NovelToon NovelToon
Datang Tanpa Dicari

Datang Tanpa Dicari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / GXG
Popularitas:574
Nilai: 5
Nama Author: Benrycia_

Area GxG ya~
******
Satu sekolah, beda kelas, tapi ributnya bisa tiap hari. Kara dan Narisa, dua anak SMA yang sepertinya lahir tanpa kemampuan berdamai.
Awalnya semua biasa saja. Sampai suatu hari... mereka menikah.
Iya. Menikah.
Kok bisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Sore harinya, Narisa pulang sambil senyum-senyum sendiri karena berhasil membawa beberapa kotak masakan Nuri. Alasannya sederhana: kulkas di rumah dia dan Kara kosong melompong.

"Ya belanjain lah. Kamu harus belajar mandiri," kata Nuri tadi.

"Duitnya mana, ma?"

"Kan waktu jalan-jalan udah dikasih banyak sama pak Bram,"

"Ya abis, ma. Emang aku gak butuh jajan?"

Dan gara-gara itu, Nuri akhirnya menyerahkan uang lima ratus ribu pada Narisa. Katanya buat jatah sebulan.

Sebulan.

Narisa hampir protes. Tapi karena takut nominalnya malah turun jadi dua ratus ribu, dia memilih diam dan menyusun rencana lain dalam kepala.

Minta ke papa.

Di perjalanan pulang, motor Kara tiba-tiba berbelok ke Indahmaret tidak jauh dari rumah.

"Ngapa berhenti?" tanya Narisa heran.

"Katanya mau es krim, coklat, sama nugget," Kara turun sambil membuka helm, "Tunggu di sini."

Narisa langsung melongo.

"Kok gak boleh ikut masuk?"

"Enggak. Pokoknya tungguin."

Lalu Kara masuk sendirian. Sengaja. Karena kalau Narisa ikut, dia yakin cewek itu bakal berubah jadi monster diskonan dan memborong setengah isi minimarket. Ujung-ujungnya pasti dia yang disuruh bayar. Sementara isi dompetnya sedang tipis mengenaskan,

Di luar, Narisa masih duduk sambil memperhatikan Kara dari balik kaca.

Cewek itu berdiri santai di depan freezer es krim, lalu pindah ke rak camilan. Sesekali tangannya mengambil barang, lalu dikembalikan lagi seperti sedang menghitung isi dompet dalam hati.

Narisa tiba-tiba senyum kecil sendiri. Padahal tadi dia cuma ngasal waktu minta dibelin macam-macam.

"Si Santen tuh sebenernya apaan sih..." gumamnya pelan.

Mulutnya nyebelin. Hobinya ngebacot. Sering bikin emosi. Tapi anehnya, tiap Narisa ngomel atau minta sesuatu, cewek itu hampir selalu nurut.

Narisa menyipit curiga ke arah pintu minimarket.

"Jangan- jangan..." Lalu dia langsung menggeleng keras. "Najis. Masa si Santen naksir gw."

~

Keesokan harinya, ruang rapat guru mendadak terasa seperti ruang sidang.

Di ujung meja, kepala sekolah duduk dengan wajah lelah namun berusaha tenang. Di kanan kirinya ada Bu Rahayu, Pak Reza, dan Pak Yanto wali kelas Narisa. yang sejak tadi sudah beberapa kali mengusap wajah sendiri.

Beberapa map pelanggaran sudah terbuka di atas meja, lengkap dengan daftar nama murid yang ikut bolos massal kemarin,

Sementara itu di sisi lain meja, tiga orang tua duduk berjajar.

Nuri tampil rapi seperti mau menghadiri arisan elite, bukan pemanggilan sekolah. Di sebelahnya, Eka duduk santai sambil memainkan gantungan kunci mobil. Sementara Santoso duduk paling ujung dengan wajah keras.

Di belakang kursi mereka, tiga pelaku utama berdiri berjajar.

Narisa melipat tangan dengan wajah jutek. Kara terlihat bosan. Harum tegang setengah mati

Kepala sekolah membuka pembicaraan dengan tenang.

"Saya rasa bapak dan ibu sudah mengetahui alasan kami memanggil hari ini."

Tiga orang tua itu mengangguk pelan.

"Kasus bolos massal kemarin termasuk pelanggaran besar. Apalagi selama ini nama mereka selalu muncul berkali-kali."

