Siapa sangka pernikahan pura-pura antara Jeevan dan Valerie membuat mereka berdua benar-benar merasakan jatuh cinta sama lain. Dimulai Jeevan meminta Valerie untuk berpura-pura menjadi Maura calon istrinya yang akan dikenalkan kepada keluarganya, namun di saat yang bersamaan Maura pergi meninggalkan Jeevan keluar negri.
Situasi yang salah paham membuat Valerie terjebak di antara keluarga Jeevan dan terpaksa membuat kesepakatan bersama Jeevan untuk menjadi calon istrinya.
Namun ada satu alasan Valerie menerima pernikahan pura-pura, agar dirinya putus dengan Nathaniel kekasihnya saat itu. Sejak pertama bertemu, Jeevan sudah jatuh hati pada Valerie. Apalagi ketika tahu jika Valerie adalah cinta pertamanya sejak SMP. Mulai saat itu Jeevan terus mencoba membuat Valerie jatuh cinta kepadanya, sampai bisa menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata Bukan Dia
Hampir 15 menit Valerie menangis di dalam dekapan Jeevan, matanya sedikit sembab dan bengkak serta pipinya basah dan lengket karena air mata. Setelah merasa lega, Jeevan membelikan Valerie sebuah ice cream. Menurutnya ice cream bisa membantu menenangkan diri serta mengurangi stress, membuat sedikit tenang dan lega, itu menurut Jeevan.
Ada perubahan yang terlihat pada Jeevan, kenapa sekarang ia begitu peduli kepada perempuan, padahal dulu sejak masih bersama Maura tidak seperti ini. Dia tidak pernah memperhatikan Maura seperti dirinya memperhatikan Valerie. Jeevan begitu khawatir setiap kali melihat Valerie murung, dan akan menjadi gelisah jika melihat Vale sedih.
"Makan ini biar lebih baik." Jeevan memberikan sebuah ice cream kepada Valerie yang duduk terlihat sudah lebih baik.
Valerie menoleh melihat Jeevan membawa sebuah ice cream kesukaannya dari masa SMP sampai saat ini. Ingatannya kembali muncul saat melihat ice cream yang sedang dipegang oleh Jeevan. Sebuah ice cream yang pernah dibelikan seseorang untuknya, dulu. Melihat Valerie yang kembali mendadak terdiam membuat Jeevan khawatir.
"Kamu kenapa?" tanya Jeevan menyadarkan lamunan Valerie yang sedari tadi menatap lekat ice cream di tangannya.
"Ah, nggak," jawab Vale tersentak saat Jeevan menyadarkannya.
"Kamu suka ice cream, kan?"
"Suka," balas Valerie mengambil ice cream dari tangan Jeevan dengan senyum simpul.
"Apa Nathan masih mengganggumu?" Jeevan mengganti topik pembicaraan karena merasa khawatir.
"Nggak," jawab Vale singkat namun Jeevan menatapnya dengan rasa ragu.
Sepertinya memang benar jika suasana hati Vale saat ini begitu sedih karena kedua orang tuanya.
"Sorry ya, tadi aku kebawa suasana," lanjut Valerie lagi sedikit malu karena menangis di dalam pelukan Jeevan.
"Nggak apa kok," jawab Jeevan yang mulai menikmati ice cream yang sedari tadi ada di tangannya.
"Besok mama ngajak kamu makan siang di rumah." Jeevan mengganti topik pembicaraan.
"Iya, aku tahu tadi nenek meneleponku. Dan besok juga bukannya kita harus fitting baju pengantin?"
Saking sibuknya Jeevan hampir lupa akan ada jadwal fitting baju pengantin, untungnya saja di butik milik kakak iparnya, istrinya dari kakak pertamanya Jericho yaitu Isabel. Memang Isabel adalah seorang perancang busana lumayan terkenal yang mempunyai beberapa butik. Kebanyakan pelanggan dari Isabel dari kalangan para pejabat, dan pengusaha.
Kedua bola mata Jeevan masih menatap Valerie yang sedang menikmati ice cream darinya sambil sesekali menatap ke atas langit, rasa penasaran di hati Jeevan semakin menjadi dan ingin sekali mencari tahu siapa sosok Vale sebenarnya. Apakah dia perempuan yang pernah dikenalnya sejak dulu?
"Kamu waktu SMP sekolah di mana?" tanya Jeevan mulai mencari topik pembicaraan.
Sengaja Jeevan mengganti topik pembicaraan bertanya di mana Valerie bersekolah ketika SMP, bukan tanpa sebab Jeevan bertanya tentang hal itu karena Valerie mengingatkannya kepada seseorang yang disukai Jeevan sejak masa SMP dulu. Sikap Vale yang tadinya biasa saja dan terlihat santai, tiba-tiba saja sedikit kaget menatap Jeevan. Kenapa Jeevan tiba-tiba bertanya tentang di mana dulu dirinya bersekolah.
