Vittorio "The Grim Reaper" Genovese adalah puncak rantai makanan di dunia bawah Italia. Dingin, kejam, dan tak tersentuh—sampai sebuah pengkhianatan bom mobil mengakhiri hidupnya. Namun, maut ternyata punya selera humor yang aneh. Vittorio terbangun di tubuh Arjuna, mahasiswa beasiswa tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi "kesialan". Tubuh kurus, kacamata tebal yang pecah, dan hobi menjadi samsak tinju geng kampus.
Dendam Vittorio membara, tapi tantangan terbesarnya bukan membalas budi pada para pembully, melainkan menghadapi Karin, gadis "semprul" tetangga kostnya yang tidak punya urat takut. Karin adalah perpaduan antara kekacauan dan keceriaan yang sering membuat Vittorio—sang raja mafia yang biasanya hanya bicara lewat peluru—kehilangan kata-kata dan martabatnya karena tingkah konyol gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karin Menjadi Asisten Dadakan
Malam di Pelabuhan Tanjung Priok tidak pernah benar-benar tidur, namun di sektor gudang tua yang terisolasi, kesunyian adalah tanda bahaya. Vittorio berdiri di bayang-bayang kontainer berkarat, mengamati pergerakan tiga pria berjas gelap yang sedang membongkar peti kayu berlogo serigala. Di tangannya, sebuah tablet militer menampilkan grafik frekuensi radio yang mereka gunakan.
"Tiger, posisi?" bisik Vittorio ke earpiece-nya.
"Tim satu sudah di titik buta kamera CCTV. Kami menunggu aba-aba, Ghost," suara Tiger terdengar statis namun mantap.
Vittorio bersiap memberikan perintah serang, namun sebuah suara gemerisik dari arah tumpukan ban bekas di belakangnya membuatnya berputar 180 derajat dalam sekejap. Senjata berperegam suara miliknya sudah tertuju tepat ke arah bayangan itu.
"AMPUN! JUNA, INI GUE! JANGAN DITEMBAK!"
Vittorio menurunkan senjatanya dengan rahang mengeras. Dari balik ban, muncul Karin dengan setelan yang sangat tidak sesuai untuk misi infiltrasi: jaket hoodie hitam kebesaran, celana kargo yang talinya menjuntai ke mana-mana, dan sebuah teropong mainan yang melingkar di lehernya.
"Karin?! Apa yang kau lakukan di sini?!" desis Vittorio, suaranya mengandung amarah yang tertahan. "Aku sudah memerintahkanmu untuk tetap di ruko bersama Bang Mamat!"
"Bang Mamat itu gampang dikibulin, Juna! Gue bilang aja gue mau beli martabak di depan, terus gue loncat ke bak mobil logistik Tiger," Karin merangkak mendekat, wajahnya coreng-moreng karena debu. "Lagian, lu butuh asisten! Lu pinter berantem, tapi lu nggak pinter liat arah. Lu tau nggak kalau di belakang kontainer itu ada anjing penjaga yang lagi tidur?"
Vittorio memijat keningnya. Tekanan darahnya naik lebih cepat daripada saat ia menghadapi Bianca siang tadi. "Ini bukan permainan, Karin! Ini adalah zona merah. Satu kesalahan kecil dan kau akan berakhir di dasar laut dengan beton di kakimu."
"Gue tau! Makanya gue bawa ini!" Karin merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah drone mainan kecil yang sudah dimodifikasi dengan kamera Go-Pro. "Ini hasil rakitan gue sama anak-anak teknik seminggu yang lalu. Bisa terbang senyap dan punya sensor panas. Lu butuh mata di langit, kan?"
Vittorio menatap drone itu, lalu menatap Karin. Ia ingin marah, namun insting taktisnya mengakui bahwa alat itu bisa sangat berguna. Kamera satelit yang ia gunakan saat ini memiliki delay beberapa detik, sementara drone jarak dekat bisa memberikan data real-time.
"Ghost, siapa itu? Ada gangguan?" suara Tiger kembali terdengar di telinga Vittorio.
