NovelToon NovelToon
Anomali Rasa

Anomali Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Romantis
Popularitas:676
Nilai: 5
Nama Author: USR

Pertemuan kembali di koridor universitas seharusnya menjadi momen nostalgia yang manis, namun bagi Wahyu dan Riani, itu adalah awal dari sebuah interaksi yang panjang dan penuh tembok penghalang.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan semudah bayangan. Ada penyangkalan yang kuat, kecanggungan yang berlarut-larut, hingga cara berkomunikasi yang sering kali menemui jalan buntu.

Nantikan Perjalanan Kedua nya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

POV: RIANI

Selasa sore, Riani duduk di kursi favoritnya di sudut perpustakaan kampus satu—meja kecil dekat jendela yang menghadap taman, tempat yang selalu dia pilih ketika butuh fokus. Di depannya terbuka laptop dengan dokumen proposal kelompok, secangkir kopi dari vending machine yang sudah setengah dingin, dan buku catatan penuh coretan.

Tapi perhatiannya bukan sepenuhnya pada proposal.

Semalam, Wahyu mereview draft bagian model bisnisnya selama lebih dari satu jam. Dia memberikan catatan yang detail—bukan sekadar "bagus" atau "perlu diperbaiki", tapi penjelasan konkret tentang kenapa suatu bagian lemah dan bagaimana memperkuatnya.

Riani membaca setiap catatan itu dua kali. Bukan karena tidak mengerti, tapi karena ada sesuatu di balik kata-kata itu yang membuatnya ingin membaca ulang.

Wahyu menulis dengan presisi. Tidak ada kata yang terbuang, tidak ada kalimat yang berputar-putar. Setiap poin langsung ke inti masalah, setiap saran langsung ke solusi.

Tapi yang paling membuat Riani terkesan adalah ini: di bagian bawah file yang Wahyu kembalikan, ada satu catatan terakhir yang berbeda dari yang lain.

"Bagian tentang akses keadilan untuk korban PHK tidak adil perlu diperkuat. Data BPS menunjukkan lebih dari 40% kasus PHK tidak diselesaikan melalui jalur hukum karena biaya dan ketidaktahuan pekerja tentang hak mereka. Ini bisa jadi entry point yang kuat untuk menjelaskan urgensi bisnis kita."

Riani membaca catatan itu lagi.

Wahyu tidak hanya mereview dari sudut pandang akademis. Dia menulis dari sudut pandang seseorang yang benar-benar memahami—mungkin karena dia pernah merasakan bagaimana rasanya tidak punya akses ke keadilan.

Riani menutup laptop sebentar. Menatap ke luar jendela—taman kampus yang sepi di sore hari, beberapa mahasiswa duduk di bangku-bangku batu sambil membaca atau ngobrol.

Sejauh mana Wahyu sudah berubah dalam dua minggu terakhir?

Dia masih pendiam. Masih menjaga jarak. Masih tidak mudah tersenyum.

Tapi dia mulai menjawab chat lebih dari satu kata. Dia mulai berkontribusi aktif dalam diskusi kelompok. Dia membiarkan Riani duduk di mejanya di kantin tanpa protes. Dia membalas pesan check-in Riani setiap malam—singkat, tapi konsisten.

Pelan-pelan. Sangat pelan-pelan.

Seperti es yang mencair—tidak langsung runtuh, tapi meleleh setetes demi setetes.

Ponsel Riani bergetar. Pesan dari Dinda.

Dinda: "Ri, nanti sore ke kampus 1 kan? Mau cari buku di perpus. Kamu di mana?"

Riani: "Di perpus. Lantai 2, meja pojok kiri."

Dinda: "Oke, aku nyamperin sebentar lagi."

Riani meletakkan ponsel dan kembali membuka laptop. Dia mulai merevisi bagian yang Wahyu tandai—memperkuat argumen tentang PHK, menambahkan data yang lebih spesifik, memperjelas kaitan antara masalah dan solusi yang mereka tawarkan.

