Delina Azzahra Gustia, gadis 21 tahun yang paling anti dengan yang namanya duda, harus menghadapi kenyataan pahit... ancaman dari ayahnya.
"Kalau kamu masih bangun siang terus, Bapak nikahkan kamu sama duda!"
Ancaman itu selalu ia anggap angin lalu.
Sampai suatu hari... semuanya berubah.
Sebuah kejadian konyol yang tak pernah ia bayangkan-kepeleset, lalu jatuh tepat di atas seorang pria asing-membuat hidupnya jungkir balik.
Lebih parahnya lagi, warga memergoki mereka dalam posisi yang... tak bisa dijelaskan.
Pria itu adalah Muhammad Agam Alfariz. Seorang gus berusia 30 tahun.
Dan sialnya... dia adalah tipe pria yang paling Delina benci. Namun karena fitnah yang terlanjur melebar, satu keputusan harus diambil.
Menikah...
Dalam semalam, Delina yang anti duda... justru sah menjadi istri seorang gus mantan duda.
Hidupnya yang dulu bebas, kini berubah total.
ig: adelgustian_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Mereka sampai didepan rumah dinas, yang Agam maksud. Delina terkejut melihat rumah dinas yang tidak sesuai dengan ekspetasi yang ada dalam pikirn nya, rumah petak seperti rumah sewaan pada umumnya. Ternyata salah..
Rumah dinasnya seperti perumahan, walaupun tidak lantai 2 tapi begitu besar. pantas saja mereka tdi keluar dari perbatasan desa wong ada perumahan dinas rupanya. Walaupun jaraknya agak sedikit jauh, sekitar 20 menitan tapi Worth it lah kalau rumahnya wong sebesar ini dengan halaman luas.
Ente yakin ini perumahan dinas? Sepertinya memang iya, tapi kalau untuk ditinggalin secara pribadi agak mustahil.
Delina masih terperangah, sedangkan Agam sudah menurunkan barang-barang mereka di bagasi.
" Lin! Kamu tidak mau turun? Sampai kapan mau disana terus?" Panggil Agam menyadarkan wanita itu.
" Eh, iya sebntar Om. Tungguin...." Ucap Delina segera keluar dari mobil menghampiri Agam yang tampak tidak memperdulikannya.
KLEK....
" Assalamualaikum, warrahmatullahi wabarrakatuh." Salam Agam saat pintu rumah terbuka lebar.
Pria itu menarik kedua koper mereka,di ikuti Delina dari belakang membawa tas selempang besar.
" Om, gak salah ini perumahan dinas? " Tanya Delina.
" Beneran, ini perumahan nya. " Jawab Agam lagi.
" Om bohong kan? Mana perumahan segede gaban begini, apalagi ditinggalin pribadi."
" Memang awalnya rumah dinas, cuman saya membelinya untuk kita tinggalin." Jawab Agam.
" Hah? Sejak kapan rumah dinas bisa dibeli? Om mau ngibulin aku kan." Hardik Delina.
" Astagfirrullah, beneran Lin. Memang awalnya hanya perumahan biasa, disewa sama pihak pemerintah buat rumah dinas. Kebetulan, saat sya yang akn menempati ternyata sewanya dari pihak pemerintah sudah tidak berlaku, jdinya hnya perumahan bias saja. "
" Terus Om beli gitu?"
" Iya, saya beli sja. Saya juga niatnya skalian mau tinggal didesa sini aja, sekalian healing."
" Aneh-aneh aja, pemikiran nya orangkaya jaman sekarang."
Agam hanya tersenyum tipis melihat reaksi Delina.
" Saya tunjukan kamar nya." Ucap Agam menuju kamar utama.
" Seperti nya gue sama nih duda gak bakalan sekamar. Wajar sii, kita kan gak saling cinta." Batin Delina saat Agam membuka pintu kamar utama.
KLEK...
" Ini kamar, kita."ucap Agam ikut masuk kedalam diikuti Delina juga.
Lelaki itu meletakan kedua koper mereka dekat lemari.
" Disana kamar mandinya, ini lemari pakaian nya. Sebelah kanan punya mu, sebelah kiri punya saya." Jelas Agam.
Delina memperhatikan seisi kamar.
Tapi, tunggu... Sebelah kiri punya nya sebelhanya pnya.... Agam?
" Kita sekamar gitu Om?" Tanya Delina.
" Iya, kita sekamar. Ters kamu mau pisahkamar gitu? "
" Tidak, saya tidak mau. Dirumah ini hanya ada 3 kamar , dua kamar utama dan kamar tamu satu ruangan kerja saya." Tegas Agam.
" Jangan harp kita akan pisah kamar." Tegas Agam.
" Kan aku cuman tanya aja Om,bukan suruh pisah kamar. Biasanya novel yang kubaca kalau nikah gak cinta nikahnya psah kamar." Sungut Delina.
" Itu kan di novel , kalau di dunia nyata gak ada. Hukumnya pisah ranjang, harus menikah kembali jika dalamm agama islam jatuhnya sudah talak 1. " Ucap Aagm sembari mengeluarkan pakaian nya dari koper.
" Sini biar aku aja Om. " Ucap Delina mengambil ahli pekerjaan nya.
" Terimakasih, saya parkirkn mobil dulu kedalam." Ucap Agam beranjak dari duduknya.
Delina menyusun pakaian milk Agam, tidak lupa juga menyusun benda keramatnya. Tidak mungkin kan pekerjaan dilakukan setengah-setengah, kalau kata mamaknya dilarang.
Saat Delina menyusun barang-barang nya, semuanya tampak normal biasa. Sampai Agam masuk kedlaam kamar merka, Delina tampak terkejut.
