Kehidupan Rafan sebagai komisaris polisi menjadi kacau balau setelah bertemu dengan gadis cantik bernama Myra.
Kriminal kejam yang selama ini ia cari, tak sengaja datang ke hadapannya menjelma bagai malaikat.
Bagaimana Rafan menahan diri agar tidak terseret pada kegilaan semata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur satu ranjang
"Matamu memerah, kamu pasti tidak terbiasa tidur larut malam."
"Cih---mati lampu, mana mungkin kamu bisa melihat jika mataku memerah." sanggah Myra sengaja mengolok,
"Jangan meremehkanku! Aku memiliki penglihatan yang sangat cermat,"
Sret...
Ditariknya cepat telapak yang berada di genggaman Rafan, segera gadis itu berbalik meletakkan senjata di bawah bantal dan kembali membelakangi.
"Rambutmu sangat indah,"
"Hh, bukankah dia pria yang baru saja menyuruhku tidur?" benak Myra kembali membuka mata yang baru saja terpejam,
Berusaha untuk tidak menghiraukan entah kalimat atau apa pun yang Rafan katakan. "Shampo apa yang kamu pakai?"
"Myra?" panggil Rafan sedikit mendongak demi mengintip gadis yang masih terdiam.
"Beri tahu aku---baunya sangat enak."
Tak ragu jemari kekar itu meraih rambut panjang yang terurai demi mengendus aroma samar, sampai membuat Myra terusik. "Eurgh,"
"Lepaskan rambutku dari tangan kotormu!" hardik Myra dalam hati, masih mempertahankan posisi.
Kedua tangannya mengepal kuat, mencoba meredam emosi dan melanjutkan tidur.
30 menit kemudian.
Mata yang telah lama terpejam masih tak kunjung terlelap. Menit berlalu sejak gadis itu mengabaikan serta melupakan kehadiran Rafan,
Namun pria tadi tak membiarkannya tenang, bagaimana bisa Myra tertidur pulas dalam keadaan punggung bersentuhan dengan lengan Rafan.
Walau telah berhenti mengoceh bukan berarti berputus asa,
Beruntung gadis itu memakai ranjang single hingga memudahkan Rafan dalam menjalankan aksi. Meski terkesan luas, ini tetaplah ranjang untuk satu orang.
Tentu jika ditempati melebihi kapasitas akan sedikit menyusahkan, dan terpaksa membuat kedua penghuni tidur berdempetan.
Jadi wajar jika banyak bagian tubuh Rafan menyentuh punggung Myra,
"Pria ini masih belum bergerak! Apa dia ingin bermalam di sini?!" pikir Myra mengerutkan alis,
Dengan mata terpejam dia terus menggerutu.
Tubuhnya semakin terusik berkat hembusan nafas yang menerpa tengkuk leher, "Kenapa sih, harus ngadep ke sini?!"
Kesabarannya menipis, Myra menoleh, sedikit demi sedikit membuka mata dan menatap Rafan yang sudah tertidur pulas.
Sejenak Myra terhanyut dalam lamunan, pertama kali berhadapan dengan pria asing yang tak berani mengusiknya.
Herannya lagi, Myra masih mengikuti permainan itu padahal dia bisa langsung menembaknya mati di tempat.
"Eurhg. Terserah! Jika besok Sukma tahu, biar dia saja yang mengurus bajingan ini."
"Lebih baik aku tidur!"
Srash...
Derai hujan yang masih menetes ria di luar rumah, membuat suasana kamar menjadi lebih dingin. Menit berlalu sampai Myra terlelap berkat rasa kantuk yang tak henti menyerbu,
Dia begitu mudah percaya, tak menyadari bahwa ada orang lain yang masih terjaga dan tengah menatap lekat urai rambut legamnya. Sigap menikmati aroma segar yang tercium samar,
"Sepertinya dia ketiduran," gumam Rafan tersenyum singkat.
Melirik kaki Myra yang tengah meringkuk, mulai menyadari hawa dingin yang mengisi ruang.
Segera Rafan menoleh ke sekeliling demi mencari selimut tebal yang ternyata berada tepat di bawah tubuhnya,
"Kalau aku bergerak terlalu banyak, dia pasti bangun." pikir Rafan, berusaha menarik kain dari bawah dengan jari kakinya.
Perlahan berhasil namun hanya bisa menutupi kedua kaki Myra, sedangkan hawa dingin yang semakin dirasa membuat pria itu tanpa berpikir ulang segera mengalungkan lengan.
Memeluk erat tubuh ramping tadi demi berbagi kehangatan,
"Semoga saja dia tidak bangun,"
...----------------...
"Myra!" pekik Sukma sedang melangkah ke arah pembatas,
Teriakan yang begitu keras, cukup membuat gadis itu tersentak kaget. Seketika kedua mata membulat sempurna hingga reflek mendorong bangun tubuhnya,
Dengan kesadaran yang mulai berkumpul, perlahan menyadari bahwa semalam dia telah mengizinkan orang lain tidur di dalam kamar.
"Hah!"
"Ka-kamu cepat pergi dari sini!"
Ucapan penuh khawatir seketika terhenti saat menatap ranjang di sampingnya telah kosong.
Segera melirik ke arah lain, menemukan jendela yang telah tertutup rapat.
Tak lupa Myra menoleh ke sekeliling dan mencari di setiap sudut ruangan tapi tidak menemukan siapa pun. "Apa dia ada di dalam kamar mandi?"
Brak.
Pembatas kayu itu terbuka,
"Hey!"
"Ha? Ada apa?" Myra menoleh dengan kedua alis terangkat,
"Kamu baru bangun?"
"T-tidak. Sudah dari tadi--ada apa?" gumam Myra berusaha berlagak layaknya orang yang telah melakukan aktivitas,
"Cepat mandi. Kita harus menemui ayahmu,"
"I-iya, baiklah. Kamu bersiaplah dulu, aku akan menunggu," lugas Myra,
"Seharusnya aku yang mengatakan itu! Cepatlah bersiap, aku akan menunggu." lugas Sukma langsung berbalik pergi,
Bak gadis yang sedang menyembunyikan buronan, Myra begitu risau jika ketahuan telah berbincang dengan seorang polisi.
"Hey, Pria bodoh!" panggil Myra berjalan ke sudut kamar,
Berdiri tepat di depan pintu kamar mandi sambil mengetuk lirih, "Hey---keluarlah!"
"Hey!" ucapnya masih belum mendapat jawaban,
Enggan menunggu segera Myra meraih knop pintu dan membuka pembatas ruang kosong, hanya terlihat cermin besar juga bak mandi. "Lah--kalau tidak ada di sini, kemana perginya pria itu?"
"Aku ingat betul kalau semalam ada pria yang masuk ke dalam kamarku," gumam Myra kebingungan, seraya melangkah ke arah jendela.
Dibukanya pembatas kayu yang menyajikan pemandangan segar, dedaunan penuh embun juga sisa air yang masih menetes dari atap rumah.
"Masa dia keluar dari sini? Tapi kapan keluarnya,"
"Atau aku hanya mimpi?" ujar Myra, menggaruk ujung kepala yang terasa gatal.
Memilih untuk melupakan hal yang telah berlalu,
Tubuh yang baru saja berbalik tak sadar menatap sebuah heels putih di atas laci.
"Sejak kapan heelsku ada di sana?" Melangkah mendekat,
Baru menyadari jika benda yang sedang dipegang adalah pasangan alas kaki yang digunakan untuk memukul wajah seseorang.
Dilihatnya sebuah noda hitam yang melekat di bagian alas sepatu, mengukir huruf yang membentuk sebuah nama. "Rafan,"
"Sial, pria itu benar-benar datang semalam!" gerutunya merasa kesal,
Dengan cepat menggosok tinta spidol permanen yang tak mungkin menghilang,
Prak!
"Ck--bagaimana aku bisa tertidur di samping musuh!"
...----------------...
"Hacim!" Rafan menggosok hidung, baru saja keluar dari kamar mandi.
Rambut legam basahnya masih meneteskan air, terlihat handuk putih melilit pinggul demi menutupi tubuh bagian bawah.
"Aku harus segera mengoleskan salep, jika tidak lukanya akan membekas." ujarnya berhenti tepat di depan cermin kecil yang tersemat pada dinding,
"Bagaimana jika Myra merasa jijik dengan bekas luka ini?" sedikit cemas,
Entah kenapa beberapa hari terakhir Rafan selalu menghubungkan semua hal dengan gadis semalam.
Tanpa tunggu lama dia melangkah maju guna meraih obat oles yang ada di atas laci. Segera melapisi setiap luka dengan cairan putih,
Drt...
Drt...
Drt...
Dering telepon mengalihkan perhatian Rafan,
"Halo?" sapanya merendahkan suara,
"Halo Pak. Salah satu petugas, berhasil menemukan barang bukti di rumah Pak Willy,"