No Plagiat ❌
Namanya Zhara Chandrawinata, gadis berusia 20 tahun. Ia punya mimpi hidup tenang, bahagia, dan kaya raya.
Di balik senyumnya yang manis, Zhara tumbuh dari kluarga broken home, ia tidak menyangka hidupnya akan berjalan sulit, mimpi yang ia bangun, keputusan yang di ambil, kisah cintanya, selalu terbentur masalah.
Tahun demi tahun berlalu, Zhara mulai kehilangan arah. Pikirannya lelah, hatinya terluka, pada akhirnya tubuhnya menyerah. Zhara ditemukan meninggal karena Asam Lambung GERD yang ia derita.
Dewa kematian berkata. Jiwanya tidak dapat menyebrang, karena ada seseorang yang menukar jiwanya, agar Zhara hidup kembali.
Dalam gelap Zhara mendengar ada yang manggil namanya, “Zhaa.. bangun.. Jangan tidur dikelas! ” Zhara terbangun di ruang kelas dan melihat Tiara menggoyangkan lengannya.
Zhara kembali hidup dan siapa yang telah menukar jiwanya?
mengapa dewa kematian masih mengikutinya?
Apakah pertukaran jiwa itu tidak sempurna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tetawalah
...“Zahra duduk yuk,” ujar Lani menyentuh pelan tangan Zahra untuk duduk....
...“Aku mau menaruh tas di loker dulu kak, tunggu yah.” jawab Zahra melihat Lani mengangguk pelan padanya....
...Zhara melangkah pelan melewati meja bundar di tengah ruangan, menuju loker penyimpanan barang para terapis. Zahra melihat beberapa seniornya menoleh ke arahnya, lalu menyapa dengan senyum hangat saat menyadari ia telah kembali bekerja....
...Ruangan harmoni terasa luas, dan nyaman. Berbagai fasilitas tersedia untuk para terapis. Sofa empuk dan nyaman tersusun rapi untuk duduk, sementara udara sejuk dari AC membuat suasana semakin tenang. Di beberapa sudut, matras digelar sebagai tempat beristirahat. dan tidak jauh dari sana, meja dengan cermin besar berdiri, menjadi tempat para terapis merias diri sebelum menyambut tamu....
...Setelah selesai menaruh tasnya di dalam loker, Zhara kembali melangkah menuju sofa. Ia duduk perlahan, melihat teman temannya bercerita dengan sangat seru. Beberapa terapis lain tampak melangkah ke kantin untuk sarapan, sementara yang lain sibuk merapikan diri di depan cermin....
...“Kak Lani sudah sarapan?” tanya Zhara, mencoba mengalihkan perhatian....
...Kak Lani yang sedang mendengarkan cerita Tiara dan Rani langsung menoleh....
...“Sudah, Kamu sendiri?”...
...Zhara tersenyum kecil, lalu menggeleng pelan....
...“Zhara, Rani, dan Tiara. Kalian sarapan dulu ya… untuk tamu yang sudah booking hari ini, datangnya sore saja,” Lani menatap mereka satu per satu, lalu tersenyum hangat. “Jadi yang shift pagi bisa lebih santai.”...
...Lani melihat jam tangannya, lalu tersenyum kecil. Ia mengangkat pandangannya ke arah Zhara dan yang lain....
...“Ini baru jam sembilan pagi. Tiga puluh menit lagi, aku akan mulai melatih anak training,” ujarnya santai....
...“Siap trainer Lani” ucap Tiara yang duduk di sampingnya langsung menyenggol pelan bahu Lani....
...“Jadi untuk kalian bertiga. Silakan sarapan dulu, isi tenaga kalian,” ujar Lani sambil tersenyum....
...“Ayo berangkat menuju kantin, sebelum kantin bosen melihat kita.” Rani langsung bangkit terlebih dahulu....
...“Nggak bakal bosen, kantin lihat kita Rann... Orang kita babinya,” kata Tiara sambil terkekeh....
...“Oink... Oink... Oink... Lapar nih” ucap Zahra meniru suara babi....
...“Zhaa... Itu terlalu imut untuk babi lapar,” Rani langsung menoleh Zahra. “Yang bener itu, Nguik... guik... ngook... ngook,”...
...“Zahra! Cepat lari... Ada babi liar,” ucap Tiara menarik tangan Zahra agar berlari meninggal Rani...
...Zhara yang kaget langsung ikut terseret, ia menahan tawa sambil tetap berlari kecil....
...“Cepat! Di belakang kita! Nguuiiik… nguiiik!... Nanti kita di seruduk bagas,” ucap Tiara....
...Dari belakang, Rani langsung berteriak kesal, ikut berlari mengejar mereka....
...“Ehhh... Katanya kita?... Kok babinya jadi aku saja?”...
...Zhara yang geli melihat Rani mengejar, akhirnya ikut tertawa lepas. Mereka bertiga berlari kecil di lorong, tertawa tanpa peduli orang orang di sekitar yang mulai melirik heran. Hingga akhirnya Zhara tertangkap Rani lebih dulu di parkiran, terengah engah sambil tertawa....
...“Aduh capek… babinya liarnya ganas juga…”...
...Rani yang memeluk Zhara, pura pura marah tapi tak bisa menyembunyikan senyumnya. Tiara masih sesekali menahan tawa, sambil menunjuk Rani. Mereka memecah pagi dengan tawa yang tak kunjung reda di halaman parkir. Langkah mereka mengarah ke kantin, diiringi canda yang masih berlanjut tanpa henti....