"Kenapa tanya soal itu?" Valerie balik bertanya dengan tatapan sedikit curiga menatap Jeevan yang sedari tadi menatapnya.
"Nggak, cuma tanya aja," ucapnya mencoba dengan sikap sedikit santai meyakinkan Vale jika pertanyaannya hanya sekedar ingin tahu dan basa-basi.
"Oh. Dari lahir sampai kuliah, aku tinggal di sana dan baru ke Indonesia setelah lulus kuliah," jawab Valerie membuat Jeevan sangat kecewa mendengarnya.
Deg, hari Jeevan terasa sakit dan kecewa mendengarnya karena ternyata Valerie bukanlah perempuan yang disukainya sejak SMP dulu. Dugaan Jeevan selama ini salah tentang Valerie, dan kenapa nama mereka berdua hampir mirip. Jeevan juga merasa yakin jika Valerie bukanlah perempuan di masa SMP-nya dulu, karena memang Valerie juga mempunyai cinta pertama yang dicintainya sejak masa SMA. Yaitu seorang lelaki yang difoto olehnya memakai baju SMA di Jerman.
Melihat perubahan sikap Jeevan membuat Valerie sedikit khawatir, kenapa Jeevan terlihat sedikit murung dan sedih, padahal tadi dia terlihat biasa saja. Apa ada ucapan yang salah dari Vale? Kenapa Jeevan begitu kecewa setelah mendengar ucapannya?
"Kamu kenapa? Kok mendadak keliatan kecewa?" tanya Valerie menyadarkan Jeevan yang sedari tadi mendadak melamun.
"Ah, nggak," tampik Jeevan mencoba terlihat biasa saja.
Wajahnya masih terlihat sangat murung sejak kembali ke apartemen, pikirannya melayang entah kemana. Hatinya gelisah dan yang ada di dalam pikiran Jeevan saat ini adalah perempuan yang mirip sekali dengan Valerie. Perempuan yang menjadi cinta pertamanya dan perempuan yang masih disukai olehnya sampai saat ini.
Sejak SMP Jeevan menyukai seorang perempuan pindahan yang sangat cantik sekali, dia adalah adik kelasnya yang baru duduk di bangku kelas 1 SMP. Saat itu Jeevan dan Kenzie kelas 3 SMP, hanya berbeda 2 tahun saja. Dia adalah murid pindahan yang masuk di semester 2. Jeevan menyukainya sejak pandangan pertama mereka bertemu di toko kue.
Sepulang sekolah Jeevan menunggu Kenzie yang sedang ada ulangan susulan, merasa penat dan lama akhirnya Jeevan memilih menunggu di cafe sebelah sekolahannya. Cafe yang juga ada toko kue menjadi tepat tongkrongan untuk para siswa sekolah Jeevan, karena di sana banyak sekali bermacam kue dan roti.
Sudah berapa lama Jeevan menatap etalase besar yang dipenuhi bermacam kue dan roti, sepertinya Jeevan terlihat sedikit kebingungan karena ingin mencicipi yang mana, semua terlihat begitu lezat.
"Aku mau yang ini," kata Jeevan jemarinya menunjuk ke sebuah kue cupcake yang memiliki krim pink dengan toping taburan warna-warni rainbow sprinkles di atasnya.
"Tinggal sisa satu lagi, Dek," kata penjaga toko memberitahukan jika kue yang Jeevan inginkan tinggal hanya yang ada di etalase saja.
"Nggak apa-apa, aku mau itu."
"Take away atau makan di sini?"
"Makan di sini aja."
"Oke, tunggu ya."
Belum sempat pelayan toko mengambil kue Jeevan, tiba-tiba saja seseorang juga menunjuk ke arah kue cupcake yang baru saja Jeevan beli.
"Permisi, Mbak." Sebuah suara terdengar sangat lembut di telinga Jeevan sehingga membuatnya sedikit terganggu.
Kedua bola mata Jeevan menatap begitu lekat perempuan berambut panjang dengan ada aksesoris bandana di kepalanya. Wajahnya cantik berseri-seri dengan senyum yang manis. Detak jantung Jeevan mendadak berdegup sedikit kencang saat perempuan memakai seragam sama dengannya berbicara. Apalagi saat dia sepintas menoleh ke arah Jeevan sambil melemparkan senyum sebagai tanda menyapa secara tidak langsung.
"Aku mau yang ini," tunjuknya menunjuk ke sebuah kue yang Jeevan mau.