Pak Yanto ikut menambahkan, "Awalnya kami mengira ini hanya kenakalan biasa. Tapi jumlah murid yang ikut terlalu banyak."

"Maaf, pak. kira-kira berapa orang ya?" tanya Nuri penasaran.

"Sekitar sembilan puluh delapan orang," jawab Yanto dengan suara berat. "Belum termasuk anak bapak dan ibu,"

"Ya berarti seratus juga," timpal Eka datar.

"Dan dari keterangan murid-murid, semuanya memang mengarah ke Narisa, Bu."

Nuri menghela napas pelan.

"Anak saya patah hati, pak," Dia sempat melirik kepala sekolah sekilas sebelum melanjutkan, "Tapi saya tetap tidak membenarkan apa yang dia lakukan."

Narisa langsung mendecih pelan, "Dibilangin mereka bolos inisiatif sendiri."

"Diam!"

Pak Yanto berdeham sebelum melanjutkan.

"Kami mengerti dinamika remaja, Bu. Tapi jujur saja, kami juga cukup terkejut kejadiannya bisa sebesar itu."

Nuri mengangguk paham.

Ruangan kembali hening beberapa saat, sampai Nuri akhirnya bicara lagi.

"Ibu bapak guru jangan khawatir. Saya akan menasihati Narisa dan memastikan dia tidak mengulangi hal seperti ini lagi."

Narisa langsung melirik langit-langit. Kalimat itu lagi. Selalu itu.

Eka menyandarkan badan sebelum ikut bicara.

"Kalau perlu hukum aja dia yang berat, pak." Dia menunjuk Kara santai tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Biar kapok. Saya juga udah capek dipanggil terus."

"Lah, Ma-" Kara baru mau protes, tapi Eka langsung menoleh tajam.

"Kenapa? Lo pengen yang seru kan? Gw dulu juga sering dihukum, sampe sekarang masih hidup kok."

"Ngerepotin yang ada."

Kepala sekolah sampai berdeham kecil sebelum menoleh ke Santoso. Pria itu akhirnya ikut membuka suara.

"Saya setuju jika Harum diberi hukuman." Tatapannya lurus ke depan. "Saya sendiri juga tidak akan tinggal diam. Saya tidak pernah mengajarkan dia untuk nakal di sekolah."

Harum langsung menunduk.

Dalam hati dia cuma bisa protes sendiri. Padahal dulu jaman sekolah bapak juga kerjaannya tawuran sama bolos. Dia tahu itu dari cerita ibunya.

Tadi malam saja dia sampai hampir dilempar piring. Untung ibunya dengan sigap membela.

Kemudian Bu Rahayu membuka map di depannya. "Untuk sementara, kami memutuskan ketiganya mendapat surat peringatan dan kerja sosial sekolah selama dua minggu.

Narisa langsung mengernyit. "Kegiatan apa emang?"

"Bersihin sekolah dan bantu tata perpustakaan. Tapi bisa lebih panjang tergantung keseriusan kalian mengerjakannya.'

"Kok kayak OB magang.." gumam Kara pelan.

Harum menepuk wajah sendiri.

Sementara di depan mereka, kepala sekolah sudah kembali memijat pelipis. Rasanya ruangan itu mendadak sepuluh derajat lebih melelahkan.

~

~

Keesokannya Sabtu. Hari yang selama ini dianggap Narisa sebagai hari mager nasional. Tapi siang ini dia malah harus datang ke sekolah buat menjalani hukuman membereskan perpustakaan. Tempat yang bahkan keberadaannya nyaris dia lupakan.

Kara sudah rapi dengan kaos hitam, jaket tipis, dan jeans longgar. Parfum disemprot niat banget, padahal nanti juga kalah sama bau keringat latihan basket.

Dia melirik jam beberapa kali sebelum akhirnya menatap pintu kamar Narisa.

Cewek itu bilang lagi siap-siap. Masalahnya, dari satu jam lalu jawabannya masih tetap "bentar."

Akhirnya Kara menyerah dan masuk begitu saja tanpa mengetuk.

Ceklek.

"ANJIR! SANTEN PEAK!"

Kara refleks menutup lagi pintunya.

Brak.

Dia berdiri mematung beberapa detik sambil berkedip pelan.

"Gw barusan liat apa dah?"

Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka kasar. Narisa muncul dengan wajah jutek maksimal.

"Bagus ya. Main masuk aja."

"Gw kira lo udah siap."

"Lo liat tete gw?"