Dua puluh menit kemudian, Dinda muncul dengan napas sedikit terengah-engah—efek naik tangga cepat.

"Ri!" Dinda duduk di kursi seberang dengan dramatis. "Gue baru ketemu Wahyu di bawah."

Riani mengangkat kepala. "Di mana?"

"Di lobi. Dia lagi mau ambil buku referensi. Gue sapa, dan—Ri, dia senyum."

Riani mengerutkan kening. "Senyum?"

"Iya! Bukan senyum lebar gitu, cuma sedikit. Tapi itu senyum beneran! Bukan senyum diplomatis yang biasanya dia kasih ke orang yang nggak dia kenal." Dinda condong ke depan dengan mata berbinar. "Ri, apa yang kamu lakukan sama dia?"

Riani tersenyum kecil. "Nggak ngapa-ngapain. Cuma... konsisten ada."

"Konsisten ada?" Dinda mengulangi. "Itu kelihatannya sederhana tapi apparently itu ajaib banget buat dia."

Riani tidak menjawab, tapi dalam hatinya dia merasakan sesuatu yang hangat.

"Anyway," Dinda melanjutkan sambil membuka tasnya, "aku ke sini mau cari buku Akuntansi Biaya. Kalau nemu Wahyu lagi di bawah, aku kasih tahu kamu."

Riani memutar mata. "Kamu ini..."

Dinda tertawa dan pergi menuju rak buku.

Riani kembali fokus ke laptop. Tapi lima menit kemudian, seseorang berdiri di sebelah mejanya.

Wahyu.

Dia membawa tiga buku tebal dan terlihat sedikit terkejut melihat Riani duduk di meja itu.

"Kamu di sini," ujar Wahyu—bukan pertanyaan, hanya konstatasi.

"Iya. Meja favoritku." Riani tersenyum. "Mau duduk?"

Wahyu melirik kursi-kursi lain di sekitar—semuanya kosong. Perpustakaan sedang sepi. Lalu dia melirik kursi di samping Riani—bukan di seberang, tapi di samping.

Setelah beberapa detik, dia duduk di sana.

Riani berusaha keras untuk tidak terlihat terlalu senang.

Mereka bekerja dalam diam selama beberapa menit—Riani dengan laptopnya, Wahyu dengan buku-bukunya. Suara perpustakaan yang tenang membungkus mereka: derit kursi sesekali, suara halaman buku dibalik, bunyi AC yang berdengung pelan.

"Wahyu," Riani akhirnya berbicara pelan, agar tidak mengganggu pengguna perpustakaan lain. "Revisian yang kamu kasih semalam... bagus banget. Aku banyak belajar dari catatanmu."

Wahyu tidak mengangkat kepala dari bukunya. "Hanya review biasa."

"Nggak. Lebih dari itu." Riani memutar laptop ke arah Wahyu, menunjukkan bagian yang sudah dia revisi. "Catatan kamu tentang kasus PHK tadi membantu aku lihat sudut pandang yang belum pernah aku pikir sebelumnya."

Wahyu melirik layar sebentar, lalu kembali ke bukunya. "Kamu sudah perbaiki datanya?"

"Iya, tadi. Coba kamu baca, ada yang perlu dikoreksi nggak?"

Wahyu meletakkan bukunya, menggeser laptop lebih dekat, lalu membaca. Riani menatap profil wajah Wahyu dari samping—cara matanya bergerak saat membaca, cara alisnya sedikit berkerut saat menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya.

"Bagian ini," Wahyu menunjuk layar, "perlu sumber yang lebih kuat. Kamu kutip dari artikel berita, tapi lebih baik dari jurnal akademis atau laporan resmi pemerintah."

"Oh." Riani mencatat. "Kamu ada rekomendasi jurnal yang bagus?"

Wahyu berpikir sebentar. "Ada. Jurnal Hukum dan Pembangunan, terbitan UI. Atau laporan tahunan dari Kementerian Ketenagakerjaan. Lebih kredibel untuk dipresentasikan."