Vittorio menghela napas panjang. "Gunakan protokol cadangan, Tiger. Kita punya 'unit pengintai' tambahan. Jangan tembak siapa pun yang memakai hoodie hitam kegedean."
"Diterima, Ghost. Tapi siapa—"
"Jangan tanya," potong Vittorio. Ia menoleh pada Karin. "Baiklah, kau ingin jadi asisten? Sekarang dengarkan instruksiku. Kau duduk di sini, jangan bergerak satu inci pun dari bayangan ini. Terbangkan drone-mu, arahkan ke gudang nomor empat. Jika kau melihat pergerakan lebih dari lima orang, beri tahu aku lewat radio ini. Mengerti?"
Karin mengangguk mantap, wajahnya mendadak serius. "Siap, Bos! Unit Intelijen Karin siap beraksi!"
Operasi dimulai. Vittorio bergerak seperti hantu, melompati pagar kawat dan menyelinap di antara celah-celah peti kargo. Sementara itu, Karin dengan jemari yang gemetar namun lincah mulai menerbangkan drone-nya. Di layar ponsel yang terpasang pada kendali jarak jauh, Karin melihat pemandangan yang membuatnya merinding.
"Juna... ganti... eh, maksud gue Ghost!" bisik Karin melalui radio. "Ada tiga orang di atap gudang. Mereka bawa senapan panjang. Kayaknya penembak jitu."
Vittorio berhenti di balik tangki air. "Terima kasih, Intel. Tiger, ambil posisi di jam sepuluh. Lenyapkan penembak jitu di atap dengan panah bius. Jangan buat suara."
"Diterima."
Karin merasa jantungnya berdegup kencang. Ia tidak pernah membayangkan hidupnya yang dulu hanya seputar mengejar diskon seblak akan berubah menjadi adegan film aksi nyata. Namun, melihat punggung Vittorio dari kejauhan, ia merasa sebuah tanggung jawab yang besar. Ia harus memastikan pria itu pulang dengan selamat.
"Ghost! Ada mobil hitam baru masuk!" Karin berseru tertahan. "Itu... itu mobil yang tadi siang di kampus! Si Kakak Tiri Nenek Sihir itu ada di sana!"
Vittorio menajamkan pandangan. Benar saja, sebuah sedan mewah berhenti tepat di depan pintu gudang utama. Bianca Sujatmiko keluar dari mobil, dikawal oleh dua pria asing bertubuh raksasa yang sudah pasti adalah anggota inti Lupi di Mare.
"Mereka sedang melakukan serah terima senjata," gumam Vittorio. "Karin, arahkan drone-mu lebih dekat ke jendela atas. Aku butuh visual di dalam."
"Aduh, Juna... ini banyak kabel listrik, kalau nyangkut gimana?"
"Lakukan saja, Karin! Percaya pada instingmu!"
Karin menggigit bibir bawahnya, menggerakkan tuas kendali dengan presisi yang mengejutkan. Drone kecil itu meluncur melewati kabel-kabel tegangan tinggi dan berhenti tepat di ventilasi gudang. Gambar di layar ponsel Karin berubah menjadi lebih jelas. Di dalam gudang, peti-peti kayu itu dibuka, memperlihatkan deretan senapan serbu otomatis dan beberapa koper hitam yang berisi uang tunai dalam jumlah besar.
"Gila... itu banyak banget duitnya, Juna," bisik Karin. "Tapi tunggu... ada sesuatu yang aneh. Di pojok ruangan, ada orang yang diikat di kursi. Mukanya... mukanya kayak Satya!"
Vittorio tertegun. "Satya? Si Ketua BEM?"
"Iya! Dia kayaknya dipukulin, mukanya bonyok banget. Ternyata dia bukan informan, Juna! Dia diculik!"
Vittorio segera memahami situasinya. Satya mungkin mencoba menyelidiki sesuatu yang tidak seharusnya ia ketahui, atau ia dijadikan tumbal oleh Hadi Sujatmiko untuk memancing "The Ghost" keluar. Ini adalah jebakan dua lapis.
