Peliknya kehidupan, dan pasang surut usaha kecil-kecilan yang sedang dijalaninya tidak membuat Rinjani menyerah. Namun, tuntutan dan target usia pernikahan dari orang tuanya mampu membuatnya kabur dari keindahan kota dan segala kemudahannya.
Dia kabur ke desa kelahiran orang tuanya, mengharapkan ketenangan yang tidak sesuai espektasinya.
"Terserah saya lah, ini kan masih lahan nenek saya!" bentak Rinjani sambil berkacak pinggang di halaman rumah nenek.
"Tapi mengganggu ketenangan warga Mbak."
"Matamu, Mbak!"
Kehidupan baru dengan tetangga baru yang menyebalkan pun dimulai.
Sebelum baca jangan lupa follow instagram @Tantye 005
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kita bercerai saja
"Pakai baju ayah dulu, besok baru kita belanja." Rinjani menyerahkan setelan lengkap ada Ikhram. Tentu untuk pakaian dalam masih terbungkus plastik.
Ibunya menyarankan mengajak Ikhram untuk berbelanja malam ini, mengingat masih jam sembilan malam. Hanya saja suasana hati Rinjani tidak terlalu baik untuk bepergian usai bertemu Ardian di depan pagar. Terlebih Ikhram lagi-lagi menyaksikan pertengkarannya.
Bagaimana pria itu menuduhnya selingkuh sungguh menyebalkan.
"Terimakasih."
Anehnya Ikhram tidak bertanya atau membahas apa yang terjadi tadi. Suaminya bersikap seolah tidak mengetahui siapapun.
Rinjani duduk di bibir ranjang setelah Ikhram menghilang dibalik pintu toilet. Berulang kali ia menghela napas panjang. Pada akhirnya demi mengusir pikiran tentang Ardian, Rinjani kembali berkutat pada pekerjaan yang tidak berujung.
Dibukanya laptop berisi beberapa desain, dan lembaran kertas pun mulai memenuhi meja wanita itu.
"Rin ...." Lagi dan lagi Ikhram menggantung ucapannya.
Dia mendekat tanpa menimbulkan suara, berdiri di belakang kursi dan melihat bagaimana tangan lentik Rinjani mengubah kertas hv putih menjadi hidup dalam beberapa menit.
Kita berpisah 20 tahun dan itu membuat saya sedikit canggung
Mengingat ucapan Rinjani tadi, ia tanpa sadar tersenyum. Menurut Rinjani mereka berpisah 20 tahun, tapi untuk Ikhram sendiri tidak selama itu.
Di bangku kuliah, Ikhram selalu ada di sekitar Rinjani meski wanita itu tidak menyadarinya. Keduanya menjadi mahasiswa baru di kampus yang sama. Saat Rinjani pulang terlambat dan sendirian, akan ada Ikhram di belakangnya mengikuti sampai memasuki pagar.
Dan Ikhram menyaksikan bagaimana Rinjani mengejar-ngejar cinta Ardian di bangku kuliah. Anehnya Ikhram mempermulus jalan itu demi kebahagiaan Rinjani.
Barulah Ikhram benar-benar tidak mengetahui kabar wanita itu ketika ia pulang ke desa dan menjadi guru honorer. Mengikuti pendaftaran pns dan lulus dengan nilai terbaik di bidangnya.
Naasnya gelar yang selalu dia usahakan itu kini berada diujung tanduk karena kecerobohannya.
"Bicara saja jika memang ada yang mau dibicarakan," ujar Rinjani. Siapa sih yang tidak menyadari keberadaan Ikhram? Di saat aroma tubuh pria itu menguar di indera penciumannya.
"Nggak ada." Ikhram memundurkan langkahnya. Memilih setengah berbaring di ranjang usai mengambil salah satu buku bacaan di meja Rinjani.
Sebenarnya bukan dia yang harus bicara, tetapi Rinjani. Ikhram menunggu istrinya itu membahas apa yang terjadi di depan pagar. Tapi sepertinya tidak akan terjadi melihat wanita yang dicintainya masih sibuk.
"Yang kamu temui tadi adalah Ardian-orang yang pernah saya ceritakan di desa. Kami pacaran dari bangku kuliah dan tentunya nggak ada yang berjalan mulus. Bertengkar, saling memaafkan, bucin-bicinan, putus nyambung dan merencanakan pernikahan ..." Rinjani tertawa. "Siklus seperti itu lumrah terjadi dalam sebuah hubungan tapi ... kali ini saya sulit untuk memafkannya meski cinta saya padanya masih sama seperti dulu."
"Saya minta maaf jika pengakuan saya ini menyentil harga dirimu."
"Saya nggak mau ada kebohongan di antara kita. Jadi ... kalau kamu jenuh dengan hubungan kita maka mari kita bercerai."
Rinjani menarik napas dalam, menunggu respon Ikhram yang tidak kunjung menyela. Dia akhirnya berbalik dan menemukan pak guru muda itu telah menjatuhkan buku bacaannya dan matanya sudah terpejam entah sejak kapan.
"Jadi saya bicara sendiri?" Tampak Rinjani menertawakan kekonyolannya sendiri.
"Mudah sekali dia tidur bahkan di tempat asing," gumamnya.
Lantas ia menutup laptopnya, merapikan meja kemudian mematikan lampu kamar agar tidak menganggu tidur suaminya. Hm sampai saat ini Rinjani masih tidak percaya dia sudah menikah.
"Tahu nggak? Sampai detik ini saya belum percaya bahwa kamu Iklan. Kamu terlalu manis dan tampan. Atau jangan-jangan kamu menyamar?"
Rinjani yang sudah berada di tempat tidur, terus bergeser mendekati Ikhram. Dia ingin memastikan satu hal, yaitu memeriksa belakang telinga, benarkah ada bekas luka di sana.
Naasnya tangannya terlilit selimut hingga terhuyung. Sebelah tangannya menjejal perut Ikhram dan bibirnya mendarat pada bibir manis pria itu.
Kelopak mata Rinjani melebar, begitu pun dengan Ikhram sebab terkejut tiba-tiba ditindih.
"Sa-saya nggak sengaja ...." Beniat menjauhkan diri akan tetapi Ikhram menahan pinggang Rinjani.
"Kamu membangunkan saya," suara Ikhram terdengar serak.
.
.
.
Semoga cuma Ikhram yang bangun🙈😭. Malu ih Janiiiiii
jangan end di tengah jalan ya ka,,,
noh Jani dengerin,,makanya cek dulu
untung bang iklan langsung datang
lanjut sampe end ya thor🙏
buat mastiin apakah itu anak kamu atau anak Agus,,
siapa tau itu bukan anak Agus tapi anak iklan,,