Jeevan masih terpana tidak berkedip dengan sosok cantik yang ada di sampingnya.
"Maaf, Dek. Tapi ini sudah dibeli sama adek ini," ucap pelayan toko tiba-tiba menyadarkan Jeevan yang sedari tadi terdiam mematung terpesona dengan sosok perempuan cantik.
Kecewa dirasakan perempuan itu ketika tahu jika kue yang diinginkannya sudah dibeli lebih dulu. Wajahnya sedikit sedih namun bagaimana lagi dirinya datang terlambat.
"Yah, sayang banget," ucap Valerie kecewa sambil mengerutkan ujung bibir sebelah kanannya.
Ternyata dia adalah siswa satu sekolah dengan Jeevan, tapi kenapa Jeevan baru melihatnya? Memang Jeevan adalah ketua OSIS yang begitu aktif di semua ekstrakurikuler. Bukan hanya itu saja, Jeevan sangat terkenal di kalangan siswa terutama siswa perempuan. Hampir semua angkatan dia pernah melihat wajahnya sepintas, namun tidak dengan yang ada di hadapannya.
"Lo anak baru?" tanya Jeevan yang sedari tadi memperhatikan seragamnya yang sama dengannya.
"Kok tahu?"
"Soalnya baru lihat," jawab Jeevan dengan perasaan senang karena berhasil menebaknya dan perempuan itu hanya tersenyum tipis.
Perempuan berkulit putih tidak begitu tertarik dengan Jeevan, dan dia kembali berbicara dengan pelayan toko untuk membeli kue yang diinginkannya.
"Kuenya nggak ada lagi, Mbak?" tanyanya kembali.
"Habis, Dek. Maaf ya."
Melihat kekecewaan di wajah cantiknya membuat Jeevan merasa sedih, akhirnya Jeevan memberikan kue yang sudah dibeli kepadanya.
"Mbak, kue punyaku buat dia aja," ucap Jeevan membuat perempuan itu kaget sekaligus senang.
"Kamu serius?" tanyanya tidak percaya.
"Iya," balas Jeevan dengan senyuman manis menatapnya begitu lekat.
"Oh iya, gue Putra." Jeevan memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya.
Memang di sekolah Jeevan lebih dikenal dengan nama Putra, diambil dari nama panjang tengahnya. Panggilan itu sendiri pertama kali dipanggil ketika pertama kali menjadi murid baru, lama kelamaan semua temannya memanggilnya dan Jeevan sudah merasa nyaman dengan panggilannya.
Melihat uluran tangan Jeevan dengan cepat membalasnya sambil tersenyum manis. Belum sempat memperkenalkan dirinya, Jeevan sudah lebih dulu menebaknya karena melihat name tag yang ada di dada sebelah kirinya.
"Nama lo Namira?" tanya Jeevan dengan sepasang matanya membaca nama name tag yang ada di dada kiri Namira.
"Iya," jawabnya singkat sedikit kebingungan.
Dari sana Jeevan mulai bertemu dan mengenal perempuan yang menjadi cinta pertamanya. Mereka bertemu kembali di sekolah dan menjadi dekat sampai suatu hari Namira harus pergi mendadak pindah tanpa sepengetahuannya. Merasa kecewa dengan sikap Namira membuat Jeevan tidak ingin bertemu dengannya lagi.
Matanya yang masih terlihat sedikit bengkak dan sembab, kini kembali dipenuhi buliran bening saat melihat sesuatu yang ada di sudut meja kerjanya. Sebuah barang yang sangat berharga untuknya pemberian dari seseorang, cinta pertamanya. Sebuah toples bulat bening berukuran sedang terbuat dari kaca dengan isi origami bermacam warna-warni yang membentuk seperti bintang kecil.
Ya, toples berisi origami bintang adalah pemberian lelaki yang telah menyelamatkan hidupnya, sekaligus cinta pertamanya. Di saat Valerie merasakan sedih, pasti teringat akan dirinya karena hanya dia yang bisa membuat Valerie tertawa bahagia melupakan semua perasaan sedih di dalam hatinya.
Setiap hari dilalui bersamanya begitu terasa berarti dan bahagia, Valerie merasa hidup dan berharga karena lelaki itu bisa membuat hari-harinya berwarna dan bahagia. Andai saja Valerie saat itu memilih untuk tetap tinggal mungkin bisa lebih lama bersama dengannya. Di mana dia, itulah yang selalu menjadi pertanyaan Valerie di dalam hatinya. Sampai saat ini dia tetap menjadi cinta pertamanya.
ku kasih bintang lima biar author nya tambah semangat lagi🤭💪