"Tiger, ubah rencana. Kita harus melakukan penyelamatan. Satya adalah aset informasi yang penting. Jika dia mati, kita tidak punya saksi untuk menjatuhkan Hadi secara legal," perintah Vittorio.
"Tapi Ghost, personel kita terbatas untuk serangan langsung ke dalam gudang yang dijaga ketat itu," Tiger memperingatkan.
Vittorio berpikir cepat. Ia menoleh ke arah Karin yang masih fokus pada layarnya. "Karin, kau bilang drone-mu punya sensor panas, kan?"
"Iya, kenapa?"
"Bisakah kau mencari jalur pipa gas atau panel listrik utama di sisi timur gudang? Kita butuh pengalihan."
Karin memutar kameranya. "Ketemu! Ada tangki gas besar di belakang gudang, tapi ada penjaganya dua orang."
"Cukup beri tahu lokasinya padaku. Kau tetap di sini."
Vittorio bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal bagi mata manusia biasa. Ia melumpuhkan dua penjaga tangki gas hanya dengan dua serangan saraf di leher. Kemudian, ia mengatur sebuah alat pemicu kecil yang ia bawa.
"Tiga... dua... satu..."
BOOM!
Ledakan tidak terlalu besar, namun cukup untuk menciptakan bola api yang mengejutkan dan memicu alarm kebakaran di seluruh pelabuhan. Kepulan asap hitam mulai memenuhi udara.
"SEKARANG! TIGER, MASUK!"
Kekacauan pecah. Anak buah Tiger menyerbu dari berbagai arah dengan koordinasi yang sempurna. Suara tembakan berperegam suara terdengar seperti rintik hujan di atas atap seng. Di tengah asap, Vittorio melesat masuk ke dalam gudang melalui jendela atas yang sudah diintai Karin.
Di dalam, Bianca tampak panik. "Ambil uangnya! Tinggalkan orang itu!" teriaknya pada pengawalnya.
Vittorio mendarat tepat di depan Bianca. Aura dingin yang ia pancarkan membuat para pengawal Lupi di Mare sempat ragu sejenak.
"Kau lagi," desis Bianca, ia mencabut pistol kecil dari balik jasnya. "Kau benar-benar ingin mati lebih cepat, Arjuna?"
"Nama itu sudah mati malam ini, Bianca," jawab Vittorio. "Sekarang hanya ada kau, aku, dan konsekuensi dari dosa-dosamu."
Salah satu pengawal raksasa menerjang Vittorio dengan pisau komando. Vittorio menangkis dengan tangan kosong, memutar lengan lawan hingga tulang sikunya mencuat keluar, dan menggunakan tubuh lawan sebagai tameng saat pengawal lainnya melepaskan tembakan.
Di luar, Karin menonton melalui drone-nya dengan napas tertahan. "Juna, di belakang lu! Ada orang bawa kayu!" teriaknya spontan ke radio, meskipun ia tahu Vittorio bisa merasakannya.
Vittorio merunduk, menyapu kaki penyerang di belakangnya, dan mengirimkan tendangan tumit ke dagu pria itu hingga ia pingsan seketika.
Bianca mencoba melarikan diri menuju pintu belakang, namun Tiger dan timnya sudah memblokir jalan keluar. Sementara itu, Vittorio berhasil mencapai Satya dan memotong ikatannya.
"Ar... Arjuna?" Satya bergumam setengah sadar.
"Diam dan ikutlah dengan pria-pria ini jika kau ingin tetap hidup," perintah Vittorio dingin.
Saat operasi hampir selesai dan barang bukti senjata berhasil diamankan oleh tim Tiger, sebuah suara helikopter terdengar mendekat.
"Ghost, kita harus pergi! Polisi pelabuhan yang disuap Hadi sedang menuju ke sini!" Tiger memperingatkan.
Vittorio menatap Bianca yang kini terpojok di sudut gudang. Ia bisa saja melenyapkannya sekarang, namun itu akan memicu perang terbuka prematur dengan Italia yang belum siap ia hadapi.
"Ini baru permulaan, Bianca," bisik Vittorio. "Sampaikan pada ayahmu: Serigala ini sudah tidak lagi dirantai."
