arena disko gatal!"
Mo Yan hanya bisa tersenyum pasrah, menyadari bahwa ia baru saja membangun istana bagi seorang ratu yang paling berbahaya sekaligus paling menggemaskan di dunia.
Makasih double up nya othor tayaaaangg/Kiss/