"Kamu hapal nama-nama jurnal itu?"

"Aku sering baca." Wahyu kembali ke bukunya.

Riani mengetik nama jurnal-jurnal itu di catatannya. Tapi kemudian sebuah pertanyaan muncul di benaknya—pertanyaan yang sudah lama ingin dia tanyakan tapi selalu ragu.

"Wahyu," ujar Riani pelan.

"Hmm."

"Kamu... sejak kapan mulai belajar hukum secara serius? Maksudku, sebelum kuliah."

Wahyu berhenti membalik halaman buku.

Hening.

Riani sudah bersiap untuk dijawab dengan kalimat dingin atau diabaikan. Tapi Wahyu menjawab.

"Kelas satu SMP."

"Kelas satu SMP?" Riani terkejut. "Berarti... sejak kasus ayahmu mulai?"

Wahyu mengangguk sangat pelan, masih tidak mengangkat kepala dari buku.

"Awalnya aku baca artikel-artikel tentang proses persidangan. Mencoba ngerti apa yang sedang terjadi sama keluargaku. Terus aku mulai baca buku hukum—yang ringan dulu, buku populer. Lama-lama makin dalam."

"Kamu belajar sendiri?"

"Iya."

Riani menarik napas pelan. "Kamu... otodidak hukum dari SMP. Dan sekarang kamu kuliah hukum. Itu... luar biasa, Wahyu."

Wahyu akhirnya mengangkat kepala, menatap Riani dengan tatapan yang sulit dibaca. "Bukan luar biasa. Itu keharusan. Kalau aku nggak ngerti sistemnya, aku nggak bisa bantu ayahku."

"Tapi tetap saja. Tidak banyak orang yang punya motivasi sekuat itu."

Wahyu mengalihkan pandangan. "Motivasi nggak berarti apa-apa kalau hasilnya nggak ada."

"Hasilnya ada, Wahyu. Kamu ada di sini. Semester satu Hukum. Itu bukan hal kecil."

Wahyu tidak menjawab. Tapi Riani melihat—sangat jelas—bahwa rahangnya melunak sedikit.

Mereka kembali bekerja dalam diam.

Tapi kali ini diam itu terasa berbeda. Lebih hangat. Lebih nyaman.

Dan Riani tidak bisa tidak memperhatikan bahwa Wahyu tidak memindah kursinya lebih jauh.

Pukul lima sore, Dinda kembali ke meja Riani dengan buku di tangan—dan langsung membeku ketika melihat Wahyu duduk di samping Riani.

Wahyu mengangkat kepala, menyadari kehadiran Dinda.

"Eh... halo, Wahyu," sapa Dinda hati-hati.

"Halo," balas Wahyu.

"Kamu... juga cari buku di sini?"

"Iya."

Hening canggung sebentar.

Lalu Dinda—yang tidak bisa diam terlalu lama—duduk di kursi seberang dan membuka bukunya sendiri. Mereka bertiga bekerja dalam keheningan yang cukup aneh.

Sampai pukul enam, ketika perpustakaan memberikan pengumuman akan tutup dalam setengah jam.

Mereka bertiga mengemas barang masing-masing. Wahyu berdiri lebih dulu, mengembalikan dua buku ke rak, menyimpan satu buku yang dipinjam ke dalam tas.

"Wahyu," Riani memanggil.

Wahyu menoleh.

"Kamis kita meeting kelompok lagi. Jam empat, tempat biasa?"

Wahyu mengangguk. "Aku akan datang."

"Oke. Hati-hati di jalan."

Wahyu menatap Riani sebentar—tatapan yang tidak seperti biasanya. Tidak waspada, tidak dingin, tidak menganalisis ancaman.

Hanya... tatapan biasa. Manusiawi.

Lalu dia berbalik dan berjalan keluar perpustakaan.

Begitu Wahyu hilang di balik pintu, Dinda langsung meraih lengan Riani.