Kara mundur setapak. "Nggak jelas juga kali."

"Berarti liat."

"Ya masa gw merem. Lagian lo ngapain sih?"

"Tadi pengait beha gw nyangkut di baju. Makanya gw buka lagi." Lalu dia menyipit curiga. "Lo liat kan?"

"Liat juga mau diapain lagi? Udah kejadian."

"Ya lo ngapain masuk sembarangan?"

"Lo juga sering masuk kamar gw. Santai aja mau gw pake kancut juga."

"Itu beda."

"Bedanya apa?"

"Yang lo liat tadi isinya."

Kara langsung mengibaskan tangan malas.

"Yaelah. Lagian punya lo gak bagus-bagus amat."

Plak!

Satu tamparan keras mendarat di lengannya.

"Bacot lo!" Narisa melotot. "Biar gak bagus juga bukan buat lo."

BRAK!

Pintu dibanting lagi. Kara sampai sedikit kaget. Tapi tak lama kemudian pintu itu terbuka lagi.

Narisa keluar sambil bawa tas.

"Naik mobil. Gw gak mau panas-panasan."

Dia lewat begitu saja. Kara diam sebentar sebelum akhirnya mengambil kunci mobil tanpa protes.

Sepanjang jalan, suasana di dalam mobil anehnya malah sunyi. Kara fokus menyetir, tapi pikirannya kemana-mana sendiri.

Bukan karena suka.

Bukan.

Cuma... ya normal aja kalau jantung orang jadi gak aman habis lihat begituan.

"Gw bukan brengsek," gumamnya pelan.

Narisa langsung menoleh.

"Hah?"

"Gapapa."

"Lo jangan bikin gw makin gak mood ya." Narisa bersandar malas. "Gw udah bete disuruh beresin perpus, lo sempet ngintip aset gw, sekarang lo malah kayak orang kerasukan."

Kara mendelik. "Gw gak ngintip."

"Tapi liat kan?"

"Lah terus apa masalahnya kalau gw liat semua? Lebay banget."

Narisa langsung menatapnya tidak percaya. Kalau bukan karena Kara lagi nyetir, mungkin kepalanya sudah dijedotin ke setir.

*

Sampai di sekolah, Bu Rahayu sudah berdiri di dekat lapangan sambil mengawasi beberapa murid ekskul.

"Langsung ke perpustakaan ya," katanya tenang.

Narisa langsung mengeluh. "Ngapain aja emang, Bu?"

" Susun buku ke tempat semula. Periksa buku yang salah rak. Sapu lantai. Dan buang sampah."

"Itu kan kerjaan petugas perpus, Bu," Kara ikut heran.

"Betul." Bu Rahayu mengangguk. "Selama masa hukuman, itu jadi tugas kalian,"

Kara dan Narisa sama-sama menghela napas berat.

Begitu masuk perpustakaan, Harum ternyata sudah datang duluan. Cewek itu sibuk memeriksa rak sambil membawa beberapa buku di tangan. "Eh, dateng juga." Dia nyengir. "Ngemil kita?"

"Baru juga nyampe," kata Kara sambil melepas jaket. "Mau mulai dari mana?"

"Buku dulu kali."

Lalu Harum melirik Narisa yang malah duduk santai di kursi.

"Nar, ngapain malah nyender?"

Narisa menoleh malas.

"Gak ada tenaga lain selain gw?"

"Gak ada," jawab Kara cepat. "Lo gak liat Bu Rahayu mantau di luar?"

Narisa mendecih sebelum akhirnya bangkit juga. Dia mengambil beberapa buku dengan ekspresi seperti orang dipaksa kerja rodi.

" Sumpah. Gak banget gw beginian."

"Kerjain aja sih," sahut Kara. " Ngoceh mulu."

"Lo diem ya, Santen. Ge lagi senewen denger suara lo"

Harum malah cekikikan.

"Buset. Pertengkaran rumah tangga."

Kara langsung melirik tajam.

"Bacot lo kenapa begitu mulu?"

Harum mendekat sedikit sambil berbisik sok rahasia.

"Pasti gara-gara permainan lo gak bagus. Gw punya video-"

Kara spontan mendorong jidatnya.

"Najis."

"Lah salah?"

"Gw gak butuh video aneh-aneh buat belajar."

Harum langsung melongo dramatis.

"Wuih. Suhu."