Bukan, bukan karena ada Agam melainkan. Sesuatu keramat bagi Delina. Sampai-sampai Agam pun kaget dna menyusul Delina takut terjadi ssuatu dengan istrinya itu.
" Ada apa? Semuaanya baik-baik saja kan?" Tanya agam mendekat.
" Ada apa didalam kopernya?" Tanya Agam lagi melengok kedalam koper dan langsung diambil oleh Delina dengn cepat.
" Gak ada..." Jawab Delina menyembunyikan nya.
Mata Agam menyiipit, ia tahu istrinya itu berbohong. " Apa Delina? Cepat kasih tahu saya, apa yang kamu sembunyikan?" Tanya Agam mendesak.
" Ishh, gak ada loh Om. Sudah sana mandi aja."jawab Delina.
" Delina! Dosa loh, gak nurutin suami. Sini kasih lat dulu apaan. " Ucap Agam ia mencoba menarik tangan Dlena tap wanita itu begitu kcang menarik tangan nya juga.
" Ishh,ahh... Om..." Pekik Delina saat pinggang nya ditarik tiba-tiba sehingga sesuatu yang dipegang nya terjatuh ke lantai.
PLUK
Dengan cepat, Agam memungutnya dan merentangkan tinggi-tinggi. Betapa kagetnya lelaki itu, ssuatu yang tidak pernah terpikrikan akan dilihat.
Suasana mendadak jadi canggung. Delina dan Agam yang tadinya biasa-biasa saja, kini tampak kikuk. Baju dinas malam warnamerh menyala itu membuat suasan nya berubah.
Lingerie merah maroon transparan seperti kain tisu saat dipgang, buru-buru Delina menariknya.
" Sudah kubilang , bukan apa-apa." Dengus Delina memasukan nya lagi kedalam koper dan menutupnya.
" Kamu punya baju bgituan sejak kapan? Dirmah kamu pakai begitu? " Tanya Agam kagok.
" Enggaklah Om, pnya aja gak pernah. Kyaknya dimasukan sama mamak, sbelum berangkat. Semua baju ku mamak yang siapkan. " Jelas Delina.
" Lalu kamu sudah selesai beberesnya? Itu masih ada sisanya?" tanya Agam.
" I--itu, isinya lingerrie semua Om. Gak mungkin ku tarok didalam lemari." Ucap Delina memalingkan wajahnya jelas pipinya pasti merah merona antaran malu.
" Saya kira kamu tidur pakai begituan." Ucap Agam lirih pria itu mengambil handuk berniat membershkan tubuhnya.
"Kenapa meamngnya om? Om mau aku pakai, terus Om review gitu?" Tanya Delina.
"Bukan, saya hanya tanya saja. Otak kamu terlalu ngers." Ucap Agam santai.
" Loh, kan Om duluan yang tan-"
BLAM..
" Lah, gak jelas banget tuh. Duda satu, dijawb kok malah ketus." Kesal Delina.
" Mamak nih juga, kurang kerjaan banget dikash lingerrie segala. Mana nafsu tuh duda ama lidi kek gue."gumam Delina mendumel.
---
MALAM HARINYA.
Delina merebahkan tubuhnya di kasur, setelah seharian membesihkan rumah bersama Agam. Akhirnya ia bisa bersantai.
" Aduhh.... Pinggang kuh\~ " keluh Delina saat tubuhnya bersentuhan dengan kasur empuk .
" Akhirnya, setelah sekian lama. Bisa tidur...." Gumam Delina lagi ia memejamkan matanya meresapi suasana yang tenang dan sejuk.
Terdengar pintu kamar terbuka, Agam baru sja selesai mandi. Dilihatnya Delina sepertinya sudah tidur.
Lelaki itu, ikut juga merebahkan diri kasur. Setelah nya mereka tertidur, sangat-sangat flat sekali bukan...
Suara lantunan Al-Qur'an terdengar, dari masjid. Yang membuat keduanya akhirnya terbangun.
Keduanya sama-sama kikuk, tdak terbiasa ada dalam kondisi yang bisa dibilang teramat dekat.
" Ishh, Om. Jauh-jauh. " Usir Delina ia memberi jarak keduanya.
" Saya, juga tidak nafsu lihat bentuk badan kamu." Jawab Agam menohok.
Pria itu beranjak dari kasur, menuju kamar mandi.
" Dasar duda bangkotan, bakalan gue buktikan omongan nya." Gumam Delina geram.
----
Hari mulai terang, Delina yang telah selesai Salat subuh sejak tadi hanya memainkan ponsel karena tidak tahu apalagi yang harus dilakkan nya. Awalnya dirinya ingin membuat sarapan, tetapi ternyata tidak ada ada satupun alat masak disana dan bahan-bahan masaka pun tidak ada.
Hanya perabotan alat makan saja, berupa sendok, garpu gelas, dan piring serta mangkok. Ingin membeli tapi disini tidak ada lengkap toko peralatan nya. Harus kekota dulu baru ada semuanya.
Niatan Delina ingin membelinya hari ini, tapi Agam. Suami dudanya itu ada pekerjaan mendesak dari balai Desa, sebab itulah ia menunggu saja sampai Agam tiba.
Toh, pia itu juga yang melarangnya untuk pergi sendirian.
" Om, kayaknya kita harus belanja perabotan deh. Kalau kayak gini gimana mau masak? Terus juga gak ada sayur lauk pauk, kita harus belanja bulanan. " Ucap Delina.
Wanita itu juga baru meyadari tadi pagi, semalam mereka memang beli untuk makan malam dirumah. Begitu juga pagi ini, pantas saja Agam selalu beli ternyata memang tidak ada apa-apa didapur.