"RI. Dia bilang 'aku akan datang'. Bukan 'oke' atau 'iya'. 'Aku AKAN datang.' Itu komitmen, Ri. KOMITMEN!"

Riani tertawa pelan, berusaha tidak terlalu berisik di perpustakaan. "Dinda, lebay."

"Lebay apanya? Kamu tahu sendiri kan betapa susahnya Wahyu mau ngomong lebih dari dua kata ke orang lain? Dan tadi dia ngobrol sama kamu lumayan panjang! Aku perhatiin dari tadi!"

Riani mengikat rambutnya, berusaha terlihat biasa. "Kami cuma diskusi soal tugas."

"Dengan tatapan kayak gitu? Bukan cuma soal tugas, Ri." Dinda menyeringai. "Aku kasih tahu sesuatu: tadi, waktu aku datang dan duduk di seberang, aku lihat Wahyu. Dia nggak langsung waspada kayak biasanya. Dia cuma... lihat aku, angguk, terus balik ke bukunya. Itu... normal, Ri. Dia bersikap normal."

Riani menatap pintu perpustakaan yang masih berayun setelah Wahyu keluar.

Normal.

Untuk orang lain, itu hal yang biasa saja.

Tapi untuk Wahyu—yang selama ini selalu waspada, selalu defensif, selalu memasang jarak bahkan dengan orang-orang di sekitarnya—bersikap "normal" adalah sesuatu yang tidak kecil.

"Pelan-pelan," bisik Riani pada dirinya sendiri.

"Apa?" Dinda tidak dengar.

"Nggak. Yuk pulang, sudah mau tutup."

Malam harinya, Riani sudah hampir tertidur ketika ponselnya bergetar.

Pesan WhatsApp dari Wahyu.

Jam sebelas malam.

Riani duduk, membaca.

Wahyu: "Tadi aku cari jurnal yang aku rekomendasikan. Ini link-nya."

Diikuti tiga link jurnal—dua dari Jurnal Hukum dan Pembangunan, satu dari laporan Kemnaker.

Riani menatap layar dengan senyum yang tidak bisa dia sembunyikan.

Wahyu mencari link-link itu. Untuk membantu Riani. Di jam sebelas malam.

Dia mengetik balasan:

Riani: "Wahyu... terima kasih. Ini helpful banget. Kamu nggak tidur?"

Balasan datang beberapa menit kemudian.

Wahyu: "Lagi belajar. Ujian Jumat."

Riani: "Oh iya, ujian Hukum Perdata? Semangat ya. Kalau ada yang bisa aku bantu—meskipun aku nggak ngerti hukum—bilang aja."

Riani tidak berharap balasan lebih. Wahyu pasti akan kembali belajar.

Tapi ponselnya bergetar lagi.

Wahyu: "Kamu bisa bantu kalau mau."

Riani membaca itu dua kali.

Riani: "Gimana caranya?"

Wahyu: "Tanya aku soal materi. Seperti kuis. Itu cara paling efektif untuk ngetes pemahaman."

Riani merasa jantungnya berdegup lebih keras dari semestinya.

Wahyu memintanya membantu belajar.

Wahyu yang tidak pernah mau melibatkan orang lain dalam apapun itu memintanya untuk membantu.

Riani: "Oke! Kirim materi atau topiknya. Aku siap jadi quiz master!"

Dan malam itu, sampai lewat tengah malam, Riani dan Wahyu saling bertukar pertanyaan dan jawaban tentang Hukum Acara Perdata—Riani membacakan pertanyaan dari catatan yang Wahyu kirimkan, Wahyu menjawab, Riani membaca jawaban kunci dan bilang benar atau salah.

Sesederhana itu.

Tapi bagi Riani, malam itu terasa seperti sesuatu yang jauh lebih dari sekadar sesi belajar bersama.

Bersambung.....

1
YoMi
Lanjut kan kak
DemSat
Nice Story /Kiss/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!