Kara memilih mengabaikan dan lanjut bekerja. Sekitar dua puluh menit kemudian, rak buku akhirnya mulai rapi. kara dan tarum menumpuk beberapa buku terakhir di meja.

Baru saat itu mereka sadar suara Narisa hilang. Keduanya menoleh bersamaan. Narisa ternyata sudah tidur pulas di salah satu meja perpustakaan, kepala berbantal tumpukan buku.

Harum sampai heran. "Lah? Molor?"

"Pantes diem."

"Yaudah lah. Beresin yang terakhir ini."

Kara mengangguk. Tak lama setelah itu, Bu Rahayu masuk. Dia mengernyit melihat seonggok makhluk tertelungkup di meja.

"Narisa, kenapa malah tidur?"

Kara dan Harum buru-buru muncul dari balik rak.

"Bu, sstt." Keduanya kompak.

Bu Rahayu berkedip bingung.

"Jangan dibangunin dulu, Bu." bisik Harum serius. "Nanti ngamuk."

"Tapi ini hukuman,"

"Biarin aja, Bu," kata Kara datar. "Yang penting perpus beres."

Bu Rahayu terdiam sebentar. Jujur saja, melihat Narisa tidur dengan muka kusut begitu, rasa kesalnya agak turun sendiri. Anak itu memang nyebelin, tapi mukanya terlalu damai buat dibangunin.

Akhirnya dia menghela napas. "Tetap sisakan kerjaan buat dia."

"Siap, Bu,"

Setelah Bu Rahayu pergi lagi, Kara akhirnya mendekati Narisa dan menepuk pundaknya pelan.

"Bonar."

"Eengh..."

"Bangun,

Narisa membuka mata setengah sadar.

"Gw di mana?"

"Di perpus."

"Lah? Kok?"

"Pindah dulu. Mau disa.pu."

Narisa diam sebentar, mengangguk lemas, lalu jalan keluar begitu saja sambil menguap. Di luar, ternyata Lesti baru datang. Begitu lihat muka Narisa, dia langsung mengernyit.

"Lo kok kayak baru bangun?"

"Emang baru bangun."

"Dih. Bukannya beresin perpus?"

Narisa cuma nyengir tipis.

Lesti mendekat sambil berbisik, "Anak-anak nunggu Bu Rahayu pergi dulu sebelum bantu,"

"Tinggal nyapu doang kok."

"Lah, cepet amat. Tenang. Ntar kita gantian bantu. Tapi diem-diem,"

Narisa mengangguk puas. "Terus yang gw minta?"

Lesti menghela napas panjang sebelum menyodorkan secarik kertas kecil.

"Ini nama anak-anak yang ngadu."

Narisa langsung membaca serius. Tak lama kemudian Kara dan Harum keluar dari perpustakaan.

"Itu apaan?" tanya Kara.

Narisa menyodorkan kertasnya.

"Nama tukang ember."

"Oh."

Kara langsung mengambil kertas itu lalu mengantonginya.

Narisa bengong.

"Lah? Kok diambil?"

"Biar gw yang urus."

"Eh?"

"Lo emang akhirnya ngaku, tapi mereka tetap sumbernya."

Narisa masih menatapnya bingung. Kara malah mendengus kecil.

"Lagian kesel itu gak selalu butuh alasan. Udah, jangan gitu. Muka lo jelek."

Setelah bilang begitu, dia langsung berjalan pergi. Narisa mematung beberapa detik. Lalu perlahan senyumnya muncul sendiri. Tanpa pikir panjang, dia langsung berlari kecil dan melompat ke punggung Kara.

"WOI! Berat, Bonar!"

"Bodo amat. Lo aja yang lemah."

Kara oleng sedikit sambil mengumpat pelan, tapi tetap menahan Narisa agar tidak jatuh.

Di belakang mereka, Harum cuma bisa menghela napas panjang.

"Biasanya adu bacot. Sekarang udah nempel-nempel." Dia menyipit curiga. "Jangan-jangan udah pernah begituan."

Dan tanpa mereka sadari, dari kejauhan ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan. Tatapannya penuh curiga... sekaligus cemburu.

.

1
Suka GL
Seru deh
Zye Rava
Aduh knp bos bramantyo kepo nikah segender ya mana anak orang lgi yang dinikahkan. agak lain ini orang 🤣
Inayah🥰
Ceritax ga kalah seru sm yg satux thor 😍 yg ini dua2x bar2
Felafel
Ceritamu seru semua thor next ya💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!