...Zhara tiba tiba merasa seperti ada yang mengawasinya dari lantai atas, ia sedikit memperlambat langkah, lalu memalingkan pandangannya, mengikuti rasa penasaran yang muncul tiba tiba. Matanya mencari cari area di atas, dan di sana, ia melihat seseorang berdiri, memperhatikan mereka dari kejauhan....
...Daniel....
...Tatapan mereka bertemu sesaat. Zhara terdiam, senyumnya perlahan memudar. Zhara tidak menyapa maupun tersenyum, ia lebih memilih mengabaikan Daniel. Ia tidak ingin ada keterkaitan lagi dengan Daniel. Menjaga jarak adalah satu satunya cara, agar ia tidak kembali bergantung atau memanfaatkan kehadiran Daniel dalam masalah yang dihadapinya....
...Ia melangkah cepat, menyusul teman temannya menuju kantin. Tawa Tiara dan Rani kembali menarik perhatiannya, seolah terlepas keluar dari pikirannya sendiri. Mereka akhirnya sampai di kantin....
...Suasana kantin masih lengang di pagi hari, belum dipadati karyawan. Beberapa kursi masih kosong, dan suara obrolan terdengar ringan di beberapa sudut. Zhara, Tiara, dan Rani memilih duduk di pojok tempat biasanya, masih diselingi tawa kecil dari candaan mereka tadi....
...“Hei... Aku yang pesenin, kalian tinggal bilang saja mau makan apa?” ujar Rani yang masih berdiri....
...“Aku nasi goreng telur,” ucap Tiara semangat....
...“Kalo aku, bubur ayam lengkap... Makasi Rani cantik,” sambung Zhara tersenyum....
...“Dicatat, ditunggu ya...” ucap Rani, ia berbalik menuju tempat pemesanan....
...Sementara itu, Zhara duduk diam, menatap ke arah kaca di belakang kantin. Di baliknya, terbentang hamparan rumput hijau, dengan beberapa sapi yang sedang makan dengan tenang. Aroma makanan mulai tercium dari berbagai arah, membuat perutnya yang tadi kosong mulai terasa....
...“Zha… kamu dua minggu menghilang tanpa kabar, apa nggak ada yang marah?” ucap Tiara sambil menatapnya penasaran. “Udah seperhatian itu, eh malah di ghosting gitu aja sama ni anak.”...
...“Udah pasti ada…” jawab Zhara santai, tangannya menopang dagu di atas meja....
...Tiara langsung mencondongkan tubuhnya, penasaran....
...“Ehh... Siapa nih?”...
...“Hemm...” Zhara pura pura berpikir, melihat tatapan Tiara menunggu jawaban. “Tukang antar paket,”...
...Hening....
...Tiara menghela napas panjang, wajahnya terlihat kecewa....
...“Iya... nggak salah sih”...
...Zhara mengangkat bahu santai....
...Rani akhirnya kembali sambil membawa nampan penuh makanan, ia menata di meja sesuai pesanan....
...“Permisi, para babi babi pelanggan setia kami!” ujarnya menggoda dengan gaya sok formal. “Silakan dinikmati santapannya,”...
...“Ngrook! Ngrook!” Tiara menjawab sambil mengangkat kedua tangannya ke atas, mengepal sendok dan garpu....
...Mendengar itu Zhara tidak bisa menahan tawa, bahunya naik turun....
...“Sebelum makan, mari kita berdoa dengan kepercayaan masing masing,” ucap Zhara menatap kedua temannya....
...“Aku duluan...”...
...“Udah kayak anak pramuka lagi kemah aja” guman Tiara menyela ucap Rani yang langsung memejamkan mata....
...“Ya Tuhan... Saya masih setia menunggu ditabrak CEO, pewaris tunggal yang kaya raya. Di ajak nikah kontrak lalu di beri kompensasi satu m... Aminnn paling serius,” tutup Rani tersenyum lebar....
...“Ehh babi... Do'a makan!...” ucap Tiara mulai kesal....
...“Izinkan saya kaya raya... Lima M aja ya Tuhan, ,” Zhara melirik kedua temannya “Kalau masih ragu boleh dicicil per dua M dulu ya Tuhan... Aminnn paling kenceng,”...
...Rani tertawa mendengar doa Zhara yang juga absurd. Ia sampai menunduk, bahunya bergetar menahan tawa....
...“Ini juga, malah ngatur ngatur Tuhan?” ujar Tiara di sela tawa, yang langsung menunjuk Zhara dengan sendoknya....
...“Nah coba kamu!... ” ujar Rani menatap kearah Tiara....
...“Ehemm...” Tiara melihat teman temanya menunggunya, “Tuhan saya anak baik, tolong sukseskan saya, ada orang yang ingin saya bawa ke rumah sakit jiwa paket Portuner... Yang second juga nggak papa...”...
...Rani langsung menutup mulutnya, menahan tawa, Zhara juga menunduk, bahunya bergetar....
...“Amin…”...
...Hening sesaat....
...Rani meledak tertawa, tangannya menghentak hentak meja, Zhara langsung ikut tertawa lepas....
...“Emang kalian doang yang bisa?” Tiara membuka mata dengan santai, lalu mengangkat bahu....
...“Ehemm!”...
...Terdengar suara dehaman di sebelah meja makan, mereka bertiga serentak mendongak untuk melihat siapa orang tersebut, tawa yang tadi masih tersisa perlahan mereda. Di samping meja mereka, seseorang berdiri dengan posisi tegap, tatapannya tertuju lurus ke arah Zhara. Senyum di wajah Tiara langsung membeku, Rani yang tadi masih tertawa, kini ikut terdiam, Zhara menatap sosok itu tanpa berkedip....
...Daniel....