Vittorio berlari keluar, menuju tempat Karin bersembunyi. Ia menyambar tangan Karin dan menariknya menuju motor sport yang sudah menunggu.
"Ayo cepat! Loncat ke belakang!"
Karin naik ke boncengan dengan gerakan kikuk, memeluk pinggang Vittorio erat-erat. Motor itu melesat membelah kegelapan pelabuhan, tepat saat sirine polisi mulai menggema dari kejauhan.
Mereka berhenti di sebuah jembatan sepi yang menghadap ke laut, beberapa kilometer dari lokasi kejadian. Napas Karin masih tersengal-sengal, wajahnya pucat namun ada binar kegembiraan di matanya.
"Juna... kita... kita beneran menang?" tanya Karin lirih.
Vittorio melepas maskernya, menghirup udara malam yang dingin. "Kita memenangkan satu pertempuran, Karin. Tapi perang ini masih panjang. Dan kau..." ia menatap Karin dengan serius. "Kau hampir saja membuatku serangan jantung."
Karin justru tertawa kecil, meskipun tangannya masih gemetar. "Tapi gue hebat, kan? Kalau nggak ada drone gue, lu pasti udah kena tembak penembak jitu itu!"
Vittorio terdiam sejenak. Ia tidak bisa membantah. Keberadaan Karin malam ini, meskipun berbahaya, telah memberikan keunggulan taktis yang tidak ia duga.
"Ya," ucap Vittorio pelan. "Kau... asisten yang lumayan. Untuk ukuran gadis semprul."
"Asisten dadakan kelas dunia!" Karin menepuk dadanya sendiri, lalu meringis kesakitan karena bahunya pegal. "Tapi Jun... besok kita tetep kuliah kan? Gue ada kuis hukum perdata jam delapan pagi."
Vittorio menggelengkan kepala. Kontras antara dunia mereka sangatlah gila. Baru saja mereka terlibat dalam baku tembak mafia, dan sekarang Karin memikirkan kuis hukum.
"Ya, kita tetap kuliah. Aku tidak ingin Bianca punya alasan untuk mencurigai 'Arjuna' yang absen setelah kejadian malam ini."
"Bagus! Tapi lu yang harus kerjain tugas gue sebagai upah asisten malam ini!"
"Tidak."
"Pelit! Alien pelit!"
Mereka kembali memacu motor menuju kost-an. Di bawah cahaya lampu jalan, Vittorio menatap tangan Karin yang masih melingkar di pinggangnya. Ia menyadari satu hal: memiliki asisten dadakan seperti Karin mungkin akan membuatnya darah tinggi setiap hari, namun itu juga memberinya alasan untuk tetap berpijak pada bumi, menjaga sisi manusiawinya di tengah kegelapan yang mulai menelan identitasnya.
"Karin," panggil Vittorio di tengah deru angin.
"Apa?"
"Besok... belilah drone yang lebih bagus. Gunakan kartu debitku."
Karin bersorak gembira, suaranya mengalahkan suara mesin motor. "ASIIIIK! GUE MAU BELI YANG ADA LAMPU DISKONYA!"
"Jangan yang ada lampu diskonya, bodoh! Itu namanya cari mati!"
Vittorio tersenyum tipis. Perang mungkin akan segera meletus, Lupi di Mare mungkin sudah mendarat, tapi setidaknya untuk malam ini, mereka pulang dengan kemenangan kecil dan rencana untuk membeli drone baru.
aq ngakak 😄🤣😄🤣😄🤭
lucu bnget cemburu ny si vittrio🤣😄🤣😄🤭 lanjut kk👍
kocak bnget,,,,👍
laen x cukup sederhana tp berkesan saja🤭
karin udh gak malu lg yaa peluk2 vittrio depan orng🤭
mna manja lg
🤣😄🤭
dri pda karin pke daster kuning bikin syilau mata mu😄🤣😄🤣🤭
tp gak ap lah, klu vittrio penguasa italia, aq penguasa komen d cerita kk